Dear Milis yang budiman,
Setelah mengikuti diskusi tentang rekrutmen pegawai KPPN Prima dalam milis
ini, saya kira ada beberapa pelajaran penting yang bisa kita ambil hikmahnya
dari sebuah kebijakan pengelolaan SDM.
Ekspektasi akan mendapatkan tingkat remunerasi yang tinggi saya kira yang
paling mendominasi antusiasme calon peserta untuk mengikuti seleksi pegawai
KPPN Prima. Walaupun semestinya kita juga melihat fakta tentang tidak/kurang
antusiasnya pegawai di wilayah Kanwil Semarang untuk mengikuti seleksi,
sebagaimana telah diceritakan oleh Pak Hari. Mengenai tidak tertariknya pegawai
untuk mengikuti seleksi, padahal mereka telah memenuhi persyaratan usia dan
pangkat, ada beberapa penjelasan yang mungkin bisa kita maklumi/pahami.
Pertama, fakta bahwa mayoritas pegawai pelaksana memang tidak ingin/tertarik
untuk masuk dalam jalur mutasi dalam lingkup/skala nasional, kecuali barangkali
kalau mereka dipromosikan menjadi pejabat eselon IV. Sebelum prodip lahir,
saya kira kita bisa melihat kenyataan secara mudah bahwa sangat banyak (hampir
semua?) pegawai pelaksana yang tinggal di tempat kerja yang sama dan tidak
masuk dalam jalur bputaran mutasi pegawai skala nasional. Kedua, ekspektasi
pegawai bahwa tanpa mengikuti seleksi pun mereka akan mendapatkan remunerasi
yang cukup tinggi, sesuai janji bu Menteri, sehingga kalaupun KPPN Prima
menjanjikan remunerasi yang lebih tinggi selisihnya pun nantinya tidak akan
terlalu signifikan. Apalagi kalau dalam waktu yang relatip tidak terlalu lama
semua KPPN akan berubah menjadi KPPN Prima.
Kita melihat bahwa keterbatasan waktu Kanwil untuk menyampaikan calon peserta
seleksi ke kantor pusat telah mendorong Kanwil untuk lebih fokus pada
pemanfaatan informasi pada data kepegawaiannya. Tidak dilibatkannya KPPN dalam
penetapan calon peserta seleksi di sejumlah wilayah telah menimbulkan
kecurigaan pegawai KPPN yang mengkhawatirkan kemungkinan terjadinya proses
seleksi calon peserta secara tidak sehat di Kanwil. Sayangnya kecurigaan yang
tidak dibekali dengan informasi yang memadai tersebut langsung diekspresikan
dalam suatu tulisan yang mencap Negatip Kanwil yang bersangkutan (semoga ini
menjadi pelajaran bagi kita semua, terutama yang berdiskusi secara aktif dalam
milis ini).
Sebenarnya masih ada ruang untuk menguji kebijakan Kanwil, khususnya apabila
jumlah calon peserta seleksi yang lolos persyaratan administratif (umumnya
kelompok Pelaksana/Korpel yang kuota tambahan pesertanya relatif kecil)
melampaui kuota tambahan peserta yang telah ditetapkan oleh kantor pusat. Saya
kira dalam kasus tersebut Kanwil tidak punya pilihan selain melakukan seleksi
lagi terhadap calon peserta yang masih berlebih (kecuali kalau Kanwil minta
dispensasi ke kantor pusat untuk menambah kuota). Lalu bagaimana kriteria
seleksinya?
Karena secara eksplisit seleksi untuk menyesuaikan dengan jumlah kuota
tesebut tidak diatur oleh Kantor Pusat (walaupun sebenarnya kita bisa
melihatnya dalam persyaratan peserta seleksi dan materi seleksi telah
ditetapkan oleh Kantor Pusat) maka Kanwil bisa jadi merasa berhak menetapkan
sendiri kriteria seleksinya. Kalau kebijakan internal kriteria seleksi Kanwil
tersebut sifatnya memang ternyata meralat kelemahan kriteria seleksi
administrasi yang ditetapkan oleh kantor pusat (bayangkan saja Kanwil telah
melakukan konsultasi/konfirmasi dengan kantor pusat, dan kantor pusat pun telah
mengakui kelemahan kriteria seleksi administrasinya), itu jelas pasti positif.
Walaupun akibatnya, itu bisa dinilai (terutama oleh calon peserta seleksi yang
dirugikannya) sebagai sebuah pelanggaran terhadap aturan main yang telah
ditetapkan oleh kantor pusat. Kecuali tentunya kalau kantor pusat telah
menerbitkan ralat. By the way, based on pengalaman saya di KPPN, dilema antara
kebijakan
kepala Kanwil/KPPN dan aturan main di kantor pusat yang tidak/belum diralat
tersebut (termasuk konflik/perbedaan antar jenjang peraturan, misal Permen dan
Perdirjen) seringkali terjadi dan itu merupakan beban bagi para
pimpinan/pejabat di daerah.
Terkait dengan seleksi administrasi, hal lain yang menarik adalah ketika
sebagian teman kita (secara subyektif atau obyektif)
menggugat/memprotes/mengkritik kebijakan kuota dan batasan usia/pangkat yang
ditetapkan oleh kantor pusat. Seleksi administrasi (yang lebih berorientasi
pada kriteria Maksimal) yang ditetapkan oleh Bagian Kepegawaian seharusnya
dapat membantu kita mendapatkan para pegawai hasil seleksi yang dibutuhkan oleh
KPPN Prima. Tetapi seandainya ternyata ada pegawai gol I/b berusia 20 tahun
(mantan pegawai honorer) yang lolos seleksi administrasi dan ikut bertanding
melawan para pegawai lulusan prodip/S1, tentu hal tersebut akan merupakan
bahan-cibiran bagi para lulusan S1 yang telah berpangkat III/b dan sekaligus
juga pelajaran berharga bagi teman-teman di Bagian Kepegawaian untuk memikirkan
kembali whats wrong dengan kriteria seleksi administrasi yang telah mereka
tetapkan.
Wacana tanding ulang yang belum lama ini dipromosikan oleh Mas Khobir pada
prinsipnya juga merupakan bentuk penolakan terhadap seleksi administrasi yg
terlalu berlebihan sehingga menutup kemungkinan untuk mendapatkan SDM yang
lebih tangguh (lulusan terbaik dari hasil tes/uji kelayakan). Menurut penganut
faham ini (proper test Yes!, seleksi admin No!), masalah administrasi yang
muncul sebagai dampak pelaksanaan mekanisme seleksi tanding-ulang (seperti
biaya administrasi ATK dan perjalanan dinas utk penyelenggaraan test yang
membengkak) seharusnya tidak dinilai sebagai masalah serius yang tidak dapat
dicarikan solusinya. Bukankah ada/banyak juga di antara teman-teman kita yang
sebenarnya bersedia mengikuti seleksi tanpa bekal SPPD dan mungkin bersedia
membayar biaya administrasi? By the way, bukan tidak mungkin kasus mas Taukhid
yang tidak ikut/lulus seleksi administrasi tetapi lulus seleksi utk kuliah di
program MM-UGM juga mengacu pada pertimbangan Itu khan hanya
masalah administratif, bukan substantif. Its a little peanut, man!?!
Isu lain yang juga menarik adalah perkembangan rencana KPPN Prima dari 6 KPPN
menjadi 30 KPPN. Di satu sisi ada semacam kekhawatiran (mungkin mengambil
pengalaman dari kasus MPN Prima) bahwa dengan dilaksanakannya 30 KPPN Prima
secara serentak di setiap Kanwil akan menimbulkan banyak masalah baru yang
mungkin akan sulit dikendalikan. Namun, di sisi lain ada semacam semangat
optimisme dari berbagai Kanwil untuk berpartisipasi mendirikan KPPN
Prima/Percontohan di daerahnya, walaupun antusiasme tersebut untuk sebagian
dipicu oleh janji remunerasi yang tinggi. Sayang sekali saya tidak tertarik
untuk memilih salah satu diantara keduanya (pesimisme dan optimisme).
Saya lebih tertarik pada apa konsekuensinya yang harus kita antisipasi kalau
kita pilih 6 atau 30 unit KPPN Prima. Dari sisi dana remunerasi dan
pertanggungjawabannya, tentu kalau Bu Menteri menyetujui pemberian remunerasi
spesial kepada 30 KPPN Prima kita juga harus dapat menjamin pelaksanaannya di
ke-30 unit kerja tersebut sesuai dengan komitmen (urjab dan SOP) yang telah
kita buat/setujui. Kalau target implementasi KPPN Prima masih tetap terhitung
mulai September 2007 dan jumlah KPPN Prima kita ubah dari 6 menjadi 30, tentu
kita harus mampu melibatkan (to some extent) dan berkoordinasi dengan ke 30
kanwil dalam proses perancangan, ujicoba dan implementasi sistem yang akan
digunakan untuk mendukung operasional KPPN Prima. Mengingat target implementasi
bulan September 2007, kita pun semestinya dapat mengukur exactly sejauhmana
kemampuan kita untuk melakukan perubahan yang akan kita aplikasikan pada KPPN
Prima tahap I. Pertanyaan kita, sejauh mana persiapan untuk
keperluan implementasi KPPN Prima tahap I per September 2007 tersebut telah
kita laksanakan?
Kita telah belajar banyak dari sebuah kebijakan rekrutmen pegawai KPPN Prima.
Barangkali akan lebih baik kalau kita arahkan/alihkan diskusi selanjutnya ke
masalah content/jeroan KPPN Prima (proker, misalnya) yang saya yakin masukan
kita tentang itu sangat diharapkan oleh teman-teman kita/pejabat di kantor
pusat. Atau barangkali kita lebih tertarik untuk mereview (meninjau kembali)
content/jeroan Kantor Pusat? Lets do! Its absolutely up to you.
Salam,
budisan
---------------------------------
You snooze, you lose. Get messages ASAP with AutoCheck
in the all-new Yahoo! Mail Beta.
[Non-text portions of this message have been removed]