Realitas kehidupan sosial sehari-hari yang terjadi adalah banalitas kejahatan, menganggap perilaku menyimpang dan pelanggaran hukum serta etika dimana korupsi salah satunya telah menjadi rutinitas yang tak perlu dipertanyakan lagi karena sudah menjadi bagian dari aktifitas keseharian yang sudah "lumrah" dilakukan banyak orang. Karena sudah emenjadi bagian rutinitas keseharian maka banyak orang tak lagi terusik dan mau ambil peduli karena semua sudah ambil bagian, sama-sama mengambil tempat (kaplingan) masing-masing bahkan sampai di tempat-tempat ibadah sekalipun. Politik aliran, penguatan identitas kelompok atau komunitas berdasarkan batas-batas primodialisme sempit seperti etnis, agama, aliran politik, mazhab, paham sampai sekecil-kecilnya sungguh berdampak pada kekerasan simbolis pada mereka yang lemah atau dilemahkan yang tidak memiliki baik akses ekonomi maupun politik. Akses ekonomi dan politik hanya untuk mereka yang dapat masuk dalam lingkaran kekuasaan dan cendrung megabaikan distribusi secara adil karena hanya menguntungkan bagi sekelompok kecil yang berada dalam lingkaran kekuasaan dan mengabdi pada kekuasaan. Para pemabuk, pelacur, perampok dan pelaku kriminalitas lainnya juga merupakan realitas sosial yang dapat cermati dan dianalisis dari berbagai segi. Sulit kita menemukan seorang pemabuk, pelacur atau perampok yang menganggap pekerjaan mereka baik. Kalau mereka punya anak mereka berharap anaknya tidak melakukan hal-hal yang dianggap nista oleh masyarakat termasuk dirinya sendiri. Jadi kejahatan seperti itu mampu disadari dengan baik bahwa itu adalah dilarang oleh hukum apapun. Bahkan ada seorang pelacur yang berusaha keras menyekolahkan anaknya ke pesantren agar sang anak buah hatinya menjadi seorang hafiz (menghafal Alquran) sesuatu yang ironis bukan? Tetapi perhatikan disekitar kita dengan pikiran jernih banyak orang yang mengambil hak orang lain yang sebenarnya merupakan perilaku menyimpang dan koruptif tetap menganggap baik pekerjaan mereka dan dengan ringan dan tanpa sadar mengaggap itu bukan pelanggaran dan menularkannya pada generasi penerusnya yang juga generasi penerus bangsa ini. Kini kita dengan mudah melihat kekerasan demi kekerasan dimana-mana sampai melampaui batas kewajaran (hyperrealitas). Jiwa manusia dibuat impersonal dianggap hanya mewakili angka-angka seperti peristiwa kekerasan yang terjadi baru-baru ini "enam orang tewas dalam bentrokan antara warga pasuruan karena sengketa tanah" dari jiwa seorang yang memiliki hak hidup dan identitas diri sebagai individu dan warga negara yang wajib dilindungi menjadi sekedar enam warga tewas terus direduksi lagi menjadi "keberingasan warga memaksa aparat mempertahankan diri" sehingga si korban menjadi impersonal warga yang mana? dan siapa yang melakukan kekerasan itu? menjadi tidak penting lagi seolah menimpakan kesalahan pada semua terus menjadi tidak ada lagi yang bisa dimintai pertanggunganjawaban semua bersalah berarti tak ada yang harus bertanggung jawab terhadap apapun begitu juga rutinitas korupsi yang membudaya bukankah semua melakukannya dan tidak ada yang wajib bertanggungjawab inilah bahayanya. Problem kemanusiaan bukan pada Atheisme. tidak ada orang yang Atheis di muka bumi ini sekalipun secara verbal seorang mengaku atau menyatakan diri sebagai orang yang tidak percaya Tuhan atau anti Tuhan sekalipun. Kejala menutuhankan segala inilah yang lebih terindikasi, jadi lebih pada menempatkan saingan (andad) Tuhan yaitu bisa berupa uang, jabatan, kedudukan, atasan, anak istri, rumah, perniagaan dll konon pegawai kantor pos di Korut pada waktu itu takut mencap perangko bergambar kim il sung karena takut kualat posisi Kim sudah mengeser kedudukan Tuhan dengan berbagai cara di negeri komunis itu. Ini adalah gejala ketuhanan dimaksud walaupun ia tidak mengakui adanya Tuhan. Jadi kecendrungann manusia bukan pada atheis tapi polytheis demikian kata Cak Nur. Betapapun ada orang secara formal sangat sholeh dan baik tapi tidak menutup kemungkinan ada pamrih sekecil apapun yang tebersik di hati ini sudah merupakan gejala menduakan Tuhan. Bahkan di jaman ini tidak jarang kita terkaget-kaget melihat fenomena dimana dimata kita seseorang sangat dekat dengan ritualitas agama dengan mudah merusak hak milik orang lain apalagi tempat ibadah dan menghalalkan darah manusia lain yang tidak sepaham dengannya dan sungguh ironisnya atas nama Tuhan pula. Kita boleh bertanya tuhan yang mana?! Hanya Tuhan yang Maha Suci sehingga hanya Dia yang dapat mensucikan kita. Mengungkap kisah, cerita atau nasihat yang baik tidak serta merta orang yang mengemukakan itu otomatis orang baik juga bukan?
TURUT BERDUKA CITA SEDALAM-DALAMNYA ATAS KEKERASAN YANG TERJADI DI PASURUAN YANG MENYEBABKAN 6 ORANG MENINGGAL DAN YANG LUKA-LUKA,MENGAPA HARUS BERULANG KEKERASAN DEMI KEKERASAN DI NEGERI INI ? --- In [email protected], "jm_hndsm" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > > Ada suatu kisah seorang santri yg menuntut ilmu pada seorang Kyai. > Bertahun-tahun telah ia lewati hingga sampai pada suatu ujian > terakhir. Ia menghadap Kyai untuk ujian tersebut. "Hai jamie kau telah > menempuh semua tahapan belajar dan tinggal satu ujian, kalau kamu bisa > menjawab berarti kamu lulus ", kata Kyai. > "Baik pak Kyai, apa pertanyaannya ?" > "Kamu cari orang atau makhluk yang lebih jelek dari kamu, kamu aku > beri waktu tiga hari ". Akhirnya santri tersebut meninggalkan pondok > untuk melaksanakan tugas dan mencari jawaban atas > pertanyaan Kyai-nya. > > Hari pertama, sang santri bertemu dengan si Jimmy pemabuk berat yg > dapat di katakan hampir tiap hari mabuk-mabukan. Santri berkata dalam > hati, " Inilah orang yang lebih jelek dari saya. Aku telah beribadah > puluhan tahun sedang dia mabuk-mabukan terus ". Tetapi sesampai ia di > rumah, timbul pikirannya. "Belum tentu, sekarang Jimmy mabuk-mabukan > siapa tahu pada akhir hayatnya Allah memberi Hidayah (petunjuk) dan > dia Khusnul Khotimah dan aku sekarang baik banyak ibadah tetapi pada > akhir hayat di kehendaki Suul Khotimah,bagaimana ? Dia belum tentu > lebih jelek dari saya. > Hari kedua, santri jalan keluar rumah dan ketemu dengan seekor anjing > yg menjijikan rupanya, sudah bulunya kusut, kudisan dsb. Santri > bergumam, " Ketemu sekarang yg lebih jelek dari aku. Anjing ini sudah > haram dimakan, kudisan, jelek lagi " . Santri gembira karena telah > dapat jawaban atas pertanyaan gurunya. Waktu akan tidur sehabis `Isya, > dia merenung, "Anjing itu kalau mati, habis perkara dia. Dia tidak > dimintai tanggung jawab atas perbuatannya oleh Allah, sedangkan aku > akan dimintai pertanggung jawaban yg sangat berat yg kalau aku berbuat > banyak dosa akan masuk neraka aku. "Aku tidak lebih baik dari anjing itu. > > Hari ketiga akhirnya santri menghadap Kyai. Kyai bertanya, "Sudah > dapatjawabannya muridku ?" "Sudah guru", santri menjawab. " Ternyata > orang yang paling jelek adalah saya guru". Sang Kyai tersenyum, "Kamu > aku nyatakan lulus". > Pelajaran yg dapat kita petik adalah: Selama kita masih sama-sama > hidup kita tidak boleh sombong/merasa lebih baik dari orang/mahkluk > lain. Yang berhak sombong adalah Allah SWT. Karena kita tidak tahu > bagaimana akhir hidup kita nanti. Dengan demikian maka kita akan > belajar berprasangka baik kepada orang/mahkluk lain yg sama-sama > ciptaan Allah. > > zamzam go round tall low > disadur dari milis sebelah >
