pak Moch Kobir, koq cuma di baca untuk diri sendiri aja tulisan Moh Sobary nya ini saya postingkan lagi.. tulisan Mohammad Sobary supaya temen temen yang lain juga bisa baca.. judul nya "TERSERAH TUHAN" mudah2an bisa menambah pustaka literatur wassalam ==========================================================================
TERSERAH TUHAN Hidup di zaman kebangkitan Islam (kalau benar konsep ini menggambarkan realitas sosial sekarang) memiliki persoalan tersendiri. Ke dalam lingkungan mana pun saya masuk, di sana saya jumpai orang yang semangat Islamnya menggelora. Ketika di Universitas Muhammadiyah Jakarta saya diminta bicara di depan segenggam mahasiswa "penjaga mesjid", saya diingatkan agar lebih menguasai Islam secara tekstual. Karena, pendekatan saya, kata salah seorang dari mereka, bersifat "ilmu sosial" biasa. Bagi banyak pihak, yang bersifat formalis macam ini, sesuatu termasuk "agama" hanya bila ia diwarnai Quran dan Hadis. Dari tahun ke tahun, ada saja mahasiswa Indonesia, di Universitas Monash, yang bersemangat memburu daging halal. Dasarnya, daging di supermarket haram karena disembelih tidak dengan cara Islam. Penjelasan --bahwa makanan para ahli kitab (Yahudi dan Nasrani) halal bagi Muslim-- tidak pernah laku. Akhir-akhir ini, saya memberi ceramah. Tanpa menyebut sepotong pun ayat, saya bicara agama. Buat saya, agama terpancar dalam hidup, bukan dalam kitab. Saya tidak kitab minded, karena, agama lebih menuntut tindakan, bukan kecanggihan ilmu, dari pemeluknya. Kita bisa jadi pemeluk yang baik tanpa harus menjadi ahli. Persoalan muncul. Saya diultimatum oleh wanita berjilbab: "Lain kali, hati-hati. Kalau ceramah begitu di Indonesia bisa pulang tinggal nama." Betapa mengerikannya. Memang, hanya orang yang paham yang tahu bahwa saya pun sebenarnya berpijak pada ayat Tuhan, yakni ayat kauniah yang tak disebutkan dalam kitab suci. Mas Djohan (Djohan Effendi) pernah bicara tentang guru yang membikin murid bertanya-tanya. Saat pelajaran agama, anak-anak diajak membersihkan halaman, kamar mandi dan WC. "Pak, katanya, pelajaran agama?" tanya seorang murid. "Ya, ini juga pelajaran agama," kata Pak Guru, tenang. "Dasar teorinya: 'kebersihan adalah sebagian dari iman'. Nah, dengan tindakan tadi, kita buktikan, kita pun beriman." Anak-anak mesem. Agama, dengan begitu, masih tetap agama biarpun tak diwarnai bunyi ayat-ayat dalam kitab suci. Hardi itu lulusan PGA. Ia setengah kiai. Paham Quran dan Hadis. Bahkan, juga kitab kuning. Tapi, ia gelisah. Ada yang tak beres dalam hidupnya. Ia pun datang pada Pak Kiai, mohon petunjuk. "Kamu tidak butuh kiai macam saya," kata Pak Kiai. "Pergilah kamu pada Kamin." Hardi kaget. Orang tahu, Kamin itu cuma tukang bakso. Tahu apa tukang bakso, yang tak pernah sekolah, tentang rahasia hidup? "Kiai gendeng," pikirnya. "Tidak, saya serius, Nak," kata Pak Kiai. Hardi sungkem. Seperti sujud, ia mencium dengkul Pak Kiai, sambil minta maaf atas gendeng-nya tadi. Tapi, mengapa Kamin? Ia masih penasaran. Tentu saja, Pak Kiai bermaksud baik. Bukankah, kadang, kiai tak mau bicara langsung? Dengan rumusan itu di kepala, ia pergi ke rumah Kamin. Tak ada yang istimewa di sana, selain bahwa Kamin sekeluarga bekerja keras. Anak-anaknya dikerahkan untuk membantu mencuci gelas. Yang lain mengerok kelapa muda untuk campuran es. Yu Ginah, istrinya, menggoreng krupuk. Setelah periksa sana periksa sini, Kamin ke warung kecil di depan rumahnya itu, melayani pembeli. Warung itu maju. Bakso, krupuk udang, dan es kelapa, jadi pasangan serasi. Pembeli berjejal. Anak-anak Kamin, empat orang, semua sekolah. Biayanya, ya, dari warung kecil itu. Biaya sekolah dari situ. Biaya hidup dari situ. Mereka hidup tentram. Hardi mulai tertarik. Ia mencoba mengamati lebih dekat, lebih dalam. Setelah salat bersama pada suatu hari, mereka dialog. Tapi, Kamin itu pendiam. Ia bicara sedikit. "Apa doa kang Kamin sehabis salat?" tanya Hardi. "Saya serahkan hidup ini pada Tuhan," jawabnya, polos. "Warung Anda maju. Apa rahasianya?" "Tidak ada. Semua terserah Tuhan." "Anak-anak Anda sekolah. Apa rencana Anda untuk mereka?" "Semua saya serahkan Tuhan." "Maksudnya?" "Saya orang bodoh, tidak tahu apa mereka bisa jadi pegawai, buruh, atau tukang bakso juga. Saya percaya, Tuhan mahapengatur. Jadi, semua terserah Tuhan." Hardi pernah mendengar, orang Barat yang mengagumi Soedjatmoko menganggap bahwa almarhum adalah jenis orang yang belum dirusak oleh sistem pendidikan tinggi. Ia masih murni. Kamin, si tukang bakso ini, iman dan takwanya juga murni, dan total. Hardi sujud. Bijaksana Pak Kiai mengirim dia ke Kamin. Ketulusan macam Kamin itu, memang, yang belum dimilikinya selama ini. --------------- Mohammad Sobary, Editor, No.32/Thn.IV/27 April 1991 moch kobir <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Aa' Jamie, I one hundred percent totally agree...Udah ketemu jalan "nyufi" seperti Mohammad Sobary dahulu Ketua LKBN Antara juga ya.. Cool man! Gara-gara Pak Hari kirim tulisannya Mohammad Sobary, saya langsung telusuri literatur awalnya di google dan saya temukan. Saya lahap habis semuanya. Top markotop and good marsogood memang. Mirip-mirip kayak gini, cuma temanya lebih luas dan disesuaikan dengan keadaan yang sedang terjadi. Saya baru "mengkhatamkan" tulisan-tulisan dia seperti: Kang Sejo Melihat Tuhan, Tuhan Tersenyum, Gengsi, Numpak Mercy Uro-Uro, Sumur Kering, Nama Saya Cuma Kamino, Telepon, dll. Hampir semua tulisannya linear dengan pemikiran saya, tetapi masih saja banyak hal yang bisa saya pelajari dari situ. Pelajaran "men-sintesa" ini pula yang diajarkan di Support Learning Centre di kampus saya sini. Arti mensintesa, kita membiasakan membaca berbagai sumber buku, terus kita menulisnya dengan our "own word". Termasuk di dalamnya "critical review". Jadi tidak cuma "nggah nggih nggak kepanggih". Membaca saja sulit, apa lagi mengerti, terus disuruh mengkritisi menurut sumber yang berbeda. Jadi, hampir tidak ada 100 % totally agree seperti kalimat pertama saya di atas. Terus nulis ya A' Jamie, tuh udah mulai "masukin" kata Jamie secara sempurna, waktu jadi muridnya Pak Kyai. Atur Nuhun. Kobir ----- Original Message ---- From: jm_hndsm To: [email protected] Sent: Wednesday, 30 May, 2007 9:17:25 AM Subject: [Perbendaharaan List] Re: Dukung KPPN Prima Ada suatu kisah seorang santri yg menuntut ilmu pada seorang Kyai. Bertahun-tahun telah ia lewati hingga sampai pada suatu ujian terakhir. Ia menghadap Kyai untuk ujian tersebut. "Hai jamie kau telah menempuh semua tahapan belajar dan tinggal satu ujian, kalau kamu bisa menjawab berarti kamu lulus ", kata Kyai. "Baik pak Kyai, apa pertanyaannya ?" "Kamu cari orang atau makhluk yang lebih jelek dari kamu, kamu aku beri waktu tiga hari ". Akhirnya santri tersebut meninggalkan pondok untuk melaksanakan tugas dan mencari jawaban atas pertanyaan Kyai-nya. Hari pertama, sang santri bertemu dengan si Jimmy pemabuk berat yg dapat di katakan hampir tiap hari mabuk-mabukan. Santri berkata dalam hati, " Inilah orang yang lebih jelek dari saya. Aku telah beribadah puluhan tahun sedang dia mabuk-mabukan terus ". Tetapi sesampai ia di rumah, timbul pikirannya. "Belum tentu, sekarang Jimmy mabuk-mabukan siapa tahu pada akhir hayatnya Allah memberi Hidayah (petunjuk) dan dia Khusnul Khotimah dan aku sekarang baik banyak ibadah tetapi pada akhir hayat di kehendaki Suul Khotimah,bagaimana ? Dia belum tentu lebih jelek dari saya. Hari kedua, santri jalan keluar rumah dan ketemu dengan seekor anjing yg menjijikan rupanya, sudah bulunya kusut, kudisan dsb. Santri bergumam, " Ketemu sekarang yg lebih jelek dari aku. Anjing ini sudah haram dimakan, kudisan, jelek lagi " . Santri gembira karena telah dapat jawaban atas pertanyaan gurunya. Waktu akan tidur sehabis `Isya, dia merenung, "Anjing itu kalau mati, habis perkara dia. Dia tidak dimintai tanggung jawab atas perbuatannya oleh Allah, sedangkan aku akan dimintai pertanggung jawaban yg sangat berat yg kalau aku berbuat banyak dosa akan masuk neraka aku. "Aku tidak lebih baik dari anjing itu. Hari ketiga akhirnya santri menghadap Kyai. Kyai bertanya, "Sudah dapatjawabannya muridku ?" "Sudah guru", santri menjawab. " Ternyata orang yang paling jelek adalah saya guru". Sang Kyai tersenyum, "Kamu aku nyatakan lulus". Pelajaran yg dapat kita petik adalah: Selama kita masih sama-sama hidup kita tidak boleh sombong/merasa lebih baik dari orang/mahkluk lain. Yang berhak sombong adalah Allah SWT. Karena kita tidak tahu bagaimana akhir hidup kita nanti. Dengan demikian maka kita akan belajar berprasangka baik kepada orang/mahkluk lain yg sama-sama ciptaan Allah. zamzam go round tall low disadur dari milis sebelah _________________________________________________________________________________ How would you spend $50,000 to create a more sustainable environment in Australia? Go to Yahoo!7 Answers and share your idea. http://advision.webevents.yahoo.com/aunz/lifestyle/answers/y7ans-babp_reg.html [Non-text portions of this message have been removed] Yahoo! Groups Links --------------------------------- Pinpoint customers who are looking for what you sell. [Non-text portions of this message have been removed]
