Suatu hari ada seorang Bajingan 99 yang disegani dengan predikat :
Pembunuh, Pemerkosa, Perampok, Penjudi, Pemabuk dan lain `semacamnya'.
Embel-embel 99 didapat karena dia telah membunuh 99 orang yang
menghalangi langkahnya melakukan maksiat yang menjadi `hobi'nya.
Karena sudah begitu melekat predikat tersebut kepada si Bajingan,
mendengar suaranya saja penduduk sudah pada enggan bertemu, menutup
pintu rapat-rapat dan ketakutan bila si Bajingan masuk sebuah kampung.
Jangankan tegur, sapa apalagi salam, semua menghindar bila bertemu si
bajingan.

Suatu hari si Bajingan tidur siang karena kekenyangan makan, di bawah
pohon yang rindang dan sejuk si Bajingan tertidur pulas.
"zzz….zzzz…zzz" Tidak disangka tidak dinyana, si Bajingan tiba-tiba
bangun dengan seluruh tubuh mengigil ketakutan. "Aduh…Mimpi apa aku
tadi? Seram sekali, sampai-sampai bulu kudukku berdiri" Si Bajingan
merenung, memikirkan apa makna mimpi yang sejenak hinggap di
tidusiangnya. Jam demi jam berlalu, hari berganti hari berlalu si
Bajingan belum juga menemukan makna mimpi nya. Cilakanya, mimpi itu
semakin sering dia temui, Ketika dia tidur di pagi hari, sore hari
apalagi malam hari. Si Bajingan jadi semakin kurus karena kurang
tidur, tidak enak maka dan akhirnya malah tidak bersemangat sama
sekali untuk melakukan apapun.

Dalam sebuah keheningan, ada suara dalam hatinya…Dia dengarkan
sayup-sayup suara yang didengarnya, semakin lama semakin jelas
terdengar "Tobat…Tobat, Berhenti…Berhenti…" Si Bajingan semakin panik,
"Aduuuuuh, apa iya aku mesti bertobat?" "Apa Tuhan masih mau menerima
tobatku?" "Apa aku masih bisa digolongkan kepada manusia, sedangkan
perilaku setiap hariku jauh lebih mirip binatang?" Si Bajingan
akhirnya berjalan menuju keluar rumah. Dilihatnya jalanan sepi dan
lapang di depannya. Dia menghirup nafas dalam-dalam dan
menghembuskannya perlahan-lahan. "Mungkin masih ada kesempatan buatku
bertobat kepada Tuhan dan memohon ampun atas segala dosa-dosaku…" Maka
berjalanlah si Bajingan mengikuti kemana langkah kakinya mengajaknya
berjalan. 

Tiba di suatu kampung, semua penduduk yang melihat si Bajingan lari
terbirit-birit, semua tahu reputasi buruknya. Mereka menutup pintu
rapat-rapat. Anak-anak yang sedang bermain-main di halaman rumah
segera diseret paksa oleh orangtuanya agar masuk rumah, semua
ketakutan. Tiba-tiba ada seorang tua yang tidak sempat melarikan diri,
dia sedang memanggul kayu bakar dipundaknya. Akhirnya si Bajingan
bertanya kepada si orang tua. "Hey pak tua! Tunjukkan di mana rumah
orang paling pintar dan sering  ibadah di sini, tunjukkan pada ku
CEPUAAAAAT" …Si orangtua, yang shok bukang kepalang dibentak seperti
itu menunjuk dua rumah di belakang kampung sebelum akhirnya jatuh
pingsan saking takutnya.

Si Bajingan mendatangi sebuah rumah yang ditunjuk, dia sempatkan untuk
mengucapkan permisi…"Permisi Pak, permisi Bu!" "Apa ada orang di
rumah?" Dilihatnya ada orang yang sedang sembunyi di belakang pintu,
Pintu di dobrak sekuat-kuatnya…BRAKKK! "Hey, mengapa bersembunyi?"
"Maaf den, saya tidak bersembunyi" "Loh, jadi sedang apa Bapak
dibelakang pintu?" "Tidak den, tidak bikin apa-apa" Yang ditanya
mengigil ketakutan. Si Bajingan menurunkan nada bicaranya "Pak, Bapak
orang pintar kan? Penduduk sini bilang begitu ke saya" Si Bapak
mengangguk pelan "Iya den, kenapa?" Sedikit mulai tenang dan sembari
merapihkan sarungnya yang melorot. "Bapak kenal saya kan?" "Tentu den,
siap yang tidak kenal dengan anda?" "Baik, kalo begitu saya mau
bertobat pak, bisa Bapat tunjukkan bagaimana caranya bertobat?"
"HeHehe…Bagaimana mungkin Bajingan seperti aden mau bertobat?" "Saya
kira susah sekali den buat Tuhan menerima Tobat aden?" "HAH!!!!", si
Bajingan tersinggung dan marah atas jawaban tersebut, ditebasnya golok
yang selalu biasa dia bawa kepada si orangtua, dan sekali tebas,
tewaslah orang pintar yang ada dihadapannya…"Aduuhhh, wah tambah satu
lagi korbanku, jadi 100 dah sekarang…, Bagaimana ini?"

Si Bajingan berjalan ke rumah satunya..Karena masih diliputi amarah,
dia tidak lagi mengetuk pintu, langsung didobraknya pintu
dihadapannya. "Permisi pak tua, Bapak kenal dengan saya?" Kali ini
jawaban yang diterimanya berbeda "Tidak, anda siapa? Dan mengapa tidak
mengucap salam atau permisi memasuki rumah saya" orangtua yang satu
ini sangat tenang, saking tenangnya malah membuat si Bajingan salah
tingkah…"Eh, eng…anu pak, maaf pak…Saya Cuma mau bertanya pada Bapak,
apa boleh pak" kali ini si Bajingan untuk pertamakalinya bisa bersikap
sopan. "Tentu saja dik, ada apa?" "Begini pak, saya sudah punya
segunung dosa dan maksiat, saya mau bertobat, apa masih mungkin Tuhan
menerima tobat saya pak?" Si orangtua tidak langsung
menjawab…"Ehm…Saudara betul-betul ingin bertobat?" "betul pak!" "Yakin
sepenuh hati?" "Yakin Sekali Pak!!" si Bajingan menjatuhkan golok yang
dia pegang dibalik punggungnya. "Bagaimana kalau ternyata Saudara
hanya main-main?" "Biarlah Tuhan yang langsung mencabut nyawaku yang
`berbanjirkan' dosa dan maksiat ini pak…hik…hik…" untuk pertamakalinya
si Bajingan menangis terisak. "Sudah, jangan menangis, pergilah ke
arah sana" kata si orangtua sambil menunjuk ke arah pegunungan "Di
sana ada sebuah tempat di mana kami di kampung ini biasa beribadah,
pergilah kesana lebih dulu, tunggu saya dan orang-orang kampung ke
termpat itu"

Jarak dari rumah orangtua itu dengan tempat dimaksud kira-kira 10 ribu
meter ke arah perbukitan. Tanpa menunggu waktu lagi si Bajingan
bergegas pergi untuk melaksanakan niatnya bertobat. Selangkah, dua
langkah dan seterusnya, belum sampai ke tempat tujuan, si Bajingan
kecapaian. Dia beristirahat sejenak disebuah pohon, berencana
istirahat barang sekejap dan melanjutkan lagi perjalannya. Semenit,
dua menit bermenit-menit akhirnya sampai satu jam kemudian si Bajingan
tidak pernah bangun, Si Bajingan yang ingin bertobat itu ternyata
meninggal dunia. Innalillahi wa inna ilaihi rojiun...

Sementara di alam lain, malaikat penjaga neraka datang ingin menjemput
roh si Bajingan. Ketika dia ingin menjemput, dia bertemu dengan
malaikat penjaga surga. Malaikat penjaga surga datang juga ingin
menjemput roh si Bajingan. "Roh ini akan akan ikut denganku menuju
neraka"  kata malaikat pertama. Malaikat kedua menimpali "Loh,
bukankah kita juga sudah sama-sama tahu bahwa si Bajingan sedang
menuju tempatnya bertobat, berarti di ikut aku menuju surga" Kedua
malaikat tersebut sama-sama bersikeras untuk membawa roh tersebut ke
tempatnya masing-masing. Tiba-tiba keduanya hening, dan
berkata"Mengapa tidak kita hitung saja langkah si mayit? Lebih banyak
mana langkahnya dari rumah terakhir dia ingin melaksanakan tobat"
Keduanya sepakat untuk menghitung. Sampai di mana si Bajingan tidur
dan meninggal dunia ternyata 5001 meter dari 10 ribu meter menuju
tempatnya bertobat, atau satu meter lebih banyak menuju tempatnya
bertobat. Maka detik itu pula Tuhan memerintahkan malaikat penjaga
surga membawanya pergi mengikutinya. 

"Niat saja mungkin tidak cukup. Tetapi niat dan perbuatan yang
sungguh-sungguh ke arah perubahan menuju perbaikan, biar Alloh SWT
yang menilai. Siapa sih (dan apalah) kita ini sehingga bisa menilai
`niat' seseorang?"

Mudah-mudahan ada hikmahnya…


Salam Perbahan
Adin-Somewhere at Gorontalo


Kirim email ke