Hadits Hudzaifah Rodhiallohu Ta’ala ‘Anhu 31 January, 2007 – Tingkat
pembahasan: Dasar
Nash Hadits
“Dari Hudzaifah Ibnul Yaman rodhiallohu ta’ala ‘anhu berkata: Manusia bertanya
kepada Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam tentang kebaikan, sedangkan aku
bertanya kepada beliau tentang keburukan karena khawatir jangan-jangan
menimpaku. Maka aku bertanya: ‘Wahai Rosululloh, sebelumnya kita berada di
zaman Jahiliah dan keburukan, kemudian Alloh mendatangkan kebaikan ini. Apakah
setelah ini ada keburukan?’ Beliau bersabda: ‘Ada.’ Aku bertanya: ‘Apakah
setelah keburukan itu akan datang kebaikan?’ Beliau bersabda: ‘Ya, akan tetapi
di dalamnya ada dakhanun.’ Aku bertanya: ‘Apakah dakhanun itu?’ Beliau
menjawab: ‘Suatu kaum yang mensunnahkan selain sunnahku dan memberi petunjuk
dengan selain petunjukku. Jika engkau menemui mereka maka ingkarilah.’ Aku
bertanya: ‘Apakah setelah kebaikan itu ada keburukan?’ Beliau bersabda: ‘Ya
dai-dai yang mengajak ke pintu Jahanam. Barang siapa yang mengijabahinya, maka
akan dilemparkan ke dalamnya.’
Aku bertanya: ‘Wahai Rosululloh, berikan ciri-ciri mereka kepadaku.’ Beliau
bersabda: ‘Mereka mempunyai kulit seperti kita dan berbahasa dengan bahasa
kita.’ Aku bertanya: ‘Apa yang engkau perintahkan kepadaku jika aku
menemuinya?’ Beliau bersabda: ‘Berpegang teguhlah pada Jama’ah Muslimin dan
imamnya.’ Aku bertanya: ‘Bagaimana jika tidak ada jama’ah maupun imamnya?’
Beliau bersabda: ‘Hindarilah semua firqah itu, walaupun dengan menggigit pokok
pohon hingga maut menjemputmu sedangkan engkau dalam keadaan seperti itu.’”
(Riwayat Bukhari VI615-616, XIII/35. Muslim XII/135-238 Baghawi dalam Syarh
Sunnah XV/14. Ibnu Majah no. 3979, 3981. Hakim IV/432. Abu Dawud no. 4244-4247.
Baghawi XV/8-10. Ahmad V/386-387 dan hal. 403-404, 406 dan hal. 391-399)
Makna Hadits
Pertama: Mengenali Sabilul Mujrimin adalah kewajiban Syar’i.
Perlu diketahui bahwa Manhaj Rabbani yang abadi yang tertuang dalam uslub
Qurani yang diturunkan ke hati Penutup Para Nabi tersebut tidak hanya
mengajarkan yang haq saja untuk mengikuti jejak orang-orang beriman (Sabilul
Mu’minin). Akan tetapi juga membuka kedok kebatilan dan menyingkap kekejiannya
supaya jelas jalannya orang-orang yang suka berbuat dosa (Sabilul Mujrimin).
Alloh berfirman,
وَكَذَلِكَ نفَصِّلُ الآيَاتِ وَلِتَسْتَبِينَ سَبِيلُ الْمُجْرِمِينَ
“Dan demikianlah, kami jelaskan ayat-ayat, supaya jelas jalannya orang-orang
yang suka berbuat dosa.” (QS. Al-An’am: 55)
Yang demikian itu karena istibanah (kejelasan) jalannya orang-orang yang suka
berbuat dosa (Sabilul Mujrimin) secara langsung berakibat pada jelasnya pula
Sabilul Mu’minin. Oleh karena itu istibanah (kejelasan) Sabilul Mujrimin
merupakan salah satu sasaran dari beberapa sasaran penjelasan ayat-ayat
Rabbani. Karena ketidakjelasan Sabilul Mujrimin akan berakibat langsung pada
keraguan dan ketidakjelasan Sabilul Muminin. Oleh karena itu, menyingkap
rahasia kekufuran dan kekejian adalah suatu kebutuhan yang sangat mendesak
untuk menjelaskan keimanan, kebaikan dan kemaslahatan.
Ada sebagian cendikiawan syair menyatakan:
“Aku kenali keburukan tidak untuk berbuat buruk, akan tetapi untuk menjaga
diri”
“Barang siapa yang tidak dapat membedakan antara kebaikan dan keburukan, maka
akan terjerumus ke dalamnya”
Hakikat inilah yang dimengerti oleh generasi pertama umat ini -Hudzaifah Ibnul
Yaman rodhiallohu ‘anhu. Maka ia berkata, “Manusia bertanya kepada Rosululloh
tentang kebaikan, sedangkan aku bertanya tentang keburukan, karena khawatir
akan terjebak di dalamnya.”
Kedua: Kekokohan kita dihancurkan dari dalam.
Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda berkenan dengan
keinginan kaum kafir untuk membinasakan kaum muslimin dan Islam, seperti yang
dinyatakan dalam hadits Tsaubah rodhiallohu ‘anhu bahwa Rosululloh shollallohu
‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya, “Nyaris orang-orang kafir menyerbu dan
membinasakan kalian seperti menyerbu makanan di atas piring. Berkata seseorang:
‘Apakah karena sedikitnya kami waktu itu?’ Beliau bersabda: ‘Bahkan kalian pada
waktu itu banyak sekali, akan tetapi kamu seperti buih di atas air. Dan Alloh
mencabut rasa takut musuh-musuhmu terhadap kalian serta menjangkitkan di dalam
hatimu penyakit wahn.’ Seseorang bertanya: ‘Wahai Rosululloh, apakah wahn itu?’
Beliau bersabda: ‘Mencintai dunia dan takut mati.’” (Riwayat Abu Dawud no.
4297. Ahmad V/278. Abu Na’im dalam Al-Hilyah)
Dari hadits di atas dapat disimpulkan bahwa. Pertama, Kaum kafir saling
menghasung untuk menjajah Islam, negeri-negerinya serta penduduknya. Kedua,
Negeri-negeri muslimin adalah negeri-negeri sumber kebaikan dan barakah yang
mengundang air liur kaum kafir untuk menjajahnya. Ketiga, kaum kafir mengambil
potensi alam negeri muslimin tanpa rintangan dan halangan sedikit pun. Keempat,
kaum kafir tidak lagi gentar terhadap kaum Muslimin karena rasa takut mereka
kepada kaum Muslimin sudah dicabut Alloh dari dalam hati mereka. Padahal pada
mulanya Alloh menjanjikan kepada kaum Muslimin dalam firman-Nya
سَنُلْقِي فِي قُلُوبِ الَّذِينَ كَفَرُواْ الرُّعْبَ بِمَا أَشْرَكُواْ بِاللّهِ
مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَاناً وَمَأْوَاهُمُ النَّارُ وَبِئْسَ مَثْوَى
الظَّالِمِينَ
“Akan kami jangkitkan di dalam hati orang-orang kafir rasa takut, disebabkan
mereka mempersekutukan Alloh, di mana Alloh belum pernah menurunkan satu alasan
pun tentangnya.” (QS. Ali Imran: 151)
Dan Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda artinya, “Aku
diberi lima perkara yang belum pernah diberikan kepada seorang nabi pun
sebelumku: ‘Aku ditolong dengan rasa ketakutan dengan jarak satu bulan
perjalanan; dan dijadikan bumi untukmu sebagai tempat sujud ; …. dan
seterusnya.” (Riwayat Bukhari, lihat Fathul Bari I/436. Muslim dalam Nawawi
V/3-4 dari Jabir bin Abdullah rodhiallohu ‘anhu)
Akan tetapi kekhususan tersebut dibatasi oleh sabda beliau shollallohu ‘alaihi
wa sallam dalam hadits Tsauban yang lalu, yang menyatakan, “Alloh akan mencabut
rasa takut musuh-musuhmu terhadap kalian…”
Dari hadits ini mengertilah kita bahwa kekuatan umat Islam bukanlah terletak
pada jumlah dan perbekalannya, atau pada artileri dan logistiknya. Akan tetapi
kekuatannya terletak pada aqidahnya. Seperti yang kita saksikan ketika beliau
shollallohu ‘alaihi wa sallam menjawab pertanyaan yang berkenan dengan jumlah,
maka beliau jawab, “Bahkan ketika itu kalian banyak sekali, akan tetapi kalian
seperti buih di atas aliran air.” Kemudian apa yang menjadikan “pohon yang
akarnya menghujam ke bumi dan cabangnya menjulang ke langit” itu seperti buih
yang mengambang di atas air?
Sesungguhnya racun yang meluruhkan kekuatan kaum muslimin dan melemahkan
gerakannya serta merenggut barokahnya bukanlah senjata dan pedang kaum kafir
yang bersatu untuk membuat makar terhadap Islam, para pemeluknya dan
negeri-negerinya. Akan tetapi adalah racun yang sangat keji yang mengalir dalam
jasad kaum muslimin yang disebut oleh Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam
sebagai “Dakhanun”. Ibnu Hajar dalam Fathul Bari XIII/36 mengartikannya dengan
hiqd (kedengkian), atau daghal (pengkhianatan dan makar), atau fasadul qalb
(kerusakan hati). Semua itu mengisyaratkan bahwa kebaikan yang datang setelah
keburukan tersebut tidak murni, akan tetapi keruh. Dan Imam Nawawi dalam Syarah
Shahih Muslim XII/236-237, mengutip perkataan Abu ‘Ubaid yang menyatakan bahwa
arti dakhanun adalah seperti yang disebut dalam hadits lain, “Tidak kembalinya
hati pada fungsi aslinya.” (Riwayat Abu Dawud no. 4247)
Sedangkan makna aslinya adalah apabila warna kulit binatang itu keruh/suram.
Maka seakan-akan mengisyaratkan bahwa hati mereka tidak bening dan tidak mampu
membersihkan antara yang satu dengan yang lain. Kemudian berkata Al-Baghawi
dalam Syarhus Sunnah XV/15: Bahwa sabda beliau: “Dan di dalamnya ada Dakhanun,
yakni tidak ada kebaikan murni, akan tetapi di dalamnya ada kekeruhan dan
kegelapan.” Adapun Al ‘Adzimul Abadi dalam ‘Aunil Ma’bud XI/316 menukil
perkataan Al Qari yang berkata: “Asal kata dakhanun adalah kadurah (kekeruhan)
dan warna yang mendekati hitam. Maka hal ini mengisyaratkan bahwa kebaikan
tersebut tercemar oleh kerusakan (fasad).”
Dan sesungguhnya penanam racun yang keji dan menjalar di kalangan umat ini
tidak lain adalah oknum-oknum dari dalam sendiri. Seperti yang dinyatakan
Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam: “Mereka adalah dari kalangan bangsa
kita dan berbahasa dengan bahasa kita.” Berkata Ibnu Hajar rohimahulloh dalam
Fathul Bari XIII/36: “Yakni dari kaum kita, berbahasa seperti kita dan beragama
dengan agama kita. Ini mengisyaratkan bahwa mereka adalah bangsa Arab.”
Sedangkan Al Qabisi menyatakan -seperti dinukil oleh Ibnu Hajar- secara lahir
maknanya adalah bahwa mereka adalah pemeluk dien (agama) kita, akan tetapi
batinnya menyelisihi. Dan kulit sesuatu adalah lahirnya, yang pada hakikatnya
berarti penutup badan. Mereka mempunyai sifat seperti yang dikatakan dalam
hadits riwayat Muslim yang artinya “Akan ada di kalangan mereka orang yang
berhati iblis dengan jasad manusia.” (Riwayat Muslim)
Yakni mereka memberikan harapan-harapan kepada manusia berupa mashalih
(pembangunan), siyadah (kepemimpinan) dan istiqlal (kemerdekaan dan kebebasan)
dan umat merasa suka dengan propaganda mereka. Untuk itu mereka mengadakan
pertemuan-pertemuan, muktamar-muktamar dan diskusi-diskusi. Oleh sebab itu
mereka diberi predikat sebagai dai atau du’at -dengan dlamah pada huruf dal-
merupakan bentuk jamak dari da’a yang berarti sekumpulan orang yang melazimi
suatu perkara dan mengajak serta menghasung manusia untuk menerimanya. (Lihat
‘Aunil Ma’bud XI/317).
Ketiga: Jamaah minal Muslimin dan bukan Jamaah Muslimin/’Umm.
Kalau kita mengamati kenyataan, maka kita akan melihat bahwa faham hizbiyah
(kelompok) telah mengalir di dalam otak sebagian besar kelompok yang menekuni
medan dakwah ilalloh, di mana seolah-olah tidak ada kelompok lain kecuali
kelompoknya, dan menafikan kelompok lain di sekitarnya. Persoalan ini terus
berkembang, sehingga ada sebagian yang mendakwahkan bahwa merekalah Jama’ah
Muslimin/Jamaah ‘Umm (Jama’ah Induk) dan pendirinya adalah imam bagi seluruh
kaum muslimin, serta mewajibkan berbaiat kepadanya. Selain itu mereka
mengkafirkan sawadul a’dzam (sebagian besar) muslimin, dan mewajibkan kelompok
lain untuk bergabung dengan mereka serta berlindung di bawah naungan bendera
mereka.
Kebanyakan mereka lupa, bahwa mereka bekerja untuk mengembalikan kejayaan
Jamaatul Muslimin. Kalaulah Jamaatul Muslimin dan imam-nya itu masih ada, maka
tidaklah akan terjadi ikhtilaf dan perpecahan ini di mana Alloh tidak
menurunkan sedikit pun keterangan tentangnya.
Sebenarnya para pengamal untuk Islam itu adalah Jamaah minal Muslimin
(kumpulan sebagian dari muslimin) dan bukan Jamaatul Muslimin atau Jamaatul
‘Umm (Jamaah Induk), karena kaum muslimin sekarang ini tidak mempunyai Jamaah
ataupun Imam. Ketahuilah wahai kaum muslimin, bahwa yang disebut Jamaah
Muslimin adalah yang tergabung di dalamnya seluruh kaum muslimin yang mempunyai
imam yang melaksanakan hukum-hukum Alloh. Adapun jamaah yang bekerja untuk
mengembalikan daulah khilafah, mereka adalah Jamaah minal Muslimin yang wajib
saling tolong menolong dalam urusannya dan menghilangkan perselisihan yang ada
di antara individu supaya ada kesepakatan di bawah kalimat yang lurus dalam
naungan kalimat tauhid.
Al-Hafidz Ibnu Hajar rohimahulloh dalam Fathul Bari XII/37 menukil perkataan
Imam Thabari rohimahulloh yang menyatakan: “Berkata kaum (yakni para ulama),
bahwa Jamaah adalah Sawadul A’dzam. Kemudian diceritakan dari Ibnu Sirin dari
Abi Mas’ud, bahwa beliau mewasiatkan kepada orang yang bertanya kepadanya
ketika ‘Utsman dibunuh, untuk berpegang teguh pada Jamaah, karena Alloh tidak
akan mengumpulkan umat Muhammad shollallohu ‘alaihi wa sallam dalam kesesatan.
Dan dalam hadits dinyatakan bahwa ketika manusia tidak mempunyai imam, dan
manusia berpecah belah menjadi kelompok-kelompok maka janganlah mengikuti salah
satu firqah. Hindarilah semua firqah itu jika kalian mampu untuk menghindari
terjatuh ke dalam keburukan.”
Keempat: Menjauhi semua firqah.
Dinyatakan dalam hadits Hudzaifah tersebut supaya menjauhi semua firqah jika
kaum muslimin tidak mempunyai jamaah dan tidak pula imam pada hari terjadi
keburukan dan fitnah. Semua firqah tersebut pada dasarnya akan menjerumuskan ke
dalam kesesatan, karena mereka berkumpul di atas perkataan/teori mungkar
(mungkari minal qaul) atau perbuatan mungkar, atau hawa nafsu. Baik yang
mendakwahkan mashalih (pembangunan) atau mathami’ (ketamakan) dan mathamih
(utopia). Atau yang berkumpul di atas asas pemikiran kafir, seperti;
sosialisme, komunisme, kapitalisme, dan demokrasi. Atau yang berkumpul di atas
asas kedaerahan, kesukuan, keturunan, kemazhaban, atau yang lainnya. Sebab
mereka semua itu akan menjerumuskan ke dalam neraka Jahanam, dikarenakan
membawa misi selain Islam atau Islam yang sudah diubah…!
Kelima: Jalan penyelesaiannya.
Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam telah memerintahkan kepada Hudzaifah
untuk menjauhi semua firqah yang menyeru dan menjerumuskan ke neraka Jahanam,
dan supaya memegang erat-erat pokok pohon (ashlu syajarah) hingga ajal
menjemputnya sedangkan ia tetap dalam keadaan seperti itu. Dari pernyataan Nabi
shollallohu ‘alaihi wa sallam tersebut dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:
Pertama, bahwa pernyataan itu mengandung perintah untuk melazimi Al Kitab dan
As-Sunnah dengan pemahaman Salafuna Shalih. Hal ini seperti yang diisyaratkan
dalam hadits riwayat ‘Irbadh Ibnu Sariyah yang artinya “Barang siapa yang masih
hidup di antara kalian maka akan melihat perselisihan yang banyak. Dan
waspadalah terhadap perkara-perkara yang diada-adakan karena hal itu sesat. Dan
barang siapa yang menemui yang demikian itu, maka berpegang teguhlah pada
sunnahku dan sunnah khulafa’ur rasyidin. Gigitlah ia dengan geraham-geraham
kalian.” (Riwayat Abu Dawud no. 4607, Tirmidzi no. 2676, Ibnu Majah no. 440 dan
yang lainnya)
Jika kita menggabungkan kedua hadits tersebut, yakni hadits Hudzaifah Ibnul
Yaman rodhiallohu ‘anhu yang berisi perintah untuk memegang pokok-pokok pohon
(ashlu syajarah) dengan hadits ‘Irbadh ini, maka terlihat makna yang sangat
dalam. Yaitu perintah untuk ber-iltizam pada As-Sunnah An-Nabawiyah dengan
pemahaman Salafuna As-Shalih Ridhwanulloh ta’ala ‘alaihim manakala muncul
firqah-firqah sesat dan hilangnya Jamaah Muslimin serta Imamnya.
Kedua, di sini ditunjukkan pula bahwa lafadz (an ta’adhdha bi ashli syajarah)
dalam hadits Hudzaifah tersebut tidak dapat diartikan secara zhahir hadits.
Tetapi maknanya adalah perintah untuk berpegang teguh, dan bersabar dalam
memegang Al-Haq serta menjauhi firqah-firqah sesat yang menyaingi Al-Haq. Atau
bermakna bahwa pohon Islam yang rimbun tersebut akan ditiup badai topan hingga
mematahkan cabang-cabangnya dan tidak tinggal kecuali pokok pohonnya saja yang
kokoh. Oleh karena itu maka wajib setiap muslim untuk berada di bawah asuhan
pokok pohon ini walaupun harus ditebus dengan jiwa dan harta. Karena badai
topan itu akan datang lagi lebih dahsyat.
Ketiga, oleh karena itu menjadi kewajiban bagi setiap muslim untuk mengulurkan
tangannya kepada kelompok (firqah) yang berpegang teguh dengan pokok pohon itu
untuk menghadapi kembalinya fitnah dan bahaya bala. Kelompok ini seperti
disabdakan beliau shollallohu ‘alaihi wa sallam akan selalu ada dan akan selalu
muncul untuk menyokong kebenaran hingga yang terakhir dibunuh Dajjal.
Maraji’:
Al Ilzamat wa at Tatabu oleh Ad-Daruquthni
Tafsir Al-Qur’an Al-Adzim, oleh Ibnu Katsir
Al Jami’ As Shahih, oleh Bukhari dengan Fathul Bari
Haliyatul Auliya’ oleh Abu Na’im Al- Ashbahani
Silsilah Al-Hadits As-Shahihah, oleh Muhammad Nashiruddien Al-Albani
As-Sunnan, oleh Ibnu Majah
As-Sunnan, oleh Abu Dawud
As-Sunnan, oleh Tirmidzi
Syiar A’lam An-Nubala, oleh Adz-Dzahabi
Syarhu Sunnah, oleh Baghawi
As-Shahih, oleh Muslim bin Al-Hujjaj
‘Aunil Ma’bud, oleh Syamsul Al-Abadi
Al-Kaasyif, oleh Dzahabi
Al-Mustadrak, oleh Hakim
Al-Musnad, oleh Ahmad bin Hambal
(Tulisan ini disadur dan diringkas dari kutaib yang berjudul “Qaulul Mubin fi
Jama’atil Muslimin” karangan Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali, Penerbit Maktab
Islamy Riyadh tanpa tahun, dan dimuat di majalah As-Sunnah edisi 07/1/1414-1993
hal. 8-13, diambil dari situs wwww.assunnah.or.id)
_Abu abdirrahman bin misdi al-carati
---------------------------------
Kunjungi halaman depan Yahoo! Indonesia yang baru!
[Non-text portions of this message have been removed]