Salam kenal… 

Berikut ini adalah tulisan dari seorang mahasiswa yang sedang 
mencari ilmu di negeri seberang. Mungkin bisa dijadikan pembanding 
dengan kondisi negara kita. Mudah-mudahan bermanfaat.
Selamat Membaca.

Affandi RH
Anak magang KPPN Singaraja

____________________________________________________
Atas izin penulis.
Courtesy of Yuli Setyo Indartono, Mahasiswa S3 di Graduate School of 
Science and Technology, Kobe University

Tulisan ini tidak bertutur tentang legenda Bangsa Samurai dahulu 
kala, namun berkisah tentang Jepang saat ini. Dongeng di sini 
berarti sesuatu yang mengherankan bila disandingkan dengan kondisi 
keseharian di tanah air. Meski Jepang bukanlah negeri dongeng yang 
sempurna, ada nilai-nilai kebaikan universal terealisir yang menarik 
untuk disimak dan diaplikasikan di tanah air tercinta. Tulisan ini 
merupakan fragmentasi keseharian saya, istri, dan beberapa kawan 
dekat kami di Jepang.

01. Kantor pemerintahan dan pelayanan publik

Anda pernah melihat sekelompok semut? Nah, begitulah kira-kira 
situasi kantor pemerintahan daerah di Jepang. Tidak ada "semut" yang 
diam termangu, apalagi membaca koran; seluruh karyawan kantor 
senantiasa bergerak, dari saat bel mulai kerja hingga pulang larut 
malam. Tak habis pikir, saya tatap dalam-dalam "semut-semut" yang 
sedang bekerja tersebut; kadang kala saya curi pandang: jangan-
jangan mereka sedang ber-internet ria seperti kebiasaan saya di 
kampus. Ingin saya mengetahui makanan apa gerangan yang dikonsumsi 
para pegawai itu sehingga mereka sanggup berjam-jam duduk, 
berkonsentrasi, dan menatap monitor yang bentuknya tidak berubah 
tersebut. Tata ruang kantor khas Jepang: mulai pimpinan hingga staf 
teknis duduk pada satu ruangan yang sama - tanpa sekat; semua bisa 
melihat bahwa semuanya bekerja. Satu orang membaca koran, pasti akan 
ketahuan. Aksi yang bagi saya dramatis ini masih ditambah lagi 
dengan aksi lari-lari dari pimpinan ataupun staf dalam melayani 
masyarakat. Ya, mereka berlari dalam arti yang sesungguhnya dan 
ekspresi pelayanan yang sama seriusnya. Wajah mereka akan menatap 
anda dalam-dalam dengan pola serius utuh diselingi dengan senyuman. 
Saya hampir tak percaya dengan perkataan kawan saya yang mempelajari 
sistem pemerintahan Jepang, bahwa gaji mereka - para "semut" 
tersebut - tidak bisa dikatakan berlebihan. Sesuai dengan standard 
upah di Jepang. Yang saya baca di internet, mereka memiliki 
kebanggaan berprofesi sebagai abdi negara; kebanggaan yang menutupi 
penghasilan yang tidak berbeda dengan profesi yang lain.

Menyandang status mahasiswa, saya mendapatkan banyak kemudahan dan 
fasilitas dari Pemerintah Jepang. Untuk mengurus berbagai keringanan 
tersebut, saya harus mendatangi kantor kecamatan (kuyakusho) atau 
walikota (shiyakusho) setempat. Beberapa dokumen harus diisi; khas 
Jepang: teliti namun tidak menyulitkan. Dalam berbagai kesempatan 
saya harus mengisi kolom semacam: apakah anda melakukan pekerjaan 
sambilan (arubaito = part time job), apakah anak anda tinggal 
bersama anda (untuk mengurus tunjangan anak), dsb. Dan dalam banyak 
hal, pertanyaan-pertanyaan tersebut cukup dijawab dengan lisan: ya 
atau tidak. Tidak perlu surat-surat pembuktian dari "RT, RW, 
Kelurahan" dsb. Saya percaya bahwa sistem yang baik selalu 
mensyaratkan kejujuran.  Sistem berlandaskan kejujuran akan cepat 
maju dan meningkat, sekaligus sangat efisien. Mengetahui bahwasanya 
saya adalah orang asing yang kurang lancer berbahasa Jepang, saya 
mendapatkan "fasilitas" diantar kesana kemari pada saat mengurus 
berbagai dokumen untuk mengajukan keringanan biaya melahirkan istri 
saya. Hal ini terjadi beberapa kali. Seorang senior saya pernah 
mengatakan, begitu anda masuk ke kantor pemerintahan di Jepang, maka 
semua urusan akan ada (dan harus ada) solusinya. Lain hari saya 
membaca prinsip "the biggest (service) for the small" yang kurang 
lebih bermakna pelayanan dan perhatian yang maksimal untuk orang-
orang yang kurang beruntung. Pameo "kalau ada yang sulit, mengapa 
dipermudah" tidak saya jumpai di Jepang. Pada suatu urusan di kantor 
walikota (shiyakusho) saya diminta untuk menyerahkan surat pajak 
penghasilan. Saya mengatakan bahwa saya sudah pernah, di masa yang 
lalu, menyerahkan surat yang sama ke bagian lain di kantor tersebut. 
Saya sudah siap dan pasrah seandainya mereka menjawab bahwa saya 
harus mengurus kembali surat tersebut ke kantor kecamatan sebelum 
saya pindah ke kota ini. Agak tertegun sekaligus lega mendapat 
jawaban bahwa staf divisi tersebut akan mendatangi divisi lain 
tempat saya pernah menyerahkan dokumen pajak saya sekian bulan yang 
lalu. Dia akan mengkopinya dari sana . Ambil jalan yang mudah, namun 
tetap mengedepankan ketelitian. Itulah yang saya jumpai di Jepang. 
Berstatus mahasiswa yang berkeluarga (baca: harus berhemat), kami 
sempat terkejut melihat tagihan listrik bulanan yang melonjak hingga 
10 kali lipat. Setelah melakukan pengusutan sederhana, tahulah kami 
bahwa ada kesalahan pencatatan meter listrik oleh petugas - sebuah 
kesalahan yang tidak umum di negeri ini. Segera saat itu pula saya 
telpon perusaah listrik wilayah Kansai untuk mengkonfirmasikan 
kesalahan tersebut. Berkali-kali kata sumimasen (yang bisa pula 
berarti maaf) keluar dari mulut operator telepon. Saya menganggapnya 
sudah selesai, karena operator berjanji untuk segera melakukan 
tindak lanjut. Belum berapa lama meletakkan tas di laboratorium pagi 
itu, istri menelpon dari rumah perihal kedatangan petugas listrik 
untuk meminta maaf dan menarik slip tagihan. Setibanya di rumah 
malam harinya, baru tahulah saya bahwa yang datang bukanlah sekelas 
petugas lapangan (dari kartu nama yang ditinggalkannya) dan tahulah 
saya bahwa dia tidak sekedar meminta maaf, karena bingkisan berisi 
sabun dan shampo merk cukup terkenal menyertai kartu nama petugas 
tersebut. Saya hanya berharap, waktu itu, bahwa petugas pencatat 
yang keliru tidak akan bunuh diri. Karena kekeliruan dalam bekerja, 
secara umum, menyangkut kehormatan di Negara ini.
Saya mengetahui dari sebuah perusahaan penyalur tenaga kerja di 
Jepang akan sebuah paradigma "Bila anda datang ke kantor pada pukul 
09.00 (jam resmi masuk kantor di Jepang) dan pulang pada pukul 17.00 
(jam resmi pulang kantor di Jepang), maka atasan dan kawan-kawan 
anda akan mengatakan bahwa anda tidak memiliki niat bekerja". Saya 
membuktikan pameo tersebut, karena setiap hari saya bersepeda 
melintasi kantor walikota (shiyakusho). Sebagian besar lampu di 
kantor itu masih menyala hingga pukul 20.00. 
Dan beberapa kali saya jumpai staf kantor tersebut memasuki stasiun 
kereta, juga sekitar pukul 20.00. Hal ini berarti, mereka semua 
memiliki niat bekerja versi Jepang. 

02. Pasar, pertunjukan kejujuran dan perhatian

Suatu kali pernah kami membeli sebungkus buah-buahan dengan bandrol 
murah; favorit bagi kalangan mahasiswa asing seperti saya. Saya 
sudah mengetahui bahwa ada sedikit cacat (gores atau bekas benturan) 
pada permukaan beberapa buah-buahan - sesuai dengan harga murah yang 
disematkan padanya. Pada saat kami hendak membayar buah tersebut, 
penjual buah buru-buru menerangkan dan menunjuk-nunjuk kondisi 
sedikit cacat pada beberapa buah-buahan tersebut, dan kembali 
memastikan niat kami membelinya. Sembari tersenyum, tentu saja kami 
mengatakan "daijobu" (tidak apa-apa), karena kami sudah melihatnya 
dari awal. Beberapa kawan kami mengiyakan pada saat kami 
menceritakan kejadian yang bagi kami cukup mengherankan ini; ini 
berarti sikap jujur tersebut tidak dimonopoli oleh satu-dua 
pedagang. Mereka mengerti betul bahwa kejujuran adalah prasyarat 
utama keberhasilan dalam berdagang. Tidak perlu meraup untung sesaat 
dalam jumlah besar, bila nantinya akan kehilangan pelanggan.

Hingga hari ini, pada saat bertransaksi di kasir, kami selalu 
menerima uang kembalian dalam jumlah yang utuh - sesuai dengan yang 
tertera pada slip pembayaran. Tidak kurang, meski hanya satu yen 
(mata uang terkecil di Jepang). Tidak ada "pemaksaan" untuk menerima 
permen sebagai pengganti nominal tertentu. Selain kagum dengan 
praktek berdagang yang baik ini, kami sekaligus kagum dengan sistem 
perbankan Jepang yang mampu menyediakan uang recehan untuk pedagang 
dan vending machine (mesin penjual otomatis) di se-antero Jepang. 
Meski bagi sebagian kalangan, uang kembalian terlihat "sepele"; hal 
ini bisa menyebabkan ketidakikhlasan pembeli terhadap transaksi jual-
beli. 

Istri saya selalu berbelanja bersama anak-anak; dan 
karena "keriangan" anak-anak, pada beberapa kasus, pak telur atau 
buah-buahan bisa meluncur ke lantai. Dua kali terjadi beberapa telur 
dalam satu pak pecah akibat keriangan anak-anak, dan satu kali 
melibatkan buah yang mudah penyok. Pada semua kejadian tersebut, 
petugas supermarket melihat dan segera mengganti barang-barang 
tersebut dengan yang baru. Padahal kami datang dengan wajah lelah 
dan pasrah untuk membayarnya, karena kami menyadari benar bahwa ini 
adalah kelalaian kami. Bahkan pada satu kasus, barang tersebut sudah 
dibayar istri saya. Pada saat kami menerangkan bahwa ini semua 
ketidaksengajaan anak-anak kami, dengan ramah petugas supermarket 
menyahut "daijobu yo" (tidak apa-apa).

Pada saat berkesempatan mengunjungi sebuah negara lain di Asia untuk 
sebuah konferensi, saya baru menyadari keramahtamahan petugas 
supermarket di Jepang. Di Jepang, bila anda menanyakan keberadaan 
sebuah barang, maka petugas tidak sekedar memberi arah petunjuk pada 
anda, namun dia akan mengantarkan anda hingga berjumpa dengan barang 
yang dicari; dan petugas baru akan meninggalkan anda setelah 
memastikan bahwa everything is ok. Hal ini tidak berarti bahwa 
jumlah petugas supermarket di Jepang demikian banyaknya hingga 
mereka berkesempatan jalan-jalan di dalam supermarket yang sangat 
besar; justru sebaliknya, jumlah petugas selalu sesuai benar dengan 
kebutuhan, dan mereka selalu bergerak - seperti semut. Di sebuah 
toko elektronik, seorang petugas yang menjelaskan spesifikasi 
computer yang anda tanyai adalah juga kasir tempat anda membayar 
serta petugas yang melakukan packing akhir terhadap komputer yang 
anda beli . 

03.Polisi, sistem yang bekerja dan melindungi

Kami sempat terheran-heran manakala pertama menginjakkan kaki di 
Kobe demi melihat postur polisi dan kendaraannya yang tidak lebih 
gagah dibandingkan dengan petugas pos di Indonesia. Benar, ini bukan 
metafora. Memang ada pula polisi di tingkat prefecture (propinsi) 
yang gagah mengendarai motor besar bak Chip - ini jumlahnya sedikit. 
Namun polisi kota besar seukuran Kobe - salah satu kota metropolis 
di Jepang, posturnya tidak segagah polisi yang sering saya jumpai di 
jalan-jalan Republik. Anda tentu menganggap saya sedang bergurau 
bila saya mengatakan bahwa motor polisi di Kota Kobe dan Ashiya 
serupa benar dengan bebek terbang tahun 70-an. Saya tidak bergurau. 
Ini Kobe dan Ashiya, dua kota di negara macan ekonomi dunia. Bebek 
terbang tersebut dilengkapi dengan boks besi di bagian belakang - 
mirip dengan petugas pengantaran barang kiriman. Namun, sekali bapak 
atau mbak polisi ini menghentikan kendaraan, tidak pernah saya 
melihat ada diantaranya yang berusaha lari. Tidak ada gunanya lari 
di negara dengan sistem network yang sangat baik ini. Ke mana pun 
anda lari, kesitu pula polisi dengan uniform yang serupa akan 
menghampiri anda. Pelan namun pasti. Saya akhirnya mafhum, bahwa 
polisi di sini lebih pada fungsi control dan pengambilan keputusan 
(decision maker) – kedua fungsi ini memang tidak mensyaratkan badan 
yang harus berotot dan berisi. Tak heran saya melihat mas-mas polisi 
muda berkacamata melakukan patroli dengan bebek terbangnya. Mereka 
hanya perlu melihat, mengawasi, dan mengambil keputusan. Selebihnya, 
sistem yang akan bekerja. 

04.Lingkungan hidup dan transportasi

Jepang bukanlah negara dengan penduduk kecil. Populasi negara ini 
hampir separuh populasi Republik tercinta. Di sisi lain, wilayah 
negara ini didominasi oleh pegunungan yang sulit untuk dihuni. 
Pegunungan yang tetap hijau, membuat saya menduga bahwa Pemerintah 
Jepang memang sengaja membiarkan kehijauan melekat pada daerah 
pegunungan tersebut. Tokyo adalah kota besar dengan jumlah penduduk 
terbesar se-dunia, mengalahkan New York dan berbagai kota besar di 
mancanegara. Besarnya penduduk, sempitnya dataran yang bisa dihuni, 
dan tingginya tingkat ekonomi mensiratkan dua hal: kerapian dan 
kebersihan. Anda akan sangat kesulitan menjumpai sampah 
anthrophogenik (akibat aktivitas manusia) di jalan-jalan di Jepang. 
Kemana mata anda memandang, maka kesitulah anda akan tertumbuk pada 
situasi yang bersih dan rapi. Orang Jepang meletakkan sepatu/alas 
kaki dengan tangan, bukan dengan kaki ataupun dilempar begitu saja. 
Mereka menyadari bahwa ruang (space) yang mereka miliki tidak luas, 
sehingga semuanya harus rapi dan tertata. Sepatu dan alas kaki 
diletakkan dengan posisi yang siap untuk digunakan pada saat kita 
keluar ruangan. Hal ini sesuai dengan karakteristik mereka yang 
senantiasa well-prepared dalam berbagai hal. Kadang saya menjumpai 
kondisi yang ekstrim; seorang pasien yang sedang menunggu giliran di 
depan saya berbicara dan menggerakkan anggota tubuhnya sendiri. Saya 
tahu bahwa ruang periksa di hadapan kami bukan ditempati psikiater 
ataupun neurophysicist. Belakangan saya tahu dari kawan yang belajar 
di bidang kedokteran, boleh jadi pasien tersebut sedang 
mempersiapkan dialog dengan dokternya. 

Transportasi di Jepang didominasi oleh angkutan publik, baik bus, 
kereta (lokal, ekspres, super ekspres), shinkansen, dan pesawat 
terbang (antar wilayah). Baiknya sistem dan sarana transportasi di 
Jepang membuat anda tidak perlu berkeinginan untuk memiliki 
kendaraan sendiri - kecuali bila anda tinggal di country-side yang 
tidak memiliki banyak alat transportasi umum. Kereta dan shinkansen 
(kereta antar kota super ekspres) mendominasi moda transportasi di 
Jepang. Sebuah sumber yang saya ingat menyebutkan bahwa kepadatan 
lalu lintas kereta di Jepang adalah yang tertinggi di dunia. Di 
Jepang, kereta dan shinkansen digerakkan menggunakan listrik. Hal 
ini tidak menyebabkan polusi udara di perkotaan, karena listrik 
diproduksi terpusat. PLTN sebagai salah satu sumber pemasok utama 
energi listrik di Jepang, tentu saja, juga berkontribusi pada 
rendahnya polusi udara karena, praktis, PLTN tidak mengemisikan CO2.
Nasehat "tengoklah dulu kiri dan kanan sebelum menyeberang jalan" 
mungkin tidak sangat penting untuk diterapkan bila anda menyeberang 
di tempat yang telah disediakan di Jepang. Anda cukup menunggu 
lambang pejalan kaki berubah warna menjadi hijau; insya Allah anda 
akan selamat sampai ke seberang - tanpa perlu menengok kiri dan 
kanan. Saat berkesempatan mengunjungi kota besar lain di Asia, 
kebiasaan menyeberang ala Jepang sempat membuat saya hamper 
terserempet motor; lampu hijau saja ternyata tidaklah cukup

05.Kesehatan dan rumah sakit

Jepang mengerti benar bahwa orang-orang yang sehatlah yang lebih 
mampu memajukan bangsa dan negaranya. Mahasiswa di tempat saya 
belajar, Kobe University, wajib melakukan pemeriksaan kesehatan 
(gratis) setahun sekali. Fasilitas kesehatan di Jepang mendapat 
perhatian yang tinggi dari pemerintah. Sebagai orang asing, 
mahasiswa pula, kami dianjurkan untuk mengikuti program asuransi 
nasional. Dengan mengikuti program ini, kami hanya perlu membayar 
30% dari biaya berobat. Dari yang 30% tersebut, sebagai mahasiswa 
asing, saya akan mendapatkan tambahan potongan sebesar 80% (yang 
belakangan turun menjadi 35%) dari Kementrian Pendidikan Jepang. 
Berstatuskan mahasiswa, kami membayar premi asuransi per-bulan yang 
jauh lebih kecil dibandingkan dengan orang kebanyakan. Dari laporan 
rutin yang dikirimkan oleh pihak asuransi kepada kami, tahulah saya 
bahwa ongkos berobat kami selalu (jauh) lebih besar dari premi 
asuransi yang saya bayarkan setiap bulannya. Berbekal kartu asuransi 
nasional, datang ke rumah sakit ataupun ke klinik swasta bukan lagi 
menjadi hal yang menakutkan bagi keluarga kami di Jepang. Jangan 
membayangkan bahwa pihak rumah sakit atau klinik swasta akan 
memberikan perlakuan yang berbeda kepada para pemegang kartu 
asuransi – apalagi untuk kami yang mendapatkan kartu tambahan khusus 
keluarga tidak mampu. Para dokter dan perawat melayani dengan 
keramahan yang tidak berkurang serta prosedur yang sama 
sederhananya. Keramahan di sini berarti keramahan yang sebenar-
benarnya. Baik anda kaya ataupun miskin, proses masuk dan keluar 
dari rumah sakit di Jepang adalah sama mudahnya. Saat istri 
melahirkan di rumah sakit pemerintah di Ashiya, saya disodori 
formulir yang berisi opsi pembayaran: tunai, lewat bank, dll. Tidak 
menjadi sebuah keharusan bagi seorang pasien untuk menyelesaikan 
kewajiban pembayaran di hari dia harus keluar dari rumah sakit.  
Alhamdulillah kami mendapatkan keringanan biaya melahirkan dari 
Pemerintah Kota Ashiya; selain bisa melenggang dari rumah sakit 
tanpa bayar pada hari itu, tagihan dari Kantor Walikota (setelah 
dipotong subsidi dari pemerintah) juga baru datang dua bulan 
kemudian.  Saling percaya adalah kuncinya.







Kirim email ke