Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Temen temen milist yang berbahagia
saya copy paste-kan artikel dari tetangga sebelah, semoga saja bisa
bermanfaat buat kita semua (sekalian buat hiburan bagi yang ga lulus
seleksi KPPN Percontohan hehehehe)
==================================================================

Prestasi Manusia


Bagi seorang  Muslim, memahami untuk apa dan harus menjadi apa dia
dalam hidup ini adalah sebuah kepastian. Hal tersebut seterusnya akan
membantunya memilih jenis karya besar apa yang seharusnya ia
persembahan kepada Sang Khalik, yang  dalam manifestasinya akan
menyita seluruh waktu hidup miliknya. persoalan tersebut merupakan
bingkai dari seluruh warna lukisan kehidupan. Ia akan menjadi
parameter dalam bermuhasabbah, sumber inspirasi dalam melangkah,
sebagai tenaga manakala dihadang rasa lelah dan teman setia tatkala
sendirian. Dia akan mengenali jati dirinya dari perenungan yang
mendalam terhadap ayat : "Dan Aku tidak menciptakan jin  dan manusia
melainkan supaya mereka beribadah kepadaKu" (adz Dzariyat : 56). 

Berkaitan dengan ayat itu, Ibnu `Abbas-Radhiyallahu'anhum dan Ibnu
Jarir Ath Thabari-Rahimahullah menyatakan bahwa hidup adalah
menetapkan peribadatan kepada Allah sebagai konsekuensi pentauhidan
kita terhadap UlluhiyyahNya, baik suka maupun terpaksa. Hal ini
merupakan puncak ketundukan (Khudu') dan perendahan diri (Tadzalul)
dari seorang hamba, simpul dari serangkaian perenungan bahwasannya
masalah hidup setelah kematian adalah hal yang sangat besar dan sangat
penting dalam hidup karena kepadaNyalah segalanya akan bermuara.
Sehingga bagi seorang muslim, menjadi ahlu ibadah (`abid) adalah
puncak dambaan karena memang tidak ada pilihan lain. Ahlu ibadah yang
benar-benar berpegang teguh kepada ilmu dan kebenaran. Hal itu
tentulah bukan berarti mengesampingkan bagian dunianya yang telah
ditetapkan oleh Allah, sehingga ia merupakan muslim yang berjalan di
muka bumi ini, tapi hati dan akalnya terikat dengan kehidupan
kekalnya. Ia mengikatkan diri dengan ketentuan syari'at dalam setiap
aktifitas kehidupannya.

Berkaca dari ayat tersebut, seorang muslim akan memegang konsekuaensi
logis yang membuatnya beda dengan manusia lain, yakni :

BAGI KEHIDUPANNYA 

Ia akan memahami bahwa dalam hidup prestasi yang paling bernilai di
hadapan Allah adalah ibadah itu sendiri , sebuah standar nilai yang
tidak bisa ditawar lagi. Hal ini membuatnya mengerti tentang apa yang
seharusnya ia lakukan, apa yang harus ditinggalkan dan ia tidak
ragu-ragu dalam menentukan pilihannya. Ia sadar bahwa hidup hanya
sekali, kesempatan tidak datang dua kali sehingga ia tidak berani
berspekulasi menyia-nyiakan waktu dan kondisinya untuk berbuat yang
tidak bermanfaat bagi kehidupan kekalnya. Ia senantisa menjaga dirinya
dari penyimpangan/maksiat dan tidak terpedaya dengan aneka ragam
capaian-capaian duniawi tanpa adanya iman kepada Allah. Sehebat apapun
orang-orang menyebutnya, seindah apapun tampilannya, sebanyak apapun
pengikut dan pemujanya, serta sekeras apapun gaung yang bergema.

DIRI SENDIRI
 
Ia tidak akan pernah menyempatkan diri untuk menyesali dan
mempersoalkan takdir kauniayh Allah pada dirinya, sesuatu yang
terbukti telah sering menyesatkan manusia. Penyesalan dan penolakan
terhadap masalah ini akan membawa pada perasaan tidak puas dan
pengingkaran terhadap nikmat Allah. Seorang muslim meyakini bahwa
Allah Maha Adil dan terbebas dari kedzaliman sekecil apapun. Dengan
demikian, apapun kondisi yang ada pada dirinya ia sadari sebagai
potensi yang ia miliki untuk berprestasi di hadapan Allah, dan baginya
hanya ada dua pilihan untuk menyikapinya, bersyukur atau bersabar
sembari terus berusaha/tawakkal.
Baginya kemasyuran, status sosial, ketampana/kecantikan, kekayaan,
kecemerlangan otak dan pengakuan orang lain atas apa yang ia lakukan,
tidak identik dengan keberhasilannya sebagai hamba Allah. Sebaliknya,
tidak terkenal, miskin, tidak menarik secara fisik, tidak banyak
pengikut dan dianggap fundamentalis, tidak menyurutkan langkahnya
untuk beribadah dan berjuang mencapai prestasi tertinggi di sisiNya.
Sudah jelas baginya parameter yang dia gunakan untuk segala
aktifitasnya, satu-satunya keinginan yakni mendapatkan ridha Allah,
kehidupan yang kekal.
"Apa yang ada disisimu akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah
adlah kekal." (An Nahl : 96)
dari sini keikhlasan seorang muslim dalam beribadah dapat terlihat.

ORANG  LAIN

Ia akan senantiasa menilai orang lain dari sisi yang paling adil,
yakni ketakwaaannya.
"Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah
adalah orang yang paling bertakwa" (Al Hujuraat : 13)
ia sadar bahwa muamalah merupakan salah satu ibadah, sehingga ia
bukanlah orang yang memisahkan diri dari lingkungannya. Ia paham bahwa
orang lain adalah mitra dalam perolehan amal shalih, karena banyak
amal shalih yang bersifat kolektif. Ia senantiasa berusaha memandang
orang lain dari prestasi ibadahnya, tanpa melihat kepada ukuran-ukuran
duniawi yang diskriminatif dan sempit dan  terlihat tidak subsatansial
alias palsu.
Dari hal itu akan terbangun dalam dirinya kekaguman sekaligus
penolakan. Dia kagumi orang/tokoh sejarah yang telah terbukti
menorehkan prestasi emas peribadatan kepada Allah, dan ia memiliki
keinginan untuk memperpanjang deretan "manusia-manusia" tersebut.
Sebaliknya, ia akan menganggap remeh dan kecil tokoh-tokoh "besar"
yang sebenarnya bukan apa-apa dalam kacamata Dien dan Iman. Sehingga
tampak bahwa muamalah yang di bangun bersama orang lain adalam
muamalah Imaniyyah, bukan interaksi duniawi semata yang semu dan
sesaat. Dari situ, muncul sikap yang musti dipilih olehnya berkaitan
dengan Wala wal Bara. Dengan siapa ia akan menghabiskan usianya,
memberikan loyalitasnya, dan berlepas diri dari segala pernak pernik
etnis maupun geografis.

Al Qur'an, hadits dan sejarah para pendahulu umat yang shalih ( As
Salafus Shalih) sudah sepatutnya menjadi pendorong bagi manusia untuk
selalu berkompetisi dalam ketakwaan, berbuat kebajikan, berpegang
teguh pada Dien Allah yang agung nilai-nilai manusiawi yang luhur,
berislam dalam kehidupan dan bermuamalah, "Dan untuk yang demikian
itu, hendaknya orang-orang berlomba-lomba." (Al Muthaffifin : 26).
Itulah kompetisi yang dipilih oleh para pelaku kebajikan, manusia yang
memahami makna kehidupannya. Kompetisi dalam segala bentuknya, ekonomi
politis, ilmiah, dan lainnya yang muaranya senantiasa bersandar dengan
arahan Syari'at. Itulah kompetisi ibadah, sehingga ia akan sangat
memahami bahwasannya manusia-manusia yang memperturutkan hawa nafsunya
dan mencapekkan diri untuk berebut kue dunia dengan menghalalkan
segala cara, sungguh mereka sebenar-benarnya tidak mencetak prestasi 
  apapun. Waliya'udzu billah


Kirim email ke