bos irhas.... ikut k JKT ga?? iNyonge ga lulus... he he :) :)
On 6/21/07, irhas <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh > > Temen temen milist yang berbahagia > saya copy paste-kan artikel dari tetangga sebelah, semoga saja bisa > bermanfaat buat kita semua (sekalian buat hiburan bagi yang ga lulus > seleksi KPPN Percontohan hehehehe) > ================================================================== > > Prestasi Manusia > > Bagi seorang Muslim, memahami untuk apa dan harus menjadi apa dia > dalam hidup ini adalah sebuah kepastian. Hal tersebut seterusnya akan > membantunya memilih jenis karya besar apa yang seharusnya ia > persembahan kepada Sang Khalik, yang dalam manifestasinya akan > menyita seluruh waktu hidup miliknya. persoalan tersebut merupakan > bingkai dari seluruh warna lukisan kehidupan. Ia akan menjadi > parameter dalam bermuhasabbah, sumber inspirasi dalam melangkah, > sebagai tenaga manakala dihadang rasa lelah dan teman setia tatkala > sendirian. Dia akan mengenali jati dirinya dari perenungan yang > mendalam terhadap ayat : "Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia > melainkan supaya mereka beribadah kepadaKu" (adz Dzariyat : 56). > > Berkaitan dengan ayat itu, Ibnu `Abbas-Radhiyallahu'anhum dan Ibnu > Jarir Ath Thabari-Rahimahullah menyatakan bahwa hidup adalah > menetapkan peribadatan kepada Allah sebagai konsekuensi pentauhidan > kita terhadap UlluhiyyahNya, baik suka maupun terpaksa. Hal ini > merupakan puncak ketundukan (Khudu') dan perendahan diri (Tadzalul) > dari seorang hamba, simpul dari serangkaian perenungan bahwasannya > masalah hidup setelah kematian adalah hal yang sangat besar dan sangat > penting dalam hidup karena kepadaNyalah segalanya akan bermuara. > Sehingga bagi seorang muslim, menjadi ahlu ibadah (`abid) adalah > puncak dambaan karena memang tidak ada pilihan lain. Ahlu ibadah yang > benar-benar berpegang teguh kepada ilmu dan kebenaran. Hal itu > tentulah bukan berarti mengesampingkan bagian dunianya yang telah > ditetapkan oleh Allah, sehingga ia merupakan muslim yang berjalan di > muka bumi ini, tapi hati dan akalnya terikat dengan kehidupan > kekalnya. Ia mengikatkan diri dengan ketentuan syari'at dalam setiap > aktifitas kehidupannya. > > Berkaca dari ayat tersebut, seorang muslim akan memegang konsekuaensi > logis yang membuatnya beda dengan manusia lain, yakni : > > BAGI KEHIDUPANNYA > > Ia akan memahami bahwa dalam hidup prestasi yang paling bernilai di > hadapan Allah adalah ibadah itu sendiri , sebuah standar nilai yang > tidak bisa ditawar lagi. Hal ini membuatnya mengerti tentang apa yang > seharusnya ia lakukan, apa yang harus ditinggalkan dan ia tidak > ragu-ragu dalam menentukan pilihannya. Ia sadar bahwa hidup hanya > sekali, kesempatan tidak datang dua kali sehingga ia tidak berani > berspekulasi menyia-nyiakan waktu dan kondisinya untuk berbuat yang > tidak bermanfaat bagi kehidupan kekalnya. Ia senantisa menjaga dirinya > dari penyimpangan/maksiat dan tidak terpedaya dengan aneka ragam > capaian-capaian duniawi tanpa adanya iman kepada Allah. Sehebat apapun > orang-orang menyebutnya, seindah apapun tampilannya, sebanyak apapun > pengikut dan pemujanya, serta sekeras apapun gaung yang bergema. > > DIRI SENDIRI > > Ia tidak akan pernah menyempatkan diri untuk menyesali dan > mempersoalkan takdir kauniayh Allah pada dirinya, sesuatu yang > terbukti telah sering menyesatkan manusia. Penyesalan dan penolakan > terhadap masalah ini akan membawa pada perasaan tidak puas dan > pengingkaran terhadap nikmat Allah. Seorang muslim meyakini bahwa > Allah Maha Adil dan terbebas dari kedzaliman sekecil apapun. Dengan > demikian, apapun kondisi yang ada pada dirinya ia sadari sebagai > potensi yang ia miliki untuk berprestasi di hadapan Allah, dan baginya > hanya ada dua pilihan untuk menyikapinya, bersyukur atau bersabar > sembari terus berusaha/tawakkal. > Baginya kemasyuran, status sosial, ketampana/kecantikan, kekayaan, > kecemerlangan otak dan pengakuan orang lain atas apa yang ia lakukan, > tidak identik dengan keberhasilannya sebagai hamba Allah. Sebaliknya, > tidak terkenal, miskin, tidak menarik secara fisik, tidak banyak > pengikut dan dianggap fundamentalis, tidak menyurutkan langkahnya > untuk beribadah dan berjuang mencapai prestasi tertinggi di sisiNya. > Sudah jelas baginya parameter yang dia gunakan untuk segala > aktifitasnya, satu-satunya keinginan yakni mendapatkan ridha Allah, > kehidupan yang kekal. > "Apa yang ada disisimu akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah > adlah kekal." (An Nahl : 96) > dari sini keikhlasan seorang muslim dalam beribadah dapat terlihat. > > ORANG LAIN > > Ia akan senantiasa menilai orang lain dari sisi yang paling adil, > yakni ketakwaaannya. > "Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah > adalah orang yang paling bertakwa" (Al Hujuraat : 13) > ia sadar bahwa muamalah merupakan salah satu ibadah, sehingga ia > bukanlah orang yang memisahkan diri dari lingkungannya. Ia paham bahwa > orang lain adalah mitra dalam perolehan amal shalih, karena banyak > amal shalih yang bersifat kolektif. Ia senantiasa berusaha memandang > orang lain dari prestasi ibadahnya, tanpa melihat kepada ukuran-ukuran > duniawi yang diskriminatif dan sempit dan terlihat tidak subsatansial > alias palsu. > Dari hal itu akan terbangun dalam dirinya kekaguman sekaligus > penolakan. Dia kagumi orang/tokoh sejarah yang telah terbukti > menorehkan prestasi emas peribadatan kepada Allah, dan ia memiliki > keinginan untuk memperpanjang deretan "manusia-manusia" tersebut. > Sebaliknya, ia akan menganggap remeh dan kecil tokoh-tokoh "besar" > yang sebenarnya bukan apa-apa dalam kacamata Dien dan Iman. Sehingga > tampak bahwa muamalah yang di bangun bersama orang lain adalam > muamalah Imaniyyah, bukan interaksi duniawi semata yang semu dan > sesaat. Dari situ, muncul sikap yang musti dipilih olehnya berkaitan > dengan Wala wal Bara. Dengan siapa ia akan menghabiskan usianya, > memberikan loyalitasnya, dan berlepas diri dari segala pernak pernik > etnis maupun geografis. > > Al Qur'an, hadits dan sejarah para pendahulu umat yang shalih ( As > Salafus Shalih) sudah sepatutnya menjadi pendorong bagi manusia untuk > selalu berkompetisi dalam ketakwaan, berbuat kebajikan, berpegang > teguh pada Dien Allah yang agung nilai-nilai manusiawi yang luhur, > berislam dalam kehidupan dan bermuamalah, "Dan untuk yang demikian > itu, hendaknya orang-orang berlomba-lomba." (Al Muthaffifin : 26). > Itulah kompetisi yang dipilih oleh para pelaku kebajikan, manusia yang > memahami makna kehidupannya. Kompetisi dalam segala bentuknya, ekonomi > politis, ilmiah, dan lainnya yang muaranya senantiasa bersandar dengan > arahan Syari'at. Itulah kompetisi ibadah, sehingga ia akan sangat > memahami bahwasannya manusia-manusia yang memperturutkan hawa nafsunya > dan mencapekkan diri untuk berebut kue dunia dengan menghalalkan > segala cara, sungguh mereka sebenar-benarnya tidak mencetak prestasi > apapun. Waliya'udzu billah > > > [Non-text portions of this message have been removed]
