Pak Hari, saya jadi teringat salah seorang leader berpesan:

"Tolong dirimu sendiri terlebih dahulu, sebelum engkau menolong orang lain".
"Tolong dirimu sendiri terlebih dahulu, maka engkau akan bisa menolong orang 
lain".

Salam,
Kobir

----- Original Message ----
From: Hari Ribowo <[EMAIL PROTECTED]>
To: perbend list <[email protected]>
Sent: Sunday, 1 July, 2007 12:38:49 PM
Subject: [Perbendaharaan List] Seleksi Pimpinan KPK..

Dari Milis Sebelah 

Sumber: web.bisnis.com/
------------ --------- --------- --------- --------- --------- -
Dicari pemberantas korupsi, gaji Rp36 juta per bulan
oleh : Tri D. Pamenan

Ini adalah hari-hari yang cukup memusingkan bagi Felia
Salim, Rhenald Kasali, Mas Achmad Santosa dan anggota
Panitia Seleksi Pimpinan Komisi Pemberantasan Tindak
Pidana Korupsi lainnya. 

Tak sampai lima hari lagi proses seleksi yang menelan
dana Rp2,9 miliar itu sudah harus ditutup, Tetapi,
sejak dibuka 14 Juni 2007 jumlah pendaftar baru 142
orang. Jauh di bawah target yang ditetapkan panitia
seleksi. 

Pansel KPK sampai harus menjemput bola ke berbagai
tempat, mulai dari ke kampus-kampus, meminta bantuan
LSM, sampai bergerilya ke media massa untuk memperoleh
masukan. 

Rektor Universitas Islam Syarif Hidayatullah
Komaruddin Hidayat yang juga menjadi anggota panitia
seleksi sampai-sampai tak habis pikir. 
"Ayo lah. Ini panggilan Ibu Pertiwi. Mana orang-orang
yang selama ini berteriak-teriak menentang korupsi?"
tantang dia. 

Ternyata memang tak mudah mencari talenta yang siap
memimpin lembaga super bodi itu. Buktinya, empat
pimpinan KPK saat ini pun sudah tegas menyatakan tak
bersedia mencalonkan diri lagi. 

Alasannya beragam. Mulai dari capek sampai merasa
sudah tua. 
"Pekerjaan pimpinan KPK ini lebih banyak bersifat
pengabdian. 
Kalau orientasinya mencari kerja, ini bukan
tempatnya," ujar Ketua KPK Taufiequrachman Ruki pada
suatu ketika. 

Sebegitu sulitkah mencari sosok yang siap memberantas
penyakit laten yang menempatkan Indonesia berada di
peringkat nomor dua tertinggi di dunia itu? 

Kalau melihat pengumuman seleksi yang disebarluaskan
panitia seleksi, syarat pendaftaran calon pimpinan KPK
sebetulnya tidak terlalu sulit. Antara lain harus
berusia 40 tahun hingga 65 tahun, berijazah sarjana
hukum atau sarjana lain yang memiliki keahlian dalam
bidang hukum, ekonomi, keuangan, atau perbankan dan
berpengalaman minimal 15 tahun. 

Pendaftar juga disyaratkan tidak menjadi pengurus
parpol dan bersedia melepaskan jabatannya selama
menjadi anggota KPK. 

Tetapi, melihat tuntutan dan beban kerja yang begitu
tinggi, meski tidak harus menjadi malaikat, pimpinan
KPK diharapkan bukan dari golongan 'manusia normal'. 

Fasilitas pimpinan 

Apa imbalan yang diberikan bagi pimpinan KPK? 
Jangan membayangkan mendapat fasilitas seperti direksi
BUMN besar atau dewan gubernur BI. Tetapi, kalau
menggunakan standar umum, fasilitas yang diberikan
tentulah sudah jauh lebih dari cukup. 

Menurut SK Menkeu yang dikeluarkan pada Desember 2004,
gaji per bulan ketua KPK dan wakil ketua masing-masing
ditetapkan maksimal sebesar Rp36 juta dan Rp34 juta. 

Fasilitas itu kemudian diusulkan untuk dinaikkan
menjadi sebesar Rp40 juta per bulan untuk ketua KPK
sedangkan wakil-wakilnya sebesar Rp36 juta. 
Gaji tersebut masih harus dipotong untuk tunjangan
hari tua (THT) yang akan dibayarkan saat purnatugas.
Fasilitas lain yang diberikan adalah tunjangan
asuransi kesehatan dan tunjangan transpor. 
Di luar itu tak ada lagi fasilitas yang diberikan,
termasuk mobil dan rumah dinas. 

Tetapi, kalau dibandingkan dengan gaji pejabat negara
lain, pimpinan KPK memang termasuk yang paling besar. 
Sebagai perbandingan, total gaji presiden sebesar
Rp62,7 juta, wakil presiden Rp42,1 juta. Ketua DPR
sebesar Rp30,908 juta, ketua MA sebesar Rp24,39 juta. 
Sedangkan gaji menteri negara, jaksa agung, panglima
TNI dan pejabat lain yang setingkat sebesar Rp18,65
juta. 

"Tidak perlu khawatir. Fasilitas yang diberikan untuk
pimpinan KPK sudah mencukupi," ujar Wakil Ketua KPK
Erry Riyana Hardjapamekas. 

Cukup atau tidak, pimpinan KPK memang dituntut untuk
tak lagi berorientasi mengejar materi dalam hidupnya. 
Hal itulah yang menyebabkan Menteri Negara
Pemberdayaan Aparatur Negara Taufiq Effendi yang
dipercaya menjadi ketua tim seleksi menambah beberapa
kriteria lain. Menurut dia, untuk menjadi pimpinan KPK
tak cukup hanya punya kemauan untuk memberantas
korupsi, pintar, memiliki integritas, dan berdedikasi.

Salah satu syarat utama lainnya adalah tercukupi
secara finansial, sehingga tidak terdorong untuk
memperkaya diri setelah menjabat. "Yang penting adalah
orang yang sudah selesai dengan dirinya." 

Dalam pandangannya, apabila panitia seleksi memilih
orang yang belum tercukupi secara finansial, maka hal
itu akan menimbulkan masalah lebih lanjut di tubuh
KPK. 

Sayangnya, panitia seleksi tidak bersedia merinci
parameter yang jelas tentang batas minimal kekayaan
calon pimpinan KPK.
Mereka hanya mewajibkan setiap calon untuk mengumumkan
daftar kekayaannya. 

Enggan 

Belajar dari pengalaman KPK saat ini, panitia seleksi
sebetulnya berharap agar kalangan yang dekat dengan
dunia bisnis untuk memperkuat jajaran pimpinan KPK. 

Menurut Rhenald, KPK sangat membutuhkan tenaga dan
pikiran dari pebisnis untuk duduk sebagai jajaran
pimpinan. 
Alasannya, kalangan dari dunia usaha tentunya memiliki
pengetahuan yang sangat memadai terhadap praktik
kejahatan kerah putih seperti di lantai bursa atau
praktik rekayasa keuangan. 

Sayangnya, sampai saat ini tak banyak kalangan dunia
usaha yang terpanggil untuk bergabung ke dalam KPK.
Rhenald menduga kurangnya minat pebinis untuk masuk ke
dalam bursa pimpinan KPK disebabkan oleh sikap
kehati-hatian para pebisnis yang enggan memasuki
wilayah hukum. Padahal para pebisnis merupakan salah
satu aset penting yang perlu didudukkan dalam jajaran
pimpinan KPK. 

Banyak argumentasi lain yang disampaikan terhadap
minimnya minat masyarakat untuk mendaftar dalam
seleksi pimpinan KPK. 

Menurut Ketua Masyarakat Profesional Madani Ismed
Hasan Putro, kinerja KPK saat ini yang dinilai banyak
pihak di bawah ekspektasi karena tidak cukup punya
gigi membuat sebagian masyarakat menjadi apatis
terhadap lembaga ini.
Hal itu juga yang membuat sebagian kandidat malas
mendaftar. 

Ekonom BNI Ryan Kiryanto melihat rendahnya pendaftar
seleksi karena terbebani oleh ekspektasi masyarakat
yang begitu tinggi dalam pemberantasan korupsi di
Indonesia. "Kalau soal remunerasi, itu sudah lebih
dari cukup." 
Masalahnya lagi, lanjut dia, untuk memenuhi harapan
masyarakat itu, kualifikasi komisioner KPK jadi begitu
tinggi, seperti memiliki wawasan hukum yang kuat dan
mempunyai kemampuan teknis seperti audit keuangan.
"Repotnya, yang memiliki kualifikasi seperti itu tidak
banyak." 

Problem lain adalah dalam proses seleksi. Dalam
penjaringan kali ini, tahapan seleksi meliputi masalah
administrasi, tes psikologi, membuat makalah, profile
assesment test, dan wawancara.
Panitia akan memilih 10 calon untuk disampaikan ke
Presiden. 

Setiap calon kemudian harus menjalani fit and proper
test di DPR. Banyak calon potensial yang buru-buru
pesimistis terhadap proses ini. Seleksi di DPR
dikhawatirkan akan sarat dengan kepentingan politis. 

Praduga lain yang agak membesarkan hati, mungkin para
kandidat masih menimbang-nimbang atau mengumpulkan
dokumen-dokumen yang menjadi syarat pendaftaran.
Panitia berharap agar jumlah pendaftar akan
berbondong-bondong menjelang deadline, tentu dengan
kualifikasi yang diharapkan. 

Kalau masih tetap sepi peminat, mungkin memang sudah
sulit mencari orang yang sudah selesai dengan dirinya
sendiri di negeri ini.

([EMAIL PROTECTED] co.id)


------------ --------- --------- ---
Be a better Heartthrob. Get better relationship answers from someone who knows.
Yahoo! Answers - Check it out. 

[Non-text portions of this message have been removed]





      
____________________________________________________________________________________
 Yahoo!7 Mail has just got even bigger and better with unlimited storage on all 
webmail accounts.
http://au.docs.yahoo.com/mail/unlimitedstorage.html




[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke