salam,
MAK: Syalom juga, my beloved friend...
> Adhit, saya mau saja tugas di KPPN Timika, tetapi ada syaratnya.
mas khobir kok mengabdi pada negara pake syarat sih..??
MAK: Mas Seti, memangnya ada larangan menggunakan syarat mengabdi pada negara?
Sesuatu yang tidak dilarang, itu berarti boleh. Bukankah untuk mengabdi pada
negara juga ada syaratnya? Contoh: Harus sehat jasmani rohani, lulus test, dsb.
Kita harus bisa berpikir secara profesional. Jika syarat yang dituntut oleh
kantor tidak bisa kita penuhi, kita harus mundur dengan terhormat. Namun, jika
kantor tidak bisa memenuhi syarat yang kita ajukan, kita bisa memilih.
Mengikuti syarat yang diminta oleh kantor, atau kita yang mundur teratur. Kedua
pihak harus lilo legowo. Yang penting ada komunikasi, ada dialog. Ono rembug
dirembug.
Oya, Adhit khan cerita, kalau ada lulusan S2-LN DL ke Timika dan ditanya
serupa, jawabannya sama: "Kalau bisa jangan di Timika",..lha, kalau saya jawab
seperti yang sudah saya katakan ke Adhit, itu bukannya selangkah lebih maju?
Selain itu, yang tanya saat ini khan Adhit. Kalau yang tanya Pak Siswo atau Pak
Hari secara langsung, di belakang jawaban itu akan saya tutup dengan begini:
"Keputusan saya serahkan ke Bapak, Bapak lebih tahu yang terbaik buat saya dan
organisasi ini", begitu.
bukannya
negara sudah menggaji kita untuk ditugaskan kemanapun?
MAK: Benar sekali itu. Namun, itu bukan harga mati. Kalau Mas Seti membaca
baik-baik postingan saya tentang "Diklat Integritas dari Perth" maka gaji
bukanlah satu-satunya motivasi pegawai bekerja. Masih banyak faktor yang harus
digali. Ini perlu kerja keras dan bukan pekerjaan mudah.
Secara pribadi, saya mengatakan kepada diri saya: "Jangan pernah kautanyakan
apa yang telah negara berikan kepadamu, tapi tanyakan, apa yang telah
kauberikan kepada negaramu".
Namun, tidak semua orang sama dengan saya. Tidak semua orang seperti saya.
Bahkan, Mas Seti yang pernah sekelas dengan saya pun tidak setara pemahamannya.
Ini yang terus saya perjuangkan, meski saya tahu butuh waktu yang sangat
panjang. Kesetaraan pemikiran dan pemahaman. Seperti yang telah saya tulis
kepada Acep (Perseteruan Acep-Khobir 2007), bahwa pada saat saya menulis di
milist ini, tidak semata-mata mewakili diri pribadi saya. Saya menulis
terkadang ingin mewakili "hati nurani" terdalam dari rekan-rekan di seluruh
pelosok Indonesia yang tak mampu mereka ucapkan. Saya bisa merasakan apa yang
mereka rasakan, tetapi saya juga mengerti kesulitan para pejabat pembuat
keputusan.
Ngomong-ngomong, Mas Seti dulu alasannya apa waktu minta pindah dari KPPN
Saumlaki ke Kanwil Semarang? Boleh tahu, nggak? Bukannya sudah dapat gaji?
>KPPN Timika harus sudah menjadi KPPN Prima. Selain itu, jelas jangka
waktu berapa tahun lamanya saya akan bertugas di sana. Serta adanya
kepastian bahwa setelah dari KPPN Timika, saya akan dipromosikan di
KPPN Kediri, Kanwil Surabaya, atau Kantor Pusat. Bagaimana? Adhit setuju?
klo gitu semua orang mau dong, tapi apa ga penuh tuh kanpus dan kppn
idola?
MAK: Belum tentu Mas Seti. Belum tentu semua orang mau. Ada banyak teman di
Kantor Pusat, terutama Ibu-Ibu, pilih ngacir daripada ditugaskan ke daerah.
Yang benar adalah, sebagian besar orang akan mau. Tidak mungkin penuh, pilihan
tidak cuma satu, dan terus bisa bergeser menjauh sesuai kondisi. Tidak semua
permintaan harus dipenuhi. Yang penting ada penjelasan dan alasan, mengapa
permintaan tersebut tidak dipenuhi. Ada semacam kompetisi. Selain test ilmiah
(psikotest), bisa juga melalui seleksi administrasi. Contoh: Saya memilih KPPN
Kediri, tetapi Pak Langgeng Suwito, S.E., M.Com juga mau memilih posisi yang
sama, maka saya harus mengalah. Namun, jika yang memilih adalah Toni Rediyansah
(adik kelas saya) atau Mas Hendra (masuk Depkeu pakai S2), maka harus dicek
siapa yang DUK-nya lebih tinggi. Itu cara yang paling masuk akal saya pikir.
Memang, saya sadar, persaingan terberat adalah wilayah "JAWA TENGAH". Setahu
saya, orang-orang Jateng ini yang mendominasi jumlah pegawai.
Ke depan, saya lebih condong untuk regionalisasi rekrutmen pegawai seperti yang
saya ajukan di postingan saya yang paling awal.
==========
salam GAWAT
Salam juga Mas Seti Gautama Adi Nugraha... Jangan sampai GAWAT lah, ntar
darurat lagi...
Oya Pak Hari, tolong titip teman saya ini. Dulu Mas Seti Gautama Adi Nugraha
ini, sering satu bangku sama saya di DIV STAN. Dia paling junior dari instansi
DJA. Paling jauh lokasinya yang bisa diterima di DIV Khusus, dari KPPN
Saumlaki. Pokoknya, yang paling beruntunglah dibanding yang lainnya. Dari II/c
bisa-bisa loncat III/a. Mirip2 DIV langsung, gitu. Malah dalam hati saya,
pernah terlintas begini: " The young rising star was born". Itulah Mas Seti
GAWAT.
Cekap semanten. Salahipun atur nyuwun pangapunten, nggih Mas Seti...
Matur sembah nuwun atas pertanyaan dan pernyataannya.
Salam manis,
Your friend,
Kobir
._,_.___ Messages in this topic (0) Reply (via web post) | Start a new topic
Messages | Files | Photos | Links | Database | Polls | Calendar
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch format to
Traditional
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe Recent Activity
70New Members
1New Files
Visit Your Group
SPONSORED LINKS
Arizona regional mls
Regional truck driving jobs
New business?
Get new customers.
List your web site
in Yahoo! Search.
Yahoo! Mail
You're invited!
Try the all-new
Yahoo! Mail Beta
Y! Messenger
All together now
Host a free online
conference on IM..
____________________________________________________________________________________
Yahoo!7 Mail has just got even bigger and better with unlimited storage on all
webmail accounts.
http://au.docs.yahoo.com/mail/unlimitedstorage.html
[Non-text portions of this message have been removed]