Horas mejuah-juah!

ESN: HORAASSS

Eko, bagi saya, kedua hal tersebut tidak perlu dipertentangkan. Gaya bebas
boleh, ada footnote silakan. Bagaimana baiknya saja untuk kita semua.
Lihat
juga, jawaban ke Lion dan Iwan H, masih ada kaitannya.

ESN: sudah jelas kalo iklan GSM-Card 'Bebas' ga ada di australi..hehehe
sebenernya bukan yang baik untuk kami (yang baca) lae, tapi sebenernya
apa yang baik
buat lae Kobir, kan yang bikin surat pernyataan Lae :) (dimuat di
milis lagi :) )


Eko, kalau saya bela-belain menyapa Ando di Serui, Adhit di Timika,
Pandu di
Aceh, Rifki di antah berantah, dsb., itu ada maksudnya. Untuk apa? Ya
untuk
mereka dan kita semua. Saya ingin menjemput suara hati terdalam
mereka. Saya
ingin mereka berbicara. Mengeluarkan isi hati mereka. 

ESN: sekedar pemberitahuan lae 'ekoadadisini, Ando, Eko Sumando
Nababan' adalah 1 orang ganteng yang sama
hehehe...soalnya di KPPN Serui ada 3 Eko, (memang nama saya kaya obat
generik: murah dan berkualitas, jadi banyak yang pake huehehehe)
betul pak dari kita, oleh kita, untuk kita, dan maksud bapak sangat
dihargai oleh semua yang penempatan di 'antah berantah' :)


Kalau buat saya sendiri
sih, ngapain repot-repot kesana kemari. Diam juga, kalau ikut pola
yang kemarin,
lulus S2 LN biasanya jadi Kepala Seksi di Kantor Pusat (saya tidak
tahu pola
yang besok2, mungkin berubah).

ESN: hmmm...berarti kalo udah S2 luar negeri buat apa balik kerja lagi
di 'antah barantah' (masuk akal juga :) )


Kalau mereka (teman-teman) berbicara, maka para pengambil keputusan akan
mendengar. Mendapat second opinion. Saya juga mencoba membuka dialog.
Kalau Eko
atau Adhit tanya, sedapat mungkin saya jawab, kalau memang penting,
perlu, dan
saya mampu menjawabnya. Kalau saya tidak bisa jawab, ya saya bilang
tidak bisa
jawab, atau paling tidak diam saja.

ESN: jadi kalo jawaban bapak pada adhit (beserta syaratnya) itu
penting ga pak?saya rasa penting
karena bapak sampai repot2 memikirkan syaratnya :) (atau saya salah?)


Saya ingin, pola komunikasi yang baik mulai kita bangun. Kelenturan
komunikasi
inilah, yang selama ini saya rasakan harus kita tingkatkan bersama.

ESN: SETUJUUUU!!


Eko tahu tidak, apa itu Kebijakan (Policy)? Policy is what government
do or not
to do. Jadi, Pak Siswo itu, sah-sah saja untuk melakukan sesuatu atau
tidak
melakukan sesuatu. Suatu kebijakan, tidak mungkin memuaskan semua
pihak, tetapi
kebijakan diharapkan memuaskan lebih banyak pihak. Mengerti?

ESN: iya pak, saya periksa di kamus kalo policy itu terjemahannya
kebijakan, terimakasih atas informasinya, 
mengenai kalimat bahasa inggris berikutnya saya terjemahkan secara
bebas. "kebijakan adalah apa yang pemerintah lakukan 
atau tidak lakukan", terimakasih atas penjelasan bapak...saya juga
mengerti kalo kebijakan tidak mungkin memuaskan semua pihak
tapi yang saya liat dari jawaban mas kobir kepada adhit yaitu sedapat
mungkin kepuasan mas kobir dulu yang terpenuhi :)
(tenang aja pak saya yakin buat orang2 yang penempatannya ga di 'antah
berantah' pasti banyak yang puas dan yang penempatannya
yang di antah berantah banyak yang ga puas, jadi kebijakan itu memang
tetap hal yang relatif )


Namun, sebuah kebijakan harus mengandung kebijaksanaan (Wisdom).
Kebijaksanaan
berarti harus mampu menunjukkan pengalaman, pengetahuan, ketepatan,
dan kualitas
keputusan yang baik. Tidak mudah, bukan?

ESN: betul pak untuk memutuskan kebijakan yang bijak tidaklah mudah
(dan perlu kebesaran hati nuat yang 'kena kebijakan' terutama dari
pihak yang ga puas)
, tapi saya rasa pertanyaan penting dari adhit kepada bapak adalah
"apakah bapak yang s2 LN ini mau ditempatkan di 'antah berantah?"
sesederhana itu pak 
(tapi tentu kita semua tau kalo tidak sesederhana itu jawabannya), dan
jawaban sederhananya adalah 'ya' dan 'tidak'
dan kalo saya simpulkan dari Surat Pernyataan Integritas bapak kobir
(yang go public itu) dengan premis 1 "...bersedia ditempatkan di
seluruh indonesia ..." dan premis 2
"Timika adalah Bagian Indonesia" berarti ada kesimpulan pak Kobir
bersedia ditempatkan di timika, nah gitu aja kok repot .... :)
jadi kalo pake logika matematika seharusnya bapak menambahkan premis
1b 'jika dan hanya jika' ,,,, sesederhana itu :)


ESN: saya sudah membaca postingan bapak ke pak Seti (Lion) dan pak
Iwan, sungguh menyebalkan bagi saya untuk melihat bagaimana bapak yang
biasanya menggunakan kerangka berpikir "outside of the box" akhirnya
harus "masuk kotak lagi" ketika hal itu (red.penempatan) dihadapkan
kepada bapak
sori kalo 'nyolot' pak


Syalom dari kakakmu,

Lai Kobir (bukan) Nababan

ESN: Walaikumsyalom Kakak :) (menurut adat kalo laeku pasti bukan
nababan :) )


adikmu yang masih harus banyak belajar :)
Eko Sumando Nababan



-----------------------------

ESN dari dialog MAK dan Lion
.
Oya, Adhit khan cerita, kalau ada lulusan S2-LN DL ke Timika dan
ditanya serupa,
jawabannya sama: "Kalau bisa jangan di Timika",..lha, kalau saya jawab
seperti
yang sudah saya katakan ke Adhit, itu bukannya selangkah lebih maju?

ESN: menurut saya itu kaya kita makan Mie Sedap rasa "Kari Ayam"
dengan makan Indomie rasa "Kari Ayam" rasanya sama aja, cuma beda
produsen :)
(maklum lidah saya ga sesensitf lidah dengan pak Bondan "maknyuss")


Selain itu, yang tanya saat ini khan Adhit. Kalau yang tanya Pak Siswo
atau Pak
Hari secara langsung, di belakang jawaban itu akan saya tutup dengan
begini:
"Keputusan saya serahkan ke Bapak, Bapak lebih tahu yang terbaik buat
saya dan
organisasi ini", begitu.

ESN: huuuu,,,,beraninya sama anak kecil! :) (maap kalo 'nyolot' bang
:) kalo gitu kenapa abang ga nutup 
jawaban ke adhit dengan "Keputusan saya serahkan ke Pimpinan, Pimpinan
lebih tahu yang terbaik buat saya dan
organisasi ini",  pada saat itu bapak ga memikirkan pak Siswo atau pak
Hari kan :) )


Kalau Mas Seti membaca baik-baik postingan saya tentang "Diklat
Integritas dari Perth" maka gaji
bukanlah satu-satunya motivasi pegawai bekerja. Masih banyak faktor
yang harus
digali. Ini perlu kerja keras dan bukan pekerjaan mudah.
Secara pribadi, saya mengatakan kepada diri saya: "Jangan pernah
kautanyakan apa
yang telah negara berikan kepadamu, tapi tanyakan, apa yang telah
kauberikan
kepada negaramu".
Namun, tidak semua orang sama dengan saya. Tidak semua orang seperti saya.
Bahkan, Mas Seti yang pernah sekelas dengan saya pun tidak setara
pemahamannya.
Ini yang terus saya perjuangkan, meski saya tahu butuh waktu yang sangat
panjang. Kesetaraan pemikiran dan pemahaman. Seperti yang telah saya tulis
kepada Acep (Perseteruan Acep-Khobir 2007), bahwa pada saat saya
menulis di
milist ini, tidak semata-mata mewakili diri pribadi saya. Saya menulis
terkadang
ingin mewakili "hati nurani" terdalam dari rekan-rekan di seluruh pelosok
Indonesia yang tak mampu mereka ucapkan. Saya bisa merasakan apa yang
mereka
rasakan, tetapi saya juga mengerti kesulitan para pejabat pembuat
keputusan.
Ngomong-ngomong, Mas Seti dulu alasannya apa waktu minta pindah dari KPPN
Saumlaki ke Kanwil Semarang? Boleh tahu, nggak? Bukannya sudah dapat gaji?

ESN: we're all human and yes we make mistakes, nah ini dia .... "balik
lagi ke kotak" :)


Ada semacam kompetisi. Selain test ilmiah
(psikotest), bisa juga melalui seleksi administrasi. Contoh: Saya
memilih KPPN
Kediri, tetapi Pak Langgeng Suwito, S.E., M.Com juga mau memilih
posisi yang
sama, maka saya harus mengalah. Namun, jika yang memilih adalah Toni
Rediyansah
(adik kelas saya) atau Mas Hendra (masuk Depkeu pakai S2), maka harus
dicek
siapa yang DUK-nya lebih tinggi. Itu cara yang paling masuk akal saya
pikir.
Memang, saya sadar, persaingan terberat adalah wilayah "JAWA TENGAH".
Setahu
saya, orang-orang Jateng ini yang mendominasi jumlah pegawai.
Ke depan, saya lebih condong untuk regionalisasi rekrutmen pegawai
seperti yang
saya ajukan di postingan saya yang paling awal.

ESN: saya rasa pak kobir sudah melihat postingan tentang penempatan
selama ini 
(tentang istri, tentang orang2 yang ga berangkat tiba2 dpt di kantor
pusat, tentang angkatan 2006 dll)
masih banyak cara2 yang 'tidak masuk akal' yang dipraktekkan di DJPB
dalam penempatan, 
kan hal2 yang tidak masuk akal itu yang sangat menyebalkan!!! 


ESN: bang kobir yang terkasih, mungkin yang saya sangat inginkan
adalah jawaban "ya saya siap ditempatkan dimana saja.(titik)" mungkin
ini bisa 
menjadi motivasi buat saya (yang masih anak kemaren sore dan temen2
yang magang di 'antah berantah') 
dalam menghadapi penempatan dengan berpikir "gila!, yang S2 LN aja
siap ditempatin dimana aja, apalagi gw?"
dan saya samasekali tidak menyalahkan jawaban bang kobir (sama sekali
tidak ada niat untuk itu) karena saya mungkin juga akan menjawabnya
dengan mencantumkan "syarat dan ketentuan" (mungkin lebih banyak
...hehehe) tapi saya hanya menyinggung kenapa kok berbeda?? 
(dengan surat pernyataan integritasnya yang mantep ituh) soalnya kan
kalo atasan2 kita (bapak2 dan ibu2 yang harus mengeluarkan kebijakan)
yang nilai kan katanya
 "lho kamu kemaren udah tandatangan surat bersedia penempatan dimana
aja kan?kok nawar??"hehehe
tapi saya akui memang bang kobir pinter 'ngeles' ke adiknya (termasuk
'ngelesin' bahasa inggris) ...hehehe ga tau kalo ngelesin pimpinan :)
dan benar kata pak zamzam, bang kobir emang selebritis milis
(setidaknya menurut saya :) )


- kursi di tanah abang banyak yang reot
maapin aye bang kalo rada nyolot -


Kirim email ke