saya jawab bagian saya ajaa yaah...

intinya setuju untuk tidak mempertanyakan apa yang sudah negara
berikan buat saya. akhirnya sependapat juga kita boss..

nah menjawab kenapa saya minta pindah dari saumlaki?? demikian inilah
alasannya:
1. jam tugas saya di saumlaki waktu itu sudah habis dan akan ikut pola
mutasi berikutnya secara wajar. menurut saya, apa salahnya minta
penempatannya di semarang, dan ternyata dikabulkan. seandainya saya
tidak minta pindah pun sepertinya akan dimutasi ke daerah asal (CMIIW:
santos dan sahat eks saumlaki semua mutasi ke medan sesuai asal mereka)
2. saya memberanikan diri minta pindah saat itu karena saya sakit
keras, saya sepertinya keracunan obat karena kesalahan dokter lokal.
treatmen pengobatan selanjutnya tidak dapat dijalankan di saumlaki.
(jadi buat adik2 di saumlaki jangan sampai sakit, dokter di sana
betul2 ngawur kasih obat, dan obat yang dikasih ga tanggung-tangung
dosisnya)
3. doa ibu saya, saat itu sudah 1 tahun bapak saya meninggal, dan
beliau meninggalkan hutang cukup banyak akibat sakit yang diderita
bapak saya sebelum meninggal (gagal ginjal). sehingga tugas saya
(sekurang-kurangnya opini saya) yaitu melunasi semua hutang bapak saya
dan mengamankan keuangan ibu saya serta adik bungsu saya yang saat ini
masih sekolah. dan hal tersebut sedang proses dan kira2 selesai tepat
ketika jam kerja di semarang sudah habis.

lalu apa yang saya lakukan ketika jam kerja di semarang pun habis?
1. saya harap saya sudah selesai S1 yang sedang saya tempuh
2. opini saya tentang indonesia yang luas tetap sama
3. loyalitas kepada republik tetap sama, artinya siap bertugas di
seluruh indonesia.

catatan: dasar penetapan jam kerja versi saya adalah menurut kebiasaan
yang berlaku pada pola mutasi.

semoga cukup untuk menjelaskan pertannyaa aa Kobir



> Kalau Mas Seti membaca baik-baik postingan saya tentang "Diklat
> Integritas dari Perth" maka gaji
> bukanlah satu-satunya motivasi pegawai bekerja. Masih banyak faktor
> yang harus
> digali. Ini perlu kerja keras dan bukan pekerjaan mudah.
> Secara pribadi, saya mengatakan kepada diri saya: "Jangan pernah
> kautanyakan apa
> yang telah negara berikan kepadamu, tapi tanyakan, apa yang telah
> kauberikan
> kepada negaramu".
> Namun, tidak semua orang sama dengan saya. Tidak semua orang seperti
saya.
> Bahkan, Mas Seti yang pernah sekelas dengan saya pun tidak setara
> pemahamannya.
> Ini yang terus saya perjuangkan, meski saya tahu butuh waktu yang sangat
> panjang. Kesetaraan pemikiran dan pemahaman. Seperti yang telah saya
tulis
> kepada Acep (Perseteruan Acep-Khobir 2007), bahwa pada saat saya
> menulis di
> milist ini, tidak semata-mata mewakili diri pribadi saya. Saya menulis
> terkadang
> ingin mewakili "hati nurani" terdalam dari rekan-rekan di seluruh
pelosok
> Indonesia yang tak mampu mereka ucapkan. Saya bisa merasakan apa yang
> mereka
> rasakan, tetapi saya juga mengerti kesulitan para pejabat pembuat
> keputusan.
> Ngomong-ngomong, Mas Seti dulu alasannya apa waktu minta pindah dari
KPPN
> Saumlaki ke Kanwil Semarang? Boleh tahu, nggak? Bukannya sudah dapat
gaji?


Kirim email ke