KETAKUTAN DITENGAH PENGHARAPAN DAN KEKECEWAAN

Awalnya si prima berpikir sangat optimis mencerna uraian tentang
kehebatan dan keunggulan proyek percontohan si prima. 
Pekerjaan seabrek dapat dilakukan dengan cepat, tepat, tanpa berjubel
aparat.
Terbayang betapa supernya si prima karena satu orang prima sebanding
dengan tiga orang pra prima. 
Terbayang pula betapa enerjiknya si prima karena berada dalam rentang
usia 35 tahun kebawah demi memperjuangkan harapan banyak orang dan
bertahan di grade batas terbawah.
Di tengah opini kecewa dan saling kutuk karena adanya tiga grade,
bawah-tengah-atas grade, bagi pelaksana bertarung dengan satu posisi
grade bagi pejabat, si prima tetap melangkah.

Si pra prima mengutuk karena hidupnya di jalan berkelok penuh lubang
yang mampu menjebloskan dirinya ke dalam grade lebih rendah.
Si pra prima mengutuk karena di hadapannya ada jalan bagi pejabat yg
selalu lurus tak berlobang yg tidak mungkin menurunkan grade.
Si pra prima  mengutuk karena berada dalam grade sama berkumpul pada
tiga tingkatan golongan yg berbeda.
Si pra prima  mengutuk karena harus hidup dalam gaya minimalis dan
bukannya dalam gaya maksimalis di tingkatan gradenya. 
Si pra prima pun mengutuk karena daya kejut renumerasi seolah memberi
hadiah kepada si serakah dan memberi hukum kepada si taat hukum.


Hampir menyembur tarikan kecewa akibat opini kecewa telah merambah ke
segala arah, termasuk ke dalam hati dan otak si prima.
Namun semburan itu mereda lebih diakibatkan daya imun hati dan akal
serta sebuah pengharapan besar dari banyak orang.

Akankah gaya minimalis personil si prima mengharuskan semua personil
bekerja lebih keras...???
TIDAK...!!!!  Itu tindakan bodoh, tolol dan harakiri. 
LALU....???  Yang dibutuhkan adalah personil yg mau bekerja lebih
pintar..!!!

Ingat, si prima bukanlah robot yang dimulai oleh absen pagi pukul
7.30, istirahat pukul 12.15-13.00, dan diakhiri dengan absen sore 17.00.
Si prima tetaplah manusia yg mempunyai naluri kemanusiaan tentang
kehidupan organisasi, individu, keluarga, dan masyarakat.
Dari sudut pandang maslow, si prima dianggap sudah mencapai tangga
aktualisasi diri walau masih dalam bayang2  tingkat mempertahankan diri.
Bila mengacu hukum pareto, bahwa setiap orang hanya mampu mencapai 40%
dari semua rencananya, dan paradigma siapa sibuk dia dipeluk, maka
pastilah si prima akan berkeluh lelah.
Namun demikian,  layar itu telah berkibar dan sang nahkoda pun telah
bersiar di berbagai alat siar.

Dan suara mesin itupun kini telah menderu.
Berdebar si prima karena menunggu suara terompet sebagai tanda acara
tergelar.
Mungkinkah si prima berhasil...???
Mungkinkah si prima tetap prima ...???
Mungkinkah si prima patut dicontoh...???
Mungkinkah si prima mampu menjelajah...??? 
ataukah malah berlayar dengan payah ....???


Masih adakah bercokol rasa takut ...???
Masih adakah bergantung rasa harap ....???
Masih adakah bergulat rasa kecewa ....???

Semua pun bersuara... MASIH.....???
Dan si bijak pun berlinang kata dengan mengalirkan arus kalimat, "ITU
MANUSIAWI...."
Semua pun merenung arti linangan kata itu, apakah sedih ataukah senang
atukah berarti....

.... cukup sekian....



Kirim email ke