Birokrasi Tanpa "Breakthrough"

Rhenald Kasali

Setiap kali seorang pemimpin melakukan perubahan atau reformasi, ia
akan memulainya dengan melakukan pemetaan (mapping).

Perubahan sering diibaratkan sebagai upaya menghubungkan dua titik
terpisah (connecting the unconnect) sehingga peta menjadi amat
penting. Celakanya, begitu peta selesai dibuat dan diumumkan, banyak
pemimpin merasa bahwa tugas reformasinya sudah selesai.

Mitos gunung batu

Satu tahun setelah peta diumumkan, pemimpin kembali mendatangi
staf-staf dan menanyakan bagaimana kemajuannya (progress). Pemimpin
cemas karena kedua titik yang dijadwalkan sudah rampung ternyata belum
selesai. Jajaran birokrasi menyampaikan masalahnya, tetapi pemimpin
menghendaki solusi. Mereka diberi tambahan waktu dua bulan lagi.

Dua bulan berlalu, kedua titik belum juga terhubung. Semua mengeluh,
reformasi cuma sebatas lip service. Pemimpin mulai frustrasi. Ternyata
menaikkan gaji tidak mengubah perilaku.

Apa yang terjadi sebenarnya ada di gunung batu. Setiap perubahan
selalu akan berhadapan dengannya, sebuah bukit berbatu keras yang
berada tidak jauh dari setiap titik awal kita bergerak. Untuk sampai
ke tujuan, kita harus melewati atau menembus gunung batu itu. Namun,
di luar dugaan, gunung batu tersebut ternyata ada "penghuninya".

Baru saja gunung itu disurvei, "penunggunya" sudah beraksi. Konon,
begitu mereka terganggu, banyak pekerja kesurupan, lalu ketakutan dan
memutuskan tidak ikut membangun jalan tersebut.

Begitulah reformasi birokrasi. Diperlukan sebuah kekuatan besar untuk
menembus "gunung batu". Kekuatan itu disebut breakthrough yang berarti
menjebol dengan tenaga superkuat. Anak buah tidak bisa karena hanya
punya skenario (the art of probability). Namun, pemimpin bisa karena
mereka punya kekuasaan (the art of possibility).

Kekuatan skenario selalu kalah apabila berhadapan dengan mitos karena
mitos juga memiliki kekuasaan yang tersembunyi. Para "penghuni" gunung
batu itu sudah bertahun-tahun hidup di sana dan mereka memiliki
jaringan amat solid. Dulu, di Medan, "penghuninya" adalah para raja
judi yang konon bisa urunan untuk mengurus pergantian kepala polda
yang dianggap terlalu mengganggu kenyamanan mereka. Di
departemen-departemen milik pemerintah, "penghuni"-nya banyak wujudnya.

Ada oknum pensiunan yang mempunyai hak memasok alat tulis kantor
selama bertahun-tahun. Ada sahabat-sahabat menteri yang mengatur
pemasok-pemasok departemen (termasuk mengatur event organizer). Ada
pegawai-pegawai yang sengaja ditempatkan di meja-meja basah oleh
oknum-oknum tertentu. Ada juga pejabat resmi yang greedy dan
sebagainya. Mereka semua nyata, bukan ilusi. Mereka menjadi penjaga
gunung batu yang membuat bapak/ibu menteri cuma bisa garuk-garuk kepala.

Diperlukan "breakthrough"

Karena itu, setiap reformasi memerlukan breakthrough. Waktu setiap
breakthrough tidak boleh lebih dari tiga bulan, mencakup hal-hal yang
harus dan bisa dicapai dalam waktu singkat. Semua terukur dan jelas
hasilnya.

Di birokrasi, jika mau sukses, seorang menteri harus turun sendiri
memimpin breakthrough. Sebab, "penghuni" cuma takut kepada menteri,
bukan kepada teman-teman mereka yang biasa mereka beri makan. Ini
berarti menteri harus mulai menghabiskan waktu lebih banyak di kantor,
bersama-sama dengan breakthrough team-nya.

Maka stop dulu memberi keynote speech membuka seminar dan pameran atau
jalan-jalan ke luar negeri. Menteri juga harus mulai lebih selektif
menerima masukan dari sekondan-sekondannya yang ternyata juga punya
kepentingan di gunung batu itu.

Breakthrough berarti menembus atau melakukan terobosan dan mengambil
alih risiko bawahannya. Maka menteri harus punya semacam war-room,
tempat setiap sore ia bisa melihat sendiri apa saja yang telah dicapai
oleh jajaran birokrasinya.

Di Indonesia, cara-cara seperti ini belum banyak dikenal. Namun, di
Pertamina, para change champions-nya telah membuktikan, tanpa
breakthrough mereka belum on the move. Setiap kali suatu proyek yang
terukur selesai dicapai diberi tanda hijau. Dan yang belum diberi
tanda merah. Semua berlangsung cepat sehingga para "penghuni" tidak
bisa mengatur siasat apa pun untuk bergerak. Bahkan pada saat mereka
bergerak, gunungnya sudah terbelah dua sehingga tidak bisa mengambil
"ongkos sewa" lagi.

Saya cuma berharap akan ada banyak lagi menteri, selain menteri
keuangan, yang melakukan breakthrough dalam reformasi birokrasi. Tanpa
breakthrough, reformasi hanya menyisakan aneka kesulitan bagi rakyat.

Rhenald Kasali Ketua Program Magister Manajemen Universitas Indonesia



Kirim email ke