Terima kasih Tuhan, puji syukur kupanjatkan kepadaMu.
Awal bulan ini saya terima raport dari kedua anakku.
Isinya cukup melegakan hati saya. The older sister
naik kelas 4 dan the wonder boy naik kelas 3. Satu
prestasi yang patut disyukuri. Apalagi mengingat si
wonder boy secara formal tidak pernah duduk di bangku
kelas 1. Dia Cuma ikut ikutan sekolah karena iri
dengan kakaknya yang sekolah, tapi dalam perjalanannya
justru gurunya memberi kesempatan untuk duduk di kelas
2 karena ia dianggap mampu bersaing dengan teman2nya
yang memang terdaftar sebagai murid kelas 1.
Tapi dasar anak anak, ada ada aja celotehannya. Mau
tahu? Begini nih ceritanya.
Karena harus bapaknya yang ambil raport, berangkatlah
saya dengan hati yang berdebar debar menuju sekolah
dasar tempat anak anak saya kuliah
ceile. Kenapa
mesti berdebar debar, sesuai gambaran postingan saya
terdahulu, anak anak saya ini tidak termasuk golongan
anak pintar. Takut tinggal kelas gitu. Maklum Bapaknya
hanyalah Pentium 3 yang lemot dan susah di upgrade
lagi. Makanya ketika saya lihat anak2 naik kelas hati
saya melonjak gembira apalagi tidak ada penurunan
nilainya, naik malah. Namun justru ini yang menjadi
sumber protes jilid dua. Ketika si wonder boy melihat
peringkatnya turun dari peringkat 5 menjadi peringkat
8 dia protes.
Lho pak nilaiku khan naik (dari rata-rata 7,2 jadi
8,4)
kenapa peringkatnya malah turun? Itu punya mbak
Sasha nilainya tetap (semester 1 semester 2 ajeg 7,4)
tapi peringkatnya malah naik (dari peringkat 10 jadi
peringkat 6).
Bu Guru curang!! Mak cep klakep
.mulut saya
terkunci.
Gimana nih pak!! Daniel gak mau
!! Kembang kempis
napasnya
matanya sudah mulai berair tanda tanda mau
menangis. Dan benar aja nggak lama kemudia di lempar
buku raportnya dan nangis sesenggukan di sudut ruang
tamu.
Dari dapur mamaknya dengan garang nyamperin aku.
Bugh!! Satu hook kanan mampir di lambungku.
Kamu apakan Daniel sampai nangis begitu?!! Wajahnya
terlihat sangar. Aku terdiam cengar cengir
Jangan cengar cengir, ayo jawab! kamu apakan dia!
Sebentar tho
kamu ini kalo mukul ternyata keras juga
yah
sakit tau!!
Hik hik hik
sakit ya mas
.sory kekencengan
abis kamu
menghindar sih, jadi malah kena telak he he he.
Kenapa lagi dengan si wonder boy?, katanya melunak.
Dia ngambek mak, nilainya naik tapi peringkatnya
turun. Sedang si Sasha nilainya tetap tapi
peringkatnya naik. Dia bilang bu Guru main curang!
Lho kok bisa begitu ya pak
padahal nilainya bagus
loh
jadi gimana nih mas
urus tuh, kamu yang paling
jago soal bujuk membujuk.
Ok. Sini, bagi saya Rp.10.000!
Untuk ap
.. Belum selesai istriku bicara uangnya
sudah kusambar, lantas ngacir aku di toko kecil
seberang jalan.
Dengan modal buku gambar dan spidol warna kudekati
wonder boy yang masih sesenggukan. Tanpa bicara kubuka
buku gambar. Kucoba gambar robot, power rangers dan
sebagainya
.dia mulai melirik. Tidak butuh waktu lama
spidol di tanganku sudah berpindah tangan dan dia
mulai asik menggambar dan mewarnai tokoh tokoh
kesukaannya.
ah
bisa aja kamu mas!, puji istriku.
he he he
aku ketawa aja.
Sekarang
Kadang saya jadi geli sendiri, ternyata kita
yang mengaku sudah dewasa, tingkah kita tak lebih dari
anak anak umur 7 tahun. Masih sering ngambekan.
Seperti job grading akhir akhir ini saya merasa
situasinya sama persis yang dialami anak saya Daniel.
Terutama, maaf rekan rekan sesama korpel. Disatu sisi
kita diangkat sebagai korpel (SK Pusat lagi) yang
merupakan pengakuan bahwa kita dianggap mampu/ lebih
baik dari pelaksana. Artinya ada peningkatan value/
kinerja. Tapi kenyataannya kita dihadiahi grade yang
tidak lebih besar (malah dalam beberapa kasus lebih
kecil) dari pelaksana. Mereka langsung sewot dan
merasa diperlakukan tidak adil. Just like what Daniel
did.
Sidang miliser yang saya hormati,
Penetapan job grading seperti sekarang ini menurut
saya seharusnya sudah diterapkan sejak jaman dulu.
Situasi yang kita hadapi pasti akan jauh berbeda.
Korupsi/ kolusi di DJPB khususnya KPPN tidak akan
separah saat ini. Setiap orang dalam mencari materi/
akan berusaha mencapai grade tertinggi dengan cara
sehat melalui jalur karir dan meningkatkan kinerjanya
bukan sekedar mencari lahan basah sebagai tempat
meraup pundit-pundi.
Namun kalo boleh berpendapat tentang keadilan job
grading kita para pelaksana minta diberikan solusi
bagaimana cara mencapai grade yang lebih baik. Saya
mencoba membandingkan dengan upaya para guru untuk
mendapatkan kenaikan pangkat/ golongan. Ada kredit
point yang dapat dicari. Kalo di sana orang bisa
mendapat kredit point dengan menulis makalah, seminar
de el el. Mbok yao kita juga diberikan cara untuk
mencari kredit point. Jangan melulu dari volume kerja.
Karena seperti kita ketahui dipaksakan bagaimanapun
kalo kita ada di type B volume kerja jelas cuma segitu
gitunya. Hampir mustahil meningkatkan volume kerja
kalo inputnya sendiri minim.
Yang terjadi sekarang ini banyak rekan menjerit karena
mereka ditempatkan pada posisi grade terendah dengan
iming iming enam bulan lagi dievaluasi. Ya kalo
naik
lha kalo malah turun kan jadi cilaka tiga belas
buat kita kita. Dari kaca mata saya yang lemot ini
seyogyanya pelaksana ditempatkan di grade tertinggi.
Kalo kinerjanya bagus dipertahankan atau dinaikkan
gradenya, kalaupun nanti terpaksa turun grade secara
emosional tidak akan kaget karena masih masuk di grade
tengah. Kalo memang keterlaluan, ya silahkan saja
tempatkan mereka di grade terendah. Kalo niatnya mau
menghemat keuangan mbok caranya jangan menekan kami
pelaksana yang sudah mau kerja keras tapi ditempatkan
di grade rendah.
Dalam menghadapi pimpinan, kami pelaksana ini ibarat
timun dihadapkan dengan durian. Kalo kami mencoba
menekan atasan maka kami akan luka karena tertusuk
duri. Apalagi kalo atasan memang berniat menekan kami.
Ya jelas pasti kami bonyok bonyok. Remuk.
Wong timun kok ditiban (dijatuhi) durian.
Dalam situasi seperti sekarang ini yang bisa saya
lakukan hanya mencoba mengungkapkan uneg uneg lewat
puisi, sajak dan sejenisnya. Karena terkadang
inspirasi tidak langsung muncul dari dalam hati tapi
juga terpengaruh jeritan, kemarahan dan suara suara
yang saya dengar dan rasakan lewat milis. Saya hanya
mencoba merangkumkan dalam kata kata. Itupun semampu
saya
maklum lemot he he he
Untuk itu saya berterima kasih kepada teman teman
milis yang jadi ikut ikutan melankolis dan puitis.
Sungguh saya sangat meninkmati puisi puisi kalian.
Teman teman mampu mengapresiasikan dengan kata kata
yang lebih dalam dan bermakna. I raise up two tumb
kata orang jawa. Beruntung saya punya pak Hari yang
mumpuni dalam segala bidang. Bahkan RA Kosasih (saya
juga pengagumnya) pun beliau kenal betul. Saya juga
yakin beliau kenal tokoh tokoh seperti Agung Sedayu,
Sekar Mirah, Glagah Putih, Kiai Gringsing, Swandaru,
Pandan Wangi, Ki Gede Pemanahan, termasuk tabiat
tabiatnya sebagaimana dituturkan SH Mintardja.
Wuih
saya rasa ini rekor postingan saya. Panjang dan
njelehi. Sebelum temen temen jadi mual, baik saya
akhiri di sini saja dulu.
Salam Perubahan,
I Love You all
GBU
Harsono BW
____________________________________________________________________________________
Yahoo! oneSearch: Finally, mobile search
that gives answers, not web links.
http://mobile.yahoo.com/mobileweb/onesearch?refer=1ONXIC