Pak Djarot, Bang Ekadj dan Rekan-rekan ysh,

Sebagai selingan diskusi Nilai/Harga Tanah, saya ingin menyisipkan 
Bab tentang "nilai-nilai" dalam pengertian lain.

Dunia "perencanaan" adalah dunia yang menciptakan komunitas-
komunitasnya. Baik itu komunitas 'darat' maupun virtual. Komunitas 
yang berbeda punya wacana, paradigma, bahkan dalam  pengertian 
terbatas 'budaya' yang beda pula. 

Dalam tiap wacana komunitas tentu muncul 'sistem nilai', 
ukuran 'mulia atau rendah' yang beda pula. Kalau komunitas itu 
dinamis maka akan terjadi 'perebutan', 'persaingan', yang 
menimbulkan debat. Tapi kalau kurang dinamis, atau struktur 'kuasa' 
antar anggota jelas dikenali, maka dinamika tidak terjadi, karena 
mayoritas ya 'manut' saja.

Kalau mengambil kasus milist 'perkotaan' dan 'referensi' ini 
misalnya. Untuk lingkungan atau komunitas kecil ini saja, Wacana 
Perencanaan yang berkembang menunjukkan strukturnya.

Sebagai contoh. Kalau dibandingkan dengan wacana perencanaan di 
sekolah (PWK), maka komunitas 2 milist ini lebih didominasi 
aspek 'penataan ruang'nya. Sehingga norma-norma dan variabel yang 
dominan adalah nilai ruang. Padahal wacana yang dikembangkan di 
sekolah, dan di dunia kerja umumnya, pengertian perencanaan 
pembangunan daerah dan kota (PWK) jauh lebih luas dari itu. Adanya 
dominasi wacana yang bias 'penataan ruang' itu, membuat wacana lain 
serasa 'menyimpang'. 
Dari sisi lain ini sebetulnya merugikan, karena pembahasan mengenai 
housing (perumahan & permukiman), pertanahan, masalah banjir, 
masalah kemiskinan dan pegangguran perkotaan, dst. Menjadi sesuatu 
yang seolah "di luar planning".

Kalau ambil contoh lebih spesifik, milist "perkotaan", yang dibuat 
untuk difersifikasi, menampung diskusi di referensi yang spesifik 
bicara tentang kota. Milist ini seharusnya bisa menarik. Namun 
karena anggotanya juga member 'referensi' sementara wacana dominan 
di referensi bias 'menistakan' perencanaan kota (dianggap anti 
keadilan regional), maka diskusi di 'perkotaan' ini jadi tidak 
berkembang. Padahal ada 400an kota di negeri ini yang layak dibahas, 
misalnya.

Ada juga kasus, seorang arsitek yang sudah alih profesi menyatakan 
bahwa "arsitek profesi perusak". Ini semestinya bisa jadi topik 
diskusi. Tapi itu namanya dominasi. Yang terjadi adalah norma si 
dominan. Saat ditonjolkan juga tokoh arsitek pro-rakyat ala Romo 
Mangun, Hasan Purbo, ada pendapat 'jangan me-mistifikasi mereka 
lah'. Lalu itu jadi 'kebenaran'. 

Contoh lain, adalah wacana yang berumur paling panjang di dunia 
perencanaan, bahwa 'kebenaran' datang dari pemerintah. Ada 
anggapan "negara = pemerintah" itu sendiri. (Istilah Jawa nya dunia 
priyayi). Swasta itu dikonotasikan nista dan serakah. Sedang 
komunitas masyarakat adalah obyek penertiban. Seiring dengan 
reformasi struktur dominasi 'kebenaran' ini semenjak reformasi dan 
demokratisasi mulai mencair, ditandai dengan banyaknya penggunaan 
istilah 'partisipasi' dalam perencanaan. Namun tentu untuk generasi 
tertentu masih kuat.

Ini adalah contoh latihan kompetisi atau perjuangan merebut wacana 
yang hasilnya seolah menentukan nilai baik/buruk suatu pendapat atau 
tindakan. Sekali lagi perlu disadari, itu bukan kebenaran universal, 
ya setempat itu saja.

Saya pikir pengenalan analisis Wacana Perencanaan ini tak ada 
salahnya diketahui, karena sebagai Planner pekerjaannya adalah 
berpindah dari satu komunitas (pusat, departemen, daerah, kota, 
dinas ini/itu, forum ini/itu) yang punya wacana, paradigma, norma 
spesifik disamping yang universal PWK. Karena kalau tidak 
menyadarinya, skenario yang ada tinggal: ngotot saja, manut atau 
frustrasi. Padahal mestinya bisa negosiasi untuk mencari titik temu. 
Sehingga ada perluasan wacana, masing-masing berusaha memahami nilai-
nilai yang dianut masing-masing, jangan sebaliknya kian menyempit.

Salam,
Risfan Munir

Kirim email ke