Rekan Permias Yth,

Berikut adalah pengalaman pribadi seorang warga Indonesia di New York yang 
disampaikan oleh temannya, yang kemudian disebarluaskan kembali hingga sampai 
ke mailbox saya. Mungkin rekan rekan sudah banyak tahu tentang detik detik 
rubuhnya World Trade Center dari siaran TV atau laporan dari teman dan 
keluarga di New York yang menyaksikan langsung kejadian tersebut. Namun 
setidaknya apa yang diinformasikan oleh Wiko ini bisa memberikan gambaran 
lain tentang apa yang terjadi di World Trade Center pada hari Selasa lalu. 

Arya Indrathama


----- Forwarded by Herlin Darmawan/APRN/SCB on 09/13/01 08:54 AM ----- 
    [EMAIL PROTECTED] 


09/13/01 02:11 AM 

        
To:        [EMAIL PROTECTED],
[EMAIL PROTECTED],
[EMAIL PROTECTED],
[EMAIL PROTECTED],
[EMAIL PROTECTED],
[EMAIL PROTECTED],
[EMAIL PROTECTED],
[EMAIL PROTECTED],
[EMAIL PROTECTED],
[EMAIL PROTECTED] 
cc:         
Subject:        NY info from frds   


Bet,
Gue baek2 aja. Thank you.
Jam 8.15 am gue masih di kolong WTC yg meledak itu,
ganti train. Jam 8.30 gue sampe dikantor. Kantor gue
sekitar 1 km dari WTC, tapi jendela besar di belakang
gue menghadap ke WTC, jadi WTC towers jelas sekali
dari meja gue. Very good view (it was).

Jam 8.30 gue sampe kantor, terus ngetik2. Jam 8.45
tiba2 lantai gue shaking. Orang di belakang gue nunjuk
ke jendela besar itu. Gue ikut liat, dan gue
menyaksikan ledakan besar di WTC 1, mirip di film,
tapi ini real. Untuk beberapa saat kita semua bengong
serasae ngga percaya. Asap tebal terus keluar dari
bagian gedung yg rusak.

Kita semua mengira ini pasti accident, tapi sangsi
juga, kok bisa ada pilot segoblok itu. Pas masih
bengong melihat WTC 1 terbakar, tiba2 mata gue ngeliat
ada pesawat terbang rendah, melayang di udara, tapi
mengarah ke WTC towers. Detik berikutnya gue ngeliat
pesawat itu nabrak, masuk ke dalam gedungnya, dan
ledakan besar terjadi lagi. Guncangannya begitu kuat
sampai lantai gue berdiri ikut goyang. Gumpalan api
besar muntah dari bagian yg hancur. Api dan asap tebal
langsung mengudara. Mata gue engga percaya, ini pasti
mimpi. Tapi itulah yg terjadi. 

Kita semua lari lewat tangga darurat ke bawah. Disitu
kita semua disuruh jalan menjauhi gedung2 tinggi. Kita
terus jalan sampai akhirnya sampai di Chinatown.
Disitu gue berdiri, join the crowd menyaksikan kedua
tower WTC mengepul asap. Gue rasanya sedih sekali. Gue
melihat banyak sekali orang2 dari puncak kedua tower
yg terbakar, mereka melompat terjun ke bawah dari
jendela. Puluhan tubuh2 meluncur turun deras jatuh ke
bawah. Pemandangan mengerikan. Kalo serpihan gedung,
itu turunnya agak melayang kena angin. Tapi kalo tubuh
manusia, itu langsung deras jatuh ke bawah. Sedih
sekali rasanya, but I couldn't do anything.

Jam 10an, disaat gue lagi berdiri melihat, tiba2 salah
satu tower runtuh. Gila, ini rasanya engga mungkin.
Detik berikutnya keramaian di depan gue semua lari
berbalik arah, ke arah gue. Di belakang mereka gue
ngeliat seperti tembok debu yg besar, bergerak ke arah
gue juga. Gue ikut lari ke ujung jalan. Bau debu
dimana2.  

Sampai di ujung jalan, gue berhenti. Gue lihat ke arah
tower. Rasanya engga mungkin, sekarang gue cuman
menyaksikan 1 gedung WTC aja. Gedung yg satu udah
engga ada lagi. Orang2 disekitar gue pada nangis dan
histeris. Gue masih berdiri disana, dan melihat masih
banyak orang2 yg memilih melompat keluar dari puncak
tower yg masih berdiri. Beberapa menit kemudian, tower
yg terakhir ini akhirnya runtuh juga. Berkali2 gue
bilang ke diri gue, ini pasti mimpi. Ini engga
mungkin. Detik yg sama orang2 depan gue lari2 lagi ke
arah gue.Sekali lagi, tembok debu raksasa kembali
menerjang ke arah gue berdiri. Gue ikut lari, terus
berlari sampe ke ujung jembatan Brooklyn Bridge.

Ini betul2 tragedy. Ketika towernya runtuh, itu banyak
sekali petugas emergency, polisi, dokter, pemadam
kebakaran, petugas ambulans, mereka yg sedang berusaha
menyelamatkan korban di bawah gedung, mereka semua
akhirnyat ertimpa ketika towernya runtuh. Mereka tewas
atau luka2 ketika berusaha menyelamatkan korban.

Jalan dimana2 ditutup. Bus2 kota dikosongkan,dipake
ketempat kejadian untuk mengangkut petugas, korban,
atau mayat. Gue jalan ke stasiun kereta, tapi kereta
engga jalan. Akhirnya gue nongkrong disitu, sampe
akhirnya jam 10 malem baru bisa pulang dan sampe di
rumah dengan selamat.

Betul2 hari yg mengerikan buat gue. Menyaksikan
kematian di depan gue betul2 bikin gue trauma. Dan gue
berdoa buat mereka yg menjadi korban, dan mereka yg
ditinggalkan.

cheers 
Wiko 

Reply via email to