> > Terus yang ini sih komentar saya pribadi: saya rasa kok tak
sepenuhnya
> > betul juga kalau dibilang Mbak Mega sudah lepas dari "bayang-bayang"
> > Soekarno. Soalnya: Mbak Mega ini kan masih saja tetap memakai nama
> > Soekarno, instead of memakai nama "Taufik Kiemas" suami beliau
sendiri.
> > Padahal, kebanyakan wanita lain di Indonesia, dan juga dimana saja,
> > para wanita kalau menikah biasanya memakai nama (last name) suaminya
--
> > Hillary Clinton, Corry Aquino, etc. Rak iya tho?

Salam,
Saya hanya ingin komentar yang bagian di atas. Kalau yang saya baca di
koran nama Megawati Soekarnoputri adalah namanya sendiri. Ia mempunyai
nama dengan dua suku kata. Kalau "bayang-bayang" bapaknya dimasukkan
maka namanya menjadi Megawati Soekarnoputri Soekarno, suku kata ketiga
adalah "last name" nya. Jadi kalau mau disalahkah adalah bapaknya, bukan
Mega. Kenapa bapaknya memberinya nama "Soekarnoputri." Dan, tentu tidak
fair bagi kita dan Mega kalau memintanya untuk mengganti "Soekarnoputri"
dengan yang lain. Kecuali kalau ybs ingin mengubahnya sendiri. Dan tidak
fair pula karena namanya itu lalu kita menyebut ia "bayang-bayang"
bapaknya (jangan ditafsirkan kampanye, ini hanya anilisis budaya).

Di masyarakat modern, khususnya yang berafiliasi ke budaya barat modern,
nama "last name" wanita berubah begitu ia kawin. Kalau ia cerai dan
kawin lagi, berubah lagi "last name"nya. Begitulah sampai ia mati, nama
"last name"nya biasanya nama "last name" suaminya yang terakhir. Kasihan
wanita (saya tertawa sedih ketika membaca tulisan "Cewe jangan baca").
Wanita yang nggak kawin-kawin, biasanya mempertahankan "last name"
ayahnya. "Last name" itu sendiri bukan nama "real" (first name) ayahnya,
karena ayahnya pun memperoleh nama "last name"nya dari nama "last name"
ayahnya lagi (artinya kakek si wanita tadi). Begitulah seterusnya,
budaya "last name" seperti ini tidak kita ketahui ujung pangkalnya.
Kalau pola "last name" ini berurut dengan benar (berdasar silsilah
"family tree"), maka mestinya George Washington (bapak USA) adalah nenek
moyangnya si "Denzel Washington (bintang film terkenal berkulit hitam),"
atau "Andrew Jackson (mantan Presiden USA) adalah kakeknya si "Michael
Jackson" (you knew him).

Itulah di Amerika, misalnya, yang dimaksud "last name" itu biasanya
adalah "family name," bukan "father name." Yang lucu kalau nama
seorang wanita dari keluarga tidak terkenal, "familiy name" ayahnya
langsung saja diubah menjadi "family name" suaminya. Kalau suami2nya
orang terkenal, maka biasanya dua2nya dipakai. seperti pada Jackie
Kennedy (istri John F Kennedy) yang menjadi Jackie Kennedy Onassis
(ketika kawin lagi). Kalau suami pertamanya tidak terkenal dan yang
kedua terkenal, ya kasihanlah suami pertama itu, sudah dicerai namanya
hilang lagi (Hal ini tidak berlaku dalam kasus "Tina Turner", penyanyi
top wanita, yang tetap memakai nama "Turner", nama last name suami yang
diceraikannya. Karena nama "Turner" sudah menjadi merek dagangnya yang
terkenal). Pada wanita yang lebih "independen" biasanya "family name"
ayahnya digabung dengan "family name" suaminya. Sehingga kita kenal,
misalnya, "Hillary Rodham Clinton," bukan "Hillary Clinton."

Tradisi Islam, Yahudi dan Kristen Orthodox biasanya tetap memelihara
nama ayah sebagai "last name." Last name dalam konteks tradisi ini
biasanya berdasarkan ikatan darah. Karena itu ketika nabi Muhammad
mengangkat seorang anak, anak angkatnya itu tetap dihormati untuk
menggunakan nama ayah biologisnya. Anaknya sendiri, Fatimah, tetap
menggunakan nama Muhammad, Fatimah Muhammad (atau lebih tepat Fatimah
binti Muhammad, yang artinya Fatimah putri Muhammad atau Fatimah
Muhammadputri. Kalau kita memakai konteks ini maka nama "Soekarnoputri"
memiliki pola yang sama dengan tradisi Islam), walaupun setelah Fatimah
kawin dengan Ali bin Abi Thalib. Dalam tradisi agama2 besar itu, ikatan
darah jauh lebih kuat dari ikatan hukum (suami istri), dan tentu yang
paling kuat adalah ikatan iman. Kalau memakai pola modern sekarang ini
(sebut saja pola Hillary Rodham Clinton), maka nama Fatimah seharusnya
berubah "Fatimah Abdulah Abi Thalib." Abdullah nama ayahnya Muhammad dan
Abi Thalib adalah ayahnya Ali.

Di Indonesia, atau juga di negara lain, mereka yang memegang kuat
tradisi agama dalam soal penamaan anak ini biasanya selalu mencatumkan
nama ayahnya sebagai "last name"nya. Ibu saya tetap menggunakan nama
ayahnya "Thahir", bukan "Azis", nama suaminya (ayah saya), baik sebelum
maupun setelah kawin dengan ayah saya. Saya lihat orangtua istri saya
juga begitu. Karena itu saya merasa terpanggil untuk menjaga tradisi ini
ketika saya berkeluarga. Istri saya bukan saja saya larang
menggunakannya nama saya untuk "last name"nya, tetapi ia sendiri tidak
setuju menghilangkan nama ayahnya dibelakang namanya. Ya cocok. Tradisi
agama ini saya lihat masih banyak dianut oleh keluarga2 lain. Anak2 saya
semua bernama "last name" Azhar, bukan Azis. Karena Azhar itulah nama
saya, bukan Azis (nama ayah saya). Bahkan ketika anak saya yang ketiga
"Ibrahim" lahir di Oklahoma, dan oleh UU Oklahoma anak saya wajib
memakai "last name" saya (artinya menjadi "Ibrahim Azis"), saya protes
keras. Harusnya anak saya itu namanya menjadi "Ibrahim Azhar", bukan
"Ibrahim Azis." Pejabat di Oklahoma tetap saja ngotot (ini cermin tidak
ada kebebasan dalam soal ini di negara yang dianggap paling demokratis
ini). Akhirnya, saya terpaksa mencari sorang "lawyer" (yang artinya saya
harus mengeluarkan extra cost) hanya untuk soal ini. Alhamdulillah, anak
saya kini diputus oleh pengadilan Oklahoma bernama "Ibrahim Azhar",
sesuai tradisi yang saya anut (Sekedar perbandingan, anak saya yang
pertama, Mina Azhar, yang lahir di Oregon tidak perlu mengalami hal
serepot di Oklohama. Tampaknya Oregon memang lebih demokratis dari
Oklahoma dalam soal ini).

Maaf melesat terlalu jauh. Kembali ke soal nama Megawati Soekarnoputri,
nama itu justru sesuai dengan mereka yang memegang erat tradisi agamanya
(dalam kasus ini, Islam). Saya lihat tradisi ini tumbuh dari budaya
keluarga ibunya (Fatmawati), bukan budaya keluarga ayahnya. Jadi kalau
mau juga disebut "bayang-bayang" tadi, maka bayang2 yang lekat ke
Megawati adalah bayang2 ibunya. Dibanding ayahnya yang "kontroversial",
ibunya jauh memperoleh respek yang lebih tinggi sebagai "Ibu Indonesia".

Wassalam,
Harry Azhar Azis
Stillwater, Oklahoma

Kirim email ke