Adakalanya orang  Jahudi dalam kapasitas politisi ingin menerapkan
teori "pemisahan agama dari urusan politik" di negara dengan mayoritas Islam
melalui berbagai manover komunikasi dan instrumen komunikasi.
     Sementara dalam kapasitas sebagai cendekiawan jenius justru mereka
mengakui bahwa dalam Islam itu mustahil dipisahkan dari urusan politik. Jadi
artinya, mereka mengakui bahwa politik itu merupakan bagian dari Islam juga.
     Nah kalau begitu mengapa mereka terus ngotot?
     Apalagi kalau bukan untuk menciptakan pertentangan secara interen di
kalangan rakyat di negara tersebut. Apakah itu dalam bentuk polemik,
demonstrasi, sampai huru-hara. Sehingga diharapkan akan melemahkan potensi
rakyat dalam membangun ekonomi.
      Akhirnya memberikan kredit pointlah bagi mereka dalam ekspansi ekonomi
di negara itu : secara langsung atau tidak langsung.

Salam,

Nasrullah Idris

Kirim email ke