Saya menduga-duga pikiran bung Anjas, apakah "harapan" bung Anjas terhadap
mahasiswa-mahasiswa di USA (juga sekaligus organisasinya - PERMIAS) ini
terlalu tinggi?
Realistis saja, namanya juga mahasiswa, dimana pun sama - pasti sibuk
belajar supaya
bisa lulus dengan nilai yang baik. Sebagian lainnya juga sibuk bekerja
karena tidak
semua mahasiswa memiliki uang yang cukup untuk membayar ini itu sampai
dengan lulus nanti.
Sementara itu di - nun jauh di sana - di Indonesia, banyak terjadi
peristiwa-peristiwa
yang mengakibatkan perekonomian "terpuruk" dan kehidupan tidak bisa berjalan
normal. Banyak
PHK, yang tidak diPHK juga banyak yang tidak cukup punya uang untuk membeli
kebutuhan
dasar seperti pangan dan obat-obatan karena harga-harga melambung tinggi
sedangkan gajinya
tidak naik (sudah syukur tidak diPHK). Yang lebih buruk lagi adalah adanya
kerusuhan
di beberapa daerah sehingga banyak warga yang terpaksa mengungsi dari
daerahnya sehingga
otomatis akan mempersulit mereka untuk mendapatkan uang untuk hidup.
Kalau mau bicara angka-angka, pada tahun 1997 itu penduduk yang hidup di
bawah garis
kemiskinan sekitar 20%, tahun 1999 dilaporkan lebih dari 60%, berarti memang
kondisinya
benar-benar memburuk.
Nah, siapa yang jadi korban? Umumnya korban ini yang dibilang sebagai
"rakyat kecil" yaitu
mereka-mereka yang tidak mampu mengatasi pengaruh memburuknya ekonomi.
Sebenarnya "rakyat
kecil" ini yang memerlukan bantuan. Mereka mengharapkan para pemimpin
(istilah sekarang
elite politik) agar mampu memperbaiki perekonomian dan meniadakan kerusuhan,
tetapi seperti
kita ketahui bersama, saat ini para elit politik itu kan sekarang dinilai
tidak mampu
untuk memecahkan masalah, malah mereka cenderung untuk mengutamakan
kepentingan mereka
sendiri, misalnya rebutan untuk jadi presiden (sampai-sampai jabatan Ketua
MPR-pun
dibilang "memang tinggi tetapi kakinya tidak menyentuh ke bumi", jadi
jabatan ini dinilai
tidak lebih berharga daripada Presiden).
Kemudian, masalah yang dihadapi ini kan tidak bisa dipecahkan dengan cara
demo mahasiswa.
Rezim yang lama sudah diganti (demo mahasiswa memberikan kontribusi besar),
lalu apa lagi?
Yang mesti kita cermati adalah statement bung Amien Rais. AR menyatakan
bahwa gus Dur tidak
punya visi dalam menyelesaikan masalah di Indonesia. Berita yang saya baca
terakhir sih
AR sebenarnya tidak hanya menunjuk gus Dur, tetapi juga dirinya sendiri,
saya kurang jelas
mana yang benar.
Point yang saya soroti adalah bahwa "Pemerintah tidak punya visi".
Point ini yang saya hubungkan dengan peluang PERMIAS untuk memberikan
kontribusi
bagi pemecahan masalah di Indonesia. Sederhana saja, dari dulu kelebihan
mahasiswa itu
kan dalam hal "olah pikir". Ada juga sih mahasiswa yang maunya memberikan
kontribusi lewat "olah demo" yang ada akibat positif dan negatifnya.
Jadi jelas yang diharapkan dari PERMIAS (oleh rakyat kecil) adalah
kontribusi "olah pikir"
ini.
Kalau dulu-dulu PERMIAS kontribusinya dengan mengirimkan "pernyataan
keprihatinan",
sekarang saya usulkan diganti dengan mengirimkan "Visi PERMIAS dalam
penyelesaian
masalah pokok yang dihadapi RI".
Tidak usah berkotek-kotek bilang gus Dur tidak punya visi, langsung saja
berkokok
"ini visi (PERMIAS) saya"........
Caranya? Buat saja seminar semacam Seminar Perubahan UUD'45 yang
diselenggarakan
di College Station minggu lalu.
(buat Yolanda, berapa yang hadir, dan hasilnya apa? tolong dong disebarkan
lewat milis,
pasti rekan-rekan juga ingin tahu, thanks).
Saya yakin panitia yang sama bisa menyelenggarakan seminar "Visi PERMIAS"
ini dengan
lebih sukses.....
Kalau perlu ya undang saja bung Dubes (termasuk Konjen) supaya lebih mantap
diskusinya.
Salam,
Dody
Note:
Saya tidak mengharapkan bung Anjas untuk menyelenggarakan seminar atau
menulis draft duluan
karena saya yakin kelebihan masing-masing orang itu berbeda, dalam hal ini
saya melihat
bahwa kelebihan bung Anjas adalah mendorong (ngompori gitu) agar PERMIAS
bergerak.
Saya sih yakin presiden PERMIAS di masing-masing state lebih tahu kelebihan
para
anggotanya, mana yang ahli menyelenggarakan seminar, mana yang jago nulis,
mana yang pemikir
dsb.....jadi kita dorong agar ada sinergi gitu. Saya lihat presiden yang
beraksi kok
cuma bung Faran saja ya.....(sorry yang lain ngga' tahu jabatannya sih...).
-----Original Message-----
From: Indonesian Students in the US [mailto:[EMAIL PROTECTED]]On
Behalf Of MAgrETa yOLanDA
Sent: Tuesday, July 18, 2000 1:32 AM
To: [EMAIL PROTECTED]
Subject: Re: Mana suara PERMIAS?
halo..
selama ini saya ga pernah bersuara, tapi kayaknya kali ini, ga ada
salahnya saya kasi komen pribadi dikit...
kenapa permias sepertinya ga ada yang peduli? selaen dari jawaban yang
mas faran berikan, saya ingin menambahkan, kalo memang kita peduli dan
ingin membantu, kira2 bantuan seperti apa yang bisa kita berikan?
kita semua kan mahasiswa indonesia yang berada di US, jauh dari
indonesia... kalo pun tindakan permias yang hanya membuat pernyataan
prihatin, saya rasa itu tidak cukup, kalo mas anjas memang bermaksud laen
dalam ajakannya itu... pernyataan prihatin itu kan cumah hitam diatas
putih, yang kadang2 malah akan disepelekan...
nah, kira2 kalo mas anjas mau mengajak kita2 mahasiswa di US untuk
bergerak, kira2 gerakan dan bantuan seperti apa yang bisa kita berikan?
itu pertanyaannya..
*peace*
++++++++++ smile can brighter your day ++++++++++
____________NetZero Free Internet Access and Email_________
Download Now http://www.netzero.net/download/index.html
Request a CDROM 1-800-333-3633
___________________________________________________________