Gemuruh Hati ...
Oleh : Bayu Gawtama

Malam itu, belum genap pukul delapan malam. Usai sholat berjamaah bersama 
seluruh anggota keluarganya, seorang lelaki paruh baya memanggil keempat 
anaknya. Ia menatap nanar satu persatu wajah anaknya, dari yang paling besar 
hingga si kecil. Lelaki itu tak sanggup bertemu mata dengan tatapan 
anak-anaknya yang menunggu gerangan apa yang hendak disampaikan Bapaknya. 
Sementara di sudut ruangan sempit berdinding batako tak berplester itu, ibu 
keempat anak itu tertunduk menahan gelembung di sudut mata yang mendesak-desak.

"Nak, mulai besok kalian tidak usah sekolah lagi ya? Bapak sudah tidak punya 
uang untuk biaya sekolah kalian." suara parau itu pun akhirnya keluar juga. 
Sebenarnya, lelaki itu tak pernah sanggup untuk mengungkapkannya. Selama hampir 
empat bulan kalimat itu selalu dijaganya, namun hati dan pikirannya sudah tak 
mampu lagi menampung semua beban itu. Dan nyatanya, memang ia tak lagi sanggup.

Di balik dinding rumah lainnya, 

Seorang ibu yang telah lama ditinggal suaminya terpaksa menyuruh tidur tiga 
anaknya lebih dini. Usai sholat isya, semua anak-anaknya yang masih kecil 
dipaksa tidur agar bisa melupakan lapar yang dirasanya.

Sejak suaminya meninggal dunia setahun lalu, ia memeras keringat sendirian 
membesarkan tiga anaknya dengan bekerja sebagai tukang cuci di beberapa rumah 
tetangganya. Jangankan untuk bisa bersekolah, penghasilannya sangatlah tidak 
mencukupi bahkan untuk makan sehari-hari. Sehingga dengan sangat terpaksa ia 
mengatur jadwal makan ia dan ketiga anaknya hanya sehari sekali. Setiap pagi 
anak-anaknya hanya diberi air putih. Memasuki siang hari barulah mereka melahap 
nasi dengan lauk seadanya.

Setiap menjelang maghrib, ibu tiga anak itu harus menjerit dalam hati mendengar 
perih kesakitan anak-anaknya yang menahan lapar. Ia hanya mampu berkata, "sabar 
nak." untuk menenangkan anak-anaknya. Dan memang tidak pernah ada yang bisa 
disantap lagi hingga besok pagi.

Di sebuah kamar tidur di rumah yang lain lagi, 

Seorang suami mendekati isterinya perlahan dan penuh hati-hati. Ia bertanya, 
"apakah anak-anak sudah tidur?" "sudah" jawab sang isteri.

Lalu, "bagaimana mungkin mereka bisa tidur dengan perut lapar setelah seharian 
tidak makan?" tanya sang suami lagi.

"Ibu janjikan akan ada makan enak besok pagi saat mereka bangun, maka mereka 
pun segera tidur" jelas isterinya.

Setiap malam, dialog itu terus berlangsung. Dan setiap pagi, tidak pernah ada 
makanan enak seperti yang dijanjikan sang ibu kepada anak-anaknya. Sungguh, 
boleh jadi di pagi-pagi yang akan datang, akan ada satu-dua anak dari keluarga 
itu yang tak pernah lagi terbangun lantaran kelaparan.

Sementara di sebuah rumah kontrakan, 

Seorang isteri berkata kepada suaminya, "pak, besok saya malu keluar rumah. 
Takut ketemu Pak Sofyan pemilik kontrakan ini. Kita sudah lima bulan tidak 
membayar kontrakan. Dan sebenarnya Pak Sofyan sudah mengusir kita".

Sang suami hanya mampu menghela nafas panjang. Sungguh, jika bisa ia tak ingin 
kalimat itu keluar dari mulut isterinya. Jika pun mampu, ia tak mau membuat 
isteri tercintanya malu bergaul bersama para tetangga lantaran terlalu banyak 
sudah hutang-hutang mereka yang belum sanggup terbayar.

Lagi, di sebuah ruang keluarga rumah yang lainnya, 

Seorang bapak membawa sejumlah uang cukup banyak dan bungkusan makanan yang 
nikmat untuk isteri dan anak-anaknya. Inginnya ia berteriak sekeras-kerasnya 
saat isteri dan anak-anaknya tertawa bahagia menyambut bingkisan yang 
dibawanya. Tetapi ia pun tak ingin membuyarkan kegembiraan di ruang keluarga 
itu.

Saking bahagianya, sang isteri terlupa bertanya dari mana suaminya mendapatkan 
uang segitu banyak dan bisa membeli makanan enak. Sehingga setelah larut dan 
setelah semua anak-anaknya terlelap, teringatlah sang isteri bertanya. Apa 
jawab sang suami? "Siang tadi bapak terpaksa mencopet."

***

Sungguh teramat banyak hal yang membuat hati ini lebih bergemuruh jika kita mau 
mendekat, melihat dan mendengarnya dari balik dinding-dinding rumah 
saudara-saudara kita. Lihat di sekitar kita, banyak suara-suara yang tak 
sanggup telinga ini mendengarnya, banyak tangis yang mengiris-iris hati, dan 
banyak pemandangan yang membuat terenyuh. Sayangnya, kita sering terlupa 
melihat dan mendekat.


********************

Kirim email ke