Penerima Uang Tol
Gaji Sudah Kecil, Eh Dimaki-maki Sepanjang Hari...

R Adhi Kusumaputra

Iswandi (31), pekerja outsourcing, hanya bisa mengelus dada.
Personel penerima uang tol yang bertugas di Gerbang Tol Pondok
Ranji, Tangerang, Banten, ini selama 17 jam berada di gardu tol
sejak Rabu (29/8) pukul 14.00 hingga pukul 21.00, lalu
dilanjutkan sampai Kamis (30/8) pukul 06.00.

Iswandi bercerita sepanjang bertugas ia dimaki dan didamprat oleh
hampir semua pengguna jalan tol yang lewat loket tempatnya
bekerja. Mereka mengeluarkan kata-kata kotor dan kasar sebagai
pelampiasan atas kekecewaan dan ketidakpuasan terhadap
pemberlakuan tarif baru Tol Serpong-JORR.

Bayangkan, berjam-jam bertugas di loket tol, Iswandi tak
henti-hentinya menerima makian dengan kata-kata menusuk hati.
"Mendengar makian itu, saya hanya bisa bersabar dan tak bisa
membantah," ungkap Iswandi yang setiap bulan menerima gaji Rp
900.000 itu.

Personel penerima uang tol outsourcing di Gerbang Tol Pondok
Ranji tercatat 13 orang. "Mereka sebelumnya bertugas di Gerbang
Tol Viaduct-Bintaro. Kami rekrut dari penyedia jasa tenaga kerja,
Koperasi PT Jasa Marga Tangerang," kata Kepala Gerbang Tol Pondok
Ranji Kiman kepada Kompas, Kamis.

Meskipun gajinya kurang dari Rp 1 juta per bulan, Iswandi mengaku
makian yang diterimanya berjam-jam di loket merupakan risiko
pekerjaan. Ungkapan senada disampaikan Dina Marwati (20), pekerja
outsourcing lainnya. "Ah, saya tidak terlalu ambil pusing dengan
kata-kata kasar yang disampaikan pengguna tol. Saya anggap
bekerja, kan, ibadah. Ya fun-fun saja," kata Dina yang sudah dua
tahun bekerja sebagai personel penerima uang tol.

Umumnya para pengguna Tol Serpong-JORR tidak bisa menerima bahwa
mereka harus membayar tarif tol Rp 10.500 di Gerbang Tol Pondok
Ranji.

"Saya ini profesor doktor, S-3. Pejabat yang menetapkan tarif tol
enggak becus. Tak bisa hitung tarif tol dengan benar," umpat
seorang pengguna tol dengan nada tinggi.

Ada juga yang nyeletuk, "Jasa Marga perampok." Atau bernada
ancaman, "Belum pernah dibom, ya, gerbang tol ini?" Nada makian
lainnya mengarah kepada pejabat negara yang dianggap tidak
berpihak kepada rakyat, merampas duit rakyat, ataupun hanya bisa
korupsi.

"Berbagai makian dari pengguna tol itu kami terima dengan sabar.
Kami ini seperti si Kabayan yang dimarahi majikan. Kami ini
pelaksana di garda terdepan. Jadi, jangan tanya mengapa ada
kebijakan tarif tol seperti ini. Sebab, kami tidak tahu-menahu
soal kebijakan tarif itu," kata Kiman.

Menurut dia, kesabaran semua personel penerima uang tol atas
maki-makian yang didengar karena sebelumnya mereka telah
menjalani pendidikan dan pelatihan. "Anggaplah ini praktiknya,
dimarahi dan dimaki pengguna tol dalam keadaan sebenarnya," kata
Kiman.

Ketika Kompas berada di pos PT Jasa Marga di Pondok Ranji, ada
dua pengguna tol turun dari mobil dan melampiaskan kemarahan
mereka kepada petugas tol. Nada suaranya tetap tinggi meskipun
petugas tol mengajak duduk dan bicara baik-baik.

Perlakuan pengguna tol terhadap personel penerima uang tol memang
cenderung kasar. Ada yang melemparkan uang tol ke jalan sambil
mengeluarkan kata-kata kotor. Bahkan, ada yang meludahi uang tol
itu lebih dahulu.

"Sudah 13 tahun saya bertugas di Jasa Marga. Baru kali ini saya
dimarah-marahi pengguna tol sepanjang hari," kata Untung Kusworo
(40), yang tinggal di Serpong. Pria yang memiliki istri dan tiga
anak ini bergaji Rp 2,5 juta per bulan.

Untung mengaku sempat shock mendengar makian pengguna tol. "Tapi
setelah tahu hampir semua petugas tol mengalami hal yang sama,
saya pun akhirnya harus bersabar," katanya.

Trisulo Adi (39), pengawas personel penerima uang tol,
mengatakan, kemarahan pengguna tol terutama karena kurangnya
sosialisasi atas informasi kenaikan tarif dan perubahan sistem
tertutup menjadi sistem terbuka. "Wah, semua kata-kata Kebun
Binatang Ragunan keluar," kata Trisulo menggambarkan.

Sri Wahyuti (34), personel penerima uang tol, mengatakan kaget
mengalami situasi seperti ini terus-menerus. Bahkan Sri sempat
menangis, tapi akhirnya ia sadar bahwa ia tak boleh emosi dan
kemarahan pengguna jasa tol tak perlu ditanggapi.

"Yah, seandainya saya pemilik mobil yang lewat tol ini, mungkin
saya juga marah seperti mereka," ungkap Sri.

Kepala PT Jasa Marga Cabang Jakarta-Tangerang Hendro Atmodjo
mengatakan, tidak semua pengguna tol melampiaskan amarah. Ada
juga yang tersenyum, mengacungkan jari jempol dan mengucapkan
terima kasih. "Mereka adalah pengguna tol jarak jauh karena tarif
tol turun," kata Hendro.

Nasib petugas tol dalam hari-hari ini, bahkan setelah tarif tol
naik lagi, akan tetap jadi sasaran dan pelampiasan kemarahan
pengendara kendaraan, terutama jarak dekat. Sebagian besar
pengguna Jalan Tol Serpong-JORR hingga kini menuntut pengelola
jalan tol memberlakukan kembali sistem lama, dengan memerhatikan
jarak tempuh.

"Kalau setiap hari lewat tol dengan tarif ini, lama-lama bisa
tekor. Pemerintah sekarang memang tidak berpihak kepada rakyat.
Banyak kebijakan yang membuat rakyat jadi susah," ungkap seorang
warga Pamulang. 

http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0708/31/UTAMA/3800830.htm

--------------------------------------------------
Official Mailing List: Porsenipar ke IV Tahun 2007 
-=== Perumahan BDB2 dan BDB3, Cibinong, Bogor ===-
-= Menjiwai Semangat Kebangsaan dengan Prestasi =-

| Official Website: http://www.porsenipar.web.id |
------- Porsenipar Media Center: 6849-6001 -------

Kirim email ke