Mengatur Makanan Sesuai Golongan Darah..? 

Rabu, 7 Juli, 2004 oleh: Gsianturi
Mengatur Makanan Sesuai Golongan Darah..?
Gizi.net - Golongan darah Anda O? Hindari kacang-kacangan dan mustard. Yang 
bertipe darah A, hindari produk susu dan daging. Begitu sekelumit aturan diet 
yang didasarkan pada golongan darah.

Metode yang cukup baru ini masih diperdebatkan para ilmuwan, tapi pengikutnya 
sudah banyak. Apa kelemahan dan kelebihannya? 

Kegemukan atau berat badan yang berlebih memang mengandung banyak risiko. 
Selain tubuh tak nyaman dan penampilan kurang sedap dipandang, dari sisi medis 
juga tidak menyehatkan. Data studi Framingham (AS) menunjukkan bahwa kenaikan 
berat badan sebesar 10 persen pada pria akan meningkatkan tekanan darah 6,6 
mmHg, gula darah 2 mg/dl, dan kolesterol 11 mg/dl. 

"Karena itu, kalau kegemukan dibiarkan terus, orang bisa menderita penyakit 
degeneratif seperti hipertensi, jantung koroner, diabetes, dan lainnya," tutur 
Prof. Dr. Ir. Ali Khomsan, Dosen Jurusan Gizi Masyarakat dan Sumber Daya 
Keluarga IPB, Bogor. 

Kalau begitu jelas sekali bahwa berat badan yang berlebihan harus dikurangi. 
Dewasa ini ada banyak metode yang ditawarkan berkaitan dengan cara mengurangi 
berat badan. Dimulai dari sedot lemak, pembalutan, minum ramuan herbal atau 
obat, mandi uap, sampai mengatur pola makan atau diet. Yang terakhir ini pun 
masih memiliki cukup banyak ragam. 

Tentu saja, setiap metode memiliki kelemahan dan kelebihan masing-masing. Semua 
tergantung pada kondisi dan kebutuhan tubuh setiap pelakunya. 

Sekitar tahun 1996 di Amerika diperkenalkan cara baru diet dengan mendasarkan 
pada golongan darah si pelaku. Diet ini diperkenalkan oleh seorang naturopatis 
dari Stamford, Connecticut, Amerika Serikat, bernama Dr. Peter J. D'Adamo. 

Dalam proses sosialisasinya, teori ini dicerca para ahli, tapi juga banyak 
diterapkan orang. Memang ada yang mengatakan bahwa diet macam ini bermanfaat. 
Nah, apa itu diet berdasar golongan darah dan apa kelemahan serta kelebihannya?

Teori Evolusi 
Dalam bukunya berjudul "Eat Right For Your Type", Dr. D'Adamo menyebutkan bahwa 
manusia yang memiliki tipe darah berbeda pasti memiliki respon atau tanggapan 
terhadap makanan yang berbeda pula.
Gagasan ini berakar pada sejarah evolusi, khususnya yang berkaitan dengan 
perbedaan golongan darah (O, A, B, dan AB). 

Berdasar sejarah evolusi itu disebutkan bahwa sekitar 50.000 sampai 25.000 
tahun SM, nenek moyang kita memiliki tipe darah yang sama, yakni O. Mereka ini 
adalah para pemburu sejati. Setiap hari makanan pokoknya daging. 

Namun, pada sekitar tahun 25.000 sampai 15.000 SM, ketika gaya hidup manusia 
berubah dari pemburu menjadi peramu dan kemudian agraris, muncullah tipe darah 
A, sebagai penyesuaian atas kebiasaan yang ada. Kemudian, akibat percampuran 
dari berbagai ras dan terjadinya migrasi dari Afrika ke Eropa, Asia, dan 
Amerika, tipe darah B muncul. Selanjutnya di zaman modern yang sudah penuh 
dengan bermacam manusia, tipe darah AB baru ada.

Dalam hal ini, Dr. D'Adamo yakin bahwa kemampuan beradaptasi dengan lingkungan 
yang dimiliki manusialah yang menyebabkan terjadinya perubahan tipe darah. 
Adaptasi yang tentu saja terkait dengan makanan yang diasup, diyakini D'Adamo 
menjadi kunci sehat nenek moyang kita. 

Karena itu, menurut dia, kalau mau sehat kita mesti makan seperti yang 
dilakukan oleh nenek moyang. Misalnya saja, ia memberi rekomendasi bahwa mereka 
yang bertipe darah O cocok melakukan diet dengan mengasup lebih banyak daging, 
sedangkan untuk golongan darah A mengikuti diet vegetarian, yakni mengonsumsi 
makanan rendah lemak.

16 Kategori 
Bagaimanakah kesimpulan itu bisa didapat Dr. D'Adamo? Tentu saja jawabannya 
lewat penelitian-penelitian yang sudah dilakukannya. 
Penelitian selama bertahun-tahun atas tipe darah menunjukkan bahwa ada efek 
fisiologis yang muncul akibat lektin yang masuk dalam tubuh. Lektin adalah 
protein yang terdapat pada umumnya makanan, khususnya biji-bijian dari tanaman 
polong-polongan. 

Setiap protein yang terserap tubuh lewat makanan yang kita asup, menurutnya, 
masing-masing hanya cocok dengan tipe darah tertentu. Kalau makanan tersebut 
lektinnya tidak cocok dengan tipe darah, akan terjadi bahaya. Bahaya itu berupa 
menggumpalnya sel darah merah. Proses yang disebut aglutinasi yang dilakukan 
lektin inilah yang mengakibatkan munculnya banyak keluhan kesehatan. 

Terkait dengan persoalan inilah, Dr. D'Adamo melakukan penelitian dengan 
mengecek reaksi setiap tipe darah terhadap makanan tertentu. Berdasarkan 
penelitian ini, ia membuat daftar makanan apa saja yang cocok dengan tiap-tiap 
tipe darah. 

Bahkan selain tipe darah, masih digolongkan juga makanan berdasarkan ras. 
Sebab, menurutnya, tipe darah masing-masing ras berbeda. Ini akibat dari 
perbedaan lingkungan yang ditempatinya. 

Hasilnya, terdaftar oleh Dr. D'Adamo 16 kategori makanan. Terdiri dari: daging 
dan unggas; hasil laut; susu dan telur; minyak dan lemak; kacang dan 
biji-bijian; buncis dan polong-polongan; sereal; roti dan aneka kue; 
padi-padian dan pasta; sayur-sayuran; buah-buahan; jus dan segala macam cairan; 
rempah-rempah dan bumbu; teh-teh herbal; dan bermacam-macam minuman.

Makanan-makanan ini masih dimasukkan dalam golongan sangat baik, netral, atau 
harus dihindari sesuai tipe darah. Golongan sangat baik bisa diartikan bahwa 
makanan itu bekerja bagaikan obat. Golongan netral berarti makanan tersebut 
bekerja sebagaimana yang pengaruhnya kecil bagi tubuh. Golongan dihindari 
berarti makanan bertindak bagaikan racun bagi tubuh. 

Kurang Ilmiah 
Program diet ini telah menjadi tren di beberapa negara. Karena itu, banyak 
pengikut Dr. D'Adamo yang sudah mencobanya. 
Sebagian dari mereka menyatakan bahwa cara diet ini tidak hanya membantu 
mengurangi berat badan -- walaupun maksud sebenarnya bukanlah untuk itu -- juga 
bisa memperbaiki kondisi kesehatan. Karenanya, buku karangannya setebal 400 
halaman itu menjadi best seller (laris manis) di beberapa negara. 

Banyaknya kesaksian akan manfaat diet ini bukan berarti membuat para ahli diet 
dan ilmuwan langsung setuju begitu saja. Banyak pihak, terutama dari kalangan 
ilmuwan, menyebutkan bahwa teori Dr. D'Adamo ini kurang ilmiah. 

John McMahon, ND, seorang naturopatis dari Wilton Connecticut, AS, menyatakan 
bahwa teori itu masih harus diteliti lebih lanjut. Dikatakan John bahwa 
penelitian Dr. D'Adamo atas pengaruh lektin terhadap makanan dijalankan di luar 
tubuh, maksudnya hanya dilakukan di sebuah tabung uji. Padahal, semestinya 
harus diteliti dalam tubuh. 

Selain itu, efek lektin makanan yang sudah dimasak juga belum terbukti. Memang, 
Dr. D'Adamo melakukan tes terhadap makanan yang belum dimasak. Namun, bukankah 
makanan yang diasup biasanya sudah dimasak?

Sikap dan pernyataan yang sama juga diungkapkan John Foreyt, Ph.D, ilmuwan dari 
Baylor College of Medicine di Houston, AS. "Walaupun teori ini sudah lama 
dibicarakan dan diteliti, tidak ada kesimpulan yang didapat. Tidak ada 
kaitannya antara tipe darah dan penyakit tertentu. Ini adalah loncatan 
kesimpulan yang masih perlu diteliti lebih lanjut," tutur Andrea Wiley, Ph.D, 
profesor antropologi dari James Madison University di Harrisonburg.

Bahkan Dr. Samuel Oetoro,MS., ahli gizi dari Klinik Nutrifit di Jakarta 
menambahkan bahwa penelitian yang dilakukan Dr. D'Adamo tidak memenuhi standar 
penelitian ilmiah. Teori yang diajukannya hanya berdasar bukti empiris atau 
pengalaman yang dijalankan orang. "Jelas itu tidak cukup," tuturnya. 

Padahal, kalau sebuah teori hendak dijadikan pegangan, mesti melewati proses 
penelitian tingkat tertinggi yang disebut Prospectif Double Blind Randomize 
Clinical Trial. Maksudnya, penelitian tersebut mesti dilakukan dengan objek 
yang diambil secara acak (random). 

"Yang terjadi pada Dr. D'Adamo tidak demikian. Orang yang diteliti sudah 
ditentukan, yakni mereka yang pernah datang ke kliniknya. Mereka pun sudah tahu 
kalau menjalani diet tipe ini, padahal semestinya tidak demikian," papar Dr. 
Samuel. 

Selain acak, pasien harus dibagi dalam dua kelompok, mereka yang menjalankan 
diet dan tidak. Untuk itu pasien tidak boleh tahu bahwa mereka dibagi dalam dua 
kelompok. Bahkan mereka juga tidak boleh tahu (blind) kalau sedang diteliti. 
Juga tidak boleh tahu kalau sedang menjalani diet model ini. Setelah beberapa 
waktu, hasilnya baru dibandingkan. Dengan alasan kurang ilmiah inilah, bisa 
dipahami bahwa diet ini tidak dianjurkan oleh ahli gizi. 

Gizi Seimbang 
Bagi banyak ahli gizi di Indonesia, juga di negara-negara lain, diet yang 
terbaik untuk dijalankan sampai saat ini adalah dengan gizi seimbang.
Dr. Samuel menjelaskan bahwa diet gizi seimbang adalah mengasup makanan dengan 
kandungan protein, lemak, karbohidrat, vitamin, dan mineral. 

Makanan yang kita asup setiap hari mesti lengkap mengandung semua unsur 
tersebut. Misalnya, hari ini kita mengonsumsi nasi untuk sumber karbohidrat, 
tempe atau daging untuk kebutuhan protein, sayur buncis dan wortel untuk 
kebutuhan vitamin dan mineral, serta minum susu untuk kebutuhan lemaknya. Hari 
selanjutnya bahannya bisa variasi. Yang jelas, tidak membosankan, tapi juga 
jangan sampai tidak seimbang. 

Pendapat sama juga diungkapkan Prof. Dr. Ir. Ali Khomsan. Menurutnya, berbagai 
macam diet yang ditawarkan sering tidak sesuai dengan kebutuhan masing-masing 
orang. 

"Setiap individu itu unik dan berbeda. Karenanya, apa yang cocok untuk 
seseorang belum tentu cocok untuk orang lain. Kebutuhan nutrisi setiap orang 
tergantung pada usia, tingkat stres, jenis kelamin, berat badan, faktor 
emosional, latihan fisik yang dijalankan, dan penyakit yang diderita," sebut 
Prof. Ali. 

Karena itu, setiap orang mesti paham benar dengan dirinya. Tipe darah bisa 
dipakai sebagai tambahan informasi untuk mengenali diri, tapi jangan digunakan 
sebagai patokan dasar. Kalau kurang paham, kita bisa berkonsultasi dengan ahli 
gizi bagaimana menyikapi diri sendiri. "Yang jelas, setiap hari gizi seimbang 
dengan variasinya mesti dijalani," tutur Dr. Samuel. 

Khas Pemburu Sampai Sensitif
Berdasar penelitiannya, Dr. D'Adamo membuat kesimpulan untuk masing-masing tipe 
darah, sebagai berikut:

Tipe darah O, yang disebut sebagai pemburu, memiliki ciri khas: 
- Sistem kekebalannya berlebihan. 
- Dianjurkan untuk mengonsumsi makanan tinggi protein dan rendah karbohidrat, 
seperti daging, buah, ikan, sayuran. 
- Tidak cocok bila berdiet dan mudah beradaptasi dengan lingkungan. 
- Respon yang baik atas stres bisa ditanggapi dengan aktivitas fisik. 
- Memiliki risiko terkena penyakit yang disebabkan oleh radang dan kerusakan 
organ seperti arthritis bila makanan yang diasup tidak sesuai. 

Tipe darah A berciri khas: 
- Jalur pencernaan cukup sensitif. 
- Dianjurkan menjadi vegetarian atau makan tinggi karbohidrat dan rendah lemak. 
- Stres biasanya bisa diatasi lewat meditasi. 
- Sistem kekebalan tubuhnya tidak sekuat tipe O.

Tipe Darah B berciri khas: 
- Dianjurkan untuk melakukan diet dengan berbagai variasi dari semua tipe darah 
termasuk di dalamnya daging. 
- Tipe darah ini sangat cocok dengan asupan produk susu. 
- Dianjurkan juga menjalani latihan gerak seperti renang dan jalan kaki. 
- Bila makanan yang diasup tidak sesuai dengan tipe ini, diduga risiko terkena 
virus yang bisa menyerang sistem saraf sangat tinggi. 
- Memiliki sistem kekebalan tubuh yang kuat. 
- Bila seseorang bertipe ini stres, akan sangat cocok bila diatasi dengan 
melakukan pekerjaan yang membutuhkan kreativitas. 
- Tipe darah ini adalah tipe yang paling seimbang.

Tipe Darah AB berciri khas: 
- Memiliki jalur pencernaan yang sensitif. 
- Sistem kekebalan tubuh sangatlah toleran. 
- Respon yang paling baik terhadap stres biasanya dengan melakukan kegiatan 
spiritual dibarengi dengan aktivitas fisik dan kreativitas. 
- Masih dalam tahap evolusi. 
- Paling mampu beradaptasi terhadap perubahan lingkungan dan bentuk diet. 
- Bentuk gabungan dari tipe A dan B. 
(Abdi Susanto, http://www.kompas.co.id/ 21 April 2003) 

http://www.gizi.net/cgi-bin/berita/fullnews.cgi?newsid1089099749,3962,

Kirim email ke