sebuah tulisan dari Kafi Kurnia, seorang pakar marketing di Indonesia.
semoga bermanfaat.
-------------------------------------------------------------------------
Di Mana Nyali Kita?
* Kafi Kurnia
Seorang teman baru saja mengalami kebangkrutan. Beberapa teman dan kolega,
berbisik-bisik bergosip ria, membahas kebangkrutan itu. Hampir semuanya
menyalahkan tentang sikap teman kami yang terlalu berani mengambil resiko
besar. Sehingga akhirnya jatuh terperoksok dalam kebangkrutan. Serba salah
memang. Terkadang didepan mata datang sebuah peluang. Tetapi kita takut
mengambilnya. Sehingga peluang itu raib begitu saja. Dan kita malah diejek
tidak punya nyali atau keberanian. Sebaliknya, peluang datang, kita sambar,
akhirnya bangkrut, lagi-lagi yang disalahkan nyali dan keberanian kita.
Disini kita dianggap ceroboh terlalu bernyali. Serba salah bukan ? Andaikan
saja nyali atau keberanian, dijual dalam bentuk permen, saya pasti akan
selalu sedia didalam kantong, begitu komentar seorang teman saya.
Sayangnya nyali atau keberanian tidak dijual sepraktis dalam kemasan permen.
Keberanian atau nyali lebih mirip dengan stamina. Bayangkan anda sedang
dalam sebuah lomba marathon. Anda sudah berlari sekian lama, otot anda sudah
nyeri dan pegal-pegal. Nafas anda pendek-pendek. Tubuh sudah mandi keringat.
Dan didepan anda 100 meter lagi terlihat pita garis finish. Pada detik
itulah, anda yang memutuskan. Menyerah dan menjatuhkan diri anda kebumi.
Atau sekali lagi menarik nafas dalam-dalam, mengerahkan semua otot dan
tenaga anda untuk berlari lagi dan merangkul pita finish. Itulah nyali atau
keberanian. Mirip extra stamina. Tidak semua orang memilikinya. Konon hanya
para juara yang terlatih memiliki dan memahaminya.
Kabar baiknya nyali atau keberanian bisa dilatih. Tetapi syarat utama harus
dipenuhi terlebih dahulu. Yaitu anda harus punya mental juara. Juara bisnis,
umumnya punya naluri untuk masuk ke bisnis yang mereka yakin akan menang.
Jadi misalnya ada peluang bisnis dengan resiko kecil, tetapi kita tidak
memahami bisnis itu, jangan gegabah untuk mencoba masuk kebisnis itu.
Pengalaman saya, lebih dari 70% bisnis yang gagal, kebanyakan disebabkan
oleh gagal manajemen. Artinya peluangnya bagus, tetapi gagal karena
manajemennya salah urus. Kadang latah dan ikut-ikutan menjadi penyebab gagal
manajemen dalam kasus ini. Misalnya saja, sekarang sedang tren membuat toko
donat, maka kita rame-rame ikut bikin toko donat. Karena kurang pemahaman,
biasanya kita terjebak berbuat kesalahan yang terlihat sepele pada awalnya,
lalu menumpuk menjadi kesalahan berlapis yang cenderung menjadi awal
bencana.
Juara bisnis kadang, masuk kedalam sebuah bisnis yang berisiko tinggi. Tapi
ia punya pengalaman dan pemahaman yang mendalaman. Dalam kasus ini, ia cuma
mengambil posisi "underdog" saja. Ibarat lomba mobil Formula One, ia tidak
mendapat start didepan. Biasanya ia punya perhitungan untuk menyalib didalam
pertarungan didepan. Itu sebabnya ia terlihat memiliki nyali atau
keberanian. Nyali atau keberanian seringkali datang bukan karena nafsu yang
sifatnya tiba-tiba melainkan karena perhitungan khusus, yang didapat para
juara bisnis dari bertahun-tahun pengalaman.
Kalau anda ingin belajar punya nyali atau keberanian dalam bisnis, saya
punya sejumlah tips yang saya kumpulkan dari para juara bisnis. Pertama-tama
nyali atau keberanian, datang dari pengalaman dan kefasihan. Kalau anda
sudah berpengalaman dan fasih naik sepeda, maka anda berani naik sepeda
dengan gaya lepas tangan. Bayangkan dirumah anda ada tangga yang
menghubungkan lantai satu dan lantai 2. Tangganya sedikit curam. Tetapi
karena anda sudah sangat sering menggunakan-nya maka anda bisa saja naik dan
turun tangga dengan setengah beralari dan cepat sekali. Jadi nyali dan
keberanian, sumbernya adalah pengalaman. Yang anda harus lakukan adalah
memberdayakan pengalaman anda. Ini langkah awalnya.
Kedua, juara bisnis selalu mulai dengan sesuatu yang kecil dan melakukannya
perlahan-lahan. Istilah keren-nya "starts small and slow". Juara bisnis
hampir semuanya memiliki rute sukses dengan pola ini, kecil dan
perlahan-lahan. Pernah saya berdialog dengan seorang pengusaha tentang teori
ini. Beliau menuturkan, bahwa dalam bisnis, hitungan yang paling penting
adalah "exit strategy". Kalau bioskop atau gedung perkantoran, harus ada "emergency
exit", maka dalam bisnis situasinya juga mirip. Dalam bisnis, ada pameo yang
mengatakan "jangan mudah menyerah !". Seth Godin, pengarang buku "The Dip"
mengatakan hal itu adalah nasehat yang buruk. Justru menurut Seth Godin,
juara bisnis, umumnya sangat paham dan ahli untuk menyerah. Bukan sembarang
menyerah, tetapi menyerah pada waktu yang pas. Nah, kalau anda start bisnis
dengan modal dan skala kecil, andaikata macet, maka dengan mudah anda bisa "exit"
tanpa harus menderita kerugian besar. Lagi pula sesuatu yang kecil lebih
mudah dikendalikan daripada sesuatu yang besar dan kompleks.
Nasehat yang terakhir, rada unik. Menurut seorang juara bisnis, setiap
bisnis pasti punya risiko. Ada yang besar dan ada yang kecil. Yang besar
risikonya membuat kita tidak nyaman dan mengagalkan nyali atau keberanian
kita. Tetapi kalau kita mundur, sebenarnya itu resiko juga. Bisa saja
peluang itu akhirnya diambil oleh kompetitor kita, yang belakang hari bukan
mustahil akan merepotkan kita. Kadang ini perhitungan yang sering diambil
oleh para juara bisnis. Seorang pengusaha bercerita bahwa ia sering dikritik
serakah dan tanpa perhitungan, karena banyak mengambil bisnis-bisnis resiko
tinggi. Ia bercerita bahwa motif sesungguhnya adalah justru ia ingin
memagari kompetitornya. Orang lain yang tidak tahu ceritanya, selalu
menganggap ia bernyali besar. Padahal ia justru penuh perhitungan.
*Pakar marketing dalam blog-nya: biangpenasaran.blogspot.com
www.wirausaha.com
--------------------------------------------------
Official Mailing List: Porsenipar ke IV Tahun 2007
-=== Perumahan BDB2 dan BDB3, Cibinong, Bogor ===-
-= Menjiwai Semangat Kebangsaan dengan Prestasi =-
| Official Website: http://www.porsenipar.web.id |
------- Porsenipar Media Center: 6849-6001 -------