Sebuah artikel menarik : kritis atau malah justru negatif ya?
Rgds / Jaerony.-
*****************************************
Hentikan Permainan Mafia Bisnis Tanaman Hias!
Written by Administrator
Wednesday, 12 September 2007
Penulis: Darmawan Irianto, Jogjakarta
Fenomena spektakuler tentang harga tanaman hias tertentu disamping tidak
logis juga terkesan adanya pembodohan dan pembohongan terhadap publik. Tidak
lain, trick atau permainan mafia bisnis tanaman hias. Kita tentu masih ingat
Booming ikan hias bernama Louhan, yang ada pada awalnya seekor bisa bernilai
puluhan juta rupiah. Seiring berjalannya waktu, kharismanya lalu pudar begitu
saja. Ibarat diberi gratispun orang sekarang enggan, toh seperti ikan biasa
pada umumnya tidak lebih.
Tren sekarang silih berganti, dulu tanaman bonsai menjadi primadona dan
mulai menjadi incaran pencuri. Belum lama muncul trend aglonema yang sehelai
daunnnya bernilai ratusan ribu kemudian disusul anthurium jenis gelombang cinta
dan jemanii yang menghebohkan itu. Seperti dimuat Kedaulatan Rakyat tanggal 28
agustus harga sebuah pot berisi jemanii yang katanya lagi lebih dari 100 juta,
bahkan di Semarang ditukar dengan sebuah sedan Honda jazz. Perlu dibuktikan
kebenarannya, apalagi berkesan misterius seolah mempunyai aura lebih yang sulit
diungkap melalui kata-kata.
Saya sangat setuju, kalau ada orang yang berniat mempopulerkan kembali
tanaman puring yang selama ini tidak dianggap karena sebatas sebagai kuburan.
Kini puring semakin bergengsi sebagai tanaman hias mempercantik rumah, dengan
harga terjangkau semua kalangan.
Idealnya memang begitu. Secara logika segila-gilanya orang mana mau
membeli jemanii senilai ratusan juta walaupun demi gengsi sekalipun. Orang akan
berpikir seribu kali mengingat resikonya, yaitu rawan dicuri. Padahal kata
seorang ibu rumah tangga, tak lebih dari daun sawi yang siap dimasak.
Saya salut dengan mafia bisnis tanaman hias yang sangat peka, jeli,
sekaligus julig mengungkap public yang akhir-akhir ini lebih menyukai hal-hal
berbau wah dan spektakuler. Sebagai refleksi kalau memang laku ratusan juta
harusnya bisa masuk rekor MURI. Trik tersebut dikonsep dan dimenej sedimikian
rupa agar membius publik dengan mengabaikan nalar atau logika sehat. Sudah
tentu ditopang dengan peran media yang secara terus-menerus mempublikasikannya.
Dari segi bisnis mungkin sah-sah saja.
Tapi dari segi etika dan sosial budaya saya tidak setuju, karena
merupakan pembodohan dan pembohongan. Implikasinya negatif, karena membuka
peluang tindak kriminal dengan pelaku dari kejahatan murni sampai bahkan oknum
penegak hukum yang seharusnya memerangi kejahatan, justru kepilut materialisme
yang memuja kebendaan.
Rupanya, globalisasi telah memasuki dunia flora dan fauna. Silakan
memajukan dunia tanaman hias, tetapi melalui etika yang benar demi kebersamaan
dan kesenjangan.
Sumber : KR 6 september 2007