Anjing yang Masuk Surga 

oleh M Dawam Rahardjo

(Percikan, Kompas, 19 Juni 2005) 




USAMAH adalah seorang keturunan Arab Pakalongan, tapi kawin dengan seorang 
keturunan Arab juga asal Solo. Karena itu ia bergaul dengan teman-temannya, 
dari kampung Pasar Kliwon, daerah permukiman keturunan Arab di Solo. Ia juga 
mengikuti sejumlah orang yang hijrah ke Jakarta. Teman-temannya itu, termasuk 
ia sendiri, semuanya telah lulus perguruan tinggi, tapi tak semuanya jadi 
pegawai, sebagian memilih jadi pengusaha. Tapi semuanya sukses, seorang di 
antaranya berhasil menjadi Direktur Kredit Deutsche Bank, Bank Jerman, dan 
seorang lagi menjadi direktur sebuah hotel berbintang tiga. Usamah sendiri 
memilih jadi wartawan sebuah majalah berita terkemuka.

Hampir semuanya mula-mula tinggal di rumah sewa. Tapi suatu ketika mereka 
sepakat untuk membeli tanah di sepanjang jalan kecil di bilangan Ciputat. 
Mereka mendirikan rumah berderetan. Usamah juga ikut membeli tanah, tapi ia 
terpisah, karena ingin memberi tanah yang lebih murah di bagian yang agak 
dalam, bahkan dekat sawah yang hanya dibatasi oleh sebuah kali kecil. Di situ 
ia mampu membangun rumah sederhana tapi berhalaman luas. Sebagian pekarangannya 
dipakai untuk memelihhara ayam. Peternakan ayam yang hanya 100 ekor itu memang 
cukup berkembang. Tapi pada suatu hari, beberapa ekor dicuri orang. Karena itu 
seorang sahabatnya menganjurkan agar ia memelihara seekor anjing.

Memelihara anjing di kampung Betawi itu memang sangat riskan, yang memelihara 
bisa tidak disukai orang sekampung. Teman-temannya dari Solo pun ikut 
manyarankan agar Usamah tidak memelihara Anjing. Tapi sahabatnya yang 
mengusulkan itu memberi tahu bahwa memelihara anjing itu diperbolehkan agama. 
Kebetulan ia mengikuti aliran modern, al Irsyad. Tapi sebelum memutuskan 
memelihara anjing itu Usamah pernah sowan ke Buya Hamka di Kabayoran Baru, 
dekat Masjid al Azhar.

"Boleh tidak Buya, seorang Muslim memelihara anjing?" tanyanya, memberanikan 
diri, maklum bertanya kepada ulama besar.

"Tengok ke halaman rumah. Itu ada anjing besar," jawab Buya.

"Di Minangkabau, memelihara anjing sudah biasa. Bahkan ulama-ulama juga 
memelihara anjing. Sebagian orang kampung memelihara anjing untuk berburu babi 
di hutan. Bahkan Pesantren Putri Pandang Panjang, Rahmah el Yunusiyah, itu 
separuh penghuninya adalah anjing," jelas ulama asal Minang itu.

"Di Mekkah, banyak penduduk yang memelihara anjing," jelasnya lagi. "Orang 
Muslim dianjurkan untuk menyayangi binatang, termasuk anjing. Nabi sendiri suka 
dengan kucing. Nabi Daud suka burung dan Nabi Sulaiman bersahabat dengan semua 
binatang. Pernah ada hadist yang menceritakan. Adanya seorang pelacur yang 
dinyatakan Nabi akan masuk surga, hanya karena ia memberi minuman kepada anjing 
yang mau mati kehausan. Bahkan ada pula anjing yang masuk surga, yaitu anjing 
yang menemani pemuda-pemuda Askhabul Kahfi yang melarikan diri dari tirani raja 
kafir dan mengungsi di gua dan atas izin Allah, tertidur selama 300 tahun itu," 
jelas ulama pengarang Tafsir al Azhar itu, yang menceriterakan kisah para 
pemuda beriman dan seekor anjingnya dalam Al Quran.

Dengan keterangan Buya Hamka itu Usamah, dengan persetujuan seluruh keluarga, 
memutuskan untuk memelihara seokor anjing. Tak tanggung-tanggung, ia memelihara 
jenis herder yang disebut German Sheppard yang diberinya nama Nero. Tapi baru 
berjalan satu setengah tahun, anjing itu pun mati. Menurut dugaan Usamah 
sendiri yang mendapat informasi dari orang kampung, anjing yang masih muda 
usianya itu mati diracun, mungkin oleh tetangga yang tak suka. Ia dan keluarga, 
terutama anak kecilnya, Najib, sangat sedih kehilangan Nero. Tapi kemudian ia 
bertekad untuk memelihara lagi. Kali ini ia memelihara jenis Dobermann yang 
diberinya nama Hector.

Sehari-hari Hector menemani anaknya yang terkecil, Faris, bersama pengasuhnya, 
Minah, bermain-main di rerumputan pinggir kali, dekat sawah. Hector selalu 
menggonggong keras, jika Faris ingin bermain-main di kali. Jika istri Usamah 
pergi ke pasar, Hector selalu dibawanya, tapi ia selalu disuruh menunggu di 
jalan di luar pasar, karena jika ikut masuk, akan mengganggu orang yang takut 
atau jijik pada anjing. Pada suatu hari, setelah selesai belanja, barang-barang 
belanjaannya ditaruh di dekat mobil, sedangkan ia kembali ke pasar membeli 
barang yang kelupaan dibeli. Hector disuruh menunggu. Namun ternyata ada juga 
oramg yang berusaha mengambil barang belanjaan itu. Ketika mau mengambil 
kompor, rupanya pencuri itu tidak sadar bahwa ada seekor anjing yang 
menjaganya. Maka meloncatlah Hector menerkam pencuri itu sambil menggonggong 
keras-keras.

Mendengar gonggongan anjingnya, maka istri Usamah kembali ke mobilnya. Pencuri 
itu tidak mengaku mau mencuri, bahkan marah-marah kepada Hector dan istri 
Usamah.

"Kenapa kamu mau mencuri ?" tanya Bu Usamah.

"Tidak, tidak, saya tidak mencuri," jawab si pencuri.

"Tidak mungkin kamu diterkam oleh anjing saya, jika tidak mau mengambil barang 
saya."

"Ibu percaya pada saya atau percaya kepada binatang najis itu?" Ibu Usamah 
merasa glagepan mendengar tangkisan pencuri itu. Orang-orang yang berkerumun 
sepertinya memahami pertanyaan si pencuri.

"Walaupun seekor anjing, ia tak pernah berbohong. Anjing juga tidak pernah 
mencuri. Hanya manusia yang suka berbohong dan mencuri," jawab Bu Usamah. Tapi 
karena tak ada bukti bahwa barangnya telah dicuri, maka pencuri itu pun bebas.

Pernah suatu pagi hari, ada seorang yang rupanya pemuda sekampung sendiri, 
berusaha mencuri ayam. Ia sempat membawa lari seekor ayam, tapi orang itu 
keburu lari melompat pagar tanaman, karena mendapat gonggongan Hector. Ketika 
lari terbirit-birit, Hector mengejarnya sampai tertangkap. Pencuri itu pun, 
setelah melapas ayam curiannya, teriak-teriak minta tolong. Penduduk kampung 
pun berusaha menolong si pencuri dengan melepaskan gigitan anjing di bajunya, 
dan seorang di antaranya mengambil sepotong kayu untuk memukul Hector. Untung 
Usamah sempat datang mencegah pemukulan. Tapi penduduk malah memarahi Usamah.

"Jaga dong anjingnya. Kalau Bapak tidak datang, anjing itu pasti mati kami 
hajar."

"Lho Pak, mana mungkin anjing saya ini mengejar orang ini tanpa alasan sepagi 
hari ini? Ayam saya di kandang ramai berkotek, tanda ada yang mengganggu. Dulu 
saya pernah kecurian ayam, sebelum punya anjing."

"Apa Bapak tidak tahu, menyentuh anjing saja itu najis hukumnya? Apalagi 
memelihara. Haram."

"Yang najis itu air liur anjing gila. Anjing ini sehat dan bersih, setia 
menjaga rumah dan majikannya. Tak pernah mencuri dan berbohong, karena tidak 
bisa. Anjing itu seperti malaikat. Hanya bisa menjalankan tugas menurut 
kodratnya," jawab Usamah.

"Masya Allah, Pak Usamah ini termasuk orang yang sesat. Minta ampun pada Tuhan 
dong karena melanggar ketentuan agama. Benar tidak pak haji?" tanya orang 
kampung itu kepada seorang yang pakai kopiah putih di sampingnya. Orang yang 
ditanya itu tidak berkata apa-apa, cuma mengangguk. Usamah tidak mau terlibat 
dalam perdebatan agama dengan orang kampung yang menurutnya tidak ada gunanya 
sama sekali.

Sejak peristiwa yang tersebar di seluruh kampung itu, tidak ada lagi orang yang 
mencoba mencuri ayam. Cuma, ada yang takut bertamu ke rumah Pak Usamah. Padahal 
Hector tidak menggonggong jika ada tamu. Pernah ada seorang kiai di kampung itu 
yang menasihati Usamah bahwa rumah yang ada anjingnya tidak dimasuki oleh 
malaikat. Teman-temannya dari Solo pun menjadi enggan bertamu. Tapi Usamah 
sendiri percaya bahwa anjing itu sendiri adalah malaikat yang hanya bisa 
mengabdi tanpa sedikit pun niat untuk berkhianat atau bersikap munafik.

Hector tidak pernah menimbulkan masalah bagi Usamah dan keluarganya dan bahkan 
merupakan teman baik seluruh anggota keluarga. Kalau siang, Hector sering masuk 
rumah dan bersama-sama anggota keluarga yang nonton TV. Ia terutama dekat 
sekali dengan Faris, anaknya yang terkecil. Dan Faris sangat menyayanginya, 
sering mengelus-elusnya dan mengajaknya bicara. Tapi kalau malam, Hector rela 
dan biasa tidur di luar rumah, maksudnya mungkin mau menjaga rumah itu dari 
pencuri yang suka datang malam-malam. Kalau ada yang dicurigainya, baru Hector 
menggonggong. Karena itu orang yang berniat jahat, mengurungkan niatnya.

Pada suatu sore di hari Sabtu, Usamah sekeluarga menonton TV. Faris sudah 
berangkat besar, sudah masuk SMP. Ia masih akrab saja dengan Hector. Ketika 
Usamah sekeluarga sedang santai nonton TV, tiba-tiba Hector masuk ke ruangan. 
Ia pun dengan santai nongkrong seolah-olah ikut menonton TV. Setelah sejenak 
duduk, tiba-tiba kepala Hector lunglai kemudian seolah-olah tertidur. Tapi lama 
benar ia tidur sampai waktunya ia seharusnya keluar rumah. Faris pun 
menggoyang-goyangkannya, tapi Hector tidak bangun juga. Rupanya, Hector sudah 
berhenti bernapas.

Melihat Hector tak bangun lagi, seluruh keluarga gempar. Ibu Usamah menangis 
menjerit-jerit yang diikuti oleh anak-anaknya, terutama Faris. Melihat keadaan 
itu maka Usamah pun, dengan suara tersendat-sendat berkata: "Anak-anak, manusia 
pun akan mati, apalagi binatang yang umurnya lebih pendek dari manusia. Hector 
sudah berumur hampir lima belas tahun, padahal anjing-anjing yang lain hanya 
berumur sekitar tujuh atau delapan tahun. Inna lillahi wa inna lilahi rojiun. 
Semuanya berasal dari Allah. Ia dan kelak kita semua juga akan kembali 
kepadaNya. Abah yakin, Hector akan masuk surga, seperti anjing para pemuda 
Ashabul Kahfi."

Keesokan harinya, pagi-pagi benar, Hector dimandikan dan dibungkus dengan kain 
kafan putih, seperti manusia. Ia pun dikuburkan. Pak Usamah sempat membaca doa, 
sambil menitikkan air matanya. Ia kehilangan malaikat penjaga keluarganya. 
Sebenarnya, tanpa doa pun, malaikat akan masuk surga. Tapi Hector lebih 
menyerupai manusia, bagian dari keluarga Usamah.*




      
____________________________________________________________________________________
Be a better friend, newshound, and 
know-it-all with Yahoo! Mobile.  Try it now.  
http://mobile.yahoo.com/;_ylt=Ahu06i62sR8HDtDypao8Wcj9tAcJ 

Kirim email ke