Kalung Untuk Ibu

Oleh Jojo Wahyudi


Siang itu Senin, 11 Pebruari 2008 HPku bergetar. Kulihat nomornya. Dari
telepon di rumah ternyata. Di seberang sana terdengar suara renyah putri
pertamaku Zalfa Humaira, 7 tahun. “Kakak” begitu panggilan akrab kami
sekeluarga untuknya.

“Assalaamualaikum Ayah, Kakak ingin bicara dengan Ayah. Tapi sebentar ya,
Kakak naik ke atas dulu” katanya setengah berbisik, seolah takut suaranya
di dengar orang di sekelilingnya.

“ Ayah ingat tidak, kalau besok Ibu ulang tahun ?” katanya kemudian,
nampaknya dia sudah berada di kamar atas.

“ Oh iya, Ayah kok sampai lupa ya, terima kasih ya Kak, sekarang Ayah jadi
ingat”. aku benar-benar lupa besok adalah ulang tahun istriku.

“ Nah bagaimana kalau kita buat kejutan untuk Ibu besok Yah.” katanya
semangat tetapi tetap berbisik.

“Maksud kakak ?”

“ Kita belikan Ibu sesuatu. Nanti Ayah pulang kerja cari ya hadiahnya “.

“ Oke deh Kak, nanti sepulang dari kantor Ayah usahakan cari ya”. lanjutku
seraya melanjutkan kerjaku di depan komputer kantor.

“ Jangan sampai lupa ya Yah “ katanya mengakhiri percakapan kami.

Hari itu aku benar-benar tidak bisa santai, pun saat istirahat tengah hari.
Banyak pekerjaan yang harus segera diselesaikan. Belum lagi permintaan
support dari departemen lain yang datang bertubi-tubi. Hingga menjelang
maghrib aku belum bisa beranjak dari depan komputer. Saat Adzan Maghrib
berkumandang, mataku masih nanar memandangi layar monitor. Baru pukul 18.36
WIB aku melaksanakan kewajibanku pada Sang Khalik.
Hingga larut malam, aku masih berkutat dengan perangkat elektronik yang
membuat mataku ber-air. Ide-ide di kepala yang diharapkan terus mengalir,
semakin sulit keluar karena fisikku yang semakin lelah. Pukul 20.15
terpaksa kuhentikan kegiatan, karena ide sudah tidak lagi bisa keluar,
ditambah kekhawatiranku tertinggal KRL terakhir menuju Bogor.
Bergegas kumatikan komputer dan segera beranjak dari kursi menuju lift ke
lantai dasar.
Setengah berlari aku menaiki anak tangga stasiun Cikini yang berjarak hanya
sepuluh meter dari gerbang kantorku. Setelah sepuluh menit menunggu,
transportasi rakyat yang cukup vital itupun muncul. Berdesakan aku
menyeruak masuk di kerumunan penumpang yang berjubal dan basah oleh
keringat beraneka aroma.
Satu jam kemudian besi tua dengan seribu jasa itupun memasuki stasiun
Bojong Gede, aku segera melompat turun dan mengambil motor di tempat
penitipan. Dengan gas penuh kupacu roda dua itu agar bisa segera tiba di
rumah, baru terasa kalau cacing-cacing di perut mulai meronta-ronta meminta
jatahnya.
Sepiring nasi dan lauknya serta segelas teh manis hangat, mampu mengantarku
ke alam mimpi hingga Adzan Subuh tak lagi bisa terdengar. Tepat 05.15
guncangan tangan  istriku membuyarkan mimpi lelapku. Bergegas kulaksanakan
kewajiban dengan terburu-buru.
Sekelebat kulihat putri pertamaku melongok dari balik pintu. Setelah
“salam” kupanggil dia, kuraih dan kududukan di antara sila-ku.

“ Ada apa Kak ?” kulihat mimik wajahnya seolah ingin mengatakan sesuatu
“ Sudah dibungkus belum hadiah untuk Ibu, Yah ?” bisiknya ketelingaku,
khawatir Ibunya mendengar.

“MasyaAllah, kenapa Ayah jadi pelupa seperti ini ya Kak......” kataku
sambil meletakan telapak tangan di kening.

“ Jadi Ayah belum beli kado ulang tahun untuk Ibu?” terlihat kekecewaan di
wajahnya.

“ Maafkan Ayah ya Kak. Ayah benar-benar lupa. Tadi malam banyak sekali
kerjaan yang harus diselesaikan di kantor” kataku mencoba menerangkan.

Akhirnya pagi itu, hanya ucapan selamat ulang tahun ala kadarnya dari kami
untuk Ibu dari anak-anakku. Dengan kekecewaan yang masih tampak, Zalfa
mencium tangan lalu pipi Ibunya, disusul adiknya Zulfa yang tampak ceria.
Istriku tersenyum membalas ucapan mereka. Terakhir aku yang mengucapkan
selamat sambil mencium keningnya.

Seperti biasa, aku berangkat pukul 06.30 menuju stasiun kereta.
Puteri ke-duaku Zulfa yang masih TK, berangkat pukul 08.00 dengan diantar
jemputan, sedangkan kakaknya, minggu ini mendapat giliran masuk sekolah
siang.

“ Ibu, boleh tidak Kakak minta uang ?” cerita Istriku mengenai permintaan
Zalfa yang sebetulnya jarang sekali terjadi. Kami memang membiasakan
anak-anak untuk tidak meminta uang pada orang tuanya. Untuk bekal ke
sekolah biasanya Istriku membawakan roti atau makanan kecil lainnya,
kecuali memang tidak ada persediaan bekal sama sekali untuk di bawa ke
sekolah, baru Istriku memasukan lima ratus atau seribu rupiah ke dalam tas
sekolah Zalfa agar bisa dibelikan makanan ringan di sekolahnya.

“ Uang untuk apa Kak ?” tanya Istriku

“ Ya untuk jajan di sekolah Bu ” katanya.

Sekali-kali bolehlah mengabulkan permintaan uang jajan, pikir Istriku
seraya memberikan pecahan dua ribu rupiah ke genggamannya. Cukup ceria
Zalfa berangkat ke sekolah, melupakan kekecewaannya pagi tadi.
Tengah hari, setiba dari sekolah, putri pertamaku itu langsung berlari
menemui Ibunya.

“ Ibu, coba tutup mata Ibu” katanya meminta Ibunya menutup mata.

“ Ada apa Kak ?” Istriku bertanya sambil menyusui Zaidan putra ke-tiga kami
yang baru berusia tiga bulan.

“ Pokoknya tutup dulu mata Ibu “ rengeknya, Istriku menuruti kemauannya
seraya menutup mata.

“ Sekarang buka mata Ibu “ tangan mungilnya menggenggam sesuatu terbungkus
plastik bening.
“ Ini kado ulang tahun untuk Ibu dari Kakak Zalfa, Kakak Zulfa, Dede Zaidan
dan Ayah” katanya seraya menyodorkan plastik itu ke tangan Ibunya.

“ Apa ini Kak ?” tanya Istriku setengah kaget.

“ Coba Ibu buka saja plastiknya “ katanya tersenyum.

Istriku membuka bungkus plastik yang disodorkannya, sebuah kalung acesoris
anak-anak ada di dalamnya. Walau hanya terbuat dari timah pyuter biasa,
tapi bentuknya sangatlah indah, dengan liontinnya yang berbentuk hati.
Terharu dan bahagia Istriku menerima pemberian itu, tak kurang terharu dan
malu aku saat diceritakan kisah ini.

Anak sulung kami, yang belum tahu mengenai “kebudayaan barat” tentang
ungkapan kasih sayang yang keliru, dengan kemurnian rasa sayangnya yang
tulus telah melunasi ke-alpha-anku. Dibelanjakan uang jajannya yang tidak
seberapa untuk sebuah kado terindah dalam hidup Istriku, yang bisa jadi
belum pernah aku lakukan selama hampir sepuluh tahun kami berumah-tangga.

Ya Allah, terima kasih Kau telah menitipkan “bidadari” kecil ke dalam hidup
kami, yang dengan sayangnya yang tulus telah mengingatkanku akan sebentuk
perhatian kecil yang akan mempunyai arti sangat besar untuk hidup kami
selanjutnya.

(Bojong Depok Baru, 12 Pebruari 08)

Kirim email ke