tadi malam ada di KICK ANDY (ulangan hari minggu pukul 15.05 wib),
barangkali ada yang belum menyaksikan tayangan tadi malam (saya juga
belum) ....


Pada tanggal 22/02/08, jaerony <[EMAIL PROTECTED]> menulis:
> Salam,
> Ini adalah TRUE STORY dari seorang motivator sejati. Yang diomongkan adalah
> yang dialami dan diperbuatnya. Sosok yang SD-pun tidak tamat benar-benar
> tidak mengesankan pribadi yang feodalis dalam diri Andrie Wongso ini. Yang
> ada hanyalah keyakinan yang MAHA DAHSYAT untuk sukses!
>
> Rgds / Jaerony.-
>
> *******************
>
>
>
>
> In [EMAIL PROTECTED], "Ikhwan Sopa" <[EMAIL PROTECTED]>
>
>
> ANDRIE WONGSO: SUKSES ADALAH HAK SAYA
>
> Tak berlebihan jika Andrie Wongso disebut sebagai salah satu motivator
> terbaik di negeri ini. Proses hidup yang dijalani pengusaha kartu kata-kata
> mutiara Harvest ini, sangat inspiratif. Anak penjual kue yang lahir di
> Malang, 6 Desember 1954 itu, tak pernah tamat SD akibat gejolak Gestapu
> 1965.
>
> Sejak itu, Andrie kecil harus jualan kue di pasar untuk menyambung hidup.
> Tahun 1976 ia nekad merantau ke Jakarta dengan pekerjaan pertama sebagai
> salesman sebuah pabrik sabun. Malam hari ia cari tambahan dengan melatih
> beladiri Kung Fu.
>
> Merasa punya kepandaian dan penampilan oke, Andrie banting stir melamar jadi
> bintang film silat. Lamarannya ke perusahaan film Hong Kong diterima. Ia
> sempat tiga tahun mengadu nasib dan membintangi film "Kung Fu Executioner"
> dan "Fistful of Talon", serta satu film nasional "Surga di Telapak Kaki
> Ibu".
>
> Ternyata dunia film tidak memberi sesuatu seperti yang diimpi-impikan
> sebelumnya. Orang beranggapan Andrie gagal karena tak sekalipun jadi bintang
> utama. Namun ia menilai dirinya sudah sukses. Sukses dalam proses mencari
> jatidiri dan berani memiliki imajinasi untuk mewujudkan cita-citanya.
>
> "Sukses dalam perjuangan. Maka proses itulah nilai investasi yang paling
> tinggi. Prosesnya!," tegas suami Haryanti Leny Suharto itu. Dan "kegagalan"
> itulah yang akhirnya justru membukakan lembaran baru bagi ayah dari Vicky,
> Vendy, dan Valdy ini. Tahun 1985 ia merintis bisnis kartu ucapan kata-kata
> mutiara dari tempat kosnya.
>
> Di luar dugaan, usaha kartu-kartu inspiratifnya berkembang pesat. Lalu ia
> dirikan MLM Forever Young, Action & Wisdom Motivation Training, serta
> memiliki perusahaan hologram dan software. Kegemarannya berbagi spirit
> kesuksesan menjadikannya seorang motivator yang luar biasa. Ia telah
> berbicara di banyak perguruan tinggi dan perusahaan komersil.
>
> Bersama pengamat bisnis dan manajemen Renald Kasali, ia membagi elan
> entrepreneurship di seluruh nusantara, selama tiga bulan berturut-turut
> selama pertengahan tahun 2002 lalu.  Andrie ada dibalik sukses Tim Bulu
> Tangkis Olimpiade Sidney dan Thomas & Uber Cup tahun 2000. Kemenangan
> gemilang Tim Thomas Cup Mei 2002 lalu juga berkat sentuhan motivasinya.
>
> Kini selain terus berwiraswasta, ia mendedikasikan talentanya untuk
> membangkitkan sikap mentalitas sukses kepada sebanyak mungkin orang. "Kita
> bangsa yang cukup hancur akhir-akhir ini. Satu-satunya jalan adalah
> pembinaan sikap mental, baru bisa bangkit lagi," tegasnya kepada Edy Zaqeus,
> dalam sebuah wawancara eksklusif di di salah satu kantornya di Kawasan Roxi
> Mas, Jakarta Barat.
>
> Apa yang Anda cari dengan aktif menjadi pembicara di berbagai seminar?
>
> Memberi dan membagi pengalaman. Kalau kebetulan itu di perusahaan yang
> basisnya bisnis, ada timbal balik. Tapi kalau di universitas-universitas,
> anak-anak PBSI (Persatuan Bulu Tangkis Indonesia: red), ya kita hanya
> memberilah.Yang menarik, ternyata orang-orang kita itu haus akan pengertian
> mentalitas atau motivasi.
>
> Dengan membagi pengalaman-pengalaman yang saya lewati selama ini, itu jelas
> dapat merangsang. Ternyata kualitas-kualitas seperti saya ini, yang notabene
> pendidikan formalnya SDTT -Sekolah Dasar Tidak Tamat- tapi ada satu visi
> yang bisa diambil melalui perjuangan selama puluhan tahun terakhir. Beraneka
> ragam kehidupan saya. Dari SDTT, berjuang luar biasa sebagai pelayan toko,
> memperjuangkan impian sebagai seorang bintang film, memperjuangkan usaha
> melalui kartu
> ucapan Harvest, lalu terjun ke dunia MLM, sebagai motivator tim resmi
> Olimpiade. Kini makin banyak sekali undangan untuk memberi motivasi.
>
> Dari pengalaman Anda sendiri, apa menariknya dalam entrepreneurship?
>
> Satu sikap mental atau cara pandang terhadap kesulitan itu. Cara pandang apa
> itu sukses. Di Indonesia ini banyak orang kena penyakit mitos. Misalnya,
> pendidikan saya rendah, saya anaknya pegawai kecil, saya anak orang miskin,
> anak petani. Kalau itu yang dibuat pedoman, kita habis. Karena sikap mental
> tadi, membawa dampak keseluruhan. Membuat Anda ini tidak bisa bertanding,
> karena sudah mikir dulu 'saya kan cuma SD, saya kan cuma SMP, cuma SMA'.
> Yang S-1 pun 'bapak saya orang miskin, mungkin saya tidak bisa sukses, hanya
> sebagai pekerja biasa saja'.
>
> Itu mentalitas yang mematikan seluruh pandangan. Mitos itu antara lain
> pendidikan. Mitos kesehatan, merasa dirinya tidak kuat fisik. Mitos nasib
> 'saya berjuang bagaimanapun saya tidak akan sukses, karena nasib sudah
> menentukan saya hidup seperti ini'.
>
> Mitos umur 'saya sudah tua, ini kerjaan atau bidang anak muda' atau
> sebaliknya. Mitos kelamin, 'dia kan cewek ya bisa, bukan kerjaan lelaki'.
> Mitos warna kulit 'saya kan item, dia kan orang Tionghoa kulitnya putih bisa
> sukses'. Ini semua penyakit-penyakit mitos, tidak berlaku. Maka dalam
> kehidupan saya, saya ringkas dalam satu kalimat; SUCCESS IS MY RIGHT. Sukses
> adalah hak saya. Inti seminar saya itu, dengan moto kata-kata mutiara
> "Kesuksesan bukan milik orang-orang tertentu.
>
> Sukses milik Anda, milik saya, dan milik siapa saja yang`benar-benar
> menyadari, menginginkan, dan memperjuangkan dengan sepenuh hati".
>
> Banyak orang terbelenggu mitos-mitos itu?
>
> Banyak sekali, sangat banyak. Saya lihat di seminar-seminar saya. Di atlet
> saja ada kok. Atlet PBSI yang top semua itu juga kena mitos berat, mitos
> susah. Penyakit juga yang membuat orang susah bangkit.
>
> Cara untuk keluar dari belenggu itu?
>
> Mental! Mental kan butuh pengertian. Tanpa disentuh itu, bagaimana bisa
> bangkit wong dia sendiri tidak tahu? Tahunya mau kerja merasa tidak bisa.
> Ini perlu dikuak dulu! Nah, itu tugas saya sekarang. Dengan begitu saya
> merasa membantu negara. Kadang ketika mau berwirausaha, soal modal dan
> risiko menjadi kendala utama. Dua penyakit itu yang paling berat.
>
> Takut ambil risiko dan tidak punya modal. Saya mulai justru dengan keduanya
> itu tidak ada. Saat saya mulai kartu Harvest tahun 1985, tidak ada modal
> sama sekali. Saya cuma punya ide. Jadi dalam proses perjuangan dulu, saya
> punya kata-kata mutiara, "Harga sebuah kegagalan dan kesuksesan bukan
> dinilai dari hasil akhir, tapi dinilai dari proses perjuangannya". Jadi saya
> pulang dari Taiwan bikin kata-kata mutiara ini. Orang mikir saya gagal
> sebagai bintang film karena tidak ada satu film pun saya bintangi sebagai
> bintang utama. Tapi saya pikir itu sukses! Sukses`dalam perjuangan. Maka
> proses itulah nilai investasi yang paling tinggi. Prosesnya! Waktu saya
> punya ide membuat kartu kata-kata mutiara, saya tidak punya modal. Maka saya
> pasang iklan ngajar Kung Fu. Kumpulin uang buat modal. Jadi berangkat tanpa
> modal. Tapi mana yang mendahului? Ide! Ide itu yang mendahului, saya pasti
> berhasil.
>
> Jadi embrionya pengertian "Success is My Right" tadi. Karena ada pengertian
> itu, muncul keberanian untuk mencoba. Ada nggak keuletan? Pasti!
> Masalah-masalah itu jadi kecil karena kita berani menghadapi sesuai dengan
> pengertian kita, bahwa saya pasti berhasil. Risiko? Udah nggak ngerti lagi
> apa itu risiko! Jalan aja, risiko itu kan nanti? Maka harus berani ambil
> keputusan mencoba.
>
> Kalau sudah berani ambil keputusan mencoba, pasti berani risiko. Risiko
> gagal, wong sekarang nol kok gagal? Berangkatnya kan nol? Nothing to lose,
> always win!
>
> Bagaimana Anda bisa memelihara spirit dari dalam, penuh motivasi
> terus-menerus?
>
> Kalau secara singkat bahasa rohani mengatakan..karunia. Tapi ingat itu ilmu
> yang bisa dipelajari oleh siapa saja. Karena saya terbiasa dalam latihan
> Kung Fu yang saya namakan Hap Kun Do, ini menghilhami saya. Harus selalu
> konsisten mentalnya, terjaga. Terutama kemauan, kepercayaan diri, komitmen,
> konsekuen, satria, berani, tanggung jawab, disiplin, moralitas.
>
> Itu semua kelompok karakteristik yang harus dimiliki orang yang mau
> berhasil. Kapan berhentinya? Ini tidak berhenti sampai kita mati. Hidup
> terus. Kok begini? Ini sebetulnya konsisten yang benar. Karena sedikit yang
> konsisten, jadi luar biasa saya. Padahal itu biasa saja. Bagaimana ilmu
> beladiri bisa memberi spirit dan selalu mengilhami seperti itu? Karena di
> dalam Kung Fu sebenarnya adalah pelatihan fisik yang menghasilkan mental.
>
> Kalau kita tertekan fisiknya karena latihan fisik, itu akan menghasilkan
> pengkristalan kekuatan mental. Kalau latihan ndak kuat, dipaksa dikit! Ndak
> kuat, dipaksa dikit! Itu sama dengan kita mengalami penderitaan. Begitu
> mengalami penderitaan kita tahan, tahan, ternyata ya kuat. Jadi kekuatan
> mental menghadapi masalah itu
> jadi tumbuh.
>
> Dengan teriakan (dalam latihan beladiri: red), itu aktualisasi diri akan
> muncul. Dari aktualisasi itu akan menimbulkan kepercayaan diri. Membuka
> keyakinan diri.
>
> Kalau dianalogikan dengan risiko bisnis?
>
> Nyemplung saja! Satu-satunya jalan seseorang dinilai luar biasa bukan dari
> banyaknya prestasi yang dihasilkan. Tapi dari berapa banyak masalah yang
> dihadapi. Itu baru luar biasa. Kalau kita orang kaya luar biasa, itu kan
> orang punya uang banyak, bukan orang sukses? Orang sukses dinilai dari
> bagaimana dia menghadapi masalah dengan tenang dan berani. Kalau orang
> seperti ini, ndak ngerti itu risiko. Yang tahu saya berhasil.
>
> Semangat seperti ini perlu dibudidayakan di Indonesia. Kita bangsa yang
> cukup hancur akhir-akhir ini. Satu-satunya jalan adalah pembinaan sikap
> mental, baru bisa bangkit lagi.
>
> Mengisi peran pembinaan sikap mental itu, pilih institusi formal atau non
> formal?
>
> Dua-duanya. Contohnya sudah lebih dari 15 universitas, pelantikan dari S-2
> sampai S-3. Dari perusahaan-perusahaan, perbankan, semua lini yang paling
> top pun sudah saya masuki. Di situ itu butuh motivasi. Karena motivasi tidak
> bicara status, bukan milik orang sekolahan, tidak juga milik tukang sapu,
> tidak juga milik presiden. Semuanya! Itu soal mentalitas, maka jangan bicara
> status. Semuanya!
>
> Lha, bangsa kita saat ini membutuhkan pembangunan karakter. Ini yang lebih
> penting. Kalau itu ada, berduyun-duyun bersama-sama, kita adakan hari ini.
> Sebulan saja setelah hari ini, pasti berubah. Satu tahun kemudian, berubah
> atau berubah? Pasti berubah! Masalah sikap mental seperti contoh tadi, itu
> yang perlu dikembang-biakkan.
>
> Dikaitkan dengan perubahan sikap mental itu, apa yang mesti dilakukan
> orang-orang muda?
>
> Anak-anak muda sekarang ini harus belajar nilai sebuah sikap mental.
> Anak-anak sekolah ini kan tonggak bangsa yang dimiliki? Isinya berantem,
> bunuh-bunuhan. Kalau kita lihat sebagai cermin, bagaimana orang kayak gini
> bisa tumbuh dengan baik? Wong isinya keras sama orang lain, bukan keras
> terhadap diri sendiri? Itu tidak tahu sama sekali apa artinya mental. Itu
> berarti harus step by step. Orang mau berjuang, masih nggak berhasil, kita
> harus beritahu mentalmu begini. Kualitas bangsa ini lagi turun semua, itu
> yang saya lihat.
>
> Disiplin nasional sekarang ini mundur atau maju? Jauh, berantakan! Kita
> bertaruh aja, Rp1 lawan Rp1 juta; di lampu merah begitu merah, ada nggak
> yang nyerobot? Waktu mau hijau, keluar semua, udah tidak ada yang tertib.
> Itu juga mental! Itu kalau kita tidak punya, bagaimana kita berjuang kalau
> melawan negara lain? Itu tugas kita!
>
> Bagaimana dengan orang tua yang hanya menyerahkan begitu saja pendidikan
> anak di sekolah? Orang tua itu juga tidak tahu. Maka bangsa ini harus
> mengembangkan, membudidayakan, mentradisikan, mengumandangkan pentingnya
> nilai sikap mental. Termasuk (institusi) yang formal ataupun informal.
>
> Keduanya sangat banyak yang tidak tahu. Sekolah-sekolah saja, pulang
> berantakan. Yang tarung itu berapa banyak, yang ketularan juga banyak.
> Segelintir saja yang mengerti soal ini. Buat saya, anak-anak muda ini number
> one. Dalam masa transisi ini, sepuluh tahun mendatang generasi muda ini yang
> lebih penting. Kalau mereka sekarang disiapkan dengan matang, ya jalan,
> berproses. Sepuluh tahun kemudian baru diketahui kualitas manusia Indonesia.
> Kalau itu tidak dibenahi, tidak
> ada itu Indonesia Baru.
>
> Tugas siapa itu?
>
> Tugas semuanya! Terutama, sudah pasti dong yang berwenang, ya kabinet ini.
> Dan termasuk kita semua, masyarakat yang sadar dan mengerti. Saya bisanya
> memberi ini (motivasi) untuk apa? Untuk membangun orang lain. Jadi
> idealisnya itu ikut membangun bangsa. Karena saya sadar, yang SDTT kayak
> saya, SD tidak tamat yang hidupnya berantakan, banyak sekali. Yang SMP, SMA
> hidup berada juga banyak.
>
> Mereka baik, kualitas baik, intelektualnya baik, mentalnya belum baik? Ini
> yang jadi masalah. Harus dipisahkan antara intelektual dan mentalitas.
> Seorang SMP, SMA, S-1, S-2 mungkin punya intelektualitas luar biasa. Tapi
> kena masalah hidup yang berat, nggak kuat menghadapi. Karena pengertian
> tentang kehidupan mentalitas yang tidak cukup.
>
> Guru-guru terbaik Anda?
>
> Guru-guru terbaik saya adalah kehidupan. Penderitaan itu guru yang paling
> saya hormati. Setiap orang bisa menjadi guru bagi orang lain. Selama kita
> waspada dengan pikiran dan batin yang jernih, anytime and anyway, itu guru
> semua. Justru penderitaan dalam kehidupan, termasuk kelompok kegagalan,
> kesakitan, kesalahan, ini semua guru nomor satu.
>
> Selama kita waspada melihat proses kehidupan. Tanpa ini bisa maju nggak,
> tidak mungkin maju! Secara fanatik, kelompok penderitaan inilah satu-satunya
> jalan kita bisa maju. Masak takut? Ndak usah takut! Wong bisa dihadapi kok.
>
> Kapan saat-saat berefleksi diri?
>
> Hampir setiap hari saya merenung dan meditasi. Saya Budhis, jadi saya banyak
> melakukan perenungan ajaran Sang Budha yang luar biasa. Terutama yang paling
> saya senangi adalah 'hidup hanya proses' dan 'hidup semua adalah
> tanggungjawabmu sendiri'. Jadi apa saja tingkah kita itu mengandung risiko.
> Risiko apa saja itu tanggungjawab kita. Tidak bisa dilimpahkan ke orang
> lain.
>
> Kalau tahu itu, maka langkah kita harus hati-hati. Kalau ada salah, ndak
> masalah.. Just a process. Orang seperti itu, biarpun uangnya belum banyak,
> dia sudah sukses! Setuju ndak? Bukan berapa banyak masalah yang dihadapi,
> tapi bagaimana kita memandang masalah itu.
>
> Dalam hidup ini, apalagi yang Anda inginkan?
>
> Keinginan manusia itu selalu berproses dan berubah. Besok bisa berubah?
> Bisa! Hari ini target saya ini, tahap ini mentalitas yang ini, merasa sudah
> cukup, target harus berubah. Target saya makin tahu kehidupan, makin rendah
> hati.
>
> Jadi sementara ini saya ingin menyumbangkan mentalitas saya, pengertian
> saya, pengalaman saya, pengetahuan saya, untuk semakin banyak orang, supaya
> sama-sama mereka menikmati kehidupan yang lebih baik dari hari ini. Karena
> apa? Cuma satu catatan: sukses adalah hak saya! Ini saja dibagikan dengan
> cara saya, lewat seminar, lewat wawancara dengan majalah Anda.
>
> (Wawancara ini pernah dimuat di Majalah Berwirausaha Edisi 5/Thn 1/2002).
>
> Best Regards,
> Moh. Caesar Darwin (Mr)
>
>
>
> --------------------------------------------------
> Official Mailing List: Porsenipar ke IV Tahun 2007
> -=== Perumahan BDB2 dan BDB3, Cibinong, Bogor ===-
> -= Menjiwai Semangat Kebangsaan dengan Prestasi =-
>
> | Official Website: http://www.porsenipar.web.id |
> ------- Porsenipar Media Center: 6849-6001 -------
>
>

--------------------------------------------------
Official Mailing List: Porsenipar ke IV Tahun 2007 
-=== Perumahan BDB2 dan BDB3, Cibinong, Bogor ===-
-= Menjiwai Semangat Kebangsaan dengan Prestasi =-

| Official Website: http://www.porsenipar.web.id |
------- Porsenipar Media Center: 6849-6001 -------

Kirim email ke