Rabu, 23/04/2008 17:46 WIB

78 Tahun PSSI
Kisah Soeratin untuk Nurdin Halid

Zen Rachmat Sugito - detiksport

Jakarta - Ada kontras yang tak terelakkan jika membandingkan Ketua Umum PSSI 
pertama, Ir. Soeratin Sosrosoegondo, dengan Ketua Umum PSSI ke-14, Nurdin Halid.

Ir. Soeratin, tokoh di balik berdirinya PSSI pada 19 April 1930, memilih 
kehilangan pekerjaan sebagai arsitek yang memberinya pendapatan berlimpah agar 
bisa secara total mengurus PSSI yang baru saja berdiri.

Ketika itu Soeratin bekerja di biro rancang bangunan bernama Boukundig Bureau 
Sitsen en Lausade dengan gaji sekira seribu gulden per bulan. Aktivitasnya 
mengurus PSSI membuat kinerjanya di kantor mengendur. Kantor yang 
memekerjakannya memberi dua opsi: tinggalkan PSSI atau tinggalkan pekerjaan.

Ini bukan pilihan sederhana. Meninggalkan pekerjaan bukan hanya membuat 
Soeratin kehilangan asupan finansial bagi diri dan keluarganya, tapi juga 
membuat Soeratin kehilangan pasokan dana yang sebagian di antaranya digunakan 
untuk menopang kegiatan-kegiatannya di PSSI karena PSSI sendiri ketika itu tak 
bisa diharapkan memberinya pendapatan. Soeratin bisa saja melepas jabatan 
sebagai Ketua Umum PSSI. Toh, ia masih bisa membantu PSSI dengan cara yang lain.

Tapi Soeratin memilih opsi keluar dari pekerjaannya. Baginya, membangun PSSI 
butuh konsentrasi besar. Masih banyak persoalan yang mesti dihadapi PSSI ketika 
itu, dari mulai isolasi yang dilakukan NIVB hingga membangun solidaritas 
bond-bond sepakbola bumiputera yang (kadang-kadang) masih saling bersaing satu 
sama lain. Teramat sayang jika ikhtiarnya yang susah payah dalam memelopori 
pendirian PSSI ditinggalkan di tengah jalan.

Fragmen bersejarah yang bisa dibaca sebagai momen eksistensial bagi manusia 
Soeratin di atas terasa begitu kontras dengan sikap "keras kepala" Nurdin Halid 
untuk terus bertahan di tampuk tertinggi kepemimpinan PSSI -- sikap yang 
anehnya didukung dengan tidak kalah keras kepalanya oleh para pengurus PSSI dan 
Executive Comitte PSSI.

Kontras ini makin terasa menggelikan sewaktu membaca pernyataan Nurdin Halid 
ketika menjawab tuntutan agar dirinya mundur dari jabatannya sebagai Ketua Umum 
PSSI.

"Atau masalah yang saya hadapi tidak ada permintaan agar saya mundur dan saya 
dalam keadaan didzalimi. Untuk itu, demi harga diri saya serta demi harkat dan 
martabat PSSI siri' napacce. Insya Allah dengan ridho Allah saya akan bertahan 
memimpin PSSI," katanya (Kompas, 21 Februari 2008).

Jika Soeratin memilih untuk keluar dari pekerjaannya agar bisa total mengurus 
PSSI dengan risiko kehilangan asupan gulden yang melimpah pada zamannya, Nurdin 
Halid justru keukeuh untuk terus duduk di jabatannya kendati nyata-nyata ia 
sama sekali tak bisa memimpin roda organisasi PSSI. Alih-alih bisa memimpin 
PSSI dengan total, Nurdin justru lebih sering "merepotkan" PSSI karena memaksa 
para pengurus PSSI mesti bolak-balik ke penjara, baik untuk rapat koordinasi 
maupun sekadar memberi laporan.

Dalam tradisi Makasar, 'sirri' bukan hal sepele. Ia merujuk pada kebanggan 
diri, harga diri, integritas diri sebagai manusia dan laki-laki. Jika sampai 
ada orang menyebut "sirri", ia hampir dipastikan sedang berada dalam kemarahan 
besar, merasa integritas dirinya dikoyak moyak, harga dirinya diinjak-injak.

Persoalannya, tuntutan kepada Nurdin agar mundur itu bukan persoalan pribadi. 
Tuntutan yang makin kuat itu muncul sebagai persoalan organisasi, dalam hal ini 
PSSI, organisasi yang mengatur olahraga paling merakyat di tanah air, yang 
pendiriannya diusahakan dengan susah payah oleh para pendirinya.

Pernyataan Nurdin itu menggelikan karena Nurdin menyamakan harga diri dan 
martabat pribadi dengan harga diri dan martabat PSSI, seakan-akan jika Ketua 
Umum PSSI merasa pribadinya dilecehkan secara otomatis PSSI sebagai organisasi 
juga dilecehkan harga diri dan martabatnya.

Nurdin mungkin benar bahwa PSSI sudah kehilangan harga diri dan martabatnya, 
tapi bukan karena Ketua Umum-nya merasa dilecehkan, tapi karena PSSI memang 
sudah kehilangan integritas karena kegagalannya sendiri.

Prestasi apa yang dibanggakan PSSI selama di bawah kepemimpinan Nurdin Halid? 
Menang lawan Bahrain tapi kemudian kalah oleh Arab Saudi dan Korea Selatan pada 
Piala Asia 2007? Gagal lolos semifinal Sea Games 2007? Kalah memalukkan dari 
Suriah dengan agregat 11-1 dalam play-off Piala Dunia 2010?

Jika Nurdin Halid butuh contoh tentang laku mertahankan harga diri dan martabat 
PSSI, simak saja bagaimana Soeratin dengan sikap keras membela harga diri dan 
martabat PSSI dalam kasus pengiriman tim Hindia Belanda ke Piala Dunia 1938 di 
Prancis.

Ketika itu Hindia Belanda mengirimkan tim dari Nederlandsh Indische Voetbal 
Unie (NIVU, organ yang merupakan metamorfosis dari NIVB) ke Prancis. Kendati 
sembilan pemain dalam tim itu berasal dari kalangan bumiputera dan Tionghoa, 
Soeratin marah bukan main karena ia menganggap NIVU melanggar "Gentlement 
Agreemnt" yang ditandatangani PSSI (yang diwakili Soeratin) dengan NIVU (yang 
diwakili Materbreok) pada 5 Januari 1937 yang menyebutkan bahwa pengiriman tim 
mesti didahului oleh pertandingan antara NIVU dengan PSSI. Soeratin juga 
menginginkan agar bendera yang digunakan tim Hindia Belanda bukan bendera NIVU.

Pelanggaran kesepakatan itu dinilai Soeratin sebagai pelecehan atas martabat 
PSSI. Itulah sebabnya Soeratin, atas nama PSSI, membatalkan secara sepihak 
semua butir kesepakatan antara PSSI dengan NIVU pada Kongres PSSI 1938 di Solo.

Pada kongres itulah Soeratin membacakan pidato berjudul "Loekisan Djiwa PSSI: 
Mendidik Ra'jat dengan Perantaraan Voetbalsport", pidato yang menjadi cetak 
biru visi PSSI pada masa kolonial, pidato yang sepertinya tak pernah dibaca 
oleh Nurdin Halid dan para pengurus PSSI sekarang.

Salah satu kalimat Soeratin yang paling termasyhur --seperti diceritakan 
Maladi-- berbunyi: "Kalau di lapangan sepakbola kita bisa mengalahkan Belanda, 
kelak di lapangan politik pun kita bisa mengalahkan Belanda."

Nasionalisme dan politik pada masa itu menjadi bagian inheren dari PSSI. Jangan 
heran jika, misalnya, panitia kejuaraan PSSI II pada 1932 yang digelar di 
lapangan Laan Travelli, Batavia, nekad mengundang Soekarno untuk melakukan 
tendangan bola kehormatan pada partai final kejuaraan yang memertemukan VIJ 
(Voetball Indonesia Jcatra) melawan PSIM Yogyakarta.

Tindakan itu berkadar subversif karena Soekarno baru saja keluar dari penjara 
Sukamiskin di Bandung akibat aktivitasnya sebagai pemimpin Partai Nasional 
Indonesia.

Zaman sudah berubah. Politik memang sebaiknya tidak dibawa-bawa dalam dunia 
sepakbola (FIFA melarang intervensi pemerintah terhadap asosiasi sepakbola, 
kendati lucunya pengurus PSSI sempat membawa-bawa UU Pemilu untuk membenarkan 
sikap Nurdin). Tetapi, cukup jelas juga, perkara harga diri dan martabat 
pribadi tak bisa dibawa-bawa ke dalam urusan sepakbola dan PSSI.

Nurdin dan segenap pengurus PSSI mesti berkaca kepada apa yang sudah 
dicontohkan Soeratin. Saya tidak tahu apakah LP Cipinang menyediakan cermin di 
setiap sel tahanan atau tidak.

==

*) Penulis adalah editor di Indonesia Boekoe Jakarta dan alumni Fakultas Ilmu 
Keolahragaan Universitas Negeri Yogyakarta. Artikel ini merupakan opini pribadi 
dan tidak mencerminkan sikap/opini redaksi.


--------------------------------------------------
Official Mailing List: Porsenipar ke IV Tahun 2007 
-=== Perumahan BDB2 dan BDB3, Cibinong, Bogor ===-
-= Menjiwai Semangat Kebangsaan dengan Prestasi =-

| Official Website: http://www.porsenipar.web.id |
------- Porsenipar Media Center: 6849-6001 -------

Kirim email ke