Salam.

Sebagai kelanjutan diskusi tentang "pilkada", berikut saya fwd diskusi
saya dengan seorang teman di sebuah milis kajian Islam (mohon maaf
kalau ada yang tidak berkenan dengan nuansa keIslamannya). Semoga
bermanfaat. --amin
-------------------------------------------------------------------------------------------------

a friend wrote:

> Berbicara kepemimpinan dalam Islam, rujukan utama tentunya ada pada
> diri Rasulullah saw, kemudian para khulafaurrasyidin sebagai qudwah
> shalihah serta para mujahid masa keemasan khilafah islamiah.
>
> Pada tataran prakteknya, melihat barisan pemimpin dan calon pemimpin
> yang belakangan menghangatkan wacana pilpres/pilkada,
> bukan tidak beralasan bila kita pesimistis dapat menemukan tokoh
> yang  ideal seperti pernah dimiliki oleh umat dimasa lalu.
>
> Ketika kita berbicara kehati-hatian Abu Bakar dalam hal urusan harta,
> zuhud terhadap dunia, cinta kasih terhadap kaum lemah dan bersikap
> keras terhadap orang-orang kuat, siapa tokoh seperti itu di negeri
> ini?
>
> Ketika kita berbicara tentang perasaan yang mendalam pada persamaan
> antara khalifah Umar dengan rakyatnya saat menderita kelaparan,
> hingga beliau bersumpah untuk tidak akan memakan samnun dan tidak
> makan daging hingga rakyatnya hidup layak, siapa tokoh seperti itu di
> negeri ini?
>
> Ketika kita berbicara tentang keadilan Umar bin Abdul Aziz hingga
> konon kambing yang digembala dipadang rumput pun aman dari terkaman
> serigala, siapa tokoh seperti itu di negeri ini?

Amin answered:

Ada satu dalil (hadits Rasulullah?, saya lupa ...), dimana memang
seorang pemimpin adalah reflektor/cermin dari kondisi masyarakat yang
dipimpinnya. Allah
akan menganugerahkan kepada suatu komunitas/umat, seorang pemimpin yang
kualitasnya gak beda-beda amat dengan kualitas komunitas/umat tersebut.
Nampaknya mustahil Allah akan 'menghadiahkan' seorang pemimpin yang
zuhud/sederhana ke sebuah masyarakat yang punya kecenderungan
hedonistik dan 'bebas nilai', begitulah kira-kira penjabarannya.

Simpel, kan? Yah, mirip-mirip dengan urusan jodoh (suami/isteri). Lihat
dulu tongkrongan kita kayak apa, maka dapat jodohnya seperti apa, hehehe
..... Tapi kalau pun memilih membujang karena tidak menemukan jodoh
yang ideal, ya silakan saja ...

Kalau menurut saya pak, pada akhirnya kita harus melihat realitas. Karena
kepemimpinan adalah sebuah kewajiban dalam bermasyarakat, maka upaya kita
sebatas mencari 'the best' di antara yang tidak ideal.

Upaya lain adalah bagaimana mendidik 'selera' masyarakat agar juga
mampu dan cermat memilih pemimpin yang terbaik. Dan itulah sebenarnya
esensi dakwah.

Wallahu a'lam,
--amin

--------------------------------------------------
Official Mailing List: Porsenipar ke IV Tahun 2007 
-=== Perumahan BDB2 dan BDB3, Cibinong, Bogor ===-
-= Menjiwai Semangat Kebangsaan dengan Prestasi =-

| Official Website: http://www.porsenipar.web.id |
------- Porsenipar Media Center: 6849-6001 -------

Kirim email ke