From: Iman Sentosa Pramoedji 
Sent: Monday, June 30, 2008 10:04 PM

Teman2 dan saudara2 ku terkasih,

Perkenankanlah saya mengucapkan terima kasih yang tak terhingga atas segala
doa yang telah dipanjatkan untuk saya serta perhatian dan ucapan baik
melalui telepon, sms, email dan yang telah datang menjenguk saya di rumah
sakit. Rasanya inilah yang sangat memberi semangat saya untuk cepat sembuh.

Pada kesempatan ini saya ingin juga berbagi pengalaman apa yang telah
terjadi pada saya, agar tidak terjadi pada teman2 dan saudaraku, berapapun
umur anda. Hari Sabtu 21 Juni waktu kita bertemu dalam resepsi mas Harry
Ediarso dan resepsi pak Darsak, saya tidak mengalami apapun yang memberi
sinyal bahwa saya akan sakit. Minggu sebelumnya saya memang merasa pegal2 di
leher dan puggung, yang saya 
perkirakan akibat mengemudi mobil tiap hari Sawangan-Kebayoran Lama PP.
Sebulan dua kali saya memang diurut dirumah atau reflexi kalau merasa ada
yang tidak enak di badan, saya paling males kalau disuruh minum obat yang
chemical, jamu sama herbal mah masih mau biar pait juga. Sebabnya, kakak
saya yang dokter korban kebanyakan obat sampe sempat koma dua kali tapi
Alhamdulillah sekarang lebih sehat dengan kemauan kerasnya, dzikir kepada
Allah dan bantuan pijat reflexy di rumahku.

Hari Selasa 24 Juni pulang kantor setelah Maghrib saya berolah raga dirumah
menggunakan Freestyle selama 15 menit lalu angkat dumble, sesuatu yang biasa
saya lakukan meskipun tidak teratur, sudah beberapa minggu memang saya absen
olah raga. Berenang hari Sabtu atau Minggu baru diaktifkan lagi, pendeknya
olah raga masih tidak rajin lah. Selesai angkat dumble kira2 5 menit, saya
merasa semutan yang berat dari kepala sampai kaki tapi hanya badan sebelah
kanan. Saya pikir ada yang salah dalam proses exercise saya atau karena
tidak melakukan peregangan dulu. Malamnya saya tidur biasa hanya agak
gelisah. Saya sudah lama mengkonsumsi kapsul minyak ikan Omega 3 pagi dan
malam, kemudian sebelum tidur minum satu kapsul Blood Care.

Besok paginya hari Rabu berangkat ke kantor mengemudi ke Kebayoran Lama
(jarak sekitar 35km) kurang lebih 1-3/4 jam, turun dari mobil kesemutan yang
sama menyerang lagi sebentar. Selama di kantor ada 3 kali lagi terasa
semutan tapi tidak terlalu hebat dan hanya sebentar2. Rasa khawatir ada juga
jadi saya minta izin pak Wibowo untuk pulang duluan, untuk mampir di RS
Pondok Indah untuk mencari dokter jantung. Karena dokter spesialis jantung
yang saya cari sudah pulang, saya langsung pulang ke rumah, masih mengemudi.
Malamnya dirumah setelah Maghrib saya minta di-reflexi dan badan terasa
lebih ringan. Mas Ayi (kakak bu Adhi Suryo) yang me-reflexi bilang darah
saya agak kental dan sepertinya ada yang terganggu di pusat syarafnya nih,
rada tenang saya. Setelah Isya waktu sikat gigi mau tidur serangan semutan
hebat datang lagi dan tidak berhenti, tidak ada rasa pusing, pikiran masih
jernih hanya badan sebelah kanan serasa tebal. Saya bilang isteri, rasanya
saya mau stroke nih, kalau betul stroke maka dalam waktu 3 jam saya harus
ditangani dokter kalau tidak akan fatal, paniklah sang isteri sambil
mengatakan :"Jangan main2 Pak" soalnya saya kan jail orangnya seneng
becanda. Saya bilang, ini serius lho. Karena dirumah cuma saya yang bisa
mengemudi, maka kami dibantu anaknya pak Agung Suyono (sebelah rumah) dan
anaknya pak Saini Tarpian, diantar ke RS yang relatif tidak terlalu jauh
dari Sawangan, sekitar jam 22.30.

Masuk UGD diperiksa tekanan darah dan test kekencangan remasan tangan dan
tanya ini-itu, sang Dokter jaga mengkhawatirkan pusat syaraf yang terganggu
dan menganjurkan untuk konsultasi dengan dokter syaraf keesokan harinya lalu
mempersilahkan isteri saya mencari kamar, tapi ternyata kamar penuh untuk
kelas berapapun dan dianjurkan untuk datang keesokan harinya, what a waste
of time! Bayangkan, setelah sekitar 1.5 jam ditangani seadanya baru diberi
tahu tidak ada kamar, padahal menamakan diri RS bertaraf internasional.
Sementara badan saya sebelah kanan sudah terasa lebih berat dan waktu jalan
dari ruang UGD ke parkiran mobil, kaki kanan sudah mulai diseret. Saya
bilang isteri saya kita harus segera ke RSPP saja sebab kalau pulang ke
rumah takut terjadi apa2 malamnya pada saya. Selain itu kami kenal baik
Neuroloog-nya, bekas anak buah saya waktu masih jadi Pembina Pramuka tahun
70-an dulu di Cepu. Belakangan kami baru tahu bahwa dia sekarang sudah
menjadi Wakil Direktur RS Pusat Pertamina! Ayahnya alm. dulu dosen Bhs
Inggeris kami di Akamigas Cepu, urang awak.

Di UGD RS Pusat Pertamina saya segera ditangani, tidak hanya tekanan darah
diperiksa tetapi juga dengan EKG. Melihat hasil rekaman EKG sang perawat
cuma geleng2 kepala, apalagi setelah melihat hasil ukuran tekanan darah yang
210-120! Dokter jaga langsung meminta untuk CT scan. Lebih kaget lagi dia
setelah saya bilang saya tidak pernah minum obat untuk mengontrol tekanan
darah (padahal ada riwayat hipertensi dari orang tua) dan bahwa kadar gula
darah saya pernah 290. Lengkaplah kefatalannya! Waktu dibilang saya harus
dirawat langsung saya manut, ini baru rumah sakit hebat saya katakan dalam
hati. Kecepatan mereka bereaksi dapat dilihat bahwa ketika tahu hasil
pengecekan awal, mereka langsung memberikan infus. Dokter jaga juga
melakukan test cepat dengan menyuruh saya mengangkat kaki bergantian,
menjulurkan lidah ke kiri dan kanan lalu meminta tangan saya meremas tangan
sang dokter 
yang semuanya dapat saya lakukan. Dia bilang, wah kayanya serius nih
dibagian syarafnya karena motoriknya masih bagus. Malamnya saya tidur
nyenyak dengan infus. Itu sudah hari Kamis dinihari.

Pagi harinya waktu sang Dokter (Neuroloog) datang, sebetulnya beliau sudah
tidak ada tugas keliling sebagai Wadir tapi atas permintaan pasien ya bisa
juga datang memeriksa sebentar. Begitu datang memeriksa saya dan membaca
hasil test2 yang sudah dilakukan langsung dia bilang :"Orang seumur mas
Janto ini sudh mesti dibantu obat untuk mengontrol tekanan darah, apalagi
gula darahnya sebegitu, pan udah DM!" Coba sekarang saya test, bilang: "Uler
melingker dipager" yang cepat. Dalam keadaan badan 
masih berat sebelah ya rada pelo lah saya bilangnya. " Nah kan udah jelas
tuh pre-stroke, nanti di MRI aja kita lihat hasilnya, kata sang Dokter.
Karena sudah kenal dari kecil ya terbukalah dokter tersebut kepada saya
tentang apa akibatnya kalau saya tidak menjaga diri diwaktu yang akan
datang, ya saya terima aja lah, apalagi sang isteri mah nyerocosnya lebih
galak dari dokternya, seperti biasa. Berikutnya saya dikonsultasikan ke
dokter jantung yang sempat saya cari di RSPI kemarinnya, Dr. Djoko Maryono,
yang selalu membawakan acara Mobile Clinic hari Jum'at pagi di Radio Delta
FM. Dia bilang: "Weleh2 mas, oli kok dicampur ambek gulo, yak opo", lalu
dengan gaya Suroboyoannya dia memberikan nasihat dan tambahan obat harian
untuk saya. "Wis mas, ojo kuatir, waras waras" katanya sambil memberikan
jabat tangan komando, "Wah isih kuat ngene kok" katanya pula. Kebetulan dia
kenal baik dan tetangga adik saya di Bumi Karang Tengah.

Kemudian saya dikonsultasikan juga ke Dokter Gizi karena sudah masuk
kategori DM. Beliau memberi contoh volume makanan yang harus saya konsumsi
dalam bentuk model2 plastik yang mudah dimengerti seperti jumlah nasi,
kentang, daging ayam, daging sapi non fat dll. lalu dibuatlah daftar menu
yang harus saya patuhi sehari-harinya. Maka selamat tinggal lah segala
makanan berminyak, sumber kolesterol dan tentunya sumber yang manis2.
Sebenarnya saya sudah lama menghindari makanan2 lekker yang mengandung
sumber2 tersebut apalagi jeroan sapi atau kambing. Masalahnya masakan isteri
saya itu enak banget dan kalau lagi dapet orderan catering saya suka curi2
nyobain kalau kelaperan malam2, he he he. Yang masih saya suka dan beli
sendiri adalah hati ayam, kan uenak tenan tuh biar cuma diungkep. Masih
setengah mateng aja saya telan apalagi udah jadi, wah! Yang paling saya
sedih dari buah2an yang terlarang buat saya kalau kebanyakan adalah .......
pisang. Padahal kalau makan pisang saya bisa belasan sehari, apalagi yang
namanya pisang raja sereh dan pisang raja yang mateng di pohon, digoreng
pake sedikit minyak, dipenyet terus taburi gula dan serutan keju, wah ciamik
banget kan? Ya sudah, demi kesehatan saya ngalah aja deh. Makanan bener2
diet berat inilah yang sekarang harus saya santap sehari-hari di RS, so far
sih abis aja tuh.

Hari2 berikutnya (weekend) saya lalui dengan tenang, infus campuran
neurobion tetap warnanya persis syrup Sarangsari yang rozen, suntik
kiri-kanan, obat2an untuk pengencer darah dan obat tidurnya pastinya yang
membuat tidur saya just like a baby, padahal masih ada tamu yang menjenguk
kadang2. Puji syukur kehadirat Illahi Robbi karena dengan treatment seperti
itu badan saya sebelah kanan perlahan-lahan kembali bisa merasa, hari Senin
pagi ini yang masih rasa tebal sebagian lengan, telapaknya dan telapak kaki.
Isteri saya ngetawain kalau sandal terlepas tapi saya ndak merasa karena
telapak kaki masih agak 
semutan itu.

Tadi pagi pak Dokter Neurolog datang dengan foto2 MRI (magnetic resonance
imaging) saya. "Mas Janto, ini foto kepala dari berbagai sudut. Ada spot
kecil di otak sebelah kiri istilahnya infark, makanya yang terserang badan
sebelah kanan. Ini akibat tekanan darah yang terlalu tinggi dan kadar gula
yang terlalu tinggi juga. Kalau spotnya besaran dikit aja pasti mas Janto
sudah lumpuh dan muka mencong". "Mas Janto masih dilindungi Allah", katanya
menerangkan. Nggak bisa ngomong lagi saya, cuma manggut2. "The rest of your
life mesti dibantu obat. Ok ya, kayanya sih besok bisa pulang, kita tunggu
aja opini dari dokter2 yang lain".

Begitulah teman2 terkasih, apa yang terjadi pada saya, judulnya KECEROBOHAN
DAN KEBODOHAN dalam memelihara kesehatan diri sendiri. Begitu banyak
warning2 kecil yang sebenernya saya alami sebelumnya tetapi saya abaikan.
Jadi buat teman2 dan saudara2ku semua, whatever your age is, dengan pola
makan dan hidup kita jaman modern ini yang belum tentu sehat, periksalah
kesehatan anda dengan rutin ke dokter, minimum periksa darah dan....tindak
lanjuti sesuai anjuran dokter yang dirujuk, jangan sok jago mentang2 kita
ndak merasa apa2. Data2 yang ada pada hasil pemeriksaan darah dan urine anda
sudah menyatakan indikasi apa yang sedang terjadi dalam diri kita. Jangan
tiru stupid things yang sudah saya lakukan dan akibatnya seperti ini.
Apalagi kan bagi orang2 muda yang masih gagah dan produktif seperti para
Bambang2 itu lho...... Saya sadar sakit ini juga cobaan dari Allah SWT, agar
saya lebih mensyukuri nikmat kesehatan dariNya yang kadang2 saya abaikan
selama ini.

Ya Allah, ampunilah dosaku karena telah mengabaikan karunia kesehatan yang
selalu Engkau berikan padaku dan telah aku lalaikan untuk memeliharanya,
sesungguhnya sakit ini merupakan peringatan bagiku untuk sadar akan
kekhilafanku dan untuk bersyukur padaMu bahwa aku masih diberi kesempatan
untuk melakukan ibadah sesuai perintahMu disisa umurku ini.

Sekali lagi, untuk teman2 yang telah datang menjenguk dan memberikan
perhatian baik lewat sms, telepon dan email, saya dan keluarga mengucapkan
banyak terima kasih, perhatian anda semua sungguh sangat berarti dan sangat
mempercepat recovery saya. Semoga Allah SWT, Tuhan YME membalas segala budi
baik tersebut, Amin.

Mas Helmi Saini Tarpian dan mas Widi Suyono, you are my real hero, you saved
my life, semoga Allah SWT selalu memberkahi kalian dengan kesehatan, rizki,
keberhasilan dalam usaha dan kebahagiaan keluarga, Amin!

----- End forwarded message -----

--------------------------------------------------
Official Mailing List: Porsenipar ke IV Tahun 2007
-=== Perumahan BDB2 dan BDB3, Cibinong, Bogor ===-
-= Menjiwai Semangat Kebangsaan dengan Prestasi =-

| Official Website: http://www.porsenipar.web.id |
------- Porsenipar Media Center: 6849-6001 -------

Kirim email ke