Dari milis KRL-Mania ...
Artikel di Koran Tempo hari ini, sempat ngebaca di korannya orang yang samping 
duduk tadi pagi.
Eh .... ada nama Nur Cahyo, tetua milis ini ...
Dan .... ternyata wartawannya Pak Dwi Wiyana warga RT 01/14 ya?

Yok, pada rame-rame nulis soal KRL yang nggak beres-beres trus nitip sama Pak 
Dwi itu, siapa tahu RW 14 jadi lebih beken lagi.

Salam / Jaerony.-
****************************



Jum'at, 01 Agustus 2008

Metro
Telat Lagi, Molor Lagi
Jadwal kereta rel listrik ekonomi Bogor-Jakarta sering kacau. 

"Penumpang tujuan Jakarta, sekarang kereta baru di Pondok Cina menuju Bogor 
terlebih dulu. Di Stasiun Bogor kosong." Pengumuman semacam itu menjadi hal 
yang rutin didengar calon penumpang kereta rel listrik ekonomi di Stasiun 
Bojonggede, Kabupaten Bogor, belakangan ini. Keterlambatan kereta satu sampai 
satu setengah jam lazim terjadi, terutama saat jarum jam di tangan sudah lepas 
dari pukul 10.00 WIB. Walhasil, jadwal baru yang mulai diberlakukan 1 Juli 
lalu, yang menyebut jarak keberangkatan kereta 20-30 menit, tak terpenuhi. 
Kerugian calon penumpang akibat tak pastinya jadwal tak terbayarkan.

"Tiap hari begini, seolah-olah disengaja agar kita naik kereta AC," kata Andre, 
warga Pabuaran, Citayam, ngedumel. Saban hari, wiraniaga berusia 35 tahun ini 
naik kereta bertarif Rp 2.000 itu sampai Stasiun Sawah Besar. Lalu, ia 
mengambil sepeda motor menuju kantornya di Kebon Jeruk. "Kalau tiap hari pakai 
kereta ekonomi AC yang tarifnya Rp 6.000, boncos juga," kata Andre.

Iis, penumpang yang lain, mendukung dugaan Andre. Warga Bojonggede itu menilai 
PT Kereta sengaja memprioritaskan kereta ekonomi AC dan menelantarkan kereta 
ekonomi biasa. Hal itu bisa dilihat dari jadwal kereta ekonomi AC yang jarang 
sekali molor bila dibanding kereta ekonomi biasa. "Jadwal ekonomi AC on time," 
ujar Iis, yang hendak kondangan ke Depok dan harus menunggu kereta hingga lebih 
dari satu jam ini. "Jadwal kereta ekonomi biasa sering kacau."

Dalam pengamatan Tempo, saat kereta ekonomi menuju Jakarta kosong, ekonomi AC 
dan Express ke Ibu Kota memang seliweran. Kereta menuju Bogor lebih ramai lagi. 
Pada 6 Juli, sekadar contoh, dalam seperempat jam, empat rangkaian kereta 
datang berturut-turut. "Nggak usah pakai jadwal saja," kata Sukri, penumpang 
yang sehari-harinya adalah anggota satuan pengamanan di kawasan Kuningan, 
"Jadwal baru omong kosong." 

Akibat keterlambatan itu, penumpang yang menunggu kian berjubel. Maklum, 
mestinya mereka terangkut dalam dua-tiga kali pemberangkatan, tapi kondisi 
memaksa mereka penumpang untuk bisa terangkut dalam kesempatan pertama. 
Walhasil, saat kereta datang, mereka berebut untuk bisa masuk lebih dulu. Adu 
mulut, suara tangis anak-anak yang tergencet, menjadi hal yang lazim terjadi. 
Di dalam gerbong, penumpang berjubel hingga ke lubang pintu masuk. Hawa panas 
menyeruak lantaran kipas sering mati. 

Nurcahyo dari komunitas KRL Mania tak menutup mata soal sering ngaretnya jadwal 
kereta ekonomi dan dampak yang muncul. Salah satu penyebabnya, menurut dia, 
faktor usia kereta, khususnya jenis Holec. "Kereta ini sering mogok," katanya, 
"Kita sudah minta agar kereta jenis ini diremajakan."

Kepala Divisi Angkutan Perkotaan Jabotabek PT Kereta Api Ahmad Marzuki 
membenarkan sinyalemen Nurcahyo. Selain faktor usia kereta, padatnya lintasan 
Bogor-Jakarta, termasuk adanya pertemuan lintasan kereta antarkota di Stasiun 
Manggarai, juga menjadi penyebab penting terjadinya keterlambatan yang 
sundul-menyundul itu. "Sama sekali nggak ada kesengajaan. Sumprit!" katanya. 

Idealnya, Ahmad melanjutkan, kalau Manggarai benar akan dijadikan pusat stasiun 
antarkota dan dalam kota, maka kedua jalur harus dibuat terpisah. Perlintasan 
pun dibuat atas-bawah sehingga tak ada kereta yang terganggu perjalanannya. 
Cuma, Ahmad belum bisa memastikan kapan proyek itu bisa terlaksana. 

Walhasil, penumpang kereta ekonomi di Bojonggede dan stasiun lain di sekitarnya 
mesti siap-siap mendengar pengumuman lagi, "Penumpang Jakarta, di Stasiun Bogor 
kosong, menunggu kereta masuk terlebih dulu...."DWI WIYANA

Dibayar dengan Sebutir Permen

Siang itu, penumpang kereta rel listrik dari Jakarta ke Bogor tak terlalu 
padat. Seorang kondektur mendatangi penumpang satu per satu. "Karcis," katanya. 
Sejumlah penumpang menyerahkan karcis senilai Rp 2.000 untuk dilubangi. 
Penumpang lain yang tak berkarcis memilih menyerahkan uang kertas seribuan yang 
dilinting atau dilipat-lipat kecil ke tangan kondektur. 

Lalu, tiba giliran sang kondektur meminta karcis kepada seorang penumpang 
wanita. Kali ini, bukan karcis atau lintingan seribuan yang disorongkan, 
melainkan sebutir permen. Ya, cuma sebiji permen plus senyum manis di bibir. 
Pak kondektur pun menerima permen itu tanpa banyak cingcong. 

Kali lain, Tempo menjumpai penumpang wanita yang menyerahkan uang seribuan. 
"Berdua," katanya kepada kondektur sembari matanya melirik ke teman wanita yang 
duduk di sebelah kiri. Lagi-lagi, tanpa berkomentar, kondektur menerima uang 
itu dan memasukkannya ke kantong. 

Praktek tak beres antara penumpang dan kondektur seperti itu, jelas, merugikan 
PT Kereta Api. Pada 2007, sekadar contoh, perusahaan ini mencatat 30 persen 
atau 40 juta dari 118 juta penumpang KRL Jabotabek mengemplang tiket. 
Kerugiannya dalam setahun tak tanggung-tanggung, Rp 100 miliar! 

Ahmad Marzuki, Kepala Divisi Angkutan Perkotaan Jabotabek, PT Kereta Api, 
mengakui kemungkinan terjadinya praktek seperti itu. Untuk itu, berbagai 
langkah penertiban dilakukan. Penumpang tak bertiket dikenai sanksi denda, 
oknum kondektur dan masinis yang bermasalah juga diskors. Sejak tahun lalu, PT 
Kereta juga menggandeng PT Kencana Lima untuk menjaga semua pintu stasiun, 
termasuk "jalan-jalan tikus" yang ada.

Hasilnya? Perlahan-lahan, kebocoran pendapatan bisa disumbat. Pendapatan Divisi 
Angkutan Perkotaan Jabotabek pada semester I 2008 terkerek. Pada Januari 2007, 
duit yang masuk Rp 18,3 miliar, sedangkan pada bulan yang sama pada 2008 
terdongkrak hingga Rp 21,9 miliar. Kenaikan terus terjadi pada bulan-bulan 
berikutnya. Pada Mei 2008, duit yang masuk kantong perusahaan mencapai hampir 
Rp 26,9 miliar, padahal pada bulan yang sama tahun lalu cuma Rp 21,7 miliar. 

Pengetatan pun akan terus dilakukan. Kelak, menurut Achmad, semua calon 
penumpang yang masuk peron stasiun benar-benar harus berkarcis. Dengan cara 
itu, ia berharap cerita penumpang membayar dengan sebutir permen, selembar 
ribuan, atau malah seribu berdua, seperti disaksikan Tempo sebelum penertiban 
ketat dilakukan, tinggal kenangan. DWI WIYANA

http://korantempo. com/korantempo/ 2008/08/01/ Metro/krn, 20080801, 38.id.html



----- Original Message ----- 

      On Fri, 8/1/08, budhi prasetyo <[EMAIL PROTECTED]>__,_._,___  

Kirim email ke