Selasa, 2007 November 27
The History of Bojonggede 
 

Sejarah Bojonggede tidak terlepas dari sejarah berdirinya Kota Depok yang 
terbagi dalam beberapa fase :


I. Depok pada Zaman Prasejarah 
Bahwa penemuan - penemuan benda bersejarah di wilayah Kota Depok menunjukkan 
bahwa Depok telah berpenghuni sejak zaman prasejarah hal ini terlihat dengan 
adanya penemuan ahli sejarah, peninggalan - peninggalan benda bersejarah di 
Depok dan sekitarnya antara lain Menhir " Gagang Golok", Punden berundak "Sumur 
Bandung", Kapak Persegi dan Pahat Batu yang merupakan peninggalan zaman megalit 
serta Paji Batu dan sejenis Beliung Batu yang merupakn zaman peninggalan 
Neolit. 

II. Depok pada Zaman Padjajaran

Pada akhir abad ke-15 Kerajaan Padjajaran diperintah oleh seorang raja yang 
diberi gelar Sri Baduga Maharaja Ratu Haji di Pakuan yang lebih dikenal dengan 
gelar Prabu Siliwangi.( Kerajaan Pajajaran, berkuasa sejak tahun 1482 hingga 
tahun 1579). Pelantikan raja yang terkenal sebagai Sri Baduga Maharaja, menjadi 
satu perhatian khusus. Pada waktu itu terkenal dengan upacara Kuwedabhakti, 
dilangsungkan tanggal 3 Juni 1482. Tanggal itulah kiranya yang kemudian 
ditetapkan sebagai hari Jadi Bogor yang secara resmi dikukuhkan melalui sidang 
pleno DPRD Kabupaten Daerah Tingkat II Bogor pada tanggal 26 Mei 1972).



Pengganti Sri Baduga Maharaja adalah Surawisesa (puteranya dari Mayang Sunda 
dan juga cucu Prabu Susuktunggal). Ia dipuji oleh Carita Parahiyangan dengan 
sebutan "kasuran" (perwira), "kadiran" (perkasa) dan "kuwanen" (pemberani). 
Selama 14 tahun memerintah ia melakukan 15 kali pertempuran. Pujian penulis 
Carita Parahiyangan memang berkaitan dengan hal ini.

Surawisesa dalam kisah tradisional lebih dikenal dengan sebutan Guru Gantangan 
atau Munding Laya Dikusuma. Permaisurinya, Kinawati, berasal dari Kerajaan 
Tanjung Barat yang terletak di daerah Pasar Minggu, Jakarta Selatan, sekarang. 
Kinawati adalah puteri Mental Buana, cicit Munding Kawati yang ke semuanya 
penguasa di Tanjung Barat.


Baik Pakuan maupun Tanjung Barat terletak di tepi Ciliwung. Diantara dua 
kerajaan ini terdapat beberapa kerajaan kecil yang berada di bawah kekuasaan 
Kerajaan Padjajaran diantarnya adalah Kerajaan Muara Beres di Desa Karadenan 
(dahulu Kawung Pandak). Ini sangat penting artinya pada zaman Padjajaran karena 
sampai Karadenan terbentang benteng yang sangat kuat sehingga mampu bertahan 
terhadap serangan pasukan Jayakarta yang di bantu oleh Demak, Cirebon dan 
Banten. 
Di Muara Beres ini bertemu silang jalan dari Pakuan ke Tanjung Barat terus ke 
Pelabuhan Kalapa dengan jalan dari Banten ke daerah Karawang dan Cianjur. Kota 
pelabuhan sungai ini jaman dahulu merupakan titik silang. Menurut Catatan VOC 
tempat ini terletak 11/2 perjalanan dari Muara Ciliwung dan disebut jalan 
Banten lama (oude Bantamsche weg)].


Depok berjarak ± 13 kilometer sebelah utara Muaraberes jadi wajar apabila Depok 
dijadikan front terdepan buat tentara Jayakarta pada waktu berperang dengan 
Padjajaran. 

Hal tersebut dapat dibuktikan dengan : 


1. Masih terdapatnya nama - nama Kampung/Desa yang menggunakan bahasa Sunda 
antara lain Parung Serang, Parung Belimbing , Parung Malela, Parung Bingung , 
Cisalak, Karang Anyar dan lain - lainnya.
2. Di desa Nangerang dan Kawung Pundak sampai sekarang masyarakatnya masih 
mengunakan bahasa sunda dalam pergaulan sehari - hari.
3. Dr. NJ Krom pernah menemukan cincin emas kuno peninggalan zaman Padjajaran 
di Nangela, cincin emas tersebut sekarang tersimpan di museum Jakarta.
4. Pada tahun 1709 Abraham Van Riebeeck telah menemukan sebuah benteng kuno 
peninggalan kerajaan Padjajaran di Karadenan. 
5. Di rumah penduduk Kawung Pundak sampai sekarang masih ditemukan senjata - 
senjata kuno peninggalan zaman Padjajaran. Senjata - senjata ini mereka terima 
secara turun - temurun. 


III. Depok Pada Zaman Islam

Pengaruh Islam di Depok diperkirakan ada sekitar tahun 1527 dan masuknya agama 
islam di Depok bersamaan dengan perlawanan Banten terhadap VOC yang pada waktu 
itu berkedudukan di Batavia. Hubungan Banten dan Cirebon setelah Jayakarta 
direbut VOC harus melalui jalan darat, sebagai jalan pintas yang terdekat yaitu 
melalui Depok . Karena itu tidaklah mengherankan kalau di Depok dan Sawangan 
banyak peninggalan - peninggalan tentara Banten. Hal ini terbukti dengan adanya 
peninggalan - peninggalan berupa :


1. Antara Perumnas Depok I dan Depok Utara terdapat tempat yang disebut Kramat 
Beji, disekitar tempat tersebut terdapat 7 buah sumur yang berdimeter ± 1 meter 
dan dibawah pohon beringin terdapat sebuah bangunan kecil yang selalu terkunci, 
didalam bangunan terdapat banyak sekali senjata kuno yaitu keris, tombak dan 
golok. Dari peninggalan tersebut dapatlah disimpulkan bahwa orang - orang yang 
tinggal di daerah tersebut bukanlah petani tetapi tentara pada jamannya. 
Menurut keterangan Kuncen Kramat Beji yang disampaikan secara turun - temurun 
bahwa di tempat ini sering diadakan pertemuan antara Banten dan Cirebon, jadi 
senjata tersebut merupakan peninggalan tentara Banten waktu melawan VOC dan 
ditempat semacam ini biasanya diadakan latihan bela diri dan pendidikan agama 
yuang sering disebut padepokan, jadi nama Depok kemungkinan besar dari 
Padepokan Beji.


2. Di Kawung Pandak (Karadenan) terdapat masjid kuno, Masjid ini merupakan 
Masjid pertama di Bogor. Bentuk Masjid ini masih sesuai dengan bentuk aslinya 
walaupun telah beberapa kali direnovasi. Menurut keterangan pengurus masjid ini 
dibangun oleh Raden Safe'i cucu Pangeran Sangiang, Pangeran Sangiang ini dalam 
sejarah bergelar Prabu Surawisesa. Ia pernah menjadi Raja Mandala di 
Muararebes. Di rumah - rumah penduduk disekitar Masjid ini masih terdapat 
senjata - senjata peninggalan zaman Padjajaran, juga terdapat beberapa buah 
kujang. Jadi Masjid dibangun oleh tentara Padjajaran yang masuk Islam kurang 
lebih sekitar tahun 1550. Lokasi Masjid ini dengan Bojonggede hanya terhalang 
oleh sungai Ciliwung. Jadi pengaruh Islam masuk di Bojonggede sudah cukup lama. 


3. Di Bojonggede terdapat makan Ratu Anti, nama sebenarnya Ratu Maemunah 
seorang prajurit Banten yang berjuang melawan tentara Padjajaran di Kedungjiwa. 
Setelah perang selesai suaminya (Raden Pakpak) menyebarkan agama Islam di 
Priangan sedangkan Ratu Anti sendiri menetap di Bojonggede sampai meninggal. 
Ratu Anti salah seorang yang menyebarkan agama Islam di Bojonggede.



Diposting oleh Indra Gunawan di 18:06    

Label: Bojonggede, Sejarah 



http://bojongcity.blogspot.com/2007/11/history-of-bojonggede.html

Kirim email ke