Pemeo umum "Pembeli itu Raja". Tapi coba kalau sebagai pembeli kita bersama 
dengan pembeli lain yang (maaf !) Chinese terus penjualnya adalah Chinese juga, 
maka kita bukan "raja" yang sejajar dengan pembeli yang lain itu, tapi raja 
kelas sekian.

Nah, ternyata tidak selamanya pembeli itu raja seperti tulisan yang di bawah 
ini.

Refreshing dan warning buat siapa saja : yang kaya lantaran warisan, yang sok 
otoriter (padahal sudah bukan siapa-siapa lagi), yang emoh melayani, dan 
terutama yang "setengah kaya dan setengah miskin" dsb. dsb. .....  
he..he..he.....


Salam / Jaerony.-
++ siap-siap diwarning cekal pak amin lagi .... he..he..he... kaya gaya orba ya 
?   :)  +++++

*********************************



PENJUAL ITU RAJA
Oleh Samuel Mulia

http://cetak. kompas.com/ read/xml/ 2009/12/06/ 03142373/ penjual.itu. raja

Ini adalah pengalaman bertahun lamanya mengalami perlakuan kalau pembeli itu 
bukan raja. Menjadi orang setengah miskin dan setengah kaya seperti saya ini 
mumet.

Beberapa tahun lalu, saya diajak ke salah satu private club di Hongkong oleh 
teman saya yang kaya raya. Salah, saya salah menulis. Teman saya ini tak punya 
apa-apa, orangtuanya yang punya segalanya. Jadi, dia hanya anaknya orang kaya, 
bukan orang kaya. Maka, benarlah kata Coco Chanel. "There are people who have 
money and people who are rich."

Maka, saya sering bingung kalau melihat anak orang kaya yang sombongnya 
setengah mati. Lha wong ndak punya apa-apa kok sombong. Mungkin saya iri, 
tetapi otak saya mulai berpikir, kalau baru jadi anak saja sudah jemawa seperti 
itu, bagaimana kalau dapat warisannya? Nurani saya berteriak, "Kamu bukannya 
mungkin iri. Kamu pasti iri. Saya kan tahu kamu."

Jemawa I

Untuk menjadi salah satu anggota kelab itu, seseorang membutuhkan dana besar. 
Katanya tak hanya dananya yang perlu, tetapi networking-nya juga menjadi 
perhitungan menjadi salah satu prajurit kelab itu. Atau kalau bukan anggota, 
seseorang harus menjadi sosok superkondang dulu, bukan kondang saja. Jadi, 
sebagai manusia miskin enggak, kaya enggak, saya tak mampu menggoyahkan pemilik 
kelab itu untuk menjadikan saya sebagai salah satu prajuritnya.

Dari saat itulah, saya sakit hati mengapa saya diperlakukan demikian. Saya 
dibedakan. Istilah private club saja sudah membedakan. Saya bertanya sama Gusti 
Allah, kok bapak saya enggak superkaya. Apalagi saya diajari kalimat jitu nan 
legendaris: pembeli itu raja. Jadi, mau miskin, kaya yaaa… dilayani bak raja. 
Kalimat itu kan tidak berbunyi raja itu pembeli. Kalau demikian, ya... memang 
pantas saya diperlakukan demikian. Karena saya bukan raja, anak raja juga 
tidak, alias saya bukan orang kaya atau datang dari langit ketujuh.

Pengalaman dilecehkan sebagai manusia berstatus sosial setengah-setengah sangat 
terasa saat saya masuk ke dunia mode yang gemerlap dan arogannya setengah mati 
dan yang setelah saya masuki isinya yaaa… gitu deh. Cuma gitu deh saja 
arogannya setengah mati. Sejujurnya arogansi itu sangat terasa di level 
keroco-keroconya yang status sosialnya sebelas dua belas dengan saya, termasuk 
kuli tintanya.

Semua di tingkat rendahan. Lha wong cuma kuli kok arogan. Suara dari dalam 
berteriak. "Itu hebatnya duniamu. Kuli saja bisa arogan. Situ lagi ngomongin 
diri sendiri?" Di dunia jemawa inilah, saya mengerti kalimat pembeli itu raja 
nyaris tidak berlaku sama sekali.

Mengapa tiba-tiba saya mengingat kejadian masa lampau dan yang masih saya alami 
sampai sekarang bahwa saya pembeli, tetapi bukan diperlakukan bak raja? Pada 
suatu akhir pekan, saya berbicara dengan salah satu konglomerat muda di 
rumahnya yang luas nan asri dan indah. Kami mengobrol sampai nyaris pukul satu 
pagi. Tetapi, yang menempel di benak saya adalah kalimat yang keluar dari 
mulutnya. "Kami itu harus melayani customer. Penuhi keinginannya. "

Jemawa II

Saya gila barang bermerek sejak lama. Gila banget malah. Untuk memiliki barang 
bermerek, saya harus pergi ke toko. Oh... salah… ke butik. Toko bukan istilah 
dunia mode. Saya selalu sakit hati kalau masuk di butik kondang itu. Mereka 
sering melecehkan saya. Perhatikan bagaimana SPG menggunakan mata dan bahasa 
tubuhnya saat menit pertama Anda masuk ke butik mereka.

Mata mereka bak detektor yang akan memberi tanda saya ini setengah kaya, kaya, 
atau kaya beneur. Itu yang akan menentukan mereka mau melayani atau tidak. 
Kadang saya didiamkan saja. Mau itu di Jakarta atau Paris dan New York. Sami 
mawon. Apalagi kalau dapat SPG yang seperti saya, laki tidak perempuan pun 
bukan.

Saya selalu deg-degan karena tabiat mereka. Saya nekat karena keinginan akan 
barang bermerek itu mengalahkan rasa dilecehkan meski setelah keluar dan 
berhasil saya menggerutu karena disakiti demikian. Paling menyebalkan, saya 
sudah mengeluarkan uang kok ya masih dilecehkan. Kalau sudah begitu, nurani 
saya selalu menghibur. Hiburannya begini, "Makanya, jadi orang jangan belagu 
juga. Enggak enak kan dibelaguin orang. Nah… rasain aja sekarang."

Awalnya, saya tak tahu dunia yang satu ini adalah sumber pelecehan. Waktu saya 
mewawancarai sekian kali desainer dunia, yang pertama melecehkan adalah yaa… 
keroco-keroconya bernama resepsionis, asisten PR yaaa… kadang PR-nya sendiri, 
atau asisten desainernya. Yang saya sebut terakhir, weleh-weleh- weleh, kadang 
sudah seperti Tuhan.

Saya berpikir apa yaaa... corporate culture perusahaan fashion itu memang harus 
demikian sehingga orang-orang yang di dalamnya menjadi monster arogan. Saya 
sendiri sampai sekarang tak tahu. Mengapa susah sekali menjadi makhluk 
biasa-biasa saja di tengah kegemerlapan?

Mungkin manusia-manusia di bisnis mode itu mesti mematrikan kalimat Coco Chanel 
sebagai embahnya mode. "Some people think luxury is the opposite of poverty. It 
is not. It is the opposite of vulgarity."

Mungkin vulgarity itu salah satunya berwujud arogansi dan membuat perbedaan, 
bukan rok supermini atau atasan yang mempertontonkan aurat semata. Mungkin 
makhluk di bisnis mode malah tidak tahu lawannya kemewahan adalah kevulgaran.

Saya bukan siapa-siapa. Saya hanya jalan kaki dan tak punya mobil yang bisa 
menurunkan saya di depan pintu butik untuk membuktikan saya mampu membeli. 
Dunia mode senangnya menipu dan ditipu. Kalau turun dari mobil mewah, itu sama 
dengan kaya. Turun dari busway, itu sama dengan adik tirinya kaya. Pada waktu 
pelecehan itu terjadi—lewat bahasa tubuh dan mata SPG—saya berpikir, katanya 
pembeli itu raja, kok kayak gini? Jadi, di mana letak rajanya?

Masih ingat, saya pernah mengutip artikel yang ditempelkan teman saya di 
dinding ruang kerjanya, bunyinya: Stop thinking like a bank, start thinking 
like a customer? Kalau tidak yaa… enggak papa. Pikun itu sekarang sudah menjadi 
gaya hidup. Bahkan, sudah sejak lama, terutama pikun buat bayar utang.

Nah, pengalaman saya di dunia mode membuat saya berpikir mereka tak melirik 
frase semacam itu. Mereka yang raja. Nurani saya berteriak. "Booo... Goblok itu 
mbok jangan dipelihara. Kalimat itu buat bank, layanan umum. Kamu dari dunia 
yang kelihatannya umum, tetapi enggak mau melayani umum, yang milih-milih. .. 
Yaaa... enggak nyambung.... "

Samuel Mulia Penulis Mode dan Gaya Hidup


sumber : milis FPK

Kirim email ke