Apakah ini akibat dari Video Ngeres Artis? Nggak lah ya ....
Cuma kalau dulu nggak terlalu terbuka, pada saat kursi gerbong masih sama kayak 
KA luar kota.

Sekali waktu (sudah lama) pemandangan ini pernah saya temui saat saya sama 
isteri dan anak, dan memang agak risi ngeliatnya.

Wass / Jaerony.-

**********************************************************************************


Ini Gerbong Kereta Api bukan Kamar Tidur
OPINI Achsin El-qudsy| 13 Juli 2010 | 22:00

Bagi sebagian kalangan, kereta api banyak menyimpan cerita baik kelas ekonomi, 
AC ekonomi, bisnis maupun eksekutif. Kereta Api Jabodetabek hanya melayani 
kereta api kelas ekonomi non AC dan AC.

Harga yang dikeluarkan bagi penumpang terpaut cukup jauh. Kelas ekonomi non AC 
Rp 2000,00 sedangkan AC Rp 5500,00.

Bagi penumpang di masing-masing kelas mempunyai karakter tersendiri. Betul 
peribahasa jawa: ana rega ana rupa (ada harga, ada penampilan). Sudah menjadi 
pemandangan menarik ketika naik kereta yang bertarif Rp 5500. Para penumpang 
kebanyakan wajahnya lebih cerah, wangi maupun berdandan rapi.

Tentunya berbeda dengan kelas ekonomi non AC yang hanya bertarif 2000. Walaupun 
ada sebagian dari kalangan kelas berada yang suka menikmati kereta jenis ini, 
karena ingin merasakan kondisi nyata rakyat.

Kebetulan kereta api yang saya tumpangi minggu pagi (11/07) tidak begitu penuh 
dan saya mendapatkan tempat duduk. Nampak di depan saya, dua manusia yang 
kelihatan pasangan suami istri nampak mesra.

Kelihatannya mereka pasangan yang baru menikah. Mungkin saja, mereka akan 
jalan-jalan ke taman safari atau kebun raya Bogor.

Nampak di depannya, penumpang memperhatikan mereka, tapi pasangan ini cuek 
sekali. Tangan di antara mereka "bergerilya", beberapa penumpang ada yang 
berpura-pura menelepon tapi mengabadikan tingkah mereka. Melihat tingkah laku 
mereka, beberapa orang tua yang membawa anak kecil terpaksa berpindah ke 
gerbong lain.

"Apakah tidak tempat lain sih," begitu suara di antara para penumpang.

Aksi mereka kelihatannya jadi tontonan gratis. Seperti kebiasaan kalau naik 
kereta, saya selalu jalan ke gerbong lain.

Saat memasuki gerbong yang satunya, terlihat wajah dua ABG (Anak Baru Gede) 
yang berlainan jenis nampak kelelahan. Mereka berdua tidur berdampingan.

Saya pun tidak mau berfikir maupun berspekulasi apa yang telah mereka lakukan 
pada acara malam mingguan. Suara dengkur mereka pun mengganggu penumpang 
sebelah. Dan ini menyebabkan tempat duduk sebelah maupun depannya kosong. 
Walaupun begitu ada juga yang mengabadikan gambar mereka.

Ternyata pasangan ABG tidak hanya satu, di salah satu pojok gerbong kereta api 
terdapat pasangan lain. Mereka pun nampak tidur dan penumpang lain tidak 
menggubris tingkah mereka.

Saya pun berjalan ke gerbong lainnya. Beberapa ABG dengan pasangannya berasyik 
ria mengambil gambar masing-masing pasangan. Saya pun tidak tahu, apa yang 
dilakukan ABG jaman sekarang.

Saya mencoba duduk di antara mereka, tapi mereka tidak ada rasa risih atau 
sungkan dengan kedatangan saya. Dalam hati yang berfikir, "apakah sekarang ini 
rasa malu sudah hilang?"

Yang tidak habis pikir, adegan demi adegan yang diabadikan dalam kamera ponsel 
mereka tidak lebih seperti artis di dalam sinetron. Salah satu cewek memanggil 
pacarnya dengan papa, begitu juga sebaliknya si cewek memanggil cowoknya dengan 
papa.

Padahal saat itu ada petugas penarik karcis kereta, tapi adegan yang 
berlangsung di gerbong itu dibiarkan saja. Mungkin saja, petugas tersebut tidak 
salah, bukan urusannya untuk menegur para ABG maupun penumpang lain yang 
berbuat asusila.

Sekarang ini wilayah publik pun bisa menjadi tempat adegan privasi, tidak ada 
kamar tidur, gerbong kereta api pun jadi. Itulah realitas dalam kehidupan 
sekarang ini.
Salam Kompasiana…..

Sumber : 
http://sosbud.kompasiana.com/2010/07/13/ini-gerbong-kereta-api-bukan-kamar-tidur/-12

Kirim email ke