Tadi pagi di Stasiun Pondok Cina, tukang koran pada rame,
katanya ada another version of video lucuti versi Cicangkal
(The-Jek Ngesbray), dan dari beberapa situs di internet juga
sudah mulai ramai sepertinya. Efek Domino?
-- A. Yahya Sjarifuddin.
On 7/14/10 11:32 AM, jaerony wrote:
> Apakah ini akibat dari Video Ngeres Artis? Nggak lah ya ....
> Cuma kalau dulu nggak terlalu terbuka, pada saat kursi gerbong masih
> sama kayak KA luar kota.
>
> Sekali waktu (sudah lama) pemandangan ini pernah saya temui saat saya
> sama isteri dan anak, dan memang agak risi ngeliatnya.
>
> Wass / Jaerony.-
>
> **********************************************************************************
>
>
> Ini Gerbong Kereta Api bukan Kamar Tidur
> OPINI Achsin El-qudsy| 13 Juli 2010 | 22:00
>
> Bagi sebagian kalangan, kereta api banyak menyimpan cerita baik kelas
> ekonomi, AC ekonomi, bisnis maupun eksekutif. Kereta Api Jabodetabek
> hanya melayani kereta api kelas ekonomi non AC dan AC.
>
> Harga yang dikeluarkan bagi penumpang terpaut cukup jauh. Kelas
> ekonomi non AC Rp 2000,00 sedangkan AC Rp 5500,00.
>
> Bagi penumpang di masing-masing kelas mempunyai karakter tersendiri.
> Betul peribahasa jawa: ana rega ana rupa (ada harga, ada penampilan).
> Sudah menjadi pemandangan menarik ketika naik kereta yang bertarif Rp
> 5500. Para penumpang kebanyakan wajahnya lebih cerah, wangi maupun
> berdandan rapi.
>
> Tentunya berbeda dengan kelas ekonomi non AC yang hanya bertarif 2000.
> Walaupun ada sebagian dari kalangan kelas berada yang suka menikmati
> kereta jenis ini, karena ingin merasakan kondisi nyata rakyat.
>
> Kebetulan kereta api yang saya tumpangi minggu pagi (11/07) tidak
> begitu penuh dan saya mendapatkan tempat duduk. Nampak di depan saya,
> dua manusia yang kelihatan pasangan suami istri nampak mesra.
>
> Kelihatannya mereka pasangan yang baru menikah. Mungkin saja, mereka
> akan jalan-jalan ke taman safari atau kebun raya Bogor.
>
> Nampak di depannya, penumpang memperhatikan mereka, tapi pasangan ini
> cuek sekali. Tangan di antara mereka "bergerilya", beberapa penumpang
> ada yang berpura-pura menelepon tapi mengabadikan tingkah mereka.
> Melihat tingkah laku mereka, beberapa orang tua yang membawa anak
> kecil terpaksa berpindah ke gerbong lain.
>
> "Apakah tidak tempat lain sih," begitu suara di antara para penumpang.
>
> Aksi mereka kelihatannya jadi tontonan gratis. Seperti kebiasaan kalau
> naik kereta, saya selalu jalan ke gerbong lain.
>
> Saat memasuki gerbong yang satunya, terlihat wajah dua ABG (Anak Baru
> Gede) yang berlainan jenis nampak kelelahan. Mereka berdua tidur
> berdampingan.
>
> Saya pun tidak mau berfikir maupun berspekulasi apa yang telah mereka
> lakukan pada acara malam mingguan. Suara dengkur mereka pun mengganggu
> penumpang sebelah. Dan ini menyebabkan tempat duduk sebelah maupun
> depannya kosong. Walaupun begitu ada juga yang mengabadikan gambar mereka.
>
> Ternyata pasangan ABG tidak hanya satu, di salah satu pojok gerbong
> kereta api terdapat pasangan lain. Mereka pun nampak tidur dan
> penumpang lain tidak menggubris tingkah mereka.
>
> Saya pun berjalan ke gerbong lainnya. Beberapa ABG dengan pasangannya
> berasyik ria mengambil gambar masing-masing pasangan. Saya pun tidak
> tahu, apa yang dilakukan ABG jaman sekarang.
>
> Saya mencoba duduk di antara mereka, tapi mereka tidak ada rasa risih
> atau sungkan dengan kedatangan saya. Dalam hati yang berfikir, "apakah
> sekarang ini rasa malu sudah hilang?"
>
> Yang tidak habis pikir, adegan demi adegan yang diabadikan dalam
> kamera ponsel mereka tidak lebih seperti artis di dalam sinetron.
> Salah satu cewek memanggil pacarnya dengan papa, begitu juga
> sebaliknya si cewek memanggil cowoknya dengan papa.
>
> Padahal saat itu ada petugas penarik karcis kereta, tapi adegan yang
> berlangsung di gerbong itu dibiarkan saja. Mungkin saja, petugas
> tersebut tidak salah, bukan urusannya untuk menegur para ABG maupun
> penumpang lain yang berbuat asusila.
>
> Sekarang ini wilayah publik pun bisa menjadi tempat adegan privasi,
> tidak ada kamar tidur, gerbong kereta api pun jadi. Itulah realitas
> dalam kehidupan sekarang ini.
> Salam Kompasiana…..
>
> Sumber :
> http://sosbud.kompasiana.com/2010/07/13/ini-gerbong-kereta-api-bukan-kamar-tidur/-12
>