Media Indonesia
      Jum'at, 07 Mei 2004

      OPINI

      Islam Progresif: Manifesto Keadilan, Pembebasan, dan Kesetaraan

      Zakiyuddin Baidhawy, Peneliti, Al-Maun Center for Islamic Transformation
     
      WACANA dan gerakan "Islam Progresif" bukanlah barang baru. Ibarat pepatah, the 
old wine in the new bottle. Islam berkemajuan (dadio wong Islam sing kemajuan), 
meminjam istilah dan nasihat pendiri Muhammadiyah KHA. Dahlan, merupakan kontinuitas 
(continuity) sejarah dengan perubahan (change) atau modifikasi sesuai dengan 
pergeseran ruang dan waktu. Kini gelombang gagasan dan para penganjurnya semakin besar 
dan menguat. Ini lebih disebabkan oleh arus ketidakadilan, kekerasan, dan tirani pada 
skala global maupun internal umat muslim sendiri.

      Islam progresif secara terbuka dan terukur berupaya menentang, melawan, dan 
meruntuhkan struktur tirani dan ketidakadilan dalam masyarakat. Ia juga mengekspos 
borok-borok kekerasan atas kemanusiaan dan kebebasan berpendapat, pers, agama, dan hak 
untuk berbeda di negara-negara muslim seperti Arab Saudi, Turki, Sudan, Iran, 
Pakistan, Mesir, dan lain-lain.

      Islam progresif mencakup pemahaman dan implementasi visi Islam yang berbeda dari 
mainstream kelompok-kelompok puritanisme seperti Wahhabi dan neo-Wahhabi. Pada saat 
yang sama, Islam progresif merupakan kritik atas hegemoni politik, ekonomi, dan 
struktur intelektual Barat yang mengedepankan distribusi sumber daya dunia secara 
tidak adil. Hegemoni ini meliputi kekuatan-kekuatan besar seperti korporasi 
multinasional yang menindas dan merusak lingkungan, yang memiliki 
kepentingan-kepentingan yang selaras dengan pemerintahan neoliberal, neoimperial, dan 
unilateral. Mereka memaksakan kebijakan-kebijakan melalui kekuatan militer, dan 
menekan penduduk miskin dunia. Semua ini membuat gerah sebagian muslim progresif yang 
menempatkan HAM, dan harkat kemanusiaan sebagai jantung pemikiran dan aksi.

      Pada intinya, pandangan-pandangan Islam progresif itu sederhana, namun radikal. 
Setiap kehidupan manusia, lelaki dan perempuan, muslim dan nonmuslim, kaya atau 
miskin, "selatan" atau "utara", secara intrinsik sama nilai dan martabatnya. Nilai 
utama kehidupan adalah anugerah Tuhan. Muslim progresif setia pada ide bahwa nilai 
manusia diukur oleh karakter personalnya, bukan minyak bumi atau bendera. Agendanya 
berkenaan dengan percabangan premis besar, bahwa semua umat manusia memiliki hakikat 
yang sama bermartabatnya, sebagaimana Alquran mengingatkan bahwa setiap manusia 
memiliki ruh Tuhan yang ditiupkan ke dalam jasadnya (QS. Al-Hijr 15:29).

      Untuk mewujudkan agenda besar ini, Islam progresif membutuhkan muslim yang 
cerdas dan kritis terhadap arogansi modernitas. Ia menentang paham teleologis 
modernisme yang mendasarkan diri pada logika Hegelian, dan satu arah (unidirectional) 
menuju "puncak permainan" peradaban Barat modern. Pikiran-pikiran semacam ini dapat 
dijumpai secara tersurat dalam sesat pikir a la Francis Fukuyama (End of History and 
the Last ManClash of Civilization), Bernard Lewis, dan sebagainya.

      Di tengah situasi yang terus memburuk akibat pencitraan Barat tentang wajah 
Islam yang keras dan penuh teror, serta kebangkitan radikalisme yang semakin akut, 
hadirnya Islam progresif bisa menjadi napas baru dan angin segar dalam wacana dan 
gerakan Islam kontemporer. Cita-cita besar Islam progresif adalah menjadi kekuatan 
yang aktif dan dinamis menantang paham eksklusif dan keras. Ia membuka ruang bagi 
spektrum pemikiran dan praktik Islam untuk keadilan dan keragaman yang lebih luas. 
Untuk itu, ijtihad independen dan pikiran kritis berdasarkan disiplin ilmiah adalah 
keniscayaan guna membuka solusi atas problem-problem baru. Semua upaya ini perlu terus 
dilanjutkan, sehingga semakin membesar seperti bola salju.

      Tumbuh bersama wahyu progresif

      "Progresivitas" adalah satu prinsip Alquran yang tak terbantahkan. Terbukti 
bahwa wahyu "statis" yang terpenjara dalam "teks" terus dapat berdialog dengan konteks 
sejarah masa lampau, sekarang, dan proyeksinya ke depan. Sebagai teks baku dan atau 
dibakukan dalam bentuk mushaf, Alquran tentu tidak bisa bicara sendiri dengan 
realitas. Ia memerlukan manusia sebagai penafsir yang bervisi "progresif", sehingga 
menjadi wahyu progresif.

      Di sisi lain, wahyu progresif merekam seluruh spektrum perjuangan para nabi yang 
dihadapkan pada "pilihan memihak" antara yang berkuasa atau lemah. Mereka dengan tegas 
memihak kaum lemah. Nabi saw dalam sebuah doanya, berkomitmen untuk hidup, tumbuh, dan 
mati bersama yang papa. Demikian pula Yesus berjuang keras sebagai pembela kaum papa. 
Musa menjadi simbol autentik perlawanan terhadap arogansi kekuasaan Firaun. Pemihakan 
para nabi kepada kaum duafa dan tertindas, merupakan fakta sejarah terjadinya proses 
penafsiran Alquran secara progresif. Sebelum menjadi instrumen wahyu progresif, mereka 
berfungsi sebagai penafsir kalam dan terus berdialog dengan situasi, konteks, serta 
kebutuhan komunitas.

      Alquran secara lebih tegas mengakarkan pembebasan kaum marjinal dan tertindas 
dengan menunjuk teks mustadl'afin. Teks ini amat progresif, karena kelemahan yang 
melekat pada mereka, menurut tinjauan Alquran, bukan disebabkan oleh faktor-faktor 
alamiah atau kecelakaan. Namun, lebih karena faktor-faktor luar yang didesain, yang 
dalam istilah sosiologis disebut faktor-faktor "struktural", atau dalam terminologi 
politik, diakibatkan oleh sistem kekuasaan yang otoriter, represif, dan tiran.

      Penggunaan Alquran dengan merujuk teks mustadl'afin sebagai kelompok lemah, 
marginal, dan tertindas tersebut terlihat jelas pada teks, dalam harta si kaya, ada 
bagian intrinsik bagi kaum faqir dan miskin. Dengan demikian, Alquran mengafirmasikan 
model keadilan distributif agar kapital tidak hanya beredar di antara dan menjadi hak 
monopoli orang-orang kaya. Hal ini membuktikan progresivitas teks Alquran saat 
berdialog dengan konteks kini dan di sini dalam mana problem kemiskinan serta 
penindasan merajalela.

      Kesetaraan dalam keragaman

      Sebagai risalah profetik, Islam adalah seruan pada semua umat manusia menuju 
satu cita-cita bersama kesatuan kemanusiaan (unity of humankind) tanpa membedakan ras, 
warna kulit, etnik, kebudayaan dan agama. Karena umat manusia tak ubahnya waktu, 
keduanya maju tak tertahankan. Dan sama seperti tak ada jam tertentu yang mendapat 
kedudukan khusus, begitu pula tak ada satu pun orang, kelompok, atau bangsa mana pun 
yang dapat membanggakan diri sebagai diistimewakan Tuhan. Ini berarti bahwa dominasi 
ras dan diskriminasi atas nama apa pun merupakan kekuatan antitesis terhadap tauhid, 
dan karena itu harus dikecam sebagai kemusyrikan dan sekaligus kejahatan atas 
kemanusiaan.

      Pesan kesatuan ini disinyalir Alquran: "Hai manusia, sesungguhnya kami jadikan 
kalian dari jenis laki-laki dan perempuan, dan menjadikan kalian berkelompok-kelompok 
dan berbangsa-bangsa, agar kalian saling memahami dan saling menghargai. Sesungguhnya 
orang yang paling bermartabat di sisi Allah adalah mereka yang paling dapat memahami 
dan menghargai perbedaan di antara kamu" (al-Hujurat 49:13).

      Ayat ini setidaknya mengandung tiga prinsip utama. Pertama, prinsip plural as 
usual. Yakni, kepercayaan dan praktik kehidupan bersama yang menandaskan kemajemukan 
sebagai hal lumrah. Kepelbagaian cara berpikir dan cara bertindak umat manusia selalu 
dan selamanya terus eksis. Keberbedaan selalu saja hadir memberi nuansa dan spektrum 
kehidupan, dinamis dan dialektis.

      Kedua, prinsip equals as usual. Inilah kesadaran baru mengenai realitas dunia 
yang plural. Kesadaran ini menandai keragaman sebagai taken for granted dalam kerangka 
kerja teologi pluralis. Teologi ini menghargai sistem keimanan agama atau kebudayaan 
lain, menghargai absolutisme dengan mengetahui batas-batasnya, sehingga tetap memberi 
ruang bagi absolutisme agama lain.

      Ketiga, prinsip sahaja dalam keragaman (modesty in diversity). Bersikap dewasa 
dalam merespons keragaman. Moderat dalam kearifan berpikir dan bertindak. Jauh dari 
fanatisme yang sering melegitimasi penggunaan instrumen kekerasan untuk mencapai 
tujuan apapun. Dan mendialogkan berbagai pandangan keagamaan dan kultural tanpa 
diiringi tindak pemaksaan.
     


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor ---------------------~-->
Yahoo! Domains - Claim yours for only $14.70
http://us.click.yahoo.com/Z1wmxD/DREIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
---------------------------------------------------------------------~->

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
     http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
     [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
     http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke