DARI NOTES BELAJAR SEORANG AWAM: CERITA-CERITA KECIL UNTUK AGUK IRAWAN Mn [8].



KETIKA KELAK AKU MENJADI ISLAM 


Setelah menyelesaikan penulisan tesis di l'Ecole des Hautes Etudes En Sciences 
Sociales [L'EHESS], Paris, alm. Denys Lombard dan  W.F.Wertheim secara khusus 
menyampaikan harapan agar aku memberi perhatian khusus pada masalah Islam di 
Indonesia. Barangkali secara bercanda, guru dan sahabatku Denys Lombard malah berkata 
"bila perlu kau naik haji,Mil".

Pesan kedua pakar yang merasa diri mereka bagian tak terpisahkan dari Indonesia dan 
rakyatnya itu kembali mengiang di telingaku dengan nyaring ketika membaca perkembangan 
keadaan Indonesia sekarang. Pesan kedua pakar yang dalam hati kusebut tidak lain dari 
"orang Indonesia tanpa paspor Indonesia" seperti di atas tentu bukan pesan kebetulan 
dan tanpa analisa. Pesan ini pun kurasakan sekarang sebagai bagian dari kesimpulan 
kegiatan sepanjang jalan panjang berlika-liku sejak remaja Yogyaku sampai sampai 
sekarang. Apabila menoleh sejenak ke belakang,  mana pernah ada saat aku lepas dari 
pergaulan dengan anak negeri dan bangsa yang tidak beragama Islam? Ketika bekerja di 
Palangka Raya, Kalimantan Tengah [Kalteng] sampai tahun 2001, kantor Lembaga Swadaya 
Masyarakat yang kudirikan, bahkan tidak pernah sepi dari kehadiran anak-anak muda 
berjilbab. Mereka adalah anggota-anggota organisasi mahasiswa "PM Sebelas" [PMII, 
Persatuan Mahasiswa Islam Indonesia], di samping mereka yang berasal dari GMKI, PMKRI 
dan Kaharingan. Hanya saja, dalam kegiatan-kegiatan bersama, kami tidak pernah 
memikirkan masalah perbedaan agama. Kami memandang urusan agama adalah urusan 
masing-masing. Bersama-sama kami mencoba melakukan sesuatu untuk mencegah pertikaian 
antar etnik dan usaha kalangan elite kekuasaan yang mencoba mengobarkan konflik antar 
agama di Kalteng. Sebelum Tragedi Sampit tahun 2000 yang berdarah di mana etnik Dayak 
dan Madura sama-sama menjadi korban permainan politik, aku pun mencoba mendekati 
ustad-ustad dari berbagai pesantren yang ada di Kalteng dan mereka menyambutku dengan 
hangat. Sayang, kami kalah cepat oleh laju perkembangan keadaan, sehingga tidak cukup 
waktu mencegah Tragedi Sampit 2000 yang nampaknya sudah lama diancang-ancangkan. 
Beberapa penyokong kuat usaha pembangunan kerukunan antar etnik ini dari kalangan 
etnik Madura telah meninggal. Kapan pun aku ingin menundukkan kepala memberi hormat 
kepada mereka di tengah keadaan negeri yang nampak seakan-akan tidak memberikan 
peluang lapang bagi seorang pencinta negeri dan bangsa serta kemanusiaan yang jujur. 
Rasa hormat yang sekaligus menyerukan ke nuraniku untuk tidak mundur seinci pun dari 
mimpi bersama yang kami miliki. Seorang gugur, yang tersisa akan tampil menggantikan 
tempatnya dan mengangkat panji yang dipegangnya. Mimpi kami bukan mimpi agama, bukan 
mimpi etnik tapi mimpi anak manusia, putera-puteri bangsa dan negeri.

Dalam hubungan ini  aku teringat akan pertemuan dengan Marsilam Simanjuntak dan alm. 
Kartjono [tokoh GMNI] di apartemenku di Paris pada masa "jayanya" Soeharto dan Orde 
Barunya [Orba]. Kami ingin dengan maksimal menyatukan segala kekuatan anti Orba di 
atas dasar kesamaan yang ada. Mencari  dan menonjol-nonjolkan perbedaan selamanya 
lebih gampang dari mengangkat dan membela kesamaan. Kami sepakat agar masing-masing 
jangan meninggalkan "rumah lama" tapi tidak menjadikan "rumah lama" sebagai "pagar 
persatuan". Sebaliknya berusaha dengan maksimal mengajak para penghuni "rumah lama" 
dengan pandangan yang terang dan dada terbuka melangkah bersama demi tanahair dan 
bangsa serta kemanusiaan -- tiga hal yang tak terpisahkan. Kalau "rumah lama" ini 
dipandang sebagai sebuah  bundaran, maka pada saat bundaran itu membesar, garis-garis 
lingkarnya akan saling menyusup dan bersentuhan. Untuk membesarkan bundaran dan 
membuat garis-garis lingkar saling menyusup dan bersentuhan, barangkali apa yang 
disebut oleh Paulo Freire, pastur pemikir dan pendidik dari Brasilia, "proses 
penyadaran" merupakan jalan penting. Proses yang mendudukkan manusia pada tempat 
pertama menentukan. Dan manusia yang dimaksudkan adalah mayoritas penduduk suatu 
bangsa dan negeri, warga negara sebuah republik. Mayoritas adalah dasar atau fundamen 
dari bangunan piramida suatu masyarakat. Berbicara tentang pembangunan dan perobahan 
masyarakat yang fundamental, kukira kita sedang berbicara tentang fundamen suatu 
piramida masyarakat. Fundamen baru inilah kelak yang menentukan wajah klas menengah 
dan puncak piramida. Puncak piramida dan bagian tengahnya tidak berfungsi tanpa 
fundamen. 

Setelah percakapan ini dan menindaklanjutkannya, aku mendapatkan berbagai macam topi 
seperti "antek PSI", "main sendiri", "Chinese link",  bahkan yang lebih hebat lagi di 
kepalaku dilekatkan topi "agen Bakin". Paling akhir aku disebut "pengkhianat".

Mengenang kembali masa silam, terutama pada masa Gerakan Aksi Sepihak yang bermula di 
Kabupaten Klaten pada tahun 1963 sebelum menjalar ke Jawa Timur, melihat keadaan 
Indonesia hari ini sambil memandang hari-hari jauh  yang patut disongsong Indonesia, 
aku teringat pada pesantren-pesantren, yang merupakan pusat pendidikan penting di 
pedesaan luas tanahair, tersebar di berbagai pulau. Sebagai salah sebuah pusat 
pendidikan di daerah pedesaan pesantren turut berperan membentuk wajah mental dan pola 
pikir anak didik mereka. Kalau wajah jiwa, pikir dan mental anak didik merupakan 
tabula rasa , atau kertas putih, maka pesantren turut melukis corak lukisan jiwa, 
pikir dan mental di atas kertas putih itu. Barangkali di sinilah arti penting 
kurikulum dan lebih-lebih lagi pola pikir dan mental para pengasuh karena merekalah 
otak dari pesantren sesungguhnya. Pertanyaan pokok yang ingin kuajukan kepada 
pesantren-pesantren ini tidak lain dari bagaimana mereka memandang hubungan agama dan 
negara, bagaimana mereka memaknakan Indonesia dan keindonesiaan, Indonesia [dalam 
artian luas: politik, ekonomi, sosial dan budaya] yang bagaimana yang mereka impikan? 
Apakah pesantren akan dijadikan salah satu sarana mengislamkan negeri dan bangsa? 
Apakah Islam itu? Pertanyaan-pertanyaan ini pun sekaligus merupakan pertanyaan kepada 
lembaga-lembaga pendidikan dari Katolik, Protestan dan swasta lainnya. Aku tidak 
mempunyai cukup pengetahuan dan kemungkinan untuk berbicara soal ini karena mereka 
merupakan wewenang dan urusan dalam pesantren-pesantren, lembaga-lembaga pendidikan 
Katolik, Protestan dan lain-lain... Tapi padaku ada keyakinan bahwa jawaban 
pertanyaan-pertanyaan di atas akan berpengaruh langsung pada wajah bahkan nasib 
Indonesia sebagai bangsa dan negeri. Yang pasti juga bahwa  aku tidak meyakini 
keberhasilan monolitisme. Monolitisme bertentangan dengan kehidupan.Bertentangan 
dengan Indonesia. Setelah berusaha belajar dari sejarah, percakapan Paris kami 
dahulupun intinya tidak lain dari membela dan menganjurkan kemajemukan -- sebagai 
salah satu ciri dasar kehidupan bermasyarakat. Mana ada masyarakat monolit di dunia 
ini? Sehingga pertanyaan yang dihadapkan kepada para anggota masyarakat adalah 
bagaimana mengelola kemajemukan dan menjadikannya sebagai sumber kekayaan serta 
kekuatan.

Berita tentang diselenggarakannya lomba menulis puisi, cerpen dan pementasan teater 
tradisional di kalangan anggota-anggota NU [cabang Kairo ?] kuterima sebagai berita 
gembira dan membesarkan hati. Kegiatan begini akan membangkitkan perhatian pada 
kegiatan berkesenian, mendorong kehidupan berkesenian, menggali potensi berkesenian di 
kalangan anggota-anggota dan simpatisan NU, tapi barangkali lebih penting dari itu, 
kukira menumbuhkan keberanian mengungkapkan rupa-rupa pikiran dan perasaan di kalangan 
para anggota. Memupuk dan cara mengelola kemajemukan serta menjadikan kemajemukan itu 
sebagai kekayaan. Mengapa lomba begini bertautan dengan kemajemukan? Mengapa tidak? 
Mana mungkin sekian karya yang diciptakan akan menjadi senafas dan senada? Dari sekian 
kepala, akan lahir sekian cara pengungkapan, akan muncul sekian pula ragam isinya. 
Langsung atau tidak langsung lomba akan mendorong keberanian berpikir di kalangan para 
pesertanya. Keberanian dan kebebasan berpikir merupakan ciri tak terpisahkan dalam 
kegiatan berkesenian. Sulit dibayangkan kegiatan berkesenian jika dipisahkan dari 
keberanian dan kebebasan berpikir serta keleluasaan mengungkapkan diri. Dari 
penyelenggaraan lomba berkarya ini aku melihat sebagai usaha sadar NU 
mengembangtumbuhkan keberanian, kebebasan berpikir dan mengungkapkan diri di kalangan 
barisan NU, sekaligus sebagai bentuk atau cara mengelola keragaman serta menjadikannya 
keragaman di kalangan NU sebagai suatu kekuatan. Tentang keberanian dan kebebasan 
berpikir, seberapa jauh hal ini berkembang di negeri kita? Apakah kita memerlukan 
keberanian dan kebebasan berpikir ini? MG. Romli pernah memberiku kutipan Descartes 
bahwa "aku berpikir karena itu aku ada". Artinya kemampuan berpikir disetarakan dengan 
ada tidaknya kita sebagai anak manusia. Burung beo lebih banyak meniru daripada 
berpikir. Mudah-mudahan negeri kita bukan belantara penuh beo!

Kalau bacaanku atas situasi NU benar, maka dalam organisasi massa Islam terbesar di 
Indonesia ini memang beragam. Di kalangan mereka terjadi pergulatan pikiran  secara 
terbuka dan bukan pergulatan faksi saling sikut. Keadaan NU mengingatkan aku pada 
keadaan Partai Sosialis Perancis [PSP] yang terdiri dari macam-macam aliran, 
aliran-aliran  yang pada suatu ketika disebut "tujuh gajah" [les sept elephants]. 
Adanya "tujuh gajah" dalam tubuh PSP ini bahkan pernah membuat Kongres Rennes berakhir 
tanpa berhasil menelorkan sebaris resolusi keputusan apapun. Tapi kegagalan mengelola 
keragaman ini membuat PSP tambah pintar, tambah dewasa dan kuat. Benturan pendapat 
adalan benturan dalam usaha mencari jalan memberikan yang terbaik bagi masyarakat 
Perancis. Sekarang PSP dan partai-partai kiri lainnya menguasai 99,9% propinsi. Karena 
itu keberanian NU membeberkan keragaman pikiran di kalangan mereka, kulihat sebagai 
suatu kebesaran NU. Kuikuti dengan penuh perhatian dan harapan. Sedikitpun aku tidak 
merasa khawatir. Perdebatan, kritik dan saling kritik di kalangan NU tidak lain ujud 
dari keterbukaan, kesadaran akan kemajemukan, dinamika intern yang menolak feodalisme 
lama dan baru serta munculnya kecenderungan untuk mengatakan tidak pada 
otoritarianisme dan fanatisme. Mengikuti dinamika ini, bukan khayali jika kemudian NU 
dan pesantren-pesantrennya melahirkan barisan anak-anak manusia dan bangsa tipe baru 
yang tanggap aspirasi dan zaman. Dengan barisan yang beranggotakan manusia-manusia 
demikian, sekalipun tanpa mencantumkan etiket diri sebagai "partai atau barisan 
pelopor", NU yang sudah mempunyai jaringan kelembagaan  bisa menjadi lokomotif 
persatuan dan kemajuan bangsa dan tanahair. Pada saat NU menjadi organisasi massa 
demikian, Islam akan merupakan petunjuk bahwa ia memperhatikan dan berangkat dari 
kenyataan, sejajar dengan kenyataan lain bernama Indonesia. Lomba sastra yang 
dilangsungkan oleh salah satu cabang NU sekarang kupahami kepentingannya dalam konteks 
demikian. Barangkali di masa dekat, kita pun akan membaca berita lomba sejenis yang 
diselenggarakan oleh pesantren-pesantren,mulai dari kabupaten kemudian propinsi lalu 
meningkat ke jajaran nasional. 

Mengenang kegiatan-kegiatan Gus Dur sejak sebelum menjadi Presiden R.I. di Perancis 
dan berbagai negeri, demikian juga yang dilakukan oleh Bung Gafar Rachman, dan 
tokoh-tokoh lain, kenanganku hanya bisa memelihara harapan di atas, sekalipun aku pun 
sadar seperti siapa pun selalu berkembang ke arah dua kemungkinan:ke kemajuan dan ke 
kemerosotan. Tapi yang dinamakan harapan tidak pernah sejalan dengan kemerosotan. 
Sejalan dengan harapan ini maka perkenalan dengan Mg. Romli, Aguk, Thomafi dan 
angkatannya -- tipe angkatan baru yang pernah disinggung oleh Gus Dur kepadaku ketika 
kami bertemu di Jakarta -- terasa seperti menunjang harapan seorang tua yang bongkok, 
sempoyongan dan ompong seperti aku sekarang tapi oran tua yang menolak putusasa 
berwarna hitam. Pada usia senja menjelang malam begini pun aku masih mempunyai mimpi 
melihat  di pedesaan luas pulau-pulau tanahair, lahirnya pesantren-pesantren Indonesia 
yang modern dalam artian tanggap aspirasi dan tanggap zaman yang melahirkan 
manusia-manusia Indonesia.Pada saat itu, Guk, kalau kau kembali bertanya apa agamaku 
maka aku tidak lagi menjawabmu dengan "kemanusiaan" tapi Islam. 


Paris, Agustus 2004.
-------------------
JJ.Kusni

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi.4t.com
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke