Dualisme antara Mamon dan “Kesalehan” adalah Dilema.
 
 Oleh : Jeni Sudarwati
 http://groups.yahoo.com/group/jenisudarwati/join

 Antologi dengan ujaran pesimistis :

“ Mengapa aku bersusah payah bekerja? Aku dihidupkan dalam keadaan tak memiliki 
apa-apa: sekali lagi aku akan menjadi seperti ketika aku dilahirkan. Tiada dan 
ketiadaan menjadi nasib seluruh makhluk fana. “-“ Demi kematian kita semua 
dipelihara dan digemukkan seperti sekumpulan babi yang pada akhirnya dibantai.”

-------------------------------------------

 

Mamon sebagai nama lain dari kata harta selalu dianggap berlawanan, dualisme 
antara Mamon dan Keimanan terkesan selalu bertentangan sebagai dua pilihan yang 
hanya bisa di dapat salah satu. Sehingga orang-orang yang telah membulatkan 
tekad untuk memilih Tuhan sebagai jalan hidup dengan tidak mengindahkan hal-hal 
duniawi berikut perkembangannya justru mundur terus kebelakang alih-alih 
menjadi orang alim yang rendah hati dan pasif.

 “Kesalehan” semacam itu justru menjebak individunya dalam sikap priyayi yang 
berlebihan   dan menganggap hal yang berbau duniawi termasuk teknologi sebagai 
suatu antipati.

 Priyayi-priyayi jaman sekarang bisa saya sebut sebagai feodal, sebagai contoh 
dapat ditemukan dalam banyak birokrasi semacam sekolah maupun universitas.

 Sikap semacam itu sebenarnya wujud dari ketakutan individu atau birokrasi itu 
sendiri terhadap pengaruh kekuatan dari luar yang sulit untuk diatasi secara 
wajar sehingga otomatis mereka membentuk benteng untuk perlindungan diri yang 
tidak dapat diganggu gugat oleh “pihak luar”.

 Kalau jamannya Umar Kayam maka para priyayi ini kebanyakan adalah golongan 
bawah (ditinjau dari pembedaan antara pribumi dan inlander) yang berusaha 
meniti naik ke “atas” dengan cara menjadi camat atau Lurah, maka ketika itu 
bisa tergambarkan sikap-sikap lucu para pribumi (maksud saya, orang Jawa) 
berupa kebanggaan tiada tara ketika salah satu anggota keluarga berhasil masuk 
dalam tataran priyayi walaupun masih kelas bawang. Orang Jawa suka 
mempriyayikan diri, sikap non fisiknya antara lain : tepa-slira ( lebih banyak 
mempertimbangkan perasaan); mikul dhuwur, mendhem jero (menghormati); Urip sak 
madya ( kebanyakan tidak ambisius, hidup seadanya, secukupnya).

 Kembali ke masalah dilema. Segala yang mendua (baca dualisme)  itu memang 
sulit dan kompleks, kalau kita memilih berpihak pada yang satu maka kita akan 
meninggalkan yang lain. Ketika kita mengasihi yang satu maka kita akan membenci 
yang lain. Anggapan seperti ini bisa diletakkan ketika kita berbisnis, maka 
embel-embel keimanan kita tanggalkan untuk sementara waktu lalu selesai 
berbisnis kita beriman lagi.

Misal untuk yang beragama islam tetap sholat lima waktu, yang Kristen tetap ke 
Gereja satu kali seminggu, tapi ketika kembali ke bisnis maka kita seperti 
monster bermuka dua yang tetap menerapkan aturan bisnis, menindas lebih dulu 
daripada tertindas kemudian.

Dualisme kepribadian semacam inilah yang membingungkan sehingga mau tidak mau 
muncul hukum ‘survival of the fittest’.

Memang tidak semua manusia itu cuma cari untung saja, kebetulan saya mengenal 
beberapa orang yang aktif menulis lagu lalu menyanyikannya dari kampus ke 
kampus atau acara teatrikal tanpa bayaran. Lagunya mayoritas pembelaan pada 
yang proletar tapi kalau dipandang dari dunia luar (dilihat sebagai orang 
kebanyakan, bukan sebagai seniman) maka mereka adalah orang-orang yang kalah, 
menyanyikan protes ketertindasan karena mereka sendiri sebenarnya tertindas. 

Seandaianya mereka dalam posisi yang berbeda, akankah mereka tetap menjadi 
pribadi yang sama?

Jawabannya mungkin ‘tidak’  karena faktor luar itu amat besar pengaruhnya dalam 
mengubah pola pikir.

Kita tidak harus menolak dunia yang berkaitan dengan harta, kekuasaan dan 
kemuliaan hanya untuk menjadi priyayi “saleh” yang tertinggal hanya karena 
takut dicap kapitalis dan mata duitan.

Menjadi Kapitalis yang berkenan bagi Tuhan dan berkenan pada Dunia. Menurut 
saya, itu lebih baik karena “peran”  hidup belum lagi berakhir.

 

Kamis, 7 Juli 2005.


















__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 

[Non-text portions of this message have been removed]



***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke