Baru kali ini Indonesia memiliki Presiden yang dilecehkan oleh pihak
luar.
Tetapi saya masih ada kebanggaan saat Gus Dur menjadi Presiden.
Karena Gus Dur masih mempunyai wibawa tinggi.

-----Original Message-----
On Behalf Of Ambon
http://www.indomedia.com/bpost/032006/27/depan/utama1.htm


Presiden RI Dilecehkan



Jakarta, BPost
Sikap permusuhan benar-benar diperlihatkan Australia terhadap Indonesia.
Sebuah media setempat terang-terang menghina Presiden Susilo Bambang
Yudhoyono melalui sebuah karikatur. Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) pun
mendesak pemerintah mengusir Dubes Australia dari Indonesia.

Presiden Yudhoyono, Minggu (26/3) memanggil Dubes Indonesia untuk
Australia, Muhammad Hamzah Tayyeb ke Cikeas, kediaman pribadi presiden.
Hamzah sendiri sudah sejak Kamis (24/6) dipanggil pulang dari markasnya
di Canberra. Pemanggilan pulang itu sebagai protes keras pemerintah
Indonesia atas keputusan Australia memberikan visa sementara terhadap 42
warga Papua.

Namun, jurubicara Deplu, Desra Percaya dihubungi BPost, petang kemarin,
mengatakan penarikan Dubes M Hamzah Tayyeb yang baru sekitar empat bulan
bertugas hanya untuk meminta klarifikasi kejadian yang sebenarnya.
Hamzah, sebut Desra, tidak akan diganti. 

"Saya jamin aman. Tidak ada penggantian dubes," jelasnya. 

Menanggapi reaksi di Australia atas sikap Jakarta yang dianggap
berlebihan, jurubicara presiden bidang luar negeri, Dino Patty Djalal
mengatakan reaksi seperti itu merupakan hal biasa dalam hubungan
diplomatik. Bahkan, jubir deplu ini menanggapi dingin kartun Nicholson
yang jelas-jelas menghina Presiden Yudhoyono.

"Soal kartun Nicholson yang dianggap menghina Presiden Yudhoyono, itu
sah-sah saja di negara demokrasi seperti Australia," cetus Dino.

The Australian, sebuah harian berpengaruh di Canberra pada edisi Sabtu
(25/3) dan kantor berita ABC melansir sebuah kartun berjudul "SBY
menginginkan pencari suaka Papua dikembalikan ke Indonesia."

Kartun yang dibuat kartunis freelance senior Australia, Nicholson, itu
memuat gambar Yudhoyono meminta pengembalian 42 warganya, dengan
memegang senapan yang disembunyikan di belakang tangannya. Sementara di
depan Yudhoyono berdiri PM John Howard membaca kertas dengan tulisan
"Papuan Assylum Seekers" (pencari suaka Papua).

Secara pribadi, Dino menilai Indonesia tidak akan over react atas
masalah kartun tersebut. Kata dia, dalam masalah ini hati bisa panas,
namun kepala tetap dingin, mulut tetap terkendali, dan reksi harus
terukur. 

"Kan itu bukan kartun yang menghina dan melecehkan agama. Kartun itu
berbeda," cetus jubir presiden itu yang mengaku belum melihat kartun
yang diterbitkan akhir pekan itu.

Sikap tidak bersahabat terhadap Indonesia telah diperlihatkan banyak
kalangan di negeri kanguru tersebut. Bob Brown, anggota Kongres
Australia menghendaki kasus Papua dibawa ke Badan Perserikatan
Bangsa-Bangsa (PBB).

Brown telah mendesak PM John Howard segera mengumumkan bahwa di Papua
telah terjadi pelanggaran HAM. 

"Kita serukan kekebasan dan demokrasi dan ini waktunya Howard
berinisiatif mengambil permasalahan HAM di Papua," tegas senator dari
kubu oposisi itu.

Ketua Komisi I DPR, Theo L Sambuaga menegaskan, Indonesia perlu mengkaji
ulang hubungan Indonesia-Australia. Salah satu ketua DPP Golkar ini
menilai Australia telah menerapkan standar ganda atas hubungannya dengan
Indonesia.

Berbahaya 

Sikap keras dilontarkan anggota Komisi I DPR Permadi. Anggota FPDI
Perjuangan ini mendesak pemerintah mengusir duta besar Australia sebagai
balasan atas pemberian suaka kepada 42 warga Papua.

Menurut Permadi, pemberian visa itu merupakan tindakan kelewat batas
yang tidak cukup hanya diprotes melalui penarikan Dubes RI di Australia.
"Kalau pemerintah tidak mau mengusir, rakyat nanti yang mengusirnya,"
tandas Permadi yang akan menggalang demonstrasi ke Kedubes Australia di
Jakarta.

"Silakan siapa saja mau bergabung. Dia (dubes Australia) harus angkat
kaki dari Indonesia karena sudah memperlakukan kita seperti itu," tandas
politisi yang lebih dikenal sebagai paranormal itu.

Desakan pengusiran sebelumnya juga dikemukakan Wakil Ketua DPR Zaenal
Ma'arif. "Reaksi Indonesia tidak cukup memanggil dubes pulang. Saya
minta pemerintah mengusir dubes Australia dari Jakarta," tegasnya.

Sementara itu, Indonesian Crime Analyst Forum (ICAF) mencatat setidaknya
sejak 1999 hubungan Indonesia-Australia sudah mengalami masalah.

ICAF mencatat pada 1999, Australia mengeluarkan kebijakan terhadap Timor
Timur. Melalui Menlu Alexander Downer dalam siaran persnya menyatakan
Australia mendukung penentuan nasib terhadap rakyat Timtim. 

"Anehnya meski sudah menjelaskan hal tersebut, masih ada basa basi dari
diri Downer. Dimana Downer mengaku bahwa Australia tetap mengakui
kedaulatan Indonesia di Timtim," kata koordinator ICAF Mustofa B
Nahrawardaya.

ICAF juga mencatat, pada 2001 pemerintah Australia dengan sengaja
menolak sekitar 430 warga imigran Afghanistan yang baru saja
diselamatkan kapal Norwegia. Setelah menolak, mereka berkali-kali
membujuk dan menganjurkan Indonesia agar menyediakan lokasi penampungan
kepada para imigran itu, kata Mustofa.

Sedangkan pada 2003, Australia menolak suaka 14 manusia perahu warga
Kurdi, Turki. Sebagai negara penendatanganan Konvensi PBB tentang
pengungsi seharusnya Australia menerima ke 14 orang tersebut." Anehnya
Australia justru mengirim mereka ke Jakarta melalui Maluku," jelasnya.

Belajar dari beberapa fenomena tersebut, Australia dapat dicurigai
dengan adanya kasus permintaan suaka warga Papua. Karena jika dilihat
dari beberapa kasus sebelumnya, Australia dinilai sangat tidak
konsisten.

"Ketidakkonsistenannya kembali muncul ketika menerima visa 42 warga
Papua. Menlu Downer menyatakan mendukung kedaulatan Indonesia atas
Papua. Bukankah kata-kata itu yang diungkapkan sebelum Timtim merdeka,"
tegas Mustofa. 

Terpisah, Siswono Yudhohusodo menyatakan, ada tangan-tangan kotor yang
ikut memperkeruh dan bermain-main dalam konflik di Papua. Karenanya dia
meminta pemerintah ekstra hati-hati dalam bersikap.

"Di Australia ada tangan-tangan kotor bermain soal Papua. Bisa unsur
negara bisa bukan negara, bisa juga intelijen-intelijen mereka yang
bermain," kata Siswono, di sela Kongres Alumni GMNI di Hotel Sahid,
Jakarta, Minggu.

Mengatasi semua itu, sebut dia, pemerintah harus mengerahkan seluruh
kekuatan diplomasinya. Pemerintah juga harus serius memperhatikan
kesejahteraan serta pemenuhan kebutuhan masyarakat Papua.

"Kita perlu membangun ketertinggalan di Papua. Tumbuhkan rasa
nasionalisme rakyat Papua tentu dengan dibantu total diplomacy,"
imbuhnya. JBP/zil/kcm/ant/dtc



***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke