REFLEKSI: Bagaimana kalau masalah reexport ini ditangani oleh perusahaan milik 
Pak Wapres atau konco-konco petinggi negara dan partai politik?


REPUBLIKA
Selasa, 18 April 2006

Transhipment Butuh Tindakan Tegas 




Hari ini, Wakil Presiden Jusuf Kalla memulai kunjungan ke Cina. Turut dalam 
rombongan, antara lain, Menteri Perdagangan, Mari Elka Pangestu. Salah satu 
agenda pembicaraan dengan Pemerintah Cina adalah terkait dengan muramnya wajah 
industri pertekstilan Indonesia.

Tekstil dan produk tekstil (TPT), bukan hanya berwajah muram, tapi juga sempat 
dikategorikan sebagai sunset industry. Sejak krisis ekonomi menerjang, situasi 
makroekonomi memang cukup menyulitkan bagi industri TPT untuk bertahan. 
Melesatnya laju inflasi, memaksa suku bunga meroket, sekaligus menyulitkan 
pembiayaan industri.

Belum lagi memperhitungkan pula kondisi perindustrian TPT sendiri yang cukup 
menyulitkan. Mesin-mesin industri TPT sebagian besar sudah tua, sehingga 
membutuhkan konsumsi energi lebih, sementara tingkat produktivitasnya justru 
menurun. Daya saing pun jadi rendah, dan jelas sulit berkembang.

Kedua persoalan tersebut [permesinan yang tua dan penurunan suku bunga] jelas 
perlu segera diselesaikan. Tapi, tentunya itu tak akan jadi agenda pembicaraan 
di Cina. Seperti ditegaskan Mari, pembicaraan dengan Cina akan lebih banyak 
membahas transhipment TPT asal Cina yang dalam beberapa tahun terakhir cukup 
mengganggu produktivitas dan daya saing industri TPT nasional.

Transhipment dalam istilah populer dikenal dengan ekspor fiktif yang 
menggunakan Surat Keterangan Asal (SKA) Indonesia, dari produk asing dengan 
tujuan ekspor juga ke negara lain. Transhipment ini biasanya dimainkan industri 
tekstil negara-negara yang terkena pembatasan (kuota); dalam hal ini salah 
satunya Cina.

Pemerintah Amerika Serikat (AS) dan Uni Eropa (UE), sejak beberapa tahun lalu, 
membatasi masuknya produk TPT asal Cina. Lantaran itu, Cina kemudian 
mengalihkan ekspornya ke Indonesia, untuk kemudian di reekspor dengan bendera 
Indonesia. Indikasi adanya transhipment Cina dengan memanfaatkan SKA Indonesia 
terlihat, antara lain, dari angka statistik ekspor yang jauh lebih besar 
ketimbang jumlah produksi TPT Indonesia. Selain itu ada pula penerbitan SKA 
produk TPT tertentu, justru di daerah yang tidak menghasilkan produk tersebut. 
Ada pula produk berlabel Indonesia, padahal industri dalam negeri tak 
memproduksi.

Situasi ini jelas merugikan industri TPT Indonesia. Jika tidak segera 
ditangani, bukan tak mungkin ekspor TPT Indonesia ke negara lain bakal dibatasi 
pula. Jadi, wajar rasanya jika pemerintah, menurut Mari, bakal meminta 
voluntary restriction dari Pemerintah Cina untuk membatasi ekspornya ke 
Indonesia.

Hanya saja, lantaran sifatnya yang voluntary (sukarela), baik pemerintah maupun 
kalangan industri TPT Cina, belum tentu bersedia. Ini rasanya perlu pula 
diantisipasi. Pemerintah dan kalangan perindustrian sebaiknya mempertimbangkan 
pula solusi lain. Pengenaan bea masuk khusus bagi impor TPT asal Cina bisa 
menjadi alternatif. Lainnya, bisa melakukan semacam investigasi terkait 
penerbitan SKA. Jumlah instansi penerbit SKA memang sudah dikurangi dari 226 
instansi menjadi hanya 14 instansi saja. Tapi, pengurangan saja tidak cukup, 
perlu diikuti dengan pengawasan ketat.

Jika pembicaraan tak menghasilkan apa-apa, pemerintah perlu bertindak tegas 
menerapkan alternatif-alternatif tadi, termasuk misalnya membawa persoalan ini 
ke mekanisme safeguard di Organisasi Perdagangan Dunia (WTO). Industri TPT 
selama ini tercatat sebagai salah satu penghasil devisa terbesar ekspor 
nonmigas, dan menyerap tenaga kerja yang besar pula. 

Transhipment, jika dibiarkan, tak hanya akan merusak (mengurangi) pasar ekspor 
TPT Indonesia yang sesungguhnya, tapi juga memungkinkan membengkaknya angka 
pengangguran. Pembicaraan dengan Cina soal transhipment dan voluntary 
restriction memang perlu. Tapi setelahnya, ketegasan sikap pemerintahlah --yang 
sayangnya jarang dirasakan kalangan industri dan publik-- akan menentukan 
sunset tidaknya industri pertekstilan negeri ini. 


[Non-text portions of this message have been removed]



***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke