Dari semua manusia pendatang dari TimTeng, manusia Iran adalah yang
paling intellektual. Disini, juga Jerman dan Swiss, TAK ada buruh
tak sekolah kemari. Kebanyakan mahasiswa dan sarjana. Dirumah saya
di Vienna, ada dua keluarga Iran, semua dokter. Dokter gigi saya
juga orang Iran. Mereka datang kemari ditahun 60an dimasa Reza
pahlevi. Dizaman Khomeinei membanjir intellegensia Iran lari ke
Barat.
Kebanyakan mereka mudah sekali ter-integrasi di Barat. Pertama, muka
mereka barat sekali, ya maklum, mereka bukan ras Arab, tapi juga
Europeid, jadi saudara dengan orang Eropa.
Wanita mereka, seperti mas katakan, cantik cantik, mirip muka wanita
Italia utara. Busana juga barat sekali, modern dan fashionable. rata
rata tak berjilbab.
Mantan assisten saya dibidang International Finance (kini sudah
menikah dan keluar), adalah wanita Iran. kalau kita ketemu tak
sangka dia bukan orang barat. Dia mengaku Islam (Shiite), tetapi
belum pernah sholat atau kemesjid seumur hidup. Makan semua.
Waktu saya study di Hamburg, akhir 60an, dari semua mahasiswi yang
tercantik dari Iran. Tinggi semampai, modern, selalu memakai busana
terbuka, bermata biru. Rambut tergerai lebat hitam dan panjang.
Ya, begitulah. Di Tanah Air, orang menyangka, setiap wanita Muslim
di LN dibungkus rapat seperti lemper, nggak tu
Salam
danardono
--- In [email protected], "Ari Condro" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> buat yg pengen tahu ttg perempuan Iran, silakan klik
>
> http://bundakirana.multiply.com/journal/item/5
> http://bundakirana.multiply.com/journal/item/13
> http://bundakirana.multiply.com/journal/item/51
>
>
> yg dibawah ini seri 3 dari topik, perempuan Iran, di
> http://bundakirana.multiply.com/journal/item/51
> ada foto fotonya juga tuh.
>
> Jangan kaget bila datang ke Teheran. Anda akan menjumpai perempuan
Iran yang
> cantik-cantik, putih, dengan body seksi, dan kerudung warna-warni
menghiasi
> kepala. Mungkin, ketika akan datang ke kota ini, Anda membayangkan
bahwa
> Anda hanya akan menjumpai perempuan dengan ekspresi keras dan kaku
> dalam *chadur
> *hitam (bukan cadar). Bila Anda perempuan berjilbab, lalu
berkenalan dengan
> salah seorang dari mereka, biasanya perkataan yang akan keluar
dari mulut
> nona-nona cantik itu, "Gimana rasanya tinggal di Iran? Susah ya,
harus pakai
> kerudung segala?"
>
> Ketika saya datang pertama kali ke Iran lima tahun yang lalu,
suasana
> 'hitam-hitam' masih mendominasi Teheran. Lima tahun lalu, saya
datang dan
> langsung ditempatkan di asrama Qazvin (sekitar 2 jam dari
Teheran), tempat
> para mahasiswa asing belajar bahasa Persia selama enam bulan. Anda
tahu, apa
> fasilitas pertama yang disodorkan kepada saya? *Chadur*! *Chadur
*adalah
> kain hitam yang lebar dan dipakai untuk menutupi seluruh tubuh,
kecuali
> wajah. Saya benar-benar stress waktu itu. Bukan apa-apa, rese,
man! Mau naik
> tangga, kain itu terinjak dan saya hampir jatuh; mau naik taksi,
kesrimpet;
> belum lagi, itu kain sedikit-sedikit melorot. Mau menangis rasanya.
> Ternyata, yang stress dengan *chadur *bukan hanya saya, tetapi
> mahasiswi-mahasiswi asing lainnya. Akhirnya, seorang mahasiswi
Kristen asal
> Kamerun memprakarsai sebuah petisi menolak *chadur*. Alasannya:
kalau
> mahasiswi Iran tidak wajib memakai *chadur*, mengapa kami yang
mahasiswi
> asing harus pakai? Dan... *chadur *pun menjadi *optional *bagi
kami.
>
> Lima tahun lalu, hampir tidak saya jumpai pakaian dan kerudung
warna-warni
> (apalagi baju ketat). Tapi, sepertinya, semakin hari,
pemberontakan terhadap
> jilbab semakin merebak di Iran. Apalagi, pemerintah era Khatami
juga cuek
> blas terhadap masalah jilbab. Kata teman saya, dulu, di zaman awal-
awal
> kemenangan Revolusi, ada pasukan khusus bernama Yaltsarat yang
tugasnya
> menertibkan pakaian para perempuan. Mereka akan beredar di jalanan
dan
> setiap kali ada perempuan rambutnya keleleran, mereka akan
menegur. Bila si
> perempuan melawan, dia akan langsung dibawa ke mobil patroli dan
dipaksa
> untuk membenahi kerudungnya.
>
> Karena semua perempuan apapun agamanya dan apapun
kewarganegaraannya selama
> berada di wilayah Iran harus menggunakan kerudung, maka pembeda
antara
> perempuan yang 'alim' dan yang 'biasa-biasa' aja adalah cara mereka
> berkerudung. Yang 'alim' akan berkerudung rapi dan bahkan ber-
*chadur. *Yang
> 'biasa-biasa saja' juga berkerudung biasa-biasa, dengan rambut
terlihat di
> sana-sini. Tentu saja, cara berkerudung ini tidak harus selalu
menjadi
> ukuran 'kealiman' karena saya juga pernah menjumpai perempuan-
perempuan ber-
> *chadur *yang kelakuannya bikin *neg*, dan sebaliknya saya punya
teman yang
> baik hati meskipun kerudungnya jambulan.
>
> Namun yang jelas, fenomena semakin diabaikannya cara berhijab yang
benar
> oleh sebagian perempuan Iran telah menyebabkan keresahan banyak
pihak.
> Kepala sekolah Jamiatul
Quran<http://bundakirana.multiply.com/journal/item/10>,
> sekolah Kirana, yang tinggal di Qom (Kirana sekolah di cabang JQ
Teheran),
> mengaku paling anti datang ke Teheran karena risih melihat
penampilan
> perempuan Teheran. Modarbuzurg
> <http://bundakirana.multiply.com/journal/item/37>Kirana juga
menolak
> mentah-mentah keinginan anak perempuannya untuk kuliah di Teheran
dengan
> alasan sama. Teman-teman saya yang ber-*chadur *pun kebanyakan
memberikan
> suara kepada Ahmadinejad
> <http://bundakirana.multiply.com/journal/item/50> dalam
> pemilu lalu dengan harapan situasi bisa kembali ke era pra-Khatami
yang
> lebih Islami.
>
> Apapun juga analisis di balik 'pemberontakan terhadap jilbab' di
Iran
> (terutama di kota Teheran), yang jelas, hal ini menjadi bukti bahwa
> mendirikan negara Islam sebagaimana diimpikan oleh sebagian
aktivis muslim
> Indonesia, tidaklah semudah teori. Jilbab hanya salah satu dari
sekian
> banyak aturan Islam yang tidak disepakati oleh sebagian orang
Islam sendiri.
> Belum lagi urusan-urusan lainnya.
>
>
>
>
> On 5/16/06, Alvin Daniel <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> >
> > pertanyaanya:
> > apakah executioner sok agamis ini masih berkeliaran di iran?
> > atau memang sengaja dibiarkan ada di jalanan sebagai bentuk
> > intervensi pemerintah kpd rakyatnya?
> > dan jika indonesia mau ngekor gaya anarkis pemaksaan islam
> > bak FPI dan teman2nya, bukankah tidak menutup kemungkinan
> > terjadi gelombang konflik skala makro di seluruh penjuru
> > negeri?
> > bukankah juga memicu exodus besar2an orang2 intelektual dan
> > budayawan nasionalis indonesia ke negara2 kafir?
> >
> > kalau begitu keadaannya, indonesia siap2 mundur terus2an ke
> > jaman batu...
> >
> > back to topic: wanita iran dilarang nonton bola...
> > dengan latar belakang politik yg ancur2an seperti itu, saya
> > sudah tidak kaget lg dan bertanya2...
> >
> > sudah ketemu jawabannya...
> >
> > hehehe...
> > makasih om arcon
> >
> >
> >
> >
> >
> > --- In [email protected], "Ari Condro" <masarcon@>
> > wrote:
> > >
> > > ada pertanyaan penting untuk masalah iran. di jaman pahlevi,
> > kan ada orang
> > > sosialis, ada liberalis ada islam syiah yg jadi musuhnya oom
> > pahlevi.
> > > pahlevi sendiri meski liberal (jaman pahlevi tahun 60an iran
> > adalah negara
> > > timteng paling liberal), sayang pahlevi ini dictator, model
> > model kayak
> > > polpot atau sapa tuh yg dari haiti, dan kayak pak harto tentu
> > saja ...
> > >
> > > makanya para pembangkang, sosialis, liberal dan agama,
> > sepakat ngejadiin
> > > khomeini, jadi icon perjuangan. tahun 80an, di tengah jalan,
> > khomeini
> > > menelikung semua teman politiknya yang berbeda aliran.
> > biasa gaya tionghua
> > > yang dipakai, thick face, black heart. dan anda lihat
akibatnya
> > sekarang
> > > ini.
> > >
> > > boleh juga dibaca baca kisah dibawah ini.
> > >
> >
> >
> >
> >
> >
> > >
> > >
> > > On 5/16/06, Alvin Daniel <alvindaniel_net@> wrote:
> > > >
> > > > ya mereka2 itu membuat aturan kan utk diri sendiri, dan yg
> > kena
> > > > apes-nya wanita.
> > > > ga pake kerudung, salah.
> > > > pake baju minim, salah.
> > > > ikut berpolitik, salah.
> > > > suka hiburan2, salah.
> > > > mau kerja, salah.
> > > > selingkuh, salah.
> > > >
> > > > padahal si pria2 yg membuat aturan dewek itu juga otaknya
> > > > ngeres, dan semuanya dilimpahkan ke wanita katanya gara2
> > > > wanita seronok, si pria bisa memperkosa...
> > > > aneh...bahkan si wanita bisa dihukum.
> > > >
> > > > kesetaraan gender dan hak asasi manusia sangat minim di
> > > > negeri yg katanya cikal bakal agama penuh damai dan
> > > > pembawa rahmat...
> > > > bahkan indonesia sudah mau niru2, segala sesuatu yg
> > > > berhubungan dgn 'lawan jenis' dimasukkan kategori
> > PORNO.
> > > >
> > > > kenapa yaaaaaaa???
> > > >
> > > >
> > > >
> > > > >
> > > > >
> > > > > Tergantung zamannya kali ya..
> > > > > Rasanya di zaman Nabi dan 4 sahabat, cukup banyak
> > wanita
> > > > yang menjadi
> > > > > tokoh. Sahabat2 Nabi belajar dan bertanya pada istri2
> > Nabi.
> > > > Fatimah
> > > > > r.a. pun cukup ngetop.
> > > > > Entah kenapa, makin kesini kayaknya makin pengen
> > > > mengembalikan wanita
> > > > > ke zaman sebelum Nabi :(
> > > > >
> > > > > Saya punya pertanyaan tapi tidak tau jawaban pastinya.
> > > > Mungkin ada
> > > > > yang bisa membantu.
> > > > > Apakah ada Nabi MELARANG wanita2 berpakaian tidak
> > sesuai
> > > > dg syariat?
> > > > > Adakah Nabi pernah menghukum mereka pada saat
> > Beliau
> > > > menjadi pemimpin?
> > > > >
> > > > > Karena setahu saya, Nabi menghimbau wanita muslim
> > > > berpakaian yang
> > > > > baik. Juga menyuruh pria muslim menahan
> > pandangannya
> > > > (tidak
> > > > > jelalatan). Menyuruh kaum muslim menjaga dirinya dan
> > > > keluarganya.
> > > > > Tapi tidak memaksa orang lain berpakaian dan beradab
> > > > supaya kita
> > > > > "selamat".
> > > > >
> > > > > Juga ada hadits dimana Nabi mengecam wanita2 yang
> > > > berhias/berpakaian
> > > > > tidak sopan (spt telanjang) dan menasihati spy bertingkah
> > > > laku yg
> > > > > sopan. Nah ada kecaman dan nasihat untuk tidak
> > melakukan
> > > > hal spt itu
> > > > > artinya keadaan seperti itu (tetap) terjadi kan?
> > > > > Kalau mau pake cara Indonesia sekarang ya maen larang
> > dan
> > > > hukum aja...
> > > > >
> > > > > Am I wrong? Karena pengetahuan saya juga terbatas
> > sekali,
> > > > kalau ada
> > > > > yang berkenan menjelaskan, terima kasih banyak.
> > > > >
> > > > >
> > > > > salam
> > > > >
> > > > > fau
> > > > > balik kerja ah...
> > > > >
> > > >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
*********************************************************************
******
> > Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju
Indonesia
> > yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny.
> > http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
> >
> >
*********************************************************************
******
> >
_____________________________________________________________________
_____
> > Mohon Perhatian:
> >
> > 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg
otokritik)
> > 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan
dikomentari.
> > 3. Reading only, http://dear.to/ppi
> > 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
> > 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
> > 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
> >
> > Yahoo! Groups Links
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
>
>
> [Non-text portions of this message have been removed]
>
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
YAHOO! GROUPS LINKS
- Visit your group "ppiindia" on the web.
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.

