Memang bisa saja itu dibuktikan sebagai fakta. Saya hanya 
membuktikan adalah juga fakta di negeri kita (termasuk wartawannya 
dan siapa saja) yang rancu antara makna kata "sexualitas" 
dan "sensualitas", sehingga perumus RUU APP itu pun ikut-ikutan 
terjebak oleh kerancuan ini. 

Kata "sensualitas" itu berasal dari kata "sense" yang umumnya dalam 
kaitan dengan karya seni itu diterjemahkan menjadi "rasa" (dalam 
arti yang luas, terutama aqspek visual yang ada di dalam karya seni 
itu) sedangkan kata "seksualitas" itu berasal dari kata "sex." Maka 
jelaslah antara "sense" dan "sex" itu beda, bukan? Cuma telinga 
Indonesia kita mungkin yang menjerembabkan kita sampai terpeleset ke 
lembah kerancuan itu. (Saya juga dahulu kala pernah terpeleset 
seperti itu lho!)

Juga Taufiq lupa, atau kurang ngeh ketika bicara soal foto-foto yang 
ada di Majalah "Playboy" di AS itu, siapa bilang itu foito-foto yang 
maunya dinilai sebagai karya seni fotografi? Di AS itu jelas majalah 
pornografi! Bukan majalah art sama sekali! Hanya saja, p[roduk 
pornografi itu boleh beredar di AS, tapi dengan dibatasi sedemikian 
rupa sehingga yang mengkonsumsi adalah orang dewasa saja. Malah di 
banyak negara bagian tidak diizinkan beredar di kios-kios umum, 
hanya boleh beredar sebagai langganan langsung lewat pos. Jadi, 
masalahnya bagi negara Amerika, itu produk boleh beredar di kalangan 
orang dewasa. Bagaimana caranya? Itulah yang jadi masalah, jadi 
bukan dengan membuat UU melarang majalah tersebut.

Dan ungkapan Taufiq mengaitkan pornografi dengan minuman keras, 
narkotik, dan lain-lain itu, jelas itu dicari-cari. Dia rupanya 
meniru kebiasaan "berlogika" orang Jawa Kuno, yaitu 
menggunakan "utak-atik gatuk" itu! Itu bukan logika sama sekali! Itu 
namanya mengada-ada.

Jadi, intinya, saya (dan seniman mana pun di dunia ini) pastilah 
menolak pornografi dalam karya-karya saya, karena semua orang tahu 
bahwa suatu karya yang dimaksudkan sebagai karya seni pastilah jatuh 
kalau sudah mengandung unsur pornografi. Tapi, kalau mengandung 
unsur "sensualitas" itu sih harus! Ya, pengertian "sensualitas" itu 
memang luas, termasuk adegan ranjang atau foro telanjang dan 
semacamnya, tapi tetap itu bukan pornografi, dan itu bukan satu-
dsatunya yang bisa digolongkan ke dalam "sensualitas." Jadi, 
masalahnya memang tifdak mudah: bagaimana membedakan adegan ranjang 
dan gambar telanjang yang pornografi dan yang bukan (=sensualitas) 
itu. Yang bissa menjawab ini adalah ahli di bidang kesenian dan 
kritikus seni. Seniman seperti Taufiq jelas bukan orangnya, karena 
dia tidak bisa obyektif lagi sebab menganut tafsir tertentu atas 
Islam.

Dan apa-apa yang buruk menurut ukuran Taufiq itu, sepertinya dia 
cenderung mengatakan itu pengaruh dari luar. Padahal tanpa 
ada "impor" dari luar, kalau dia benar-benar meneliti sejarah 
prilaku bangsa kita, dia akan kaget atas kesalahannya itu!


Kata "malu" untuk semua hal negatif yang dia pakai itu sebenarnya 
berasal dari tulisan-tulisan Hamka. Padahal "malu" itu bisa positif 
dan bisa jugta negatif lho! Tapi Taufiq mengunci maknanya selalu 
sebagai yang positif, kan, dalam tulisannya itu? Ini sudah bisa 
digolongkan cara-cara melakukan disinformasi/propaganda lho!


Ik.-



--- In [email protected], aris solikhah <[EMAIL PROTECTED]> 
wrote:
>
> Mas Ikra,
> Pidato beliau sebenarnya sudah pernah dibacakan di
> Taman Nasional Marzuki Ismail 15 Des 2006 kemarin.
> 
> Terlepas pro-kontra terhadap pemahaman beliau, ada
> satu hal yang patut kita cermati dalam pidato ini,
> bahwa beliau menulis lewat pengalaman hidup yang
> beliau jalani. Dunia seniman, budayawan, media dan
> sastra. Satu hal lagi apa yang beliau tulis adalah
> fakta  yang terjadi di Indonesia. Meski berbentuk
> puisi, tapi bukanlah fiksi.
> 
>  Bagi rekan-rekan seniman seperti mas Ikra, tentu tak
> bisa menampik fakta yang ada didalam tulisan beliau
> bukan?
> 
> Setidaknya secara pribadi saya berharap tulisan
> tersebut menjadi renungan bersama baik teman-teman di
> dalam dan luar negeri.
> 
> salam,
> aris
> 
> 
> 
> 
> 
> --- Ikranagara <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> 
> > Waduh, Mas, Mas Robertus ini keterlaluan deh! Mosok
> > nama Taufiq 
> > Ismail sang penyair kondang kita itu tidak dikenal?
> > Nama Taufiq 
> > dalam kazanah literatur dunia selalu ditonjolkan
> > kalau yang dibahas 
> > itu adalah sejarah sastra Indonesia. Ya, dia sudah
> > masuk ke dalam 
> > buku sejarah sastra kita.
> > 
> > Puisi-puisi perlawanannya terhadap kekuasaan
> > otoriter sangat 
> > terkenal, sejajar dengan nama Rendra. Tapi
> > puisi-puisinya memang 
> > lebih halus dibandingkan dengan Rendra. Dia muncul
> > sejak penumbangan 
> > Sukarno, lalu disusul perlawanannya terhadap
> > Suharto, dan akhirnya 
> > tampil dalam puisi-puisi mendukung gerakan
> > kemerdekaan kreatif dalam 
> > Reformasi menumbangkan Suharto.
> > 
> > Kalau dia diceritakan meneteskan air mata ketika
> > sedih dalam membaca 
> > puisi, atau bicara di depan umum tentang hal yang
> > memilukan menurut 
> > ukuran dia, itu sih sudah biasa. Dia mengaku sebagai
> > manusia 
> > tergolong "gembeng" dengan tanpa malu-malu sebagai
> > lelaki lho!
> > 
> > Itu Taufiq sebagai penyair!
> > 
> > Tapi sebagai pemikir, atau penulis essai, bukan
> > puisi, dia memang 
> > kurang pengetahuannya tentang estetika, bahkan
> > memang kurang kuat 
> > logikanya, suka main lompat-lompat seenaknya,
> > seperti yang Anda 
> > temukan dalam essainya yang dibacakan di
> > almamaternya itu. Ya, dia 
> > sebenarnya Dokter Hewan lulusan IPB, tapi mungkin
> > itu sekedar 
> > menyenang-nyenangkan orang tua yang membiayai
> > studinya sampai lulus. 
> > Tapi dia sejatinya adalah seorang seniman, dalam hal
> > ini penyair, 
> > yang berhasil mencapai kwalitas perpusian yang
> > diakui dunia, bukan 
> > hanya untuk ukuran Indonesia saja lho!
> > 
> > Dan ideologinya memang berdasarkan Islam Sunni atau
> > mungkin aliran 
> > Wahabi itu. Mungkin! Itu kalau kita baca antara lain
> > essainya ini.
> > 
> > Saya tidak banyak berharap jika dia bicara soal
> > pornografi. Baca 
> > saja kembali, apakah ada definisinya tentang apa itu
> > pornografi? 
> > Semua seniman, termasuk saya, menolak pornografi,
> > karena jenis karya 
> > ini bukan karya seni. Tapi ada yang disebut
> > "sensualitas" dan ini 
> > adalah sah sebagai bagian dalam karya seni. 
> > 
> > Sensualitas itu di negeri kita memang seringkali
> > dikacaukan dengan 
> > istilah "sexualitas." Sensualitas tidak selamanya
> > ada kaitan dengan 
> > sex, meskipun kadangkala ada juga, sebab sex bisa
> > merangsang rasa 
> > indah, dan bukan merangsang nafsu syahwat. Misalnya
> > saja ungkapan 
> > puitis dalam puisi-puisi Taufiq yang menampilkan
> > imaji visual itu 
> > merangsang rasa keindahan dalam diri kita, itu sudah
> > bisa disebut 
> > unsur sensualitas dalam karyanya itu. Tapi mungkin
> > dia menolak 
> > kesimpilan ini, karena tidak bisa membedakan antara
> > sensualitas dan 
> > seksualitas itu tadi.
> > 
> > Nah, di dalam UU APP itu juga sama seperti itu,
> > artinya ada 
> > kerancuan antara unsur sensualitas dalam seni dengan
> > unsur 
> > seksualitas dalam pornografi. Unsur sensualitas itu
> > unsur rasa di 
> > dalam kesenian, justeru untuk mengimbangi unsur
> > kritis/intelektual 
> > di dalamnya -- sebab karya seni yang bermutu
> > sepanjang zaman itu 
> > mengandung paduan yang baik antara kedua unsur ini
> > dalam kaca mata 
> > estetika.
> > 
> > Memang, saya tidak yakin Taufiq Ismail faham
> > soal-soal ini. Atau, 
> > mungkin dia faham, tetapi sengaja mengacaukannya,
> > demi aliran 
> > relijius yang dianutnya tadi itu. Artinya, tidak
> > semua Ummat Islam 
> > setuju dengan faham keagamaan yang dia anut itu. 
> > 
> > Dan karenanya menurut saya Taufiq ismail lupa atau
> > pura-pura tidak 
> > ingat adagium dalam ajaran Islam sendiri: Laa
> > ikranaha fid-dien 
> > (Tidak ada paksaan dalam menjalankan agama.) Juga
> > yang ini: Tidak 
> > ada agama bagi yang tidak menggunakan fikirannya.
> > 
> > 
> > 
> > Ikra.-
> > 
> > 
> > --- In [email protected], Robertus Budiarto 
> > <budiartobobby@> wrote:
> > >
> > > Taufiq ini siapa sih?  Kakaknya Nizami Boy?
> > he.he.he..
> > > 
> > > Yang jelas rada-rada..  la wong orang nggak setuju
> > RUU Porno kok 
> > langsung dituduh tidak mau melindungi anak cucu... 
> > weleh-weleh..  
> > Dia pikir yang waras hanya dia seorang..  mana ada
> > orang tak mau 
> > melindungi anak cucunya...
> > > 
> > > Tulisan gaya ad Hominem, menyerang pribadi ini sih
> > persis gaya 
> > Orde Baru...   kalau kalah omong mereka langsung
> > nyerang orang Islam 
> > sebagai Islam Fundamentalis...  persis deh kaya
> > Suharto, si Taufiq 
> > ini..
> > > 
> > > he.he.he..    kalau sastrawannya aja kaya gini,
> > pantes aja 
> > negaranya kagak karuan..he.he.he..
> > > 
> > > 
> > > 
> > > 
> > > 
> > > 
> > > 
> > > 
> > > 
> > > 
> > > ----- Original Message ----
> > > From: aris solikhah <fm_solihah@>
> > > To: [email protected]
> > > Cc: [EMAIL PROTECTED];
> > [email protected]; 
> > [EMAIL PROTECTED];
> > [email protected]
> > > Sent: Tuesday, January 9, 2007 2:56:43 PM
> > > Subject: [ppiindia] Perlawanan Sastra Taufiq
> > Ismail
> > > 
> > > Dear All,
> > > 
> > > Hari ini, Taufiq Ismail berbicara dihadapan
> > > dosen-dosen se-IPB. Makalah yang beliau baca sama
> > > dengan pidato di Taman Ismail Marzuki 15 Desember
> > > 2006, yaitu berjudul : &#8216;Budaya Malu dikikis
> > > Gerakan Syahwat Merdeka&#8217; . 
> > > 
> > > Di Recent Activity
> > >  13New Members
> > > Visit Your Group 
> > > SPONSORED LINKS
> > > Indonesia
> > > Cultural diversity
> > > God bless
> > > Indonesian languages
> > > Indonesian language course
> > > Search Ads
> > > Get new customers.
> > > List your web site
> > > in Yahoo! Search.
> > > Y! Messenger
> > > Group get-together
> > > Host a free online
> > > conference on IM.
> > > Yahoo! Mail
> > > Drag & drop
> > > With the all-new
> > > Yahoo! Mail Beta. 
> > > 
> > > 
> > > __________________________________________________
> > > Do You Yahoo!?
> > > Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam
> > protection around 
> > > http://mail.yahoo.com 
> > 
> === message truncated ===
> 
> 
> Dan cinta (mahabbah) yang kita maksud adalah keinginan untuk 
memberi dan tidak memiliki pamrih untuk memperoleh imbalan. Cinta 
bukan komoditas, tetapi sebuah kepedulian yang sangat kuat terhadap 
moral dan kemanusiaan (Toto Tasmara)
> pustaka tani
>   nuraulia
> 
> 
> 
>  
> 
_____________________________________________________________________
_______________
> Want to start your own business?
> Learn how on Yahoo! Small Business.
> http://smallbusiness.yahoo.com/r-index
>


Kirim email ke