http://www.kompas.co.id/ver1/Ekonomi/0701/12/195645.htm
   
   
  Industri Kopi di Sumut Bergairah 


Laporan Wartawan Kompas Khaerudin



  MEDAN, KOMPAS - Penghapusan pajak pertambahan nilai atau PPN 10 persen atas 
komoditi primer seperti yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 
2007, membuat industri bubuk kopi di Sumatera Utara bergairah. Industri kopi 
bubuk bisa meningkatkan kualitas produk dari komponen biaya produksi yang 
sebelumnya digunakan untuk membayar PPN 10 persen.
   
  Meski terdapat sekitar 10 industri bubuk kopi di Sumatera Utara (Sumut) saat 
ini, namun baru satu perusahaan yang mampu bersaing di pasar internasional, 
yakni PT Sari Incofood, produsen kopi instant merek Indo Café. Perusahaan ini 
mampu mengekspor produknya hingga ke Cina, Jepang dan negara-negara Timur 
Tengah.
   
  “Penghapusan PPN 10 persen ini memang membuat bergairah industri kopi bubuk. 
Dengan berkurangnya salah satu komponen biaya produksi yang biasanya keluar 
dari pembayaran PPN 10 persen, mereka kini bisa mengalihkan untuk peningkatan 
kualitas. Sehingga mereka bisa bersaing dari sisi mutu di pasar internasional. 
Saat ini baru satu pemain yang bisa menembus pasar internasional, produsen 
lainnya masih kalah bersaing,” ujar Ketua Asosiasi Eksportir Kopi Indonesia 
(AEKI) Sumut Suyanto Husein di Medan, Jumat (12/1).
  Menurut Suyanto, lemahnya daya saing industri kopi bubuk di Sumut ini antara 
lain disebabkan biaya produksi belum efisien dan kurang menarik dari sisi 
kemasan. Padahal dari sisi bahan baku, kualitas biji kopi dari Sumut dan Aceh 
termasuk salah satu yang terbaik di Indonesia. 
   
  “Kalau di Jawa kan sudah ada beberapa industri kopi bubuk yang punya pasar di 
luar negeri seperti produsen kopi Kapal Api atau Torabika. Sekarang setelah 
biaya produksi dikurangi, industri sejenis di Sumut ini sanggup enggak menambah 
mutu agar bisa menembus pasar internasional,” katanya.
   
  Khusus untuk kinerja ekspor biji kopi, penghapusan PPN 10 persen lanjut 
Suyatno tidak terlalu berpengaruh. Ekspor biji kopi hanya dipengaruhi oleh 
harga di pasaran internasional yang sudah ada patokannya. 
   
  “Kalau negara produsen kopi seperti Vietnam dan Brasil berkurang pasokannya, 
biasanya harga biji kopi di pasar internasional membaik. Sekarang 
pintar-pintarnya eksportir di Indonesia memantau perkembangan kedua negara 
tersebut,” ujar Suyanto.

 
---------------------------------
Want to start your own business? Learn how on Yahoo! Small Business.

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke