http://www.rakyatmerdeka.co.id/situsberita/index.php?pilih=lihat_edisi_website&id=25247 Rakyat Merdeka Sabang, Dua Tahun Setelah Amukan Gelombang Senin, 01 Januari 2007, 05:00:10 WIB DUA tahun pasca tsunami di Pro­vinsi Nanggroe Aceh Darus­sa­lam, selama itu juga negeri Se­rambi Makkah ini menjadi men­jadi sarang lembaga-lembaga in­ternasional yang ingin mem­bantu Aceh bangkit kembali. Markas-markas lembaga in­ternasional itu bertebaran di ibu­kota Banda Aceh, walau mereka me­laksanakan program reha­bi­litasi dan rekonstruksi di setiap su­dut wilayah korban amukan tsu­nami. Namun tidak demikian halnya di kota Sabang, Pulau Weh. Hanya ada tujuh lembaga swadaya masyarakat yang ber­kip­rah di sana. Yakni Palang Me­rah Republik Federal Jerman, Pa­lang Merah Belanda, Muslim Aid (LSM Internasional), Re-Kom­pak (LSM Indonesia), Frder und Intere­ssenge­mein­schaft (FIG)-Indonesia (LSM Jer­man), Habitat for Humanity Indonesia (LSM Internasional) dan Yayasan Berkati Indonesia (LSM Indonesia). Namun dua organisasi terakhir menarik diri dari keikutsertaan mereka. Kerusakan wilayah Sabang, memang tidak separah Banda Aceh, lokasi yang dilewati satu pekan menjelang dua tahun pe­ringatan tsunami. Bisa jadi ka­rena Sabang merupakan wilayah pantai dengan struktur alam ber­bukit-bukit, sedangkan di Banda Aceh cenderung datar sehingga kor­ban nyawa raksasa pun men­capai 150-an juta orang. Wa­laupun amukan tsunami 9,3 ska­la Richter saat itu di Sabang hanya memakan korban nya­wa 18 orang, tak sedikit pula fa­si­litas penting masyarakat juga tu­rut menjadi korban. Menurut Pe­merintah Kota Sabang, tak ku­rang dari 634 rumah, tujuh unit sekolah, lima unit jembatan dan satu unit Puskesmas rusak. FIG-Indonesia, merupakan LSM Jerman pertama yang mem­bantu rekonstruksi dan rehabilitasi yang masuk ke Sabang, yakni pada Maret 2005. Pembangunan perumahan tak hanya dilakukan di lokasi di ma­na kerusakan terjadi, tapi di­ten­tukan Badan Perencana Pem­ba­ngunan Daerah (Bappeda). Bagi korban tsunami yang ingin mem­bangun rumah di lahan sen­diri yang sudah ditentukan, FIG juga bersedia mendirikan rumah ter­sebut. Saat Rakyat Merdeka me­ngun­­jungi Balohan, ada satu ru­mah pribadi milik Halimah (25) warga dari Le Meulee yang di­ban­tu FIG pendiriannya, sesuai de­ngan standarnya, tipe 36. Sa­ya sudah menempati rumah ini selama empat bulan. Saya ba­ha­gia, katanya. Sasyangnya, untuk bisa ke tempat tersebut, harus dilewati dengan susah payah, karena jalanan yang sempit, lebarnya hanya sekitar 1,5 meter. Kondisi serupa juga bias di­li­hat saat mengunjungi lokasi pro­yek perumahan di Ujong Se­kundo, sekitar 15 kilometer dari Pantai Kasih, Sabang. Jala­nan menuju lokasi rusak be­rat. Ini menjadi lebih parah pada mu­sim hujan. Di lokasi itu, menurut data Bap­peda, FIG ditugaskan mem­bangun 40 unit rumah, Asian De­velopment Bank (ADB) 68 unit dan Re-Kompak 50 rumah. Namun menurut penga­ma­tan Rakyat Merdeka akhir De­sember lalu, dua lembaga terse­but tidak nampak beraktivitas. Selain itu, di Lorong Iboh, Muslim Aid mendirikan rumah dengan dua tahap. Tahap per­tama, 42 rumah sudah selesai dan program kedua, 52 rumah. Saya senang sudah bias pu­nya rumah, kata Teuku Syah­rizal, yang telah menempati ru­mah tersebut sejak empat bulan la­lu kepada Rakyat Merdeka. Walaupun bangunannya menu­rut Rizal kurang layak, karena ru­mah panggung itu hanya meng­gunakan lantai dan be­be­rapa bagian dindingnya dari ba­han triplek. Namun hal utama yang dia ke­luhkan adalah karena ketiadaan fa­silitas sumber air dan listrik. Makanya, menurut Rizal, dia be­lum bisa membawa keluarganya ke rumah tersebut. Sesuai MoU dengan peme­rin­tah kota Sabang, FIG akan mem­bangun 200 rumah (tahap awal 115 rumah), rehabilitasi lima se­kolah dan membantu pe­nye­diaan air bersih. Lokasi pem­bangunan dan rehabilitasi ini ter­sebar di 23 lokasi di Pulai Weh. Menurut Direktur FIG, Verena Setyawati, 84 rumah saat ini sudah selesai. Sudah ada rumah yang ditem­pa­ti dan masih ada yang diker­jakan. Yang jelas kita tidak berhenti bekerja, tegasnya ke­pada Rakyat Merdeka lewat te­lepone. Disadari, dua tahun tsunami te­lah berlalu tapi program peru­ma­han bagi penduduk 50 persen pun belum tercapai. Kinerja Ba­dan Rehabilitasi dan Re­kon­truksi tidak luput menjadi so­rotan. Saya menyadari, ke­ma­juan pembangunan memang mengecewakan. Tapi kita harus ber­terimakasih atas keinginan dan niat baik mereka mem­ban­tu, kata Asisten Infrastruktur BRR Distrik Sabang, Azwan ke­pada Rakyat Merdeka. Menurut Azwan, lembaga internasional itu tidak bisa begitu saja disalahkan atas keter­lambatan pembangunan di Aceh dan di Sabang khususnya. Ba­nyak permasalahan yang di­ha­dapi lembaga internasional. Bisa ma­salah internal organisasi atau ka­rena lamanya proses pem­be­basan lahan milik rakyat, je­lasnya. Meski demikian, dia menga­ku, usaha mendesak lembaga in­ternasional agar jangan me­lupakan tugasnya, terus dila­kukan. Namun, lanjut Azwan, ti­dak bijak jika menetapkan batas wak­tu bagi organisasi ini. Pemerintah akan mem­per­tanyakan kendala mereka, tapi ti­dak mungkin membatasi mereka se­cara sepihak karena lambaga ini bersifat sosial dan tentulah punya kendala seperti dana, mungkin, jelasnya. Di sisi lain, musibah tsunami, walau membawa duka, juga mem­bawa berkah bagi Sabang. Wilayah-wilayah yang semula vakum akhirnya malah dikem­bangkan lebih cepat. RM
--------------------------------- It's here! Your new message! Get new email alerts with the free Yahoo! Toolbar. [Non-text portions of this message have been removed]

