http://www.gatra.com/2007-04-01/versi_cetak.php?id=103455

NASIONAL [GATRA Printed Edition]
Di Antara Bung Karno dan Pak Harto
SOEHARTO: THE LIFE AND LEGACY OF INDONESIA'S SECOND PRESIDENT
Penulis: Retnowati Abdulgani-Knapp
Penerbit: Marshall Cavendish Editions, Singapura, 2007, 376 halaman

Entah sudah berapa buku tentang Pak Harto yang terbit di dalam dan luar
negeri. Dari yang pertama, The Smiling General karya O.G. Roeder, disusul
karya Arnold C. Brackman, Suharto's Road, hingga Suharto, Indonesia's Last
Sultan karya Keith Loveard, belasan judul buku tentang penguasa Orde Baru
itu mengisi khazanah perbukuan. Ada yang bernada miring, ada juga yang penuh
puja-puji.

Buku mutakhir tentang mantan orang nomor satu di Indonesia ini boleh
dibilang berbeda dari yang pernah ada. Ditulis oleh seorang anak pejuang
Indonesia, buku ini mencoba menguak kehidupan Pak Harto dan keluarganya
seperti apa yang ia saksikan. "Saya memang berusaha menulis apa adanya
tentang Pak Harto dan keluarganya," kata Retnowati kepada Gatra, beberapa
waktu sebelum buku ini terbit.

Bukan itu saja. Dalam buku ini, sang penulis berusaha pula menggambarkan
plus-minus Indonesia selama dipimpin Pak Harto. Perempuan yang kini bermukim
di Inggris itu berupaya memperbandingkannya dengan plus-minus Indonesia di
bawah kepemimpinan Bung Karno. "Tak bisa dibilang Bung Karno lebih baik dari
Pak Harto atau sebaliknya. Mereka punya kontribusi masing-masing untuk
bangsa ini," kata anak kedua Dr. Roeslan Abdulgani itu.

Bung Karno pada masanya berhasil menanamkan nasionalisme ke dalam dada
bangsa ini. Di lain pihak, Pak Harto harus diakui pernah berhasil membawa
kemajuan ekonomi di Indonesia lewat pembangunan yang berencana. Ia juga
melihat adanya kesamaan-kesamaan dalam kepemimpinan Bung Karno dan Pak
Harto.

Itu terungkap, antara lain, di bagian yang membeberkan hari-hari terakhir
kekuasaan Soeharto. Retnowati menulis, "President Soekarno and President
Soeharto chose the path of living with the enemy, rather than destroying
them, and by doing so, they also laid the basis for a multiracial but very
controlled democracy.... The legacy of President Soekarno and President
Soeharto is a painful one that will not be forgotten quickly."

Ada bagian tersendiri yang pantas disimak dari buku ini, yakni cerita
tentang tujuh yayasan dan penelusuran penulis ke dalam kehidupan sehari-hari
Pak Harto. Berlatar cerita tentang pemeriksaan Pak Harto di Pengadilan
Tinggi Jakarta, Retnowati membeberkan cerita tentang tujuh yayasan yang
didirikan Pak Harto dan keluarganya.

Retnowati memulai uraian tentang ketujuh yayasan itu dari konsep di balik
pendiriannya dan riwayat masing-masing. Pak Harto, menurut dia, menyadari
benar bahwa sistem kesejahteraan sosial di Indonesia lebih buruk dari
negara-negara Barat dan negara-negara makmur di Asia.
Untuk itulah, ketujuh yayasan tersebut dibentuk. "He created a walfare
scheme for the non-governmental institutions, private sectors and wealthy
individuals to play a role as he knew how limited the government coffers
were," tulis dia.

Lepas dari apa pun kasus hukumnya, Retnowati mencatat sejumlah manfaat
yayasan-yayasan itu bagi publik. Yayasan Trikora, misalnya, yang didirikan
pada 2 Mei 1963. Awalnya, yayasan ini hanya memberi dana bantuan dan
beasiswa kepada para janda dan anak yatim-piatu dalam Operasi Trikora.
Tapi kini, dana bantuan beasiswa juga dinikmati anak-anak yatim-piatu
korban konflik di Aceh, Papua, Ambon, dan Poso.
"It is worthy note that these clashes took place in 2003, five years after
President Soeharto was out of power," tulis Retno lagi.

Demikian pula ia mencatat data yang berkaitan dengan Yayasan Supersemar.
Pada 1975, baru sekitar 3.135 mahasiswa Indonesia yang menerima beasiswa
dari yayasan ini. Hingga 2006, jumlah total mahasiswa penerima beasiswa itu
sudah mencapai 427.789 orang. Belum lagi ribuan mahasiswa S-2 dan S-3,
ratusan ribu siswa SMA, olahragawan, dan anak-anak telantar.
Total dana dana yang dikeluarkan yayasan ini seluruhnya lebih dari Rp 455
milyar.

Retnowati mungkin satu dari sedikit orang yang beruntung mendapat kesempatan
berhubungan sangat dekat dengan Pak Harto dan keluarganya. Juga dari sedikit
orang yang diberi izin menelusuri setiap sisi kehidupan presiden kedua RI
ini usai lengser. Malah ia tercatat sebagai satu dari sedikit sekali orang
yang bisa bergurau dengan penguasa Orde Baru itu.

Dengan kedekatan ini, ia bebas menyaksikan keseharian keluarga Pak Harto
pasca-lengser. Dimulai dari kegiatan saling kunjung ayahnya dengan Pak
Harto. Sang ayah memang sosok yang unik: dekat dengan Bung Karno sekaligus
dekat dengan Pak Harto. Beberapa kali, di hari-hari tertentu, Retnowati
diajak sang ayah bertandang ke Jalan Cendana.

Pertama kali ia diajak ke Cendana pada 1985. Pada kedatangan kemudian,
September 2004, Retnowati menyaksikan sejumlah hal yang tak berubah. Rumah
itu tampak lebih sederhana dibandingkan dengan bangunan
sebelah-menyebelahnya. Gaya hidup Pak Harto pun, menurut Retnowati, tampak
tak berubah: tetap sederhana.

"Most people who know Pak Harto agree that he is not a greedy man. Even
when he was at the peak of his rule, he never showed an interest in foreign
foods. He does not drink alcohol and he enjoys simple, traditional food and
tea and coffee. He does not use gold plates or crystal glasses, which the
Shah of Iran had been known to favour. The food he has served to guests
from 1985 to date has remain the same: traditional Javanese snacks," tulis
Retnowati pula.

Perempuan kelahiran Surabaya tahun 1945 itu tak menyembunyikan rasa kagumnya
pada sosok Pak Harto. Pada 2004 itu, ia melihat betapa Pak Harto yang sudah
berusia 83 tahun tetap tenang dengan air muka berseri melewati pengalaman
yang sangat pahit lima tahun belakangan. Ia menuturkan, "It is amazing how
he has had the strength to prevail over his critics, including the
harrasment from those who were once his close friends."

Setahun kemudian, September 2005, ia mendapat kesempatan bersama keluarga
besar Pak Harto, minus Tommy dan Titiek, selama dua hari penuh. Ia diajak
nyekar ke makam Ibu Tien Soeharto. Ia juga berkesempatan berkenalan dengan
keluarga besar Pak Harto yang tersisa di Yogyakarta dan Klaten. Ia
menyaksikan bagaimana keluarga besar Pak Harto di Desa Plampitan tetap saja
merupakan potret orang desa biasa. Tak ada kesan gemerlap.

Dalam dua hari bersama keluarga besar Pak Harto, Retnowati diajak menginap
di kediaman Pak Harto di Kalitan, Solo. Dengan terus terang, ia menyatakan
rasa heran sekaligus terkejut. Kondisi rumah itu jauh dari bayangannya
semula. Bagunannya jauh dari kesan mewah. Demikian pula seluruh ruangan dan
perabotan yang ada. Bahkan sikap para pembantu di sana yang tergolong biasa
saja --hormat, tapi tak seperti bayangan sikap abdi dalem dalam tradisi
keraton Jawa.

Di Kalitan ini pula ia menyaksikan bagaimana akrabnya keluarga Pak Harto
dengan pedagang makanan keliling. Semua, dari putra-putrinya, para dokter
pribadi Pak Harto, para pembantu, hingga para pengawal, menikmati makanan
yang sama. "Pak Harto would pay for all the food. In fact, the glasses and
crockery used in Kalitan were as simple as the ones used in Mbah Hardjoso
and Mbah Dwidjo's homes," tulis dia lagi.

Di bagian akhir buku ini, tampak benar Retnowati berusaha menggambarkan
keseharian Pak Harto seperti apa yang ia lihat. Seperti juga dorongan
ayahnya untuk menulis buku ini, sebagaimana terungkap pada bagian pengantar.
Di mata ayahnya, sebagian besar buku tentang Pak Harto dan Bung Karno
ditulis para pengarang luar. Sebagian di antaranya begitu kritis, sebagian
lainnya berisi pujian. "Sangat sedikit orang yang mengenal benar kedua sosok
ini sekaligus mau menulis yang sebenarnya tentang mereka," katanya.

Ini buku kedua Retnowati yang diterbitkan oleh penerbit asing. Genap empat
tahun silam ia menulis biografi ayahnya. Buku berjudul A Fading Dream:
The Story of Roeslan Abdulgani and Indonesia itu diterbitkan Times Books
International, Singapura. Biografi Pak Harto ini boleh dibilang buku
berbahasa asing pertama tentang Soeharto yang digarap penulis Indonesia.
"Saya sudah menyelesaikan pesan almarhum Ayah yang meminta saya menulis
tentang Pak Harto dan Bung Karno dalam perspektif yang pas," ujarnya.

Erwin Y. Salim
[Buku, Gatra Nomor 19 Beredar Kamis, 22 Maret 2007]
URL: http://www.gatra.com/2007-04-01/versi_cetak.php?id=103455

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

http://www.marshallcavendish.com/marshallcavendish/genref/redirector.xml?url=/marshallcavendish/genref/sg/catalogue/general_title/biography/9812613404.xml

"... you will recall our conversation in which I said that if it had not
been for Pak Soeharto, Indonesia would not be where it is today or have the
infrastructure it has. Sadly, it was his children's greed that percipitated
his downfall, but he has left a tremendous legacy for Indonesia and its
people..."
- Richard Webb, MBE and former British diplomat in Indonesia, (1998 - 2001)


About the book
SOEHARTO-The Life and Legacy of Indonesia's Second President is the
biography of a man who rose from a humble farming background to become one
of the most important political figures in Asia. This insightful narrative
traces his life from his birth in 1921, through his long tenure as president
to his present life, one that is far divorced from his former days of glory.
It also explores the controversy surrounding the charitable organizations
(or Yayasan) which were established during his time in power and their links
to the Indonesian conglomerates and his family.

As president, he was often depicted as a sober-minded and evasive person,
making him an enigma to many. This book offers a rare glimpse of his warmth
and sensitivity towards those whom he trusts and how his faith in himself
and his country remained unshaken through his meteoric rise and dramatic
fall from power.

(This is an authorised biography)

About the Author
Retnowati Abdulgani-Knapp is a graduate from the Faculty of Law, University
of Indonesia in 1968. A former banker in New York City, USA, and now a
business consultant in Indonesia, she lives in Bangkok and London. Her
father, Roeslan Abdulgani, was an Indonesian statesman who had close
personal and professional contact with President Soeharto. It was a
relationship that has enabled her to capture the essence of his life from a
uniquely different perspective. She had direct contact with the former
president, his children and family during the writing of the book.

This is the author's second book on contemporary Indonesian history. Her
background gives her the capacity and authority to explain the country's
history and development.






Kirim email ke