*Ujicoba obat-obatan bagi anak-anak*
**
*Oleh: Christoph Heinzle dari Dresden*

*Banyak obat-obatan ternyata tidak direkomendasikan bagi anak-anak. Kini Uni
Eropa menetapkan kewajiban ujicoba susulan terhadap obat-obatan yang juga
dapat dikonsumsi anak-anak. *


Anak-anak sangat rentan terhadap serangan penyakit. Persediaan obat-obatan
menjadi mutlak diperlukan, untuk mengobati buah hati ayah-bunda tsb, jika
tiba-tiba sakit sebelum dibawa ke dokter. Tapi apakah semua obat-obatan itu
cocok bagi anak-anak? Berapa banyak orang tua yang sayang anak, membaca
lampiran dalam kemasan obat mengenai aturan penggunaannya?

Di Eropa yang tergolong ketat aturan kesehatan dan pengawasan
obat-obatannya, banyak yang terkejut ketika membaca petunjuk di kemasan
obat. Sebagian besar obat-obatan yang dijual bebas maupun yang harus dengan
resep dokter, ternyata mencantumkan peringatan yang dicetak dengan huruf
kecil : "tidak disarankan penggunaannya bagi anak-anak, karena belum
dilakukan penelitian". Banyak obat-obatan yang bahkan tidak diizinkan untuk
anak-anak. Karena itulah, mulai Januari tahun 2007 ini Uni Eropa menetapkan
peraturan obat-obatan yang lebih ketat lagi. Semua perusahaan farmasi
diwajibkan mengujicoba obat yang dipasarkannya juga menyangkut dampaknya
untuk anak-anak.

Berdasarkan aturan baru Uni Eropa, semua vaksin untuk imunisasi, harus
diujicoba pada anak-anak, sebelum diizinkan dipasarkan. Tapi, jika berbicara
mengenai obat-obatan untuk bayi yang dilahirkan prematur, atau yang harus
dirawat secara intensiv dan anak-anak penderita kanker, situasinya amat jauh
berbeda. Lebih dari 90 persen obat-obatan yang digunakan, sebetulnya tidak
boleh diberikan kepada anak-anak. Masalahnya, mengujicoba obat-obatan pada
anak-anak, agar mendapat izin pemasaran, amatlah sulit dan mahal.

Dr. Siegfried Throm dari perhimpunan peneliti dari produsen obat-obatan
menjelaskan, obat-obatan untuk penyakit anak-anak yang umum, tidak
menimbulkan masalah. Untuk itu relatif gampang membuat ujicobanya. Dalam
arti, terdapat cukup banyak anak-anak yang menderita sakit, dan juga
pasarnya terbuka luas. Akan tetapi, untuk obat-obatan yang hanya diperlukan
secara insidental, masalahnya berbeda. Disini terdapat pertimbangan, biaya
pengembangan yang cukup tinggi, biasanya tidak bisa tertutup kembali dengan
penjualan obat-obatannya. Karena itu, dalam bidang ini hanya sedikit
dilakukan penelitian.

Jadi sejauh ini para dokter memang menyerahkan masalahnya kepada pabrik
farmasi, namun dapi dengan itu, para dokter mengahadapi dilema. Sebab,
tindakan memberikan obat yang belum diujicoba, sebetulnya tidak
diperbolehkan. Tapi di sisi lainnya, jika dokter tidak memberi obat kepada
anak-anak yang sakit, mereka bahkan dapat dituntut ke pengadilan, dengan
tuduhan melakukan malpraktek, dan contohnya cukup banyak. Karena itulah,
dari situasi darurat semacam itu, para dokter membuat terobosan kreativ.

Dokter kepala dari rumah sakit kanker anak-anak di Münster, professor
Joachim Boos mengungkapkan;

"Dalam kasus penyakit berat, dalam hal ini saya khususnya berbicara penyakit
kanker, para dokter anak melakukan tindakan bersama membentuk kelompok.
Mereka membuat skema terapi bersama, dan secara sistematis mengumpulkan
pengalaman dalam ujicoba terpusat. Kini dalam ujicoba semacam itu, sekitar
95 persen pasien anak-anak penderita kanker di Jerman diobati."

Dalam ujicoba terapi itu diteliti dengan kombinasi obat-obatan apa, kapan
waktu pemberiannya dan dalam dosis seberapa besar, anak-anak dapat diobati
secara lebih efektif. Dewasa ini sudah terdapat daftar dosis obat-obatan,
yang sebetulnya tidak diperuntukkan bagi anak-anak. Akan tetapi hasil dari
ujicoba terapi semacam itu belum mencukupi, bagi pemberian izin penggunaan
obat bagi anak-anak secara umum. Penyebabnya, anak-anak tumbuh amat cepat,
dan perubahan fungsi organ tubuhnya juga amat luar biasa, misalnya hati.
Karena itu, obat-obatan harus diujicoba pada berbagai kelompok umur.

Dr. Dorothee Kieninger dari pusat ujicoba klinik di Universitas Mainz
menjelaskan ; "Pada bayi yang baru lahir, hati memiliki mekanisme dan fungsi
amat berbeda dengan anak usia enam tahun. Dan sampai umur 13 tahun fungsinya
terus berubah. Demikian juga fungsi ginjal terus berubah. Ginjal memiliki
fungsi menyaring racun dan membuang cairan. Fungsi ginjal pada anak-anak,
pada tiap kelompok umur perubahannya amat ekstrim. Demikian juga perubahan
pada organ tubuh lainnya."

Karenanya dosis obat-obatan harus akurat. Dan perubahan dosis tidak bisa
gampangan dikaitkan hanya dengan perbedaan berat badan anak, melainkan
tergantung dari bagaimana reaksi organ tubuh anak-anak terhadap obat,
pengolahannya dalam tubuh dan pembuangannya kembali. Metabolisme pada bayi
yang baru lahir, sangat berbeda dengan anak usia sekolah.

Undang-undang baru Uni Eropa mengenai standar obat-obatan, bertujuan agar
semakin banyak obat-obatan yang dapat diizinkan penggunaannya untuk
anak-anak. Akan tetapi hal itu ada gunanya jika obat-obatan itu juga ampuh
untuk anak-anak. Prof. Joachim Boos dari rumah sakit kanker anak-anak di
Münster menjelaskan;

"Kewajibannya, jika sebuah pfarmasi mengembangkan obat-obatan baru, sekarang
harus menegaskan, apakah obatnya juga dapat bermanfaat bagi anak-anak. Hal
ini harus didiskusikan dengan pejabatnya. Jika terdapat kemungkinan manfaat
pada anak-anak, rencana pengembangannya harus dirundingkan dengan pejabat
yang berwenang."

Obat-obatan baru itu kemudian harus diuji coba pada berbagai kelompok umur,
yang menjadi calon pengguna obat tsb. Tentu saja ujicoba akan dilakukan,
jika obat baru tsb sudah diujicoba pada orang dewasa dan mendapat izin
pemasaran. Demikian juga bagi obat-obatan yang sudah lama dipasarkan, hendak
dilakukan ujicoba susulan menyanmgkut dampaknya bagi anak-anak.


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke