Sayang sekali, investasi SDM yang demikian mahal hapus karena PT. DI di
pailitkan

--------------------------------------------------------------
http://www.kompas.com/


*TNI AU Lanjutkan Pesanan Helikopter dari PT DI*

JAKARTA, JUMAT - Markas Besar (Mabes) TNI Angkatan Udara (TNI-AU) tetap
melanjutkan pemesanan sejumlah alat utama sistem senjata (alutsista) kepada
PT Dirgantara Indonesia (DI), sampai ada kejelasan status hukum Badan Usaha
Milik Negara (BUMN) itu. "Semua masih berjalan, sesuai kontrak yang
disepakati. Tidak ada masalah," kata Kepala Dinas Penerangan (Kadispen) TNI
AU Marsekal Pertama Daryatmo di Jakarta, Jumat (6/9).

Daryatmo mengatakan, saat ini TNI AU telah mengikat kontrak pengadaan
perbaikan alutsista dengan PT DI antara lain pengadaan 16 pesawat helikopter
Super Puma NAS-332 dengan kontrak Nomor KJB/010/DN/M/1998 tanggal 9 Pebruari
1998 dan pengadaan tiga pesawat CN-235 MPA dengan kontrak Nomor KJB/009/DN
/M/1996 tanggal 22 Juni 1996.

Selain itu, tambah dia, TNI AU juga mengadakan kontrak dengan PT DI untuk
re-engine/Refurbishment Pesawat Helikopter Puma SA-330 dengan kontrak Nomor
KJB/019/DN/M/2000 tanggal 22 Pebruari 2000 dan refungsionalisasi Ops Cabin
radar.

Daryatmo optimis PT DI tidak akan dipailitkan, seperti yang diputuskan
Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, 4 September lalu.
"Selama proses kasasi terhadap putusan pengadilan berlangsung, pemesanan dan
kontrak helikopter serta pesawat MPA tetap berjalan," katanya menegaskan.

Tahun ini, PT DI menjalankan kontrak dengan klien dari dalam negeri dan luar
negeri dengan total nilai 300 juta dolar AS. Kontrak tersebut meliputi
pengadaan komponen, peralatan, dan pembuatan pesawat CN-235 dan CASA
212-400. Nilai kontrak PT DI dengan klien dari luar negeri tahun ini
mencapai 250 juta dolar.

Dalam hal perawatan pesawat dalam negeri, PT DI masih terikat kewajiban ke
TNI AU untuk membuat satu pesawat senilai 27 juta dolar dan helikopter
senilai tujuh juta dolar. Selain itu, PT DI tahun ini terikat kontrak
perawatan 15 pesawat Boeing jenis 737 seri 200, 300, dan 400 dengan maskapai
dalam negeri, di antaranya AdamAir, RPX Airlines, dan Batavia Air senilai Rp
80 miliar.

PT DI juga memiliki kontrak dengan perusahaan penerbangan dari luar negeri
untuk perawatan dan modifikasi pesawat, di antaranya Turki, Pakistan, dan
Iran. Saat ini, pendapatan PT DI rata-rata 100 juta dolar per tahun dan
keuntungan bersihnya rata-rata Rp 30 miliar per tahun. (ANTARA/GLO)


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke