Kaifa Ihtadaitu
  30/10/2007 | 19/Syawal/1428 H | Hits: 351 
  Dan Pendeta Yahudi itu pun Bersyahadat   Oleh: M. Syamsi Ali, M.A
   
  Seminggu menjelang Ramadan lalu, kelas the Islamic Forum nampak lebih ramai 
dari biasanya. Mungkin karena banyak di antara muallaf itu yang ingin lebih 
mendalami puasa, baik dari segi hukum-hukum yang terkait maupun makna-makna 
hakikat dari puasa itu. Hampir semuanya wajah lama atau murid-murid lama, baik 
muallaf maupun non Muslims, yang telah mengikuti diskusi Islam di forum 
tersebut lebih dari 3 bulan. Tapi nampak juga beberapa wajah yang belum aku 
kenali sama sekali.
   
  Salah satu wajah baru itu adalah seorang pria putih dengan janggut pendek 
yang terurus rapi. Duduk di pinggiran ruangan, dan nampak memperhatikan dengan 
seksama tapi terlihat cuwek. Aku sangka bahwa orang ini adalah seorang Muslim 
karena wajahnya mengekspresikan persetujuan dengan setiap poin yang kusebutkan 
siang itu. Tapi, nampak dingin dan sepertinya tidak nampak bahwa dia tertarik 
dengan penjelasan saya itu.
   
  Saya memang memulai penjelasan saya dengan sejarah puasa kaum-kaum terdahulu. 
Merujuk pada kata-kata “kamaa kutiba ‘alalladzina min qablikum” (sebagaimana 
telah diwajibkan atas kaum-kaum sebelum kamu), saya kemudian merujuk kepada 
beberapa fakta sejarah puasa umat-umat terdahulu, termasuk kaum yahudi. Di saat 
saya intens menjelaskan ayat ini, tiba-tiba dia tersenyum dan mengangkat tangan.
   
  “Yes, Brother!” sapa saya. “Can I say something?” tanyanya. Tentu dengan 
senang saya menyetujuinya. Dia kemudian meminta maaf karena tiba-tiba masuk ke 
kelas ini tanpa permisi. “I feel I did some thing impolite,” katanya. “Oh no, 
this forum is open for every person, and doesn’t require any registration. You 
are in the right place on the right time,” jawabku.
   
  “What did you want to say Brother? But let me ask you first, what is your 
name?” tanyaku. “Sorry, I am Shimon,” jawabnya.
  Dia kemudian menjelaskan puasa dari perspektif Yahudi. Dengan sangat lancar 
dan seolah berceramah. Dia bersungguh-sungguh menjelaskan sejarah dan makna 
puasa dari pandangan ajaran Yahudi. Mendengarkan penjelasan itu, hampir semua 
yang hadir terkejut. Melihat situasi itu, sayapun bertanya: “Sorry Brother, are 
you a Muslim or not? And why do you know a lot about Judaism?”
   
  Sedikit gugup dia kemudian mengatakan, “Imam, actually I am a Rabbi. I was 
ordained Rabbi two years ago.” Mendengarkan penjelasannya itu rupanya membuat 
banyak peserta ternganga. Baru pertama kali kelas the Forum for non Muslims ini 
ditangani seorang Rabbi (pendeta Yahudi). Apalagi dalam penjelasannya tentang 
puasa itu seperti mendakwahkan ajarannya. Sehingga wajar kalau ada yang curiga 
kalau-kalau dia datang untuk sebuah misi.
   
  Saya kemudian menyapa dengan ramah dan mengatakan, “Welcome to our class 
sir.” Tapi untuk menenangkan para peserta saya menyampaikan kepadanya bahwa 
saya sudah seringkali terlibat dialog dengan pendeta-pendeta Yahudi, seraya 
menyebutkan beberapa Rabbi senior di kota New York. Mendengarkan nama-nama itu, 
rupanya cukup mengagetkan bagi dia. “All those are very respectful Rabbis!” 
katanya. “Yes, I am fortunate to have known them and be known by them,” kataku.
   
  Saya kemudian menyampaikan terima kasih atas penjelasan-penjelasannya 
mengenai puasa di agama Yahudi. “It’s almost similar to ours. The only thing 
that you guys keep changing it throughout the history.” Mendengar itu, 
nampaknya dia setuju dan hanya mengangguk.
   
  Saya kemudian melanjutkan penjelasan saya mengenai hukum-hukum puasa. 
Murid-murid muallaf, dan bahkan non Muslim yang hadir hari itu memang ingin 
tahu bagaimana menjalankan ibadah puasa. Tanpa terasa, penjelasan mengenai 
puasa itu memakan waktu lebih 2 jam. Akhirnya tiba sesi tanya-jawab.
   
  Rupanya tidak terlalu banyak hal yang ditanyakan oleh peserta dan waktu masih 
ada sekitar 45 menit. Maka kesempatan itu saya pergunakan untuk menjelaskan 
agama dan umat Yahudi dalam perspektif Al-Qur’an dan sejarah. Bahwa memang 
Al-Qur’an menyinggung secara gamblang sikap orang-orang Yahudi terdahulu, mulai 
sejak Nabi Ya’kub hingga nabi-nabi kaum Israil lainnya, termasuk umat Nabi Musa 
a.s.
   
  Sejarah pergulatan politik, agama, kultur, dan budaya antara kaum Muslimin 
dan kaum Yahudi di Madinah, termasuk bagaimana awal terbentuknya Piagam 
Madinah. Saya kemudian menjelaskan bagaimana toleransi Rasulullah saw. di 
Madinah dengan fakta-fakta sejarah yang akurat. Bagaimana Umar bin Khattab 
memberikan keluasan bagi kaum Yahudi untuk kembali menetap di Jerusalem setelah 
diusir oleh kaum Kristen. Bagaimana penguasa Islam di Spanyol memberikan 
“kesetaraan” (equality) kepada seluruh rakyatnya, termasuk kaum Yahudi. Bahkan 
bagaimana penguasa kaum Muslim di bawah Khilafah Utsmaniyah menerima pelarian 
Yahudi dari pengusiran dan “inquisasi Spanyol” kaum Kristen di Spanyol.
   
  Penjelasan-penjelasan saya itu rupanya tidak bisa diingkari oleh Shimon. 
Rupanya mereka juga tahu fakta-fakta sejarah itu. Bahkan sebenarnya kebanyakan 
buku-buku sejarah toleransi Islam kepada umat Yahudi itu justru ditulis oleh 
mereka yang non Muslim dan bahkan mereka yang beragama Yahudi sendiri. Saya 
bahkan mengutip pernyataan Kofi Annan, mantan Sekjen PBB, dalam sebuah acara 
interfaith di PBB tahun lalu.
   
  Tanpa terasa 30 menit berlalu. Di akhir-akhir pertemuan itu, tiba-tiba Shimon 
sekali lagi dengan tatapan mata yang nampak acuh, mengangkat tangan. “Yes, 
Brother. Any comment?” pancingku. “Yes, I think what you just said, for us 
Jews, are well known,” katanya. Dia kemudian berbicara panjang lebar mengenai 
upaya penyembunyian fakta-fakta sejarah itu. Dan pada akhirnya dia mengakui 
bahwa bagi mereka yang murni masih mengikuti ajaran Yahudi seharusnya percaya 
kepada risalah terakhir dan nabinya.
   
  Saya kemudian memotong pembicaraan Shimom, seraya bercanda, “If so, do you 
consider yourself a genuine Jew or not.” Dia sepertinya tertawa, tapi nampaknya 
karena kepribadian dia yang memang kurang tersenyum dan nampak seperti cuwek, 
dia menjawab, “To be honest with you, I believe that this is the religion of 
Moses. He came with the same mission that Mohamed brought around 15 centuries 
ago,” tegasnya.
   
  Tanpa menyia-nyiakan kesempatan itu, saya tanya lagi, “So you believe that 
Mohammed is a messenger and prophet of God and his teaching is the true 
teaching of God?” Dengan tenang dia menjawab, “I am sure about that. But I 
really don’t know what to do.”
   
  “Brother Shimon, basically you are a Muslim. What you need to do is simply 
you need to formalize your faith with the presence of witnesses,” jelasku.
   
  Mendengarkan itu, dia nampak tersenyum namun dengan raut wajah cuwek. Tapi 
karena sejak awal memang demikian, saya yakin bahwa cuwek itu bukan berarti 
tidak serius, mungkin memang seperti itu kepribadiannya. Tiba-tiba dia 
bertanya, “And how to do that?” Saya menengok pada peserta lainnya yang juga 
ikut senang mendengarkan percakapan itu, lalu menjawab, “Brother, it’s very 
easy. What you need to do right know is that you must confess that there is no 
god worthy of worship but Allah, and that Muhammad is His Prophet and 
Messenger. Are you ready?” tanyaku.
   
  Setelah dengan mantap menjawab “yes”, saya kemudian mengatakan kepada peserta 
lainnya yang hampir semuanya muallaf, “Be witnesses for Allah!” Maka, dengan 
suaranya yang lantang, Rabbi Shimon resmi mengucapkan “Syahadaaten”, diikuti 
kemudian oleh pekikan takbir para peserta Forum Islam yang kebanyakan wanita 
itu. Dan Ramadhan kemarin adalah awal Ramadhan baginya dengan puasa penuh 
secara Islam.
   
  Kemarin siang, Sabtu 27 Oktober, setelah kelas selesai, Shimon mendekati dan 
berbisik, “I don’t know if this is an appropriate question to ask,” katanya. 
“What is that?” tanyaku. “Who was that lady sitting to your right side, and is 
she married?” tanyanya. “Why is the question?” tanyaku lagi. “I think it is the 
time for me to be serious in my life. I need a wife,” katanya serius.
   
  “Ok, Brother Shimon. I really forgot whom that you are talking about. But let 
me know next week,” jawabku. “Sorry Imam if that is considered inappropriate to 
ask,” ucapnya. “Oh not at all. It is in fact an important thing to ask. And 
believe me, it is also my responsibility to help you in this regard. We will 
talk next Saturday about it,”, kataku sambil meninggalkan kelas.
   
  Alhamdulillah, semoga mantan pendeta Yahudi ini dikuatkan dan dan dijadikan 
dai yang tangguh bagi kebenaran di masa depan. Amin.
  New York, 29 Oktober 2007. 

 Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com 

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke