hehehehe. sabar napa. 

mediacare <[EMAIL PROTECTED]> wrote:          Jadi kelanjutan kisahnya 
bagaimana? Apakah si Rabbi itu lalu masuk Islam setelah mengawini muslimah yang 
ia taksir?

----- Original Message ----- 
From: sFe 
To: [EMAIL PROTECTED] ; [email protected] ; [EMAIL PROTECTED] 
Cc: [EMAIL PROTECTED] ; [EMAIL PROTECTED] ; [EMAIL PROTECTED] 
Sent: Friday, November 02, 2007 6:57 AM
Subject: [ppiindia] Dan Pendeta Yahudi itu pun Bersyahadat

Kaifa Ihtadaitu
30/10/2007 | 19/Syawal/1428 H | Hits: 351 
Dan Pendeta Yahudi itu pun Bersyahadat Oleh: M. Syamsi Ali, M.A

Seminggu menjelang Ramadan lalu, kelas the Islamic Forum nampak lebih ramai 
dari biasanya. Mungkin karena banyak di antara muallaf itu yang ingin lebih 
mendalami puasa, baik dari segi hukum-hukum yang terkait maupun makna-makna 
hakikat dari puasa itu. Hampir semuanya wajah lama atau murid-murid lama, baik 
muallaf maupun non Muslims, yang telah mengikuti diskusi Islam di forum 
tersebut lebih dari 3 bulan. Tapi nampak juga beberapa wajah yang belum aku 
kenali sama sekali.

Salah satu wajah baru itu adalah seorang pria putih dengan janggut pendek yang 
terurus rapi. Duduk di pinggiran ruangan, dan nampak memperhatikan dengan 
seksama tapi terlihat cuwek. Aku sangka bahwa orang ini adalah seorang Muslim 
karena wajahnya mengekspresikan persetujuan dengan setiap poin yang kusebutkan 
siang itu. Tapi, nampak dingin dan sepertinya tidak nampak bahwa dia tertarik 
dengan penjelasan saya itu.

Saya memang memulai penjelasan saya dengan sejarah puasa kaum-kaum terdahulu. 
Merujuk pada kata-kata "kamaa kutiba 'alalladzina min qablikum" (sebagaimana 
telah diwajibkan atas kaum-kaum sebelum kamu), saya kemudian merujuk kepada 
beberapa fakta sejarah puasa umat-umat terdahulu, termasuk kaum yahudi. Di saat 
saya intens menjelaskan ayat ini, tiba-tiba dia tersenyum dan mengangkat tangan.

"Yes, Brother!" sapa saya. "Can I say something?" tanyanya. Tentu dengan senang 
saya menyetujuinya. Dia kemudian meminta maaf karena tiba-tiba masuk ke kelas 
ini tanpa permisi. "I feel I did some thing impolite," katanya. "Oh no, this 
forum is open for every person, and doesn't require any registration. You are 
in the right place on the right time," jawabku.

"What did you want to say Brother? But let me ask you first, what is your 
name?" tanyaku. "Sorry, I am Shimon," jawabnya.
Dia kemudian menjelaskan puasa dari perspektif Yahudi. Dengan sangat lancar dan 
seolah berceramah. Dia bersungguh-sungguh menjelaskan sejarah dan makna puasa 
dari pandangan ajaran Yahudi. Mendengarkan penjelasan itu, hampir semua yang 
hadir terkejut. Melihat situasi itu, sayapun bertanya: "Sorry Brother, are you 
a Muslim or not? And why do you know a lot about Judaism?"

Sedikit gugup dia kemudian mengatakan, "Imam, actually I am a Rabbi. I was 
ordained Rabbi two years ago." Mendengarkan penjelasannya itu rupanya membuat 
banyak peserta ternganga. Baru pertama kali kelas the Forum for non Muslims ini 
ditangani seorang Rabbi (pendeta Yahudi). Apalagi dalam penjelasannya tentang 
puasa itu seperti mendakwahkan ajarannya. Sehingga wajar kalau ada yang curiga 
kalau-kalau dia datang untuk sebuah misi.

Saya kemudian menyapa dengan ramah dan mengatakan, "Welcome to our class sir." 
Tapi untuk menenangkan para peserta saya menyampaikan kepadanya bahwa saya 
sudah seringkali terlibat dialog dengan pendeta-pendeta Yahudi, seraya 
menyebutkan beberapa Rabbi senior di kota New York. Mendengarkan nama-nama itu, 
rupanya cukup mengagetkan bagi dia. "All those are very respectful Rabbis!" 
katanya. "Yes, I am fortunate to have known them and be known by them," kataku.

Saya kemudian menyampaikan terima kasih atas penjelasan-penjelasannya mengenai 
puasa di agama Yahudi. "It's almost similar to ours. The only thing that you 
guys keep changing it throughout the history." Mendengar itu, nampaknya dia 
setuju dan hanya mengangguk.

Saya kemudian melanjutkan penjelasan saya mengenai hukum-hukum puasa. 
Murid-murid muallaf, dan bahkan non Muslim yang hadir hari itu memang ingin 
tahu bagaimana menjalankan ibadah puasa. Tanpa terasa, penjelasan mengenai 
puasa itu memakan waktu lebih 2 jam. Akhirnya tiba sesi tanya-jawab.

Rupanya tidak terlalu banyak hal yang ditanyakan oleh peserta dan waktu masih 
ada sekitar 45 menit. Maka kesempatan itu saya pergunakan untuk menjelaskan 
agama dan umat Yahudi dalam perspektif Al-Qur'an dan sejarah. Bahwa memang 
Al-Qur'an menyinggung secara gamblang sikap orang-orang Yahudi terdahulu, mulai 
sejak Nabi Ya'kub hingga nabi-nabi kaum Israil lainnya, termasuk umat Nabi Musa 
a.s.

Sejarah pergulatan politik, agama, kultur, dan budaya antara kaum Muslimin dan 
kaum Yahudi di Madinah, termasuk bagaimana awal terbentuknya Piagam Madinah. 
Saya kemudian menjelaskan bagaimana toleransi Rasulullah saw. di Madinah dengan 
fakta-fakta sejarah yang akurat. Bagaimana Umar bin Khattab memberikan keluasan 
bagi kaum Yahudi untuk kembali menetap di Jerusalem setelah diusir oleh kaum 
Kristen. Bagaimana penguasa Islam di Spanyol memberikan "kesetaraan" (equality) 
kepada seluruh rakyatnya, termasuk kaum Yahudi. Bahkan bagaimana penguasa kaum 
Muslim di bawah Khilafah Utsmaniyah menerima pelarian Yahudi dari pengusiran 
dan "inquisasi Spanyol" kaum Kristen di Spanyol.

Penjelasan-penjelasan saya itu rupanya tidak bisa diingkari oleh Shimon. 
Rupanya mereka juga tahu fakta-fakta sejarah itu. Bahkan sebenarnya kebanyakan 
buku-buku sejarah toleransi Islam kepada umat Yahudi itu justru ditulis oleh 
mereka yang non Muslim dan bahkan mereka yang beragama Yahudi sendiri. Saya 
bahkan mengutip pernyataan Kofi Annan, mantan Sekjen PBB, dalam sebuah acara 
interfaith di PBB tahun lalu.

Tanpa terasa 30 menit berlalu. Di akhir-akhir pertemuan itu, tiba-tiba Shimon 
sekali lagi dengan tatapan mata yang nampak acuh, mengangkat tangan. "Yes, 
Brother. Any comment?" pancingku. "Yes, I think what you just said, for us 
Jews, are well known," katanya. Dia kemudian berbicara panjang lebar mengenai 
upaya penyembunyian fakta-fakta sejarah itu. Dan pada akhirnya dia mengakui 
bahwa bagi mereka yang murni masih mengikuti ajaran Yahudi seharusnya percaya 
kepada risalah terakhir dan nabinya.

Saya kemudian memotong pembicaraan Shimom, seraya bercanda, "If so, do you 
consider yourself a genuine Jew or not." Dia sepertinya tertawa, tapi nampaknya 
karena kepribadian dia yang memang kurang tersenyum dan nampak seperti cuwek, 
dia menjawab, "To be honest with you, I believe that this is the religion of 
Moses. He came with the same mission that Mohamed brought around 15 centuries 
ago," tegasnya.

Tanpa menyia-nyiakan kesempatan itu, saya tanya lagi, "So you believe that 
Mohammed is a messenger and prophet of God and his teaching is the true 
teaching of God?" Dengan tenang dia menjawab, "I am sure about that. But I 
really don't know what to do."

"Brother Shimon, basically you are a Muslim. What you need to do is simply you 
need to formalize your faith with the presence of witnesses," jelasku.

Mendengarkan itu, dia nampak tersenyum namun dengan raut wajah cuwek. Tapi 
karena sejak awal memang demikian, saya yakin bahwa cuwek itu bukan berarti 
tidak serius, mungkin memang seperti itu kepribadiannya. Tiba-tiba dia 
bertanya, "And how to do that?" Saya menengok pada peserta lainnya yang juga 
ikut senang mendengarkan percakapan itu, lalu menjawab, "Brother, it's very 
easy. What you need to do right know is that you must confess that there is no 
god worthy of worship but Allah, and that Muhammad is His Prophet and 
Messenger. Are you ready?" tanyaku.

Setelah dengan mantap menjawab "yes", saya kemudian mengatakan kepada peserta 
lainnya yang hampir semuanya muallaf, "Be witnesses for Allah!" Maka, dengan 
suaranya yang lantang, Rabbi Shimon resmi mengucapkan "Syahadaaten", diikuti 
kemudian oleh pekikan takbir para peserta Forum Islam yang kebanyakan wanita 
itu. Dan Ramadhan kemarin adalah awal Ramadhan baginya dengan puasa penuh 
secara Islam.

Kemarin siang, Sabtu 27 Oktober, setelah kelas selesai, Shimon mendekati dan 
berbisik, "I don't know if this is an appropriate question to ask," katanya. 
"What is that?" tanyaku. "Who was that lady sitting to your right side, and is 
she married?" tanyanya. "Why is the question?" tanyaku lagi. "I think it is the 
time for me to be serious in my life. I need a wife," katanya serius.

"Ok, Brother Shimon. I really forgot whom that you are talking about. But let 
me know next week," jawabku. "Sorry Imam if that is considered inappropriate to 
ask," ucapnya. "Oh not at all. It is in fact an important thing to ask. And 
believe me, it is also my responsibility to help you in this regard. We will 
talk next Saturday about it,", kataku sambil meninggalkan kelas.

Alhamdulillah, semoga mantan pendeta Yahudi ini dikuatkan dan dan dijadikan dai 
yang tangguh bagi kebenaran di masa depan. Amin.
New York, 29 Oktober 2007. 

Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com 

[Non-text portions of this message have been removed]

----------------------------------------------------------

No virus found in this incoming message.
Checked by AVG Free Edition. 
Version: 7.5.503 / Virus Database: 269.15.16/1102 - Release Date: 31/10/2007 
16:38

[Non-text portions of this message have been removed]



                         

 Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com 

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke